Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 33


__ADS_3

"Selamat pagi, tuan-tuan," Ucap Khenin melangkah masuk ke dalam ruang meeting di ikuti Bella di belakangnya. Khenin sama sekali tak mengetahui siapa saja yang berada di ruang meeting saat ini hingga saat ia akan duduk di kursi ruang meeting, pergerakannya seketika terhenti ketika tatapan mata nya menangkap sosok Elang ada di hadapannya. Rasa trauma itu kembali muncul, tangannya bergetar memegang erat berkas-berkas yang berada di tangannya, keringat dingin pun sudah membasahi dahi.....


Kak Elang........


Elang yang begitu kaget seperti mengenali suara yang baru masuk pun, seketika berdiri dari duduknya. Mata tajam itu kini menatap sayu, gadis yang ia rindukan selama ini berdiri tepat di hadapannya. Gadis itu terlihat dewasa, semakin cantik, anggun, rambutnya yang dulu sebahu kini sudah tergerai panjang sangat indah.


"Nona Khenin," Tegur Bella, membuat Khenin tersentak. Gadis itu menghirup udara dalam dan menghebuskannya secara perlahan.


Kamu harus kuat Khenin. Ucapnya dalam hati.


"Nona perkenalkan ini tuan Dirga dari MG group," Ucap Bella, Dirgapun tersenyum dengan tatapan kagum menatap wajah Khenin kemudian menyodorkan tangannya dan di sambut Khenin.


"Dan ini tuan Elang dari Eagle group," Khenin berusaha menguatkan dirinya meskipun rasa takut dan trauma pada Elang mati-matian ia tahan saat ini.


Elang menyodorkan tangannya dan secara perlahan Khenin menjabat tangan itu. Elang dapat merasakan tangan dingin Khenin yang sedikit bergetar, ia tahu gadis itu pasti merasa takut dan trauma pada dirinya atas perlakuannya malam itu.


Elang masih belum mau melepas tangan Khenin yang berada dalam genggaman tangannya. Ia rindu pada Khenin, ingin rasanya saat ini juga ia menarik dan memeluk tubuh gadis itu ke dalam dekapannya dan mengucapkan kata maaf tapi perlahan tangan Satya menahannya untuk melepaskan tangan yang sedari tadi berusaha ditarik oleh sang pemilik.


"Silahkan tuan-tuan," Ucap Bella, khenin pun perlahan duduk di ikuti semua. Meeting itu pun berlangsung dengan ketidak nyamanan Khenin tapi gadis itu berusaha untuk bersikap profesional, sedangkan Elang pandangan matanya sama sekali tak lepas dari menatap Khenin hingga ia tak fokus dengan niatnya untuk mengajukkan kerja sama dengan perusahaan Khenin.


"Baiklah, terima kasih atas kedatangan anda semua. Perusahaan kami akan mempertimbangkan pengajuan kerja sama dari perusahaan anda semua dan kami akan memberikan kabar secepatnya. Sekian meeting ini, saya ucapkan terima kasih," Khenin menunduk sopan hendak melangkah pergi tapi suara Dirga menghalanginya terlebih dahulu sebelum Elang yang juga ingin menghentikan Khenin.


"Nona Khenin, apa boleh kita bertukar kartu nama?" Ucap Dirga mendekati Khenin dengan berusaha mengeluarkan pesonanya.


"Tahan Lang," Bisik Satya yang tahu sudah sepanas apa sahabatnya melihat pemandangan itu.


"Maaf tuan, kebetulan saya tidak punya kartu nama jika anda ada keperluan pekerjaan anda bisa hubhngi sekretaris saya," Tunjuk Khenin pada Bella dan Bella pun mengangguk. "Ya sudah kami permisi," Ucap Khenin segera mungkin melangkah pergi di ikuti Bella meninggalkan ruang meeting tersebut.


"Saya harap anda jangan pernah mengganggu nona Khenin lagi," Elang mulai angkat bicara setelah tadi mati-matian menahan geram di depan Khenin. Ia tidak ingin membuat Khenin ketakutan melihat kemarahannya karena cemburu.


"Anda mengancam saya?" Tanya Dirga.


"Jika iya kenapa?" Jawab Elang.

__ADS_1


"Anda tidak berhak karena nona Khenin bukan siapa-siapa anda dan laki-laki manapun berhak untuk mendekati nya,"


"Dia adalah kekasih saya dan saya berhak," Ucap Elang membuat Dirga terkekeh kecil.


