Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 14


__ADS_3

"Kak..." Lirih Khenin tapi tak membuat pria tampan itu bergeming dari tidurnya. Khenin pun memberanikan diri mendekati Elang dan duduk di pinggiran sofa itu yang lumayan besar hingga masih mampu menampung dirinya untuk duduk.


Khenin perlahan membuka kotak P3K, dengan kapas yang di beri alkohol ia membersihkan dan mengobati luka tangan Elang yang terlihat bengkak akibat gigitan ular itu. Setelah Khenin menempelkan perban dan plester, ia pun beranjak berdiri dari duduknya tapi tiba-tiba tarikan tangan Elang mengagetkan dirinya hingga sontak tubuhnya jatuh di atas tubuh Elang dan menindih tubuh pria tampan itu.


"Apa yang kak Elang lakukan," Lirih Khenin kemudian merasakan bibir Elang menempel lembut pada bibirnya. Khenin hendak beringsut bangun tapi pelukan tangan laki-laki gagah itu pada tubuhnya semakin erat hingga tidak mungkin bagi dirinya untuk lepas dari Elang dengan tenaganya. Elang semakin memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk leher Khenin, entahlah di dekat Khenin ia selalu tidak bisa menahan diri seperti tersihir dan tergoda pada gadis itu padahal Khenin tidak pernah sedikitpun menggoda Elang.


"Kak...." Ucap Khenin saat Elang sudah melepas ciumannya tapi tangan pria tampan itu masih mendekap tubuh Khenin di atas tubuhnya. Elang seketika membalik posisi tubuh mereka dengan menindih tubuh Khenin, Elang mencium ceruk leher Khenin dan tangannya sudah membuka beberapa kancing baju Khenin, hingga membuat gadis itu berteriak. "Kak jangan..." Teriak Khenin menangis merasa takut dan tangannya refleks mendorong wajah Elang hingga laki-laki itu seketika tersadar, segera bangkit dari tubuh Khenin. Elang terduduk meraup wajahnya kasar.


"Keluar loe.." Bentak Elang seketika membuat Khenin masih dengan isak tangis bangun mengancingkan baju piyama yang terbuka oleh Elang. Khenin berlari kecil keluar dari kamar Elang.


"Sial...." Elang menghempaskan tubuhnya kasar di sofa. Lagi-lagi ia tidak bisa menahan diri dan menyakiti gadis itu. Entahlah ada apa dengan dirinya apakah perlu periksa ke psikiater tanpa menunggu jadwal kontrol yang ia jalani setiap bulan.


Elang sejenak terdiam pikiran kembali teringat saat mencari Khenin tadi, ia benar-benar khawatir pada gadis itu apalagi saat ia melihat tas Khenin yang masih berada di meja kelas hingga ia memutuskan mencari keberadaan Khenin dengan meminta ijin pada satpam sekolah untuk melihat CCTV yang terpasang di sekolah. Elang benar-benar merasa emosi melihat Nety memukul dan menyekap Khenin dalam gudang itu.


Dengan rasa cemas dan begitu khawatir Elang seketika berlari menuju tempat Khenin di sekap bahkan ia tak perduli dengan nyawanya menepis ular yang hendak mengigit Khenin. Tapi kini dengan mudah lagi-lagi ia menyakiti Khenin dan tidak bisa menahan dirinya. "Tidak.....tidak.....gue tidak boleh lupa kalau nyokap bocah itu mau merebut papa dari mama. Bocah itu memang pantas gue perlakukan seperti itu," Bathin Elang menepis rasa bersalahnya.


"Gue akan buat loe jadi kekasih gue, biar nyokap loe nggak bisa jadi selingkuhan bokap gue," Gumam Elang dengan seringai.


Khenin berlari kecil keluar dari kamar Elang. Ia hendak kembali ke dalam kamarnya tapi saat sudah berada di depan pintu kamar sebuah suara dari tangga menghentikan tangannya yang memegang handle pintu. "Khenin sayang," Nisa melangkah cepat mendekati Khenin dengan Henry menyusul di belakangnya.


Beruntung saat keluar dari kamar Elang gadis itu sudah mengusap air mata dan membenahi kancing bajunya. "Mama, ada apa?" Jawab Khenin gugup menoleh menghadap pada Nisa yang sudah ada di samping.


"Sayang bagaimana keadaanmu, kata bi Sumi kamu terkunci di kamar mandi sekolah?" Tanya Nisa yang baru pulang dari kerja bersama Henry. Sudah menjadi kebiasaan Nisa dan Henry bertanya pada bi Sumi tentang keadaan Elang dan Khenin selama mereka tidak berada di rumah.


Terlihat raut wajah Nisa tampak khawatir. "Tidak apa-apa ma, tadi cuman pintu kamar mandinya rusak jadi aku terkunci di dalam," Khenin berusaha tersenyum di depan kedua pasangan suami istri itu.


