
Malam hari, Khenin terlihat sedang menidurkan Steve di ranjang kamarnya. Perlahan ia menaikkan selimut menutupi tubuh Steve yang tertidur pulas. "Mommy mencintaimu," Ucap Khenin setelah mencium kening Steve kemudian ikut menarik selimut tidur di samping Steve.
Sebuah senyum tercetak dari pria bermata tajam yang sedari tadi memperhatikan Khenin dari balkon kamar gadis itu. Perlahan langkah kaki itu mendekat di mana ranjang Khenin berada.
Khenin sudah masuk ke alam mimpi bersama Steve yang berada di sampingnya. Elang perlahan mendudukkan tubuhnya di samping ranjang, tangannya terangkat membelai lembut wajah mulus Khenin. "Andai kalian adalah istri dan anakku" Lirih Elang beralih menatap Steve yang tidur memunggungi keberadaan dirinya hingga wajah anak itu sama sekali tak nampak oleh Elang.
Seolah terhanyut, Elang ikut membaringkan tubuh di samping Khenin, memeluk gadis itu yang sama sekali tak terusik oleh kehadiran dirinya karena terlalu lelap ke alam mimpi. Sungguh pemandangan yang indah ketiga nya tidur bersama seperti sebuah keluarga yang harmonis.
Andai kata author ada di situ pasti semua akan mengira author adalah sebuah guling 😂.
Aroma wangi khas yang selalu Khenin rindukan saat ini terasa menyeruak menelusuri hidungnya. "Kak, aku mencintaimu," Lirih Khenin dalam igau nya di pelukan Elang.
Adzan subuh berkumandang membuat Khenin perlahan mengerjap, manik matanya mulai terbuka. Ia mengerdarkan pandangan. "Ternyata hanya mimpi," Pikir Khenin yang semalam merasakan kehadiran Elang.
Khenin ingin memulai harinya dengan Steve, menata masa depan dan bisa melupakan Elang yang takkan mungkin ia miliki.
Khenin menatap Steve yang masih tertidur, balita itulah selama ini yang menjadi penyemangat hidupnya, wajahnya yang sama persis dengan Elang selalu mengingatkan dirinya dengan pria bermata tajam itu.
Cup....
Khenin mencium wajah Steve sebelum beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menjalankan shalat shubuh.
"Aku akan berusaha untuk mendapatkan dirimu dan cintamu Nin," Lirih Elang melajukan mobilnya yang berada di depan rumah Khenin.
**
"Kamu baik-baik di rumah ya sama bi Ijah, Mommy berangkat kerja dulu," Ucap Khenin berpamitan pada Steve sebelum berangkat kerja.
"Mommy....aku ingin ikut," Rengek Steve.
"Den cakep, di rumah sama bibi nanti ada ibu guru datang," Ucap Bi Ijah membujuk Steve.
Steve menggeleng, balita itu masih belum terbiasa dengan bi Ijah namun bi Ijah tak hilang akal untuk membujuk anak majikannya itu yang mengingatkan dengan cucu-cucunya di kampung.
__ADS_1
"Den cakep, nanti kita main sama mang Ujang, biar mang Ujang jadi kuda-kudaan," Tunjuk bi Ijah pada Mang Ujang suaminya. Steve menoleh pada mang Ujang dan mang Ujang pun menunjuk pada punggung nya memperagakan kuda-kudaan sambil merangkak di lantai membuat Steve tersenyum seketika dan berlari menghampiri mang Ujang.
Bocah balita itu terlihat senang dan mulai bisa menerima sepasang suami istri itu sebagai pengasuh baru nya.
"Ya udah bi, aku tinggal dulu. Tolong jaga Steve baik-baik, nanti aku usahain pulang cepat," Pamit Khenin.
"Pasti Non, bibi akan jagain dengan sepenuh hati. Non hati-hati kerjanya," Ucap Bi Ijah.
"Iya bi,"
Mobil Khenin mulai melaju bersama sang supir yang mengemudi melewati pintu gerbang dan pos depan rumah yang di jaga oleh beberapa security. Mobil itu menelusuri jalan raya menuju ke sebuah perbukitan karena hari ini ia akan menghadiri sebuah acara pelelangan yang akan di gelar di daerah puncak kota YY.
