Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Peringatan Zaki


__ADS_3

Pagi itu tampak Zaki sudah rapih dan juga siap untuk berangkat ke kampus. Tampak Ilham masih terlelap dalam tidurnya di atas sofa ruang tamu milik Zaki.


" Bro bangun Bro Sudah siang apa kau tidak mau salat subuh?" ucap Zaki sambil mengguncangkan tangan Ilham.


" Ya ampun sudah pagi lagi??" tanya Ilham sambil memicingkan matanya.


" Lo kalau mau sarapan tuh sudah gue siapin ya di meja makan. Gue mau ke kampus pagi ini untuk menyerahkan surat pengunduran diri Gue ke rektorat!" ucap Zaki sambil menyiapkan berkas untuk pengunduran dirinya dari kampus yang baru beberapa bulan dia bekerja di sana.


" Gara-gara Fatimah Lu harus ngorbanin pekerjaan yang begini bagus!" ucap ilham sambil menggelengkan kepalanya. Seperti menyesali apa yang terjadi kepada sahabatnya.


" Udah nggak usah menyesali seperti itu. Syukuri saja! Gue yakin ko, semuanya pasti ada hikmahnya!" ucap Zaki mengulas senyum kepada sahabatnya.


" Ah lu mah apa-apa semuanya harus disyukuri. Ya udahlah! Gue mau mandi aja lalu sholat subuh dan sarapan. Lu kalau mau pergi ke kampus pergi aja. Ntar gue pergi sendiri pakai mobil gue!" ucap Ilham sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Eh bro gue pinjem pakaian lu ya? Gue lupa tadi malam gak bawa ganti!" ucap Ilham sambil menampakan kepalanya di pintu kamar mandi.


"Itu di kamar tamu ada pakaian baru kok!! Pakai aja, ntar lu balikin ke sana kalo udah lu pakai! Lu bisa pakai pakaian baru itu. Jangan coba-coba suntuh-suntuh pakaian gue!" ucap Zaki dengan mata tajam menatap Ilham.


"Pelit amat sih lo ketibang pinjam doang!" ucap Ilham sambil misuh-misuh.


"Eh lu! Harusnya bersyukur ya, gue kasih baju baru ama lu. Bukan baju bekas gue. Pokoknya Awas saja! Kalau sampai lu berani pegang-pegang barang-barang gue. Lu nggak bakal gue izinin lagi datang ke sini!" ucap Ilham dengan menatap horor kepada Ilham yang akhirnya lebih memilih untuk melanjutkan aktivitas mandinya.


"Bro gue berangkat dulu! Jangan lupa lo harus kunci apartemen gue sebelum lo meninggalkannya!" ucap Zaki di depan pintu kamar mandi.


"Hmmmmm!" terdengar jawaban dari Ilham yang saat ini sedang sibuk menggosok giginya.

__ADS_1


"Ya Allah semoga urusan hari ini semuanya dimudahkan!" doa Zaki sebelum dia pergi meninggalkan apartemennya.


Dengan perasaan tenang Zaki melangkahkan kakinya untuk pergi ke kampus. Tidak ada rona kemarahan maupun kebencian di wajahnya yang tampan.


Saat sakit fokus menyetir tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Zaki melirik sekilas dan ternyata itu adalah panggilan dari Uminya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Umi! Maaf Zaki baru sempat untuk mengangkat panggilan dari Umi!" ucap Zaki menjawab panggilan ibunya.


"Waalaikumsalam sayangnya Umi!" ucap Qonita tampak begitu bahagia mendengarkan suara putranya yang sejak kemarin sangat sulit dihubungi.


"Kenapa panggilan Umi baru kau jawab sayang? Dari kemarin Umi sangat khawatir sekali dengan kamu!" ucap Qonita bertanya kepada putranya.


"Maaf Umi sengaja memang Zaki menyembunyikan telepon. Karena dari kemarin banyak media dan juga rekan-rekan kerja yang terus meneror Zaki dengan panggilan dan juga SMS!" ucap Zaki menjelaskan kepada ibunya perihal kesulitan dalam menghubunginya kemarin.


"Ya, Umi kemarin sudah dirundingