Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 50


__ADS_3

Bugh......


Bugh......


Terdengar suara-suara pukulan membuat beberapa sekurity yang berjaga di rumah Khenin terkapar tak berdaya.


Kini seseorang bermata abu-abu di ikuti beberapa anak buahnya melangkah mendekati pintu masuk rumah Khenin.


* *


Khenin melipat mukena nya setelah menjalankan sholat magrib, gadis itu....ah author lupa lagi.... Wanita itu tersenyum melirik keberadaan Steve yang masih tertidur pulas.


"Anak mommy pasti lelah seharian bermain," Lirih Khenin mendekati keberadaan Steve di ranjang lalu menciumi pipi anak itu. "Mommy sangat menyayangimu nak," Guman Khenin memandangi Steve yang menggeliat sedikit terusik akibat ulahnya.


Khenin beranjak mengambil ponsel yang berada di dalam tas. "Ah pantas saja sedari pulang dari mall tadi aku sama sekali tidak mendengar ponselku berbunyi ternyata baterainya habis," Gerutu Khenin segera menyabungkan ponselnya dengan kabel Charger, setelah itu Khenin bergegas ke kamar mandi, ia berganti baju dengan piyama tidur karena hari ini ia tidak berniat keluar kamar.


BRAAAK.......


Dobrakan keras terdengar......


"Mommy..... Mommy.... Steve takut," Teriak Steve di ikuti dengan isak tangis membuat Khenin segera bergegas keluar dari kamar mandi.


"Steve....!!" Teriak Khenin, ibu muda itu begitu kaget karena saat ini Steve sudah berada di pelukan pria bermata abu-abu.


"Diana sayang, apa kabar?" Ucap Betrand dengan seringai, tangannya mendekap Steve, sedangkan beberapa anak buahnya sudah berjaga di dekat pintu.


"Anda....," Lirih Khenin. "Jangan sakiti anakku, lepaskan anakku," Teriak Khenin.


"Hei... Diana sayang, memang apa yang akan aku lakukan," Ucap Betrand melembut. "Jika dia anakmu, maka akan menjadi anakku juga kan," Betrand mengusap lembut rambut Steve.


"Apa mau mu tuan? aku bukan Diana," Khenin mulai terisak apalagi melihat wajah malaikat kecilnya yang ketakutan.


"Diana sayang jangan menangis," Betrand memberi kode anak buahnya untuk membawa Steve.


"Mommy....," Teriak Steve yang sudah berpindah tangan.


"Steve!!" Khenin berlari ingin mengejar anak buah Betrand yang membawa Steve namun tubuhnya segera di raih oleh Betrand.


"Hei, Diana sayang," Betrand memeluk Khenin, ibu muda itu memberontak namun kekuatannya tak sebanding dengan Betrand.


"Lepasin aku tuan, aku bukan Diana. Aku Khenin anak mama Diana," Berontak Khenin.

__ADS_1


"Sayang, bagiku kau adalah Diana sampai kapanpun," Betrand meraih lembut rambut panjang Khenin untuk di bawa ke arah hidungnya. Aroma wangi ibu muda itu sungguh sangat mempesona bagi Betrand hingga ia beralih menatap bibir Khenin yang terlihat menggoda, Betrand mendekatkan wajahnya ingin mencium bibir Khenin.


Melihat itu Khenin dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Betrand dan....


Plaaak......


Sebuah tamparan refleks di layangkan Khenin pada pipi Betrand. "Huh," Betrand menghela nafas sembari memegang pipinya.


"Maaf tuan aku terpaksa menampar anda" Ucap Khenin merasa takut meringsut mudur dari Betrand.


"Menarik Diana sayang," Ucap Betrand, pria tampan nan gagah di usia empat puluhan itu bukannya marah tetapi malah tersenyum seolah tak merasa sakit dengan tamparan yang Khenin layangkan.


"Tuan lepaskan anakku aku mohon," Pinta Khenin menangis, ia menekuk kedua lututnya di hadapan Betrand agar mau melepaskan Steve.


"Sayang, bangunlah....," Ucap Betrand memegang lengan Khenin membangunkan wanita muda itu. "Aku sangat mencintaimu so don't cry,"


"Mommy.... Mommy....," Tangis Steve memukul-mukul salah satu anak buah Betrand yang menggendongnya. Anak buah Betrand melangkah cepat membawa Steve masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan rumah Khenin.