"Tapi kamu beneran nggak apa-apa nak?" Tanya Henry mendekati keduanya.

__ADS_1


Khenin menggeleng. "Nggak apa-apa om, untung ada kak Elang yang nolongin Khenin," Ucap Khenin membuat kedua pasang suami istri itu saling menatap. Ada rasa lega dari keduanya yang berpikir mungkin Elang sudah bisa menerima Khenin sebagai bagian dari keluarga mereka.


Nisa kemudian menatap Khenin, tangannya terangkat mengusap lembut rambut Khenin. "Ya sudah sayang, sekarang kamu istirahat dulu nanti kita makan malam sama-sama," Ucap Nisa yang di angguki Khenin.


**


Ting......tong........


Bel pintu terus berbunyi, tak ada tanda-tanda yang akan membuka pintu hingga membuat Khenin yang berada di ruang tamu beranjak dari duduknya membukakan pintu. Hari ini Khenin tidak masuk sekolah karena Nisa dan Henry menyuruh gadis itu beristirahat di rumah pasca kejadian kemarin.


"Dino...." Ucap Khenin kaget ketika membuka pintu utama. Gurat cemas terlihat di raut wajah Dino.


"Nin, kamu nggak apa-apa," Tanya Dino memegang bahu Khenin.


Khenin menggeleng. "Aku nggak apa-apa Din," Ujar Khenin kemudian badannya sedikit mundur membuka jalan agar Dino masuk ke dalam rumah dan mengikuti dirinya melangkah keruang tamu. "Duduk Din," Ucap Khenin saat sudah dekat dengan sofa yang berada di ruang tamu.


"Makasih Nin," Dino pun duduk di sofa berhadapan dengan Khenin. "Kamu kenapa kesini?" Tanya Khenin kemudian mengeryit tersadar saat ini adalah masih jam sekolah. "Kamu bolos?" Refleks Khenin seketika.


"Aku nggak apa Din, aku...."


"Maaf...."Ujar Dino menunduk menyela ucapan Khenin, laki-laki itu merasa bersalah. Kemarin setelah kepergian Elang membawa Khenin dari sekolah, Dino yang merasa khawatir memutuskan mencari ke sekolah hingga ia tahu semua kejadian dari satpam sekolah.


Dino yang merasa emosi memutuskan malam itu juga menemui Nety. Dino marah besar pada mantan kekasihnya itu, tapi Nety seperti tidak punya rasa bersalah sedikitpun justru ia malah mencoba mengacam Dino akan menyakiti Khenin lebih dari yang ia lakukan tadi jika Dino masih dekat dengan Khenin.


"Untuk...." Tanya Khenin meskipun ia tahu secara tidak langsung perbuatan Nety pemicunya adalah laki-laki di hadapannya ini.


"Aku tahu, akulah penyebab Nety menyakiti kamu," Ucap Dino bersalah.

__ADS_1


"Udah, aku nggak apa Din cuman...." Khenin menjeda ucapannya kemudian menatap Dino dengan perasaan sedikit tidak enak.


"Cuman apa nin?" Tanya Dino ada rasa takut yang mulai menjalar di pikirannya.


"Kita sebaiknya menjauh untuk sementara Din,"


"Maksud kamu...?" Dino berdiri dan seketika duduk di sebelah Khenin membuat gadis itu kaget. "Nggak nin, jangan bilang kamu nggak mau dekat sama aku lagi meskipun cuman berteman," Ucap Dino lagi memberanikan memegang tangan Khenin.


"Maaf Din, bukan begitu. Kita akan tetap berteman tapi untuk sementara kita menjauh dulu kalau bisa jangan sering bertemu," Khenin melepas pegangan tangan Dino secara perlahan.


Menyadari itu Dino segera menarik lagi tangan Khenin hingga berada di genggamannya kembali, kini Dino menatap Khenin dengan serius membuat gadis itu terlihat takut. "Nin, entah ini waktu yang tepat atau tidak tapi sejak pertama kali bertemu dengan kamu, aku suka sama kamu," Tutur Dino memberanikan diri berterus terang karena ia sudah tidak bisa memedam lagi perasaannya.


Khenin tersentak kaget mendengar tutur Dino, ia tidak tahu harus bagaimana dan harus menjawab apa?. Ia pun berusaha menghindari tatapan Dino dengan mengalihkan pandangannya, hingga tak sengaja pandangannya menangkap sosok seseorang di belakang Dino. Entah sejak kapan pria tampan bertubuh gagah yang selalu berpikiran mesum hanya pada Khenin itu sudah berada di sana, berdiri di dekat pintu ruang tamu dengan tubuh bersandar pada dinding dan tangan di lipat di depan dada menatapnya dengan mata tajam setajam mata burung Elang yang siap menerkam mangsanya.....


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...........


__ADS_2