Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Meresahkan Sekali


__ADS_3

Sore itu tampak percakapan begitu serius antara Kyai Rasyid dan Qonita kedua orang tua Zaki Al Buckhari.


"Fatimah sudah benar-benar keterlaluan Abi! Kita harus segera bertemu dengan besan kita. Kita harus membicarakan apa yang harus kita lakukan ke depannya. Kita tidak bisa diam dan membiarkan dia mengganggu rumah tangga Putra kita!" ucap Qonita dengan mata berapi-api. Qonita merasa kesal dan jengkel dengan kelakuan Fatimah yang selalu menteror putranya di Jogjakarta.


"Sabarlah Umi! Jangan selalu dipelihara yang namanya emosi dan kemarahan. Umi harus tahu, itu adalah tempat jalannya setan untuk merusak umat manusia!" ucap Kyai Rasyid dengan menatap teduh wajah sang istri yang kini mulai mengelus dadanya dan mengucapkan istighfar.


"Kita tunggu Zaki kembali ke Jakarta. Setelah itu kita akan bicarakan lagi apa yang akan kita lakukan ke depannya!" ucapp Kyai Rasyid kemudian langsung bangkit dari tempat duduknya dan segera berangkat ke Aula Pondok untuk mengajar kembali santrinya.


Kyai Rasyid memang termasuk seorang kyai yang bertanggung jawab terhadap pondoknya dia mengajar secara langsung para santrinya yang tingkat atas yang untuk menjadi calon-calon pembina santri-santri junior atau santri baru yang masuk ke pondoknya.


Jadi para senior akan langsung berhadapan dengan Kyai Rasyid dan mendapatkan ilmu langsung dari beliau yang kemudian akan diberikan kepada adik-adik mereka.


Tampak Qonita kini sedang sibuk menelpon putranya. Tetapi sejak tadi Zaki ditelepon tidak juga diangkat-angkat entah apa yang sedang dilakukan oleh putranya itu sehingga membuat Qonita merasa khawatir.


"Ke mana Zaki ya? Kenapa jam segini dia belum juga mengangkat telepon? Duh ini anak selalu saja bikin khawatir!" ucap Qonita sambil mondar-mandir di kamarnya memikirkan nasib putranya di Jogjakarta yang saat ini sedang terkena kasus gara-gara perbuatan Fatimah yang berteriak-teriak di depan para mahasiswanya.


Berita itu menjadi viral di media sosial sehingga menyeret nama putranya dan juga lembaga pondok pesantren yang dipimpin oleh suaminya.


"Aku lebih baik menghubungi menantuku. Siapa tahu mungkin Zaki menghubungi Hilya!" ucap Qonita kemudian dia langsung mencari nomor telepon Hilya untuk menanyakan tentang putranya yang sejak tadi malam dia telepon tak juga mengangkat.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Qonita memberikan salam kepada menantunya yang tersayang.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" ucap Hilya menjawab salam dari mertua yang selama ini selalu menyayanginya.

__ADS_1


"Ada apa Umi? Masih pagi kok sudah menelpon?? Apakah ada keperluan?" tanya hillya kepada mertuanya.


"Umi khawatir dengan keadaan Zaki dari tadi umi menelponnya tapi tidak diangkat juga Apakah kau tahu kabar terbaru dari suamimu?" tanya Qonita kepada Hilya.


"Kemarin Mas Zaki menghubungiku. Katanya dia akan segera datang ke rektorat dan meminta untuk pindah ke Jakarta!" ucap Hilya dengan suara lembutnya.


"Jadi Zaki sudah memutuskan untuk pindah dari Yogyakarta? Syukurlah kalau begitu, Umi jadi tenang! Sayang, kamu jangan sampai terpengaruh ya? Dengan perbuatan kakakmu itu. Kau harus percaya dengan suamimu!" ucap Qonita.


"Iya Umi! Hilya tahu kok, Hilya bisa merasakan kalau masih Zaki tuh berusaha sangat keras untuk memperjuangkan pernikahan kami!" ucap Hilya dengan penuh keyakinan sehingga membuat Qonita merasa sangat lega dan tenang karena menantunya tidak terpengaruh dengan berita-berita yang ada di media sosial tentang putranya dan juga Fatimah.


"Alhamdulillah! Syukurlah kalau kau bisa memahami dan juga percaya dengan Putra Umi!" ucap Qonita sangat bersyukur dengan Hilya yang percaya terhadap putranya.


"Hilya tahu kalau Mas Zaki mencintai Hilya Umi dan Hilya bisa merasakan itu. Walaupun kami berjauhan, Hilya tidak khawatir. Walaupun ada Kak Fatimah yang setiap hari selalu berusaha mendekati Mas Zaki!" ucap Hilya mengutarakan perasaannya saat ini kepada Qonita.


