Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Tekat Ilham mendekati Fatimah


__ADS_3

Farel sekarang sudah kembali ke Jogjakarta tugasnya sebagai seorang dekan sudah menumpuk karena dia tinggalkan selama 5 minggu.


Fatimah yang sudah kembali ke Jogja pun sudah mendapatkan surat peringatan dari pihak Universitas karena dia telah melalaikan tugasnya sebagai seorang dosen dengan pergi tanpa surat izin cuti dari pihak fakultas yang diterbitkan atau di acc oleh Farel.


" Semua ini gara-gara dia. Apa susahnya memberikan surat cuti dasar menyebalkan!" gerutu Fatimah sambil menimbang surat peringatan yang dikeluarkan oleh pihak fakultas untuk dirinya yang sudah melalaikan tugas sebagai seorang dosen di kampus itu.


" Akhirnya kau kembali!" ucap seseorang di belakang Fatimah.


" Ya ampun kau mengagetkanku!" seru Fatimah sambil mengelus dadanya yang terkejut gara-gara Ilham yang datang secara tiba-tiba di belakangnya.


" Kenapa kau pergi ke Jakarta tanpa meminta surat cuti dari dekan? Gara-gara Bu Fatimah tugas saya jadi double karena yang menjadi pekerjaan Bu Fatimah diserahkan kepada saya!" protes Ilham kepada Fatimah.


" Aku punya urusan yang penting bukan urusanmu!" ucap Fatimah misuh-misuh.


" Ya setidaknya kalau Bu Fatimah minta izin, kan jadi tidak mendapatkan surat SP dari pihak Universitas. Sekarang Bu Fatimah dalam masa peninjauan. Harus berhati-hati jangan sampai nanti dipecat secara tidak terhormat oleh pihak universitas. Itu sama saja dengan Bu Fatimah menghancurkan karir sendiri!" ucap Ilham memperingatkan Fatimah untuk mulai bertanggung jawab dengan pekerjaannya.


" Aku sudah mengajukan cuti. Akan tetapi tidak diterima oleh dekan kita yang tercinta! Salah siapa coba?" tanya Fatimah kesal.


" Memang keluarga mantan calon suami Bu Fatimah itu kan, masih Paman dari dekan kita. Ya wajarlah kalau dia tidak mau memberikan izin kepada bu Fatimah untuk mengganggu rumah tangga pamannya sendiri!" ucap Ilham kepada Fatimah.


" Apa kau bilang dekan kita masih Paman dari Zaki?" tanya Fatimah tampak terkejut dengan informasi itu.


" Loh bu Fatimah tidak tahu?" tanya Ilham.


Fatimah menggelengkan kepalanya kemudian dia melihat ke arah Farel yang kebetulan sedang lewat melintas di hadapannya.


' Tampaknya kalau aku mendekati dia aku bisa mengajaknya bekerja sama untuk menghancurkan rumah tangga Zaki dan Hilya! Aku tahu kalau dia memiliki perasaan untuk adikku yang tercinta!' batin Fatimah sambil melihat kepada Farel yang sudah masuk ke dalam ruangannya.


" Baiklah Pak Ilham! Saya pergi dulu ya saya ada keperluan yang lain!" ucap Fatimah sambil menepuk punggung Ilham yang terus memperhatikannya dari belakang.


" Ya ampun! Sebetulnya Bu Fatimah itu seorang gadis yang cantik dan juga mempesona. Tapi kenapa hatinya harus tertutup dengan cinta bertepuk sebelah tangan kepada Zaki? Saya yakin kalau dia mau membuka pintu hatinya akan ada banyak laki-laki yang mengantri untuk mendapatkan cintanya!" ucap Ilham sambil menatap Fatimah yang sudah jauh meninggalkannya.


" Mungkin aku harus berusaha untuk menarik perhatiannya dan membuat dia jatuh cinta kepadaku. Sehingga dia bisa melupakan cintanya kepada Zaki dan tidak mengganggu lagi pernikahan sahabatku dengan istrinya!" ucap Ilham bermonolog kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


Ilham kemudian mengikuti kepergian Fatimah yang sudah lumayan jauh di depannya.


" Kenapa dia seperti menuju ke tempat dekan ya?" tanya Ilham keheranan.


Ilham terus memperhatikan segala gerak-gerik yang dilakukan oleh Fatimah dengan sangat hati-hati karena dia takut Fatimah menyadari kehadirannya.


" Mau apa dia menemui Dekan kita yang tercinta?" tanya Ilham penasaran.


Sementara itu Fatimah yang saat ini sudah berada di depan pintu ruangan Farel dia langsung mengetuk dan meminta izin untuk masuk ke dalamnya.


Tok tok tok


" Apakah saya boleh masuk?" tanya Fatimah.


" Masuklah!" jawab Farel tanpa melihat ke arah Fatimah.


" Bisakah saya meminta waktu anda?" tanya Fatimah kepada Farel yang tampak sibuk.


" Bicaralah saya mendengarkan apa yang kau katakan!" ucap Farel sambil meneruskan pekerjaannya.


" Saya bisa mendengarkan apa yang Anda katakan. Walaupun saya sedang sibuk bekerja. Saya kemarin meninggalkan kampus lebih dari satu bulan. Oleh karena itu pekerjaan saya sangat menumpuk sekarang. Akan tetapi anda mengganggu pekerjaan saya. Seharusnya Anda bersyukur saya masih mengijinkan anda untuk duduk di hadapan saya dan mengatakan apa keperluan anda!" ucap Farel sambil menatap kepada Fatimah dengan tatapan datar dan dingin.


