
Author POV
BYUUR...... Sebuah siraman air menyadarkan Khenin dari lamunannya.
Terlihat semua yang berada di kantin sejenak terdiam menoleh melihat kejadian itu. "Aduh maaf ya, gue gak sengaja," Ucap cewek itu tanpa dosa setelah mengguyur Khenin dengan sebotol air mineral. Khenin mengusap sisa air yang menghalangi pandangan matanya.
"Apaain si lo Net," Teriak Dino marah pada cewek itu melangkah cepat mendekati mereka berada.
"Gue beneran gak sengaja Dino sayang," Ucap Nety. Dino menghela nafas mencoba meredam amarahnya, ia kemudian menatap Khenin mengabaikan Nety.
"Kamu gak apa-apa Nin," Tanya Dino mengubah nada bicaranya seketika pada Khenin menjadi lembut, hal itu membuat Nety menjadi semakin kesal. Nety adalah cewek yang baru beberapa bulan yang lalu di putusin oleh Dino atau lebih tepatnya mantan cewek Dino.
Khenin menggeleng. "Aku gak apa-apa. Udah jangan marah Din mungkin memang dia gak sengaja," Ucap Khenin mencoba menengahi. "Ya udah, aku balik ke kelas dulu ya," Khenin lebih memilih pergi dari tempat itu karena ia tahu jika dirinya di sana hanya akan membuat keadaan semakin kacau apalagi ia merasa malu karena semua yang berada di kantin menatapnya.
"Kamu gak jadi makan?" Tanya Dino dan Khenin hanya menjawab dengan gelengan kepala. "Ya udah aku anterin Nin," Tawar Dino tapi segera di tolak oleh Khenin.
Khenin melangkah pergi dari kantin meskipun sempat mendapat lirikan sinis dari Nety tapi ia tak menghiraukannya. "Din, gue pingin bicara sama kamu," Nety menarik tangan Dino yang ingin memyusul Khenin.
"Cukup Net, gak ada lagi yang perlu di bicarakan. Gue tahu tadi itu loe sengaja kan!" Ucap Dino terlihat masih menahan marah. Ia sudah memutuskan hubungannya dengan Nety beberapa bulan yang lalu karena merasa tidak ada kecocokan diantara mereka apalagi sikap Nety yang sering sekali bertolak belakang dengan dirinya.
"Ya gue memang sengaja karena gue cemburu, gue masih sayang sama loe Din," Nety mencoba memegang tangan Dino tapi di tepis segera oleh Dino.
"Sorry Net, hubungan kita udah berakhir. Loe jangan lagi ganggu dan ikut campur urusan gue," Dino segera berlalu pergi melangkah cepat meninggalkan Nety yang benar-benar merasa kesal.
"Gue akan balaz......." Lirih Nety dengan amarah yang memuncak.
**
Di kelas.....
"Lo kenapa Nin?" Tanya Lina teman sebangku Khenin melihat gadis itu basah.
"Kehujanan Lin," Sahut Khenin asal dengan kekehan kecil sembari duduk di bangku kemudian mengambil tisu di tasnya untuk mengusap sisa air di rambut dan wajahnya.
"Hujan dari mana, terang gini," Lina merasa bingung, ia ikut mengambil tisu dan membantu Khenin.
"Udah nggak usah di pikirin Lin," Ucap Khenin. Dari semua teman di kelas, Khenin merasa beruntung sebangku dengan Lina karena gadis itu baik dan sepertinya tulus berteman dengan dirinya.
"Nin, maaf ya," Suara Dino yang baru datang membuat Khenin dan Lina menoleh padanya. Dino mendekati Khenin berada duduk di bangku depan Khenin karena di samping Khenin sudah ada Lina yang menduduki.
"Untuk...?" Tanya Khenin.
__ADS_1
"Untuk kejadian di kantin tadi,"
"Kenapa kamu minta maaf Din? kan bukan kamu yang nyiram aku," Ucap Khenin menanggapi Dino santai.
"Ya memang bukan aku Nin yang nyiram kamu tapi gara-gara aku Nety nyiram kamu,"
"Udah gak apa-apa," Jawab Khenin.
"Beneran kamu nggak marah," Tanya Dino, ia tidak ingin gadis yang mulai mengisi hatinya saat ini akan menghindari dirinya hanya karena ulah Nety.
"Iya bener," Jawab Khenin kemudian menoleh pada suara ponselnya yang bergetar.
"Bentar ya, aku angkat telp dulu," Khenin beranjak keluar kelas meninggalkan Dino dan Lina.
"Din, sebaiknya lo jangan deketin Khenin dulu sebelum lo selesain masalah lo sama Nety," Ucap Lina, ia tahu seperti apa kelakuan Nety selama ini jika menyangkut tentang Dino.
"Gue udah selesai sama Nety Lin, gue suka sama Khenin sejak pertama lihat dia," Jujur Dino pada Lina yang merupakan saudara sepupunya.
"Tapi saat ini, keselamatan Khenin lebih penting dari rasa suka lo. Nety itu gila Din, bisa berbuat apa saja seperti yang sudah-sudah," Lina kembali teringat pada sahabat nya yang saat ini sudah pindah sekolah akibat di bully sama Nety hanya karena ngefans dan suka sama Dino.