"Maaf tapi sayangnya saya nggak percaya,"


"Silahkan, jika masih ingin terus mendekati nona Khenin maka anda bersiap-siap akan kehilangan saham dari Pradana Group yang di tanam perusahaan anda," Ucap Elang menyeringai, ia tahu perusahaan papanya yang juga sering ia tangani, menaruh saham besar pada perusahaan MG group yang di pimpin oleh Dirga.


Dirga merasa kaget dengan ucapan Elang, bagaimana ia bisa tahu tentang saham pradana group di perusahaannya. "Apa maksud anda, anda tidak berhak ikut campur urusan perusahaan saya dengan perusahaan pradana group,"


Elang menyeringai, "Jangan dekati kekasih saya lagi," Ancam Elang berlalu meninggalkan ruangan meeting itu dan kini sahabatnya Satya yang ambil alih bicara.


"Tuan Elang Pradana berhak tuan, karena beliau adalah putra tunggal dari tuan Henry dan pewaris sah seluruh perusahaan PRADANA GROUP, permisi," Satya menyeringai dan ikut melangkah pergi meninggalkan ruang meeting itu membiarkan Dirga terdiam merasa kaget, ia tidak tahu bahwa pemilik Eagle group adalah putra tuan Henry Pradana group.


" Apa benar yang di katakannya?" Tanya Dirga pada sang sekretaris.


"Benar tuan," Jawab sang sekretaris.


"Sial," Umpat Dirga menggebrak meja, ia tadinya seperti menemukan cinta pada pandangan pertama saat melihat Khenin kini harus terhenti saat ini juga karena ia mana mungkin bisa menyaingi anak dari Henry pradana.


**


Khenin menutup pintu ruangannya rapat, air mata yang ia tahan sedari tadi akhirnya lolos begitu saja membasahi pipinya.


"Kenapa kita harus bertemu lagi kak? Aku ingin melupakanmu," Tangis Khenin, ia membuka ponselnya dan menatap layar yang terdapat foto Steve. Anak laki-laki tampan bermata tajam bak fotokopi wajah Elang itu tampak tersenyum, senyum yang selalu menguatkan dirinya untuk bertahan dalam menjalani hidup ini.


Aku harus kuat demi Steve, aku harus bisa betahan. Kak Elang adalah masa lalu yang telah di miliki oleh kak Nency. Aku harus bisa melupakannya.


Khenin kemudian melakukan VC pada layar ponsel menghubungi mama Siren, ia ingin melihat wajah Steve karena beberapa hari ini ia menghubungi Nany tapi Oma nya itu tak mengijinkan Khenin bicara pada Steve.


"Halo Nin, bagaimana keadaan kamu di sana sayang," Ucap Siren dengan melambaikan tangan terlihat jelas di layar ponsel Khenin. "Kamu habis menangis, ada apa?" Tanya Siren seketika melihat mata sembab Khenin di layar ponselnya.


"Alhamdulillah baik Ma, Khenin cuman rindu Steve. Khenin ingin bicara sama Steve Ma," Ucap Khenin.

__ADS_1


"Steve lagi tidur, nih," Siren mengarahkan ponselnya pada Steve yang posisinya sedang tertidur pulas dengan boneka burung Elang di pelukannya. "Kamu sabar dulu ya, Mama dan Darrel akan berusaha bujuk Oma," Ucap Siren menenangkan suara gadis yang terisak di dalam layar ponselnya.


"Aku rindu Steve Ma, aku tidak bisa lama-lama tanpa Steve," Ucap Khenin.


"Iya kami tahu, kamu bersabarlah. Sebentar lagi kami pasti akan bawa Steve bersamamu,"


"Terima kasih Ma..,"


**


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, Khenin masih tampak lembur di kantor berkutat dengan berkas-berkas yang harus ia selesaikan hari ini juga.


"Akhirnya selesai juga," Ucap Khenin menutup berkas terakhir yang ia kerjakan, gadis itu menggerakkan badannya yang mulai terasa kaku seharian duduk di kantor. "Mbak Bella aku pulang dulu ya," Ucap Khenin seteleh keluar dari ruangannya.


"Silahkan nona," Ucap Bella yang sedang membereskan tempat kerja nya.


Khenin melangkah masuk ke dalam lift yang kosong keadaan sekitar tampak sepi karena karyawan sudah banyak yang pulang. Beberapa detik kemudian lift terbuka, gadis itu pun keluar dari lift baru beberapa langkah sebuah tangan mendekap mulutnya dan menarik tubuhnya hingga masuk ke dalam ruang kosong yang sepi.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...............


__ADS_2