
Malam hari di rumah keluarga Pradana, tampak Steve sudah tertidur pulas di pangkuan Henry, sedangkan Khenin tampak sedang berbincang- bincang dengan Nisa melepas rindu.
Nisa kini sudah tampak kembali sehat dan bersemangat setelah kedatangan Khenin apalagi ia mendapat kenyataan yang membahagiakan karena sudah memiliki cucu.
"Lang, kapan kamu menikahi Khenin?" Tanya Henry membuat Elang yang sedari tadi tersenyum melihat tingkah manja Khenin pada mamanya kini teralih pada Henry yang berada di sampingnya.
"Secepatnya Pa, setelah aku mendapat restu dari keluarganya," Jawab Elang mengusap lembut Steve yang tertidur di pangkuan Henry.
"Ingat Lang, kamu jangan sakiti dia lagi. Cukup masa lalunya yang hancur karena perbuatanmu. Buatlah masa depannya bahagia," Tutur Henry pada Elang.
"Pasti Pa, Elang akan membuat Khenin dan anak kami bahagia. Elang janji," Ucap Elang.
"Ya sudah, malam ini biar Steve tidur bersama papa dan mama," Ucap Henry beranjak membawa Steve kedalam gendongannya.
"Nin kamu tidur di kamar kamu ya," Ucap Nisa. "Biar Steve sama Mama dan Papa," Imbuh Nisa lagi.
Khenin mengangguk. "Iya ma," Jawab Khenin menatap kepergian Nisa mengikuti Henry yang membawa Steve ke kamar mereka.
Khenin kini beralih menatap Elang yang masih berdiri di dekat sofa dekat ia duduk. Elang tersenyum menatap dirinya. "Aku tidur dulu ya kak," Ucap Khenin segera beranjak menaiki tangga menuju kamarnya yang dulu pernah ia tempati.
Perlahan Khenin membuka pintu kamar, ia mengedarkan pandangan pada kamar itu, kamar yang masih sama tidak berubah sedikitpun seperti sebelum ia tinggalkan.
"Nin," Suara Elang yang sedari tadi tanpa sadar mengikuti dirinya. "Kamar ini masih sama seperti sebelum kamu tinggalkan. Kamu tahu setelah kepergianmu, aku selalu menyesali perbuatanku dengan menghabiskan waktu di kamar ini membayangkan kamu kembali ke rumah ini," Ucap Elang yang kini mendekati Khenin memeluk wanita muda itu dari belakang.
"Kak," Lirih Khenin saat merasakan Elang mencium lehernya.
"Nin, aku mencintaimu," Ucap Elang kini beralih mengangkat tubuh Khenin ke dalam gendongannya.
"Kak mau ngapain?" Tanya Khenin takut. Elang hanya tersenyum menyeringai melangkah mendekati ranjang tempat tidur Khenin.
Secara perlahan Elang membaringkan tubuh Khenin di ranjang, posisi Elang saat ini berada di atas tubuh Khenin membuat wanita itu berkeringat dingin merasa takut, ia masih trauma dengan kejadian di kamar itu saat Elang memperkosanya.
Tangan Elang mengusap lembut keringat Khenin dan....
Cup....
Elang mencium lembut kening Khenin, "Aku mencintaimu," Ucap Elang melepas ciumannya dan beranjak dari atas tubuh Khenin Setelah menyelimuti tubuh wanita muda itu.
Pagi hari tampak Steve sedang berlari-lari kecil bersama Henry dan Nisa di sekitar lingkungan kediaman rumah pradana ketiganya sedang berolah raga pagi karena sudah lama mereka tidak melakukan olah raga, kedatangan Khenin dan Steve membuat semangat kedua orang tua Elang kembali, mereka tampak bahagia semua beban yang mereka rasakan selama bertahun-tahun setelah kepergian Khenin terlepas begitu saja.
Elang dengan tubuh kekarnya tampak juga melakukan olah raga angkat barbel di bangku taman depan rumah.
Sedangkan Khenin tampak baru keluar dari kamarnya, gadis itu tampak segar sehabis mandi. Khenin mengedarkan pandangan di rumah yang tampak sepi, bi Sumi sang ART pun sedang pulang kampung kata Nisa semalam.
__ADS_1
Khenin melangkah menuju taman depan rumah, keadaan rumah masih sama seperti dulu. Langkah Khenin terhenti melihat pemandangan di depannya, Elang dengan bertelanjang dada melatih otot-otot tangannya dengan mengangkat barbel.
(Huh....laki-laki itu selalu terlihat begitu tampan, bentuk tubuhnya selalu bikin author pingin membuang ludah...