Sebenarnya Farel merasa malas untuk bertemu dengan Fatimah. Hanya saja dia ingat kalau Fatimah adalah kakak ipar dari Zaki dia mencoba untuk menghormati perempuan itu.


Selain itu Farel juga mengingat permintaan dari kakeknya untuk mempertimbangkan mengenai Perjodohan yang sudah diatur oleh Kyai Hamid beberapa puluh tahun yang lalu dengan keluarga Fatimah.


Memang kalau dilihat dari keturunan Farel pun bisa menjadi kandidat untuk dijodohkan dengan Fatimah.


Tetapi Farel belum mengatakan keputusannya. Apakah dia akan menerima ataukah akan menolak. Farel hanya mengatakan bahwa dia akan meninjau semuanya secara keseluruhan. Apakah dia bisa cocok bersama dengan Fatimah atau tidak. Karena dia tidak ingin memaksakan perasaannya dengan perjodohan.


" Saya ingin mengajak kerjasama dengan anda!" ucap Fatimah membuka pembicaraan di antara mereka berdua.


Farel mengerutkan keningnya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Fatimah.

__ADS_1


" Kerjasama seperti apa yang anda maksud? Bukankah Anda sudah bekerja di Universitas milik keluarga saya ini?" tanya Farel sambil menatap sekilas kepada Fatimah yang saat ini terus menatapnya dengan tajam.


" Saya tahu kalau anda mencintai adik saya Saya ingin kita bekerja sama untuk bisa memisahkan pernikahan mereka berdua!" ucap Fatimah to the point dengan niatnya menemui Farel.


Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Fatimah. Farel hanya tertawa merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang ada di hadapannya.


" Kenapa kau tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanya Fatimah merasa tersinggung kepada Farel.


" Kemarin anda juga menghubungi sahabat saya yang ada di Belanda juga meminta kerjasama yang sama yaitu untuk memisahkan Hilya dengan pamanku. Dan sekarang Anda datang kepada saya dengan hal yang sama?" tanya Farel sambil tersenyum sinis kepada Fatimah.


" Saya tahu kalau kau pun menyukai adik saya!" ucap Fatimah dengan senyum liciknya.


Farel tertawa terbahak-bahak mendengarkan lelucon yang dikatakan oleh Fatimah kepadanya.


" Keluarlah dari ruanganku karena saya tidak punya waktu untuk mendengarkan semua ocehan Anda yang tidak ada faedahnya!" ucap Farel sambil bangkit dari duduknya dan membuka pintu untuk Fatimah keluar dari sana.


" Jangan membohongi diri anda sendiri. Saya tahu kalau anda mencintai adik saya. Saya bisa melihat dari mata anda ketika Anda melihatnya!" ucap Fatimah ngotot dengan pendiriannya.


" Keluarlah sebelum Saya memanggil Security dan mengusir anda dari universitas ini. Anda tahu bukan kekuasaan saya seperti apa? Kampus ini adalah milik keluarga saya jadi saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan!!" ucap Farel menatap tajam ke mata Fatimah.


Fatimah tanpa kesulitan menelan salivanya sendiri masih belum menyerah untuk meyakinkan Farel untuk mau bekerja sama dengannya.


" Ayolah kerjasama kita ini pasti akan sangat menguntungkan. Kau mendapatkan Hilya dan aku mendapatkan Zaki bukankah kita sama-sama untung?" tanya Fatimah masih dengan senyum percaya dirinya.


" Setelah kemarin anda memenjarakan adik anda sendiri dengan alasan pencobaan pembunuhan dan sekarang anda mendatangi saya untuk menjadi komplotan anda Anda terlalu percaya diri nona!" ucap Farel dengan senyum miringnya seakan mengejek Fatimah yang belum bisa melepaskan pamannya untuk bersatu bersama adik kandungnya sendiri.


" Saya tidak akan menyerah sampai saya mendapatkan Zaki dalam pelukan saya!" ucap Fatimah dengan keukeuh.


" Terserah anda mau melakukan apa tapi yang jelas Jangan pernah mengajak saya untuk menjadi komplotan anda karena saya sama sekali tidak tertarik!" Ucap Farel dengan mata tajam menantang Fatimah seakan Farel sedang mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Fatimah adalah sebuah kesalahan besar.


' Dari mana dia mengetahui kalau aku mencintai Hilya Ya Tuhan ini bisa menjadi bencana kalau sampai dia mempercayai pikirannya itu! mulai sekarang aku harus benar-benar berhati-hati dalam bertindak dan melakukan apapun!' batin Farel sambil menata Fatimah dengan tajam.


' Aku ingin tahu berapa lama kau bisa berpura-pura bahwa kau tidak mencintai adikku tapi aku sangat yakin kalau kau menyimpan nama Hilya di dalam relung hatimu yang paling dalam!' batin Fatimah terus menyelisik hati seorang Farel yang sekarang berdiri di hadapannya dengan begitu gagah dan angkuh.

__ADS_1


" Pergilah anda sudah mengambil waktu saya terlalu banyak saya sangat sibuk!" ucap Farel mengusir Fatimah dari ruangannya.


" Jangan lupa kalau anda menginginkan seorang sekutu untuk memisahkan Hilya dan Zaki saya akan menerima dengan senang hati!" ucap Fatimah tersenyum.


__ADS_2