Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 64


__ADS_3

"Kak Darrel,"


"Didi," Teriak Steve segera berlari memeluk Darrel. Darrel meraih tubuh Steve ke dalam gendongannya.


"Jagoan Didi," Darrel mencium Steve.


"Kak," Lirih Khenin.


"Honney, bawa Steve masuk ke dalam," Ucap Darrel pada Khenin.


"Tapi kak,"


"Kamu bawa masuk Steve ke dalam," Ulang Darrel. "Jagoan Didi masuk sama Mommy dulu," Ucap Darrel di angguki oleh Steve.


Khenin sekilas menoleh pada Elang, laki-laki bermata tajam itu mengangguk dan tersenyum memberi isyarat ia akan baik-baik saja dan agar Khenin menuruti perintah Darrel.


Khenin segera mengambil alih Steve dari gendongan Darrel dan membawa masuk Steve.


Kini Elang melangkah mendekati Darrel dan saling berhadapan dengan paman kecil Khenin itu.


Bugh.....


Bugh......


Tiba-tiba pukulan bertubi-tubi di layangkan Darrel pada Elang membuat pria bermata tajam itu terjatuh, Elang segera kembali bangkit berdiri kembali di hadapan Darrel.


Elang tak membalas pukulan itu, ia hanya mengangkat tangan mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


"Kenapa tidak membalas!!" Tanya Darrel namun Elang hanya terdiam menatap paman kecil khenin itu. "Apa mau mu hah,"


"Aku ingin ijin darimu untuk menikahi Khenin," Ucap Elang tegas.


"Ha...ha...." Tawa Darrel. "Bukankan seorang tuan Elang pradana tidak perlu ijin dariku," Seringai Darrel.


"Maaf," Sahut Elang, dia memang bersalah karena tidak tahu jika Darrel adalah paman Khenin dan malah mengira kekasih Khenin.


"Maaf katamu?"


Bugh.....


Pukulan kembali Darrel layangkan, Elang masih ta bergeming dari posisinya. Ia tidak ingin melawan, buatnya semua pukulan Darrel tidak ada apa-apanya di bandingkan ia harus kehilangan Khenin dan anaknya.


Darrel meraih kerah baju Elang, ia ingin meluapkan semua emosinya namun setelah ia menyelidiki ternyata baru kemarin ia mengetahui bahwa Elang tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun apalagi menikah.

__ADS_1


Dari anak buahnya Darrel mengetahui bahwa Elang selama ini hidup dalam penyesalan mencari keberadaan Khenin.


"Andai Kheninku tidak mencintaimu, aku pasti akan menghabisimu," Ucap Darrel melepas kerah baju Elang urung memukul kembali laki-laki bermata tajam itu.


"Kak," Ucap Elang pada Darrel.


"Jangan panggil aku kak, sebelum kamu mendapat ijin dari orang tuaku untuk menikahi Khenin," Ucap Darrel membuat Elang seketika senang yang artinya tanda lampu hijau dari Darrel untuk dirinya.


"Itu artinya anda memberi ijin padaku," Tanya Elang.


"Ijinku tidak ada artinya jika kau tidak mendapat restu dari kedua orang tuaku, apalagi kau juga adalah penyebab kematian anak mereka, kakakku Diana," Ucap darrel, ia sudah tahu bahwa penyebab kecelakaan yang terjadi pada Diana dan Doni adalah ketidak sengajaan Elang.


"Ya aku tahu, tapi terima kasih,"


"Demi Khenin dan Steve. Ini semua aku lakukan demi mereka dan jika sedikit saja kau menyakiti keduanya maka jangan harap kau bisa lepas dari ku," Ucap Darrel segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Elang yang kini menatap ke jendela di lantai atas tepatnya jendela kamar Khenin berada. Pria bermata tajam itu tersenyum pada Khenin yang menatapnya dari balik tirai jendela itu.


..


"Kak," Khenin memeluk paman Kecilnya itu. "Terima kasih sudah memberi ijin hubungan kami," Ucap Khenin.


"Buatku yang penting kamu dan Steve bahagia honney," Darrel mengusap lembut rambut Khenin yang berada di pelukannya.


