Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Kegilaan Fatimah


__ADS_3

"Apa maksud pertanyaanmu?" Tanya Zaki langsung meninggalkan Fatimah dalam bengongnya.


"Tunggu aku ingin bicara denganmu!" Fatimah mengejar Zaki.


Tetapi Zaki terus saja mengacuhkan panggilannya.


"Aku adalah Fatimah azZahra anak dari Toni Angkasa yang berasal dari kota Jakarta. Calon istrimu yang sesungguhnya!" ucap Fatimah sambil berteriak kepada Zaki.


"Lalu kenapa? Apa pentingnya? Apakah aku harus peduli denganmu?" Tanya Zaki dengan mata melotot kepada Fatimah.


"Aku ingin kau membatalkan pernikahanmu dengan Hilya dan kita lanjutkan rencana pernikahan kita!" ucap Fatimah tanpa merasa malu sama sekali.


Zaki tertawa sumbang mendengarkan keinginan yang diucapkan oleh Fatimah.


"Kau kira aku laki-laki yang tidak punya harga diri huh? Setelah kau campakkan begitu saja dan aku mau menerimamu sekarang? Jangan bermimpi! Apa kau kira aku bodoh? Mau menerima perempuan egois seperti kamu? Yang bahkan tidak mempedulikan nama baik keluargamu sendiri dan kabur dari pernikahan yang tidak kau inginkan!" ucap Zaki dengan mata berapi-api menatap Fatimah sehingga membuat Fatimah ciut nyalinya.


"Aku waktu itu tidak tahu siapa kamu dan tidak mengenalmu. Oleh karena itu aku kabur dari pernikahan itu. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku menginginkanmu untuk menjadi suamiku!" ucap Fatimah dengan berderai air mata.


"Cih! Dasar perempuan gila! Apa Kau pikir aku akan sudi dengan air mata buaya mu itu?" ucap Zaki seperti jijik terhadap Fatimah kemudian dia meninggalkan Fatimah sendirian di sana.


"Aku akan merebutmu dari adikku!" teriak Fatimah sehingga membuat Zaki memalingkan wajahnya dan menatap dia sejenak.

__ADS_1


"Silakan kalau kau ingin kehilangan reputasimu sebagai seorang dosen. Ketahuilah bahwa perbuatanmu itu sangat memalukan! Istriku seribu kali lebih baik daripada kau. Perempuan yang tidak memikirkan nama baik keluarganya yang hanya egomu yang kau pelihara. Kau melarikan diri demi menjadi seorang dosen kan? Dan sekarang kau ingin menghancurkannya begitu saja? Kau betul-betul perempuan yang bodoh!" Kemudian dia meninggalkan Fatimah dan tidak perduli lagi dengan apapun yang dikatakan oleh Fatimah. Karena dia sudah muak dengan perempuan itu.


"Dasar perempuan gila sesuka hatinya dia mempermainkan perasaan orang lain. Enak saja, aku sudah menikahi adiknya dan dia suruh aku untuk membatalkan pernikahan. Memangnya pernikahan itu permainan anak kecil? Bisa-bisa aku digorok sama Abyku. Lah emang dia tanggung jawab kalau aku sampai dihapus dari KK keluargaku? Bisa habis aku dihajar sama Abi! Apalagi Umi yang sayang banget sama istriku bisa dicoret aku jadi anaknya cuma demi perempuan gila itu! Tidak sudi aku! Ya Allah Ampuni dosaku gara-gara dia hatiku jadi kotor seperti ini!" ucap Zaki terus mengelus dadanya kemudian dia menghubungi ibunya yang ada di Indramayu.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Zaki menghubungi ibunya.


"Ada apa Nak. Apakah ada keperluan?" tanya Qonita kepada Zaki.


"Umi! Umi tahu perempuan yang bernama Fatimah Azzahra yang Kakaknya Hilya! Umi pernah bertemu dengan dia?" Tanya Zaki.


"Umi pernah bertemu satu kali dengan dia waktu acara lamaran kalian. Memangnya ada apa?" tanya Qonita penasaran.


"Astaghfirullahaladzim! Kok ada ya perempuan tidak tahu malu seperti dia? Dia sudah mencampakanmu di hari pernikahan kalian. Kalau waktu itu tidak ada Hilya sudah pasti keluarga kita akan menanggung aib dan malu. Nama baik keluarga kita akan tercoreng karena batalnya pernikahan. Sekarang dia tiba-tiba datang dan ingin menikah dengan kamu?? Kalau kau sampai memperdulikan perempuan itu. Percayalah umi pasti tidak akan pernah mau mengenalmu lagi!" ucap Qonita dengan penuh emosi.