"Gue gak bisa kalau harus jauhin Khenin tapi gue juga nggak akan biarin Nety nyakitin Khenin," Ucap Dino.
Khenin berlari kecil menuju pagar depan sekolah setelah menutup panggilan telpnya. Ia mengedarkan pandangan setelah melewati pagar sekolah itu, ia berdiri di pinggir jalan hingga sebuah mobil berhenti tepat di depannya. "Sayang...." Suara seorang wanita cantik berusia 30 an keluar dari mobil itu.
"Mama Siren..." Sapa Khenin melangkah mendekati Siren dan memeluknya.
"Apa kabar sayang, mama kangen sama kamu," Ucap Siren merenggangkan pelukannya kemudian matanya mengeryit tangannya merasakan ada yang basah pada pakaian Khenin. "Kenapa kamu basah begini?" Tanya Siren heran dan khawatir.
"Tidak apa-apa Ma, tadi gak sengaja kena muncratan air kran," Ucap Khenin berbohong, ia tidak ingin membuat adik mamanya itu khawatir.
"Bener...?" Tanya Siren sedikit curiga.
"Bener Ma," Jawab Khenin tersenyum. "Oh ya mama Siren ada apa sampai datang ke sekolah Khenin?" Tanya Khenin.
"Tentu saja Mama kangen sama kamu, memang kamu nggak kangen sama mama," Siren mengusap lembut kepala Khenin. Ia sungguh menganggumi wajah cantik keponakannya yang sangat mirip dengan almarhum kakaknya Diana.
"Tentu saja kangen Ma," Jawab Khenin kembali memeluk Siren. Sungguh ia beruntung bisa di beri kesempatan untuk bertemu dengan adik dari mamanya itu.
"Sayang," Khenin melepas pelukannya menatap Siren. "Mama ke sini cuman mau pamit, beberapa minggu ini mama akan pergi ke perancis," Ucap Siren membuat wajah Khenin murung seketika. Melihat itu Siren kemudian mengerti jika keponakan yang sudah seperti anaknya sendiri itu pasti merasa sedih. "Kamu tenang saja, mama akan cepat kembali dan sering-sering menghubungi kamu. Untuk sementara kamu baik-baik ya dirumah mama Nisa dan om Henry," Ucap Siren di angguki Khenin dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap pertemuan itu.
**
__ADS_1
Hari ini seperti biasa Khenin pulang menaiki bus angkutan umum karena tidak mungkin dirinya menunggu Elang apalagi mustahil juga jika Elang menjemputnya. Khenin lagi-lagi menolak Dino yang menawarkan untuk mengantarnya pulang. Khenin ingin menghindari Dino sedikit demi sedikit karena ia tidak mau cari ribut lagi dengan Nety yang ternyata adalah mantan Dino.
Sampai di rumah, Khenin berganti pakaian kemudian turun kebawah untuk makan siang. Suasana sepi, ia melihat ke dapur dan ternyata ada bi sumi sedang makan siang bersama suaminya pak Kardi di dapur. Pak Kardi adalah tukang kebun di rumah ini. "Non ada yang bisa bibi bantu," Ucap bi Sumi kaget segera bangkit dari duduknya begitu juga pak Kardi.
Khenin tidak menjawab, tatapan matanya fokus pada apa yang ada di meja dapur. Ada sayur asem, ikan asin dan sambal tomat kesukaan Khenin. "Khenin boleh ikutan makan sama bi sumi dan pak Kardi nggak?" Ucap Khenin sembari menunjuk masakan yang mereka makan.
"Non, makanan untuk non dan den Elang sudah bibi siapin di meja makan. Kalau ini cuman makan kampung," Ucap bi Sumi yang merasa tidak enak jika majikannya makan makanan yang mereka makan.
"Iya non, jangan kami nanti nggak enak sama tuan dan nyonya," Ucap pak Kardi ikut menimpali.
"Udah nggak apa-apa pak, bi," Tanpa basa basi Khenin mengambil piring, di sendokkanya nasi di taruh di atas piring, lalu mengambil sayur asem, ikan asin dan tak lupa sambal tomat kesukaannya. "Mari pak, bi.." Ucap Khenin tersenyum memakan makanan itu dengan lahap, apalagi tadi di sekolah dia tidak jadi makan karena ulah Nety.
Melihat itu, pak Kardi dan bi sumi saling melempar pandang kemudian tersenyum dan ikut makan bersama Khenin. Khenin merasa senang makan siang menu kesukaannya dan ada yang menemani. Selesai makan Khenin kembali ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang setelah sholat ashar.
Khenin tertidur hingga adzan magrib berkumandang membangunkannya dan ia segera bergegas ke dalam kamar mandi. Khenin membersihkan diri di kamar mandi. Selesai mandi, karena tergesa-gesa masuk ke dalam kamar mandi tadi ia lupa membawa baju ganti dan akhirnya ia pun keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya.
Khenin membuka pintu kamar mandi, lalu melangkah keluar hendak menuju ke lemari pakaian tapi tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya. "Apa yang loe dan wanita itu inginkan di keluarga gue," Suara Elang yang duduk di pinggir ranjangnya dengan tatapan tajam pada dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.......
__ADS_1