"Iya kak, aku bahagia karena aku mencintainya," Senang Khenin.


"Ya sudah, besok aku akan pergi untuk menemui klienku. Setelah itu, kita pergi temui papa dan mama di perancis meminta restu untuk hubungan kamu dan Elang," Ucap Darrel.


*****


Esok harinya Darrel sudah pergi untuk menemui kliennya yang juga berada di kota YY ini. Khenin seperti biasa hari ini ia mengantar Steve ke sekolah bersama bi Ijah. Sebenarnya Elang ingin mengantar Steve dan Khenin namun hari ini Elang harus menghadiri meeting yang kemarin sempat ia tunda karena pergi ke kota XX.


"Steve sayang, Mommy berangkat kerja dulu ya, kamu baik-baik di sekolah sama bi Ijah, nanti pulangnya di antar supir," Ucap Khenin di angguki Steve.


"Bi aku berangkat kerja dulu ya," Pamit Khenin pada bi Ijah.


"Baik Non," Jawab bi Ijah.


Khenin segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu menuju kantor karena hari ini ia membawa mobil sendiri.


Sampai di kantor baru saja Khenin akan membuka berkas memeriksa laporan namun seketika urung karena ponselnya berdering, dalam layar ponsel tertera nama Opa Syarif, Khenin segera menggeser tombol hijau.


"Apa? Maksud Opa, sekarang Opa dan Oma ada di rumah Khenin?" Tanya Khenin kaget. "Baiklah Opa, aku akan segera pulang," Ucap Khenin tampak senang.


"Mbak Bella, maaf ya aku harus segera pulang tolong gantikan semua pekerjaan saya. Opa baru saja tiba dari perancis," Pamit Khenin terburu-buru.

__ADS_1


"Baik mbak hati-hati," Ucap Bella.


Khenin segera melajukan mobilnya setelah keluar dari perusahaan hingga setengah jam perjalanan mobil wanita muda itu akhirnya sampai juga di rumahya.


Khenin melangkah cepat memasuki pintu rumahnya, sampai di ruang tamu ia dapat melihat Opa dan Omanya sedang duduk di sofa berbicang dengan seorang pemuda yang belum ia kenal.


"Assallamuaikum Opa, Oma," Salam Khenin menyapa mendekati keberadaan Opa dan Omanya, kemudian wanita muda itu mencium punggung tangan keduanya. Khenin sekilas melirik pada pemuda yang berada di sebelah tuan Syarif, hanya senyum yang bisa Khenin berikan sebagai sopan santun.


"Wa'allaikum salam. Nin, kenalkan ini Bram cucu dari rekan bisnis Opa," Ucap Syarif memperkenalkan pemuda itu.


Pemuda itu mengulurkan tangan dan di sambut oleh Khenin.


"Bram," Ucap pemuda itu tersenyum, pemuda yang cukup tampan manik matanya hampir mirip dengan mata tajam Elang dan mungkin seumuran dengan Elang.


"Khenin," Ucap Khenin.


"Cucu anda sangat cantik tuan," Puji Bram pada Khenin.


"Tentu, dia sangat mirip dengan almarhum mamanya, anak pertama kami," Ucap Syarif kemudian menoleh ada Khenin.


"Oh ya Nin, kebetulan Opa dan Oma hari ini ada pertemuan dengan klien di kota ini, Opa minta tolong kamu ajak Bram makan siang di luar menggantikan kami," Perintah Syarif pada Khenin.


Khenin ingin menolak tapi ia tidak berani biar bagaimana pun perintah Opa Syarif harus ia turuti. "Tapi Opa, Khenin harus menjemput Steve di sekolah," Tolak halus Khenin.


"Tidak apa-apa aku juga bisa ikut jemput anak kamu," Sahut Bram menatap Khenin dengan manik matanya yang setengah tajam.


"Tuh, Bram juga tidak keberatan Nin," Oma Khenin ikut menyahut.


Khenin sudah tidak bisa menjawab lagi, ia hanya terdiam terpaksa menuruti keinginan Opa dan Omanya. Dan yang harus ia lakukan saat ini adalah memberi tahu Elang karena ia takut ada kesalah paham di antara mereka.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2