Khenin menatap ponsel nya, sebuah notifikasi panggilan dari sang sekretaris Bella. Gadis itu pun menggeser tombol hijau sebelum mendekatkan ponsel ke telinga. "Ya nggak apa-apa mbak. Mbak istirahat aja, semoga lekas sembuh," Ucap Khenin, sebelum menutup sambungannya.
"Huh," Khenin sejenak menghela nafas. "Semangat Khenin," Ucapnya dalam hati karena hari ini ia akan menghadiri acara pelelangan itu sendiri tanpa sang sekretaris Bella yang sedang sakit.
Jalan demi jalan di lewati mobil Khenin, namun ada satu tempat yang membuat Khenin memejamkan mata, tangannya mencengkeram erat pinggiran tempat duduknya. Keringat dingin sudah tampak membasahi dahi. Ia takut rasa trauma itu muncul kembali ketika melihat tempat di mana dulu kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.
Beberapa jam berlalu, mobil yang membawa Khenin pun akhirnya sampai juga di tempat pelelangan. Udara di puncak kota YY masih sama terasa sejuk seperti dulu saat dirinya masih kecil karena ia sering datang ke puncak kota YY bersama papa dan mama nya.
"Terima kasih," Jawab Khenin melangkah masuk ke dalam gedung acara itu. Khenin mencari tempat untuk ia duduki hingga tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang. "Maaf tuan, saya nggak sengaja," Ucap Khenin.
"Anda tidak apa-apa nona?" Tanya seseorang yang menabrak Khenin.
"Tidak apa-apa tuan," Jawab Khenin berlalu meninggalkan laki-laki itu yang tersenyum menatap Khenin kemudian mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
"Aku sudah menemukannya tuan," Ucapnya menyeringai.
Khenin mengedarkan pandangan, suasana acara di tempat pelelangan itu tampak ramai oleh para kalangan bisnis karena tanah yang di tawarkan sangat bermanfaat untuk perluasaan perusahaan.
Khenin mendudukan tubuhnya, ia melihat acara akan segera di mulai. "Permisi nona, apa saya boleh duduk disini?" Tanya seorang pria pada Khenin untuk duduk di sampingnya.
Khenin pun mengangguk namun sebuah suara menghentikan pria itu yang akan mendudukkan tubuhnya di samping Khenin. "Maaf ini tempat duduk saya, saya suaminya" Ucap Pria bermata tajam yang tak lain adalah Elang yang juga ikut acara pelelangan itu tanpa Satya. Khenin seketika kaget dengan kehadiran Elang.
__ADS_1
"Oh, maaf tuan saya akan mencari tempat lain," Ucap pria itu beranjak.
Elang duduk di samping Khenin dengan tersenyum. "Kak, kenapa duduk di sini dan kenapa bilang kalau aku istri kakak?" Tanya Khenin menatap Elang.
"Karena kamu akan menjadi istriku dan hanya aku yang boleh berada di sampingmu...... hanya aku selamanya," Jawab Elang santai namun serius.
Khenin mengalihkan pandangannya dari Elang, ia tidak ingin meladeni pria yang diam-diam masih bertengger kuat di hatinya itu.
Acara pelelangan itu pun di mulai, Khenin seketika terperanjak saat tangan Elang tiba-tiba menggenggam tangannya. Gadis itu menoleh pada Elang yang terlihat santai dan tersenyum. Senyum yang di suguhkan hanya untuk Khenin seorang karena laki-laki itu jarang bahkan hampir tak pernah tersenyum pada orang lain.
Dari semua yang di lelangkan tak ada satupun yang membuat Khenin tertarik hingga pada saat tawaran terakhir gadis itu tak memperhatikan lokasi tanah yang di tawarkan.
Khenin seketika kaget menatap salah satu gambar yang terlihat di layar, sebuah tanah yang di atasnya masih berdiri sebuah rumah, rumah yang begitu banyak kenangan indah bersama orang tuanya, rumah yang ia huni ketika masih kecil.
Tangan Khenin terangkat hendak memberikan penawaran namun sudah terlambat karena ketuk palu harga jadi pun jatuh pada seseorang pengusaha yang memberikan penawaran tertinggi.
Khenin seketika merasa sedih dan hal itu tidak luput dari penglihatan mata tajam Elang.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
Mohon maaf reader tercinta 🙏🙏 Hari ini sebenar author mau update 2 episode namun dari kemarin google drive author erro. Episode yang sudah author ketik terbang hilang 😭😭.