
Bugh....
Bugh.....
Beberapa anak buah Betrand yang mencoba menghalangi langkah Elang seketika terkapar tak berdaya di aspal.....
Kini Mata tajam yang sudah berwarna merah menahan amarah itu, berdiri tegap di hadapan John pria berkulit hitam bertubuh Kekar berotot. Sang asisten Betrand itu menatap Elang yang sudah di penuhi amarah. " Tuan tolong jangan ikut campur urusan tuan kami," Ucap John masih bersikap sopan namun hanya mendapat tatapan tajam dari Elang.
"Minggir, jika kau tidak ingin seperti temanmu," Seru Elang yang sudah tidak bisa bersabar lagi.
"Baiklah, jika itu mau anda," Ucap John bersiap menghadapi Elang.
Elang melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah John, asisten Betrand itupun tak mau kalah membalas pukulan Elang.
"Diana sayang, siapa dia?" Tunjuk Betrand pada Elang yang sedang beradu pukulan-pukulan dengan John, namun kekuatan John masih belum bisa menandingi amarah Elang.
"Dia adalah orang yang aku cintai," Jawab Khenin jujur menatap Elang yang saat ini sudah berada di atas tubuh John terus memukul sang asisten Betrand.
"Selama aku masih hidup, jangan pernah bicara cinta pada laki-laki lain Diana," Ucap Betrand mulai tersulut api cemburu.
Merasa kesal dengan ucapan Betrand, entahlah dapat keberanian dari mana Khenin terus mengatakan kata cintanya. "Aku mencintainya.... Aku mencintainya....,"
"Cukup," Kata Betrand tak menghentikan Khenin.
"Aku sungguh...sungguh sangat mencintai nya sejak dulu sampai sekarang dan selamanya," Ucap Khenin berulang pada Betrand.
"Cukup Diana," Marah Betrand mengangkat tangan, sekali lagi refleks ingin menampar Khenin namun sebuah tangan kekar menepisnya.
"Sudah ku bilang jangan menyentuhnya," Ucap Elang bersamaan dengan kepalan tangan mendarat di wajah Betrand hingga membuat laki-laki bermata abu-abu ini jatuh tersungkur di jalan beraspal.
Elang kembali meraih tubuh pria itu, pukulan kedua pun ia layangkan hingga membekas di pipi Betrand bahkan sudut bibir pria itu terlihat mengeluarkan darah.
Dengan menahan sakit akibat pukulan Elang, Betrand bangkit berusaha melawan namun ia kalah kuat hingga lagi-lagi jatuh tersungkur di aspal tak berdaya akibat pukulan-pukulan Elang secara bertubi-tubi.
"Hentikan Lang," Teriak Satya keluar dari mobil bersama Steve. Satya melangkah cepat mendekati Elang, ia menarik dan menghempaskan Elang dari tubuh Betrand. "Cukup Lang, dia bisa mati," Bentak Satya menyadarkan Elang seketika.
John asisten Betrand yang sempat tak berdaya akibat Elang, melangkah cepat menghampiri sang majikan dan memapahnya segera masuk ke dalam mobil bersama beberapa anak buahnya yang sudah babak belur. Mobil mereka dengan segera melaju meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Mommy......," Teriak Steve berlari cepat menghampiri Khenin.
"Steve anakku," Tangis Khenin segera membawa Steve ke dalam pelukannya. Pria bermata tajam itu menoleh pada keberadaan Khenin dan Steve. Mata tajam Elang menatap penuh arti pada ibu dan anak itu.
Perlahan Elang melangkah mendekati keduanya.
"Nin, jadi dia Steve?" Ucap Elang membuat Khenin menoleh pada Elang yang sudah berada di dekatnya. "Apa dia anakku?"
Jedar......
Pertanyaan itu yang di takutkan selama ini oleh Khenin.
"Bukan kak," Jawab Khenin cepat membawa Steve ke dalam gendongannya.
"Kamu jangan bohong," Ucap Elang. Sejak bertemu dengan Steve, selain wajah mereka yang sama persis, Elang juga bisa merasakan ada ikatan di antara mereka apalagi jika di ingat-ingat seandainya Khenin hamil setelah kejadian ia merenggut kesuciannya, pastilah anak mereka sudah seusia Steve dan Elang yakin Steve adalah anaknya.
"Cukup kak dia adalah anakku bukan anak kakak dan terima kasih sudah menyelamatkan kami," Ucap Khenin, gadis itu benar-benar ketakutan, ia takut Elang merebut Steve dari dirinya.