Pletaak....
Author : Aduuh...π€
Elang : Menelan ludah dodolπ
Author : author kan gak suka sama loe, ngapain menelan ludah dasar GR π....udah author bilangin author gak suka pria bermata tajamπ‘
Elang : Yakin, gue cium nih sekarang....
Author : Mak....kabur...πββπββ
Elang : π Dasar author Edaaan)
Wajah Khenin seketika memerah melihat pemandangan itu, ia berdebar dan merasa malu meskipun itu bukan kali pertama ia melihat tubuh kekar Elang.
Khenin hendak berbalik melangkah kembali ke dalam rumah namun suara Elang mencegahnya. "Nin tolong ambilkan aku minun dong," Ucap Elang tersenyum menyeringai, laki-laki itu sedari tadi sudah tahu keberadaan Khenin dengan aroma wangi khas tubuh Khenin yang tercium olehnya.
"Ah iya kak," Khenin segera mengambil botol air mineral dari dalam rumah. Khenin melangkah kembali mendekati keberadaan Elang dengan botol air mineral di tangannya. "Ini kak," Tangan Khenin terulur memberikan botol air mineral itu.
"Kak," Teriak Khenin kaget.
Elang tersenyum menyeringai, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Khenin. "Huh aku tidak sabar ingin segera menikahimu Nin," Ucap Elang menatap Khenin.
"Kak," Khenin sedikit mendekatkan wajahnya pada Elang membuat laki-laki itu kaget apalagi kini kedua tangan Khenin sudah menakup wajahnya. Khenin semakin mendekatkan wajahnya pada Elang, manik mata indahnya tampak fokus menatap bibir Elang membuat laki-laki itu berdebar apakah Khenin hendak menciumnya. Pikir Elang yang segera memejamkan mata siap menerima bibir lembut Khenin untuk mendarat di bibirnya.
"Kakak cepat mandi, kakak bau asem," Bisik Khenin di telinga Elang sembari tertawa kecil melepas tangan Elang yang melingkar di pinggangnya dan beranjak dari pangkuan Elang.
"Sial," Lirih Elang tersenyum kecut membuka mata menatap Khenin yang berlari kecil masuk ke dalam rumah.
Menggemaskan....kalau saja kita sudah menikah, akan aku makan habis kamu Nin....Gerutu Elang dalam hati.
Hari sudah mulai siang, Elang, Khenin dan Steve kini sudah siap berpamitan pada Henry dan Nisa untuk kembali ke kota YY. "Segera beri kabar Papa untuk melamar Khenin, Lang" Ucap Henry pada Elang yang mencium punggung tangannya.
"Tentu Pa," Ucap Elang.
"Cucu Papa, sering-sering datang kesinin ya," Ucap Henry menggendong steve memberikan ciuman di wajah Steve.
"Tentu Grandpa," "Jawab Steve.
__ADS_1
"Anak ini kenapa sama persis denganmu Lang," Gerutu Henry mendengar jawaban Steve yang sama dengan jawaban Elang tadi.
Kini giliran Khenin berpamitan pada Henry dan Nisa, kedua orang tua Elang memeluk Khenin. "Kalian hati-hati," Ucap keduanya melepas kepergian anak-anak dan cucunya.
Beberapa jam perjalanan di tempuh Elang, Khenin dan Steve hingga saat ini ketiganya sudah berada di bandara kota YY.
"Papi kita pulang?" Tanya Steve pada Elang yang ketiganya saat ini sudah berada di dalam mobil yang di lajukan supir Elang.
"Iya kita pulang," Jawab Elang.
"Apa papi juga pulang kerumah, tinggal bersama Steve dan Mommy?" Tanya Steve lagi membuat Elang tidak bisa menjawab dan menatap Khenin.
"Papi belum bisa tinggal bersama kita dulu sayang," Kini Khenin menjawab.
"Kenapa," Kecewa Steve.
"Karena Papi harus minta ijin dulu sama didi Darrel, Opa dan Oma," Ucap khenin tersenyum.
"Oh gitu, tenang Pi nanti Steve bantu minta ijin," Ucap Steve menatap Elang.
"Anak pintar," Elang mengusap-usap rambut Steve.
Mobil yang membawa ketiganya pun sudah sampai di depan kediaman Khenin. Elang segera membukakan pintu untuk Khenin dan Steve, ketiganya hendak melangkah menuju pintu rumah namun seseorang sudah tampak berdiri gagah dengan tangan melipat di atas dada menatap ketiganya dengan penuh arti di depan pintu rumah Khenin.
"Kak Darrel,".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....