"Tidak Umi! Hilya ingin menunggu Mas Zaki kembali biar terasa berkesan saja gitu Umi, mengunjungi apartemen kami berdua bersama-sama!" ucap Hilya dengan bahagia.


"Ya sudah terserah kalian saja Umi percaya bahwa Kalian pasti mempunyai pemikiran yang lebih baik. Daripada Umi. Karena kalian yang akan menjalaninya. Umi sama Abi di sini hanya bisa mendoakan kalian agar selalu rukun dan bahagia!" ucap Qonita mendoakan dan juga mempercayakan segalanya kepada Zaki dan Hilya.


"Baiklah Umi Hilya tutup dulu ya? Karena Hila harus segera berangkat ke kampus untuk ujian. Karena hari ini adalah terakhir. Semoga saja Hilya bisa sukses ujiannya.!" ucap Hilya berpamitan kepada Qonita


"Amin sayangnya Umi! Umi selalu mendoakan untuk kebaikan kalian ya sudah titip salam untuk orang tuamu ya Assalamualaikum!" ucap Qonita kemudian dia langsung menutup teleponnya kepada Hilya.


Qonita segera berangkat ke Aula Pondok untuk membantu suaminya mengajar anak-anak yang sedang berjuang untuk menghafalkan Alquran.

__ADS_1


...****************...


Sementara itu, Zaki sudah bersiap di apartemennya. Pakaian dan juga semua barang-barangnya sudah dia kemas dengan rafi dan siap masuk ke dalam mobilnya. Tadi malam semalaman dia bergadang ditemani oleh Ilham untuk membereskan semua itu.


"Ham, ayo bangun salat subuh dulu! Aku harus segera berangkat ke kampus nih untuk mengurus surat perpindahanku!" ucap Zaki sambil menggoncangkan tubuh Ilham yang saat ini sedang tertidur di sofa ruang tamunya. Ilham tampak begitu lelap dalam tidur sehingga membuat Zaki merasa kasihan juga terhadapnya.


"Ham, ayo bangun salat subuh dulu. Kalau setelah itu kau mau tidur lagi tidak masalah!" ucap Zaki. Karena Zakir tahu Ilham sangat kelelahan dan pasti sangat mengantuk. Tadi malam mereka berdua tidur jam 03.00 pagi membereskan semua barang-barangnya yang akan di bawa ke Jakarta.


Tampak Ilham menggeliatkan tubuhnya dan memicingkan matanya menyesuaikan sinar yang masuk ke dalam kelopak matanya.


"Ayo salat subuh dulu!" ucap zaki kembali mengingatkan kepada sahabatnya untuk menjalankan tugasnya sebagai umat muslim di pagi hari.


"Iya iya ini gue juga bangun rese deh!" dengan ngedumel Ilham kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan segera mencuci wajahnya dan mengambil air wudhu setelah itu dia salat di ruangan yang disediakan khusus oleh Zaki untuk tempat salat dan mengaji.


Setelah selesai Ilham langsung mendekati Zaki yang sedang sibuk di dapur untuk membuatkan sarapan mereka berdua.


"Yah ntar gue kesepian deh kalau nggak ada lu. Terus gimana nih? Nasib apartemen lu? Mau lu jual atau mau Lu sewain?" tanya Ilham dengan wajah serius kepada Zaki dengan wajah yang masih tampak mengantuk.


"Tadinya sih mau gue jual. Tapi istri gue ngelarang. Katanya takut kalau suatu saat pengen pindah lagi ke Jogjakarta. Mungkin kalau suasana sudah kondusif lagi!" ucap Zaki kepada sahabatnya.


"Gue sewa apartemen lo aja ya? Kebetulan kontrakan gue sudah mau selesai daripada apartemen lu kosong juga kan?" ucap Ilham sambil menatap kepada Zaki yang masih menekuni masakannya.


"Iya serah lu aja nggak papa gunakan aja yang penting apartemen Gue selalu bersih dan nggak jorok. Karena gue paling nggak suka tempat gue dibuat kotor! Dan satu lagi jangan pernah berbuat zina di dalam apartemen gue karena gue nggak mau kebagian dosanya!" ucap Zaki sambil menunjuk hidung Ilham.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim bro! Emangnya gue mempunyai penampakan laki-laki semacam itu? Sejak dulu gue selalu berusaha menjaga kehormatan gue sebagai seorang laki-laki dan asal lu tahu, gue masih perjaka ting ting hingga saat ini!" ucap Ilham dengan wajah serius sambil menatap kepada Zaki yang saat ini sedang tersenyum kepadanya.


__ADS_2