"Aku tidak percaya Nin,"
Ciiit.....
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Darrel setelah membuka pintu mobil segera menghampiri Khenin. Darrel memeluk Khenin yang menggendong Steve tanpa memperdulikan keberadaan Elang. "Maafkan aku honney baru datang," Ucap Darrel.
Elang mengepalkan tangan, di depan mata melihat kemesraan itu. Ia tadinya menyerah karena ingin Khenin bahagia bersama dengan Darrel tapi setelah melihat Steve kini ia berubah pikiran. Entah dirinya akan di sebut egois atau jahat ia tak perduli karena ia tidak sanggup lagi hidup tanpa keduanya tanpa Khenin dan Steve.
"Nin," Ucap Elang membuat Darrel melepaskan pelukannya pada Khenin dan menoleh pada Elang, papa kandung Steve itu.
"Sekali lagi terima kasih sudah menyelamatkan kami," Ucap Khenin segera melangkah masuk ke dalam rumah.
"Nin, jelaskan dulu padaku," Teriak Elang hendak mengikuti namun di cegah segera oleh Darrel.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan," Ucap Darrel menahan tubuh Elang.
"Kamu tidak berhak ikut campur, aku tahu Steve pasti adalah anakku," Ucap Elang pada Darrel yang berada di hadapannya.
Darrel tersenyum miris. "Tidak berhak katamu," Darrel menatap tajam Elang. "Dari mana kamu yakin kalau Steve anakmu?, apa kamu tahu saat Khenin hamil?, apa kamu tahu gadis itu ngidam apa di kehamilannya?, apa kamu mengantarkan dia saat periksa kehamilan?, apa kamu mendampingi dia saat dia bertaruh nyawa merasakan sakitnya melahirkan!!, apa kamu tahu perjuangannya membesarkan Steve selama ini?"
__ADS_1
DEGH...
Pertanyaan-pertanyaan itu terlontar dari mulut Darrel membuat Elang tanpa sadar menitikan air mata begitu juga Darrel.
"Di mana kamu saat itu jika kamu mengaku sebagai ayah Steve hah," Teriak Darrel, laki-laki itu berani bertanya seperti itu karena dirinyalah saat itu yang mendampingi Khenin. Darrel berperan penuh untuk mengembalikan semangat hidup Khenin bahkan tak jarang orang mengira Darrel lah papa kandung Steve karena ketulusannya menjaga dan melindungi keduanya.
"Tapi terima kasih setidaknya kamu sudah berbuat kebaikan dengan menolong mereka saat aku tidak di samping mereka," Ucap Darrel melangkah meninggalkan Elang menyusul Khenin masuk ke dalam rumah.
Elang terdiam seketika menekuk kedua lututnya, ia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, andai.......andai ia tahu itu semua, andai ia dapat menemukan Khenin saat itu.....
Satya menghampiri Elang. "Lang....,"
"Aku bodoh Sat, aku bodoh......, aku benar-benar bodoh, ayah mana yang tidak tahu keberadaan anaknya hah....,"
"Lang kamu tenang dulu, ayo kita pulang," Ajak Satya, ia tahu perasaan yang saat ini di rasakan oleh sahabatnya itu.
"Aku bodoh Sat, dulu aku tidak pernah tahu kalau Khenin adalah Dira dan sekarang aku tidak tahu kalau Steve adalah anakku. Laki-laki macam apa aku ini Sat, harusnya aku menjaga dan melindungi wanita yang aku cintai bukan selalu menyakitinya......." Ucap Elang bersamaan bulir air mata yang masih terus mengalir dari pelupuk mata tajamnya.
Khenin menangis terisak menatap Elang di balik tirai kamarnya. "Mommy jangan nangis," Steve perlahan mengusap air mata di pipi Khenin.
"Maafkan mommy nak," Ucap Khenin memeluk erat Steve. Darrel yang berada di belakang Khenin hanya bisa menahan tangisnya, andai Elang belum mempunyai wanita lain seperti kata Khenin pasti ia akan menikahkan keduanya karena ia bisa melihat ada cinta yang tulus dari manik mata Keduanya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
Maafin author bukan bermaksud menggantung cerita tapi ini salah satu cara author agar mendapatkan like dari kalian semua, karena banyak yang membaca tapi banyak yang lupa memberikan like padahal like dari kalian semua adalah dukungan bagi author untuk terus menulis. Terima kasih🙏🙏masih setia di novel author ini. 😊😊