"Diaaaam...!!!" Bentak anak buah Betrand setelah mendudukkan Steve di kursi mobil. Steve seketika menghentikan tangisnya bukan karena ia merasa takut melain bocah kecil itu mengedarkan pandangan menatap sekitar, hari memang sudah malam, ia seketika teringat dengan ucapan didi Darrel.


"Steve jagoan didi harus bisa jaga mommy kalau didi tidak ada," Ucap Darrel pada Steve yang duduk di pangkuannya.


"Tenang didi Steve pasti jagain Mommy dari orang-orang jahat," Sombong Steve tersenyum lucu.


"Mmmm...," Steve menepuk-nepuk dagu nya dengan jari telunjuk berpikir.


"LARI DAN CARILAH BANTUAN......,"


Steve seketika tersadar dengan kata-kata Darrel waktu itu hingga ia menatap anak buah Betrand yang membentaknya sedang berada di luar mobil berdebat dengan rekannya.


"Loe sudah gila, dia calon anak tuan kita Kenapa loe bentaak,"


"Dia nangis terus, terpaksa gue bentak,"


"Kalau ketahuan tuan bisa berabe loe,"


"Lah gue mesti gimana?"


"Ya yang lembut masa loe nggak bisa ngadepin anak kecil gitu,"


"Lah masa iya gue harus ngomong gini, ....Nak kamu jangan nangis nanti ketahuan sama orang kalau kami sedang menculikmu,"

__ADS_1


"O'on loh, gue heran kenapa tuan dulu bisa jadiin loe anak buah nya,"


"Loe aja heran apalagi gue,"


Kedua anak buah Betrand masih terus berdebat hingga mejadi kesempatan bagi Steve perlahan membuka pintu samping mobil, balita kecil itu perlahan melangkah keluar meninggalkan anak buah Betrand yang masih berdebat. Steve berlari-terus berlari mengikuti jalan ber aspal untuk mencari pertolongan hingga ia terjatuh.


"Hu.... Hu.....," Tangis Steve terduduk di pinggir jalan ber aspal itu. "Mommy....," Steve menangis, ia ingin bangun tapi lututnya terasa sakit dan berdarah, balita itu semakin mengeraskan tangisnya bukan karena sakit yang ia rasa tapi ia benar-benar takut orang jahat itu menyakiti mommy nya.


"Ya Allah tolong mommy Steve," Doa Steve karena hanya itu yang dapat ia lakukan saat ini, mengingat ucapan mommy nya untuk selalu berdoa jika sedang dalam kesulitan.


Steve mengangkat tangan menutupi mata tajamnya karena tiba-tiba ada sebuah sinar lampu mobil yang menyoroti balita kecil itu. Mobil itu berhenti seketika....


*****


"Siaaaal..," Lagi-lagi umpatan keluar dari mulut Darrel yang saat ini terjebak macet setelah keluar dari bandara. "Apa kerja kalian sampai laki-laki itu bisa luput dari pengawasan kalian!!" Bentak Darrel pada anak buahnya.


"Maafkan kesalahan kami tuan," Ucap anak buah Darrel yang saat ini mereka berada dalam satu mobil.


"Ya tuhan lindungi ponakanku dan Steve," Lirih Darrel yang masih terus menatap layar ponsel mencoba menghubungi Khenin terus namun tak tersambung. "Lalu bagaimana, apa kalian sudah menghubungi penjaga rumah?" Tanya Darrel menoleh pada anak buahnya.


"Maaf tuan, tak ada satupun yang dapat kami hubungi," Jawab anak buah Darrel membuat pria tampan itu semakin frustasi.


**


"Diana sayang, ayo ikut denganku," Betrand membuka tangan, ia ingin Khenin menghampirinya. "Menikahlah denganku,"...


(Author : Ayo, sekarang apa..?πŸ˜…


Betrand : Diaaaam thor jangan ikut campur...😀😀


Author : Buset galak amat..πŸ™„ tapi author suka yang galakΒ² gini πŸ˜…πŸ˜™πŸ˜˜


Pletaaaak.....


Author : Wadooh.... Sakit tau😭.


Elang : Udah lanjutin sono ceritanya.....


Author : IyaΒ² ngomong aja loe cemburu πŸ™„.... Kan udah author bilang author gak suka pria bermata tajam, author suka nya pria bermata tumpul.....😜


Betrand : He'em.... Ulangi lagi thor, loe bilang suka gue, apa itu berarti mata gue tumpul....🀨😑😠

__ADS_1


Author : πŸ˜…πŸ˜…Bersambung deh..(kabuuur...πŸƒβ€β™€πŸƒβ€β™€)


__ADS_2