"Tenanglah Umi. Aku juga laki-laki yang punya harga diri. Aku tidak sudi menerima dia menjadi istriku. Setelah apa yang sudah dia lakukan terhadap keluarga kita dengan dia kabur dari pernikahan. Bukankah dia sudah menghina kita? Sekarang setelah dia mengenal Zaki katanya dia mencintaiku dia sungguh benar-benar perempuan yang tidak punya adab!" ucap Zaki dengan penuh emosi.


"Lebih baik kau keluar saja dari kampus itu. Pindahlah ke Jakarta supaya kamu dan Hilya tidak usah berjauhan lagi. Hindarilah fitnah yang akan membuat rumah tangga kalian jadi berantakan!" Qonita berusaha untuk menasehati putranya.


"Bukankah akan lebih bagus kalau kau mengajar di kampusnya Hilya saja? Supaya Hilya tidak usah pindah ke Jogja. Biar kau saja yang pindah ke sini. Sekalian Kau menghindari ular berbisa itu. Pokoknya Umi tidak rela kalau kau sampai membatalkan pernikahanmu dengan Hilya!" Qonita menegaskan ketidak keinginannya untuk disaki bersama dengan Fatimah.


"Ya Umi nanti Zaki akan diskusi dengan rektorat. Semoga saja mereka mengizinkan Zaki untuk mutasi ke Jakarta!" ucap Zaki.

__ADS_1


"Sebaiknya hindari saja ular berbisa seperti itu daripada nanti akan memberikan racun dalam kehidupan rumah tanggamu. Hilya itu wanita yang baik. Umy yakin dia akan bisa menjadi istri yang baik untukmu!" ucap Qonita meyakinkan putranya.


"Iya Umi Zaki tahu! Umi tidak usah khawatir. Zaki tahu apa yang terbaik untuk hidup Zaki!" ucap Zaki meyakinkan kepada ibunya.


"Nanti Umi akan menelpon mertuamu untuk dia bisa menegur Fatimah agar jangan mengganggu kamu lagi!" ucap Qonita dengan nada kemarahan yang luar biasa.


"Lebih baik mulai sekarang kau harus menghindari Fatimah. Jangan pernah kau bertemu lagi dengan dia. Kau harus ingat pesan Umi Zaki. Kalau Abimu mendengarkan kabar Ini dia juga pasti akan mengamuk!" Qonita memberikan pesannya sebelum akhirnya mereka memutuskan panggilan tersebut.


"Benar apa kata Umi. Lebih baik aku meninggalkan kampus ini dan pindah ke Jakarta itu jauh lebih baik untuk menghindari mudharat yang lebih besar!" akhirnya Zaki memutuskan untuk keluar dari kampus dan pindah ke kampus tempat Hilya saat ini menimba ilmu.


"Aku akan bertemu dengan Rektor dan meminta surat rekomendasi dari beliau. Agar aku bisa pindah ke Jakarta dengan mudah!" dengan penuh kemantapan Zaki akhirnya mendatangi rektorat tempatnya bekerja selama beberapa bulan ini.


Begitu sampai di gedung rektorat. Zaki langsung mendatangi ruangan Rektor kampus tersebut. Untuk meminta izin beliau untuk bisa pindah ke Jakarta.


"Tetapi aku baru bekerja di kampus ini beberapa bulan. Apakah mungkin, aku akan bisa mendapatkan surat rekomendasi dari beliau?" seketika terbit keraguan di hati Zaki karena dia pun merasa sudah betah bekerja di tempat itu.


"Kalau aku pindah pekerjaan. Pasti itu akan membuatku harus kembali memulai segalanya dari nol dan juga harus kembali beradaptasi dengan lingkungan yang baru!" seketika Zaki menjadi ragu atas keputusan yang tadi diambil.


"Sudahlah nanti malam Aku akan berusaha untuk berdiskusi dengan Hilya, istriku. Siapa tahu dia bisa memberikan solusi untukku!" akhirnya Zaki memutuskan untuk pulang dan mencoba untuk menenangkan dirinya di apartemen.


"Aku yakin kalau aku tidak akan pernah tergoda dengan Fatimah. Hanya saja aku tidak ingin menimbulkan fitnah diantara kami berdua dan aku tidak mau menyakiti hati Istriku. Kalau dia tahu aku bekerja di tempat yang sama dengan Fatimah!" ucap Zaki sambil menimbang-nimbang ponsel yang ada di tangannya dia sedang menunggu sang istri menghubunginya.

__ADS_1


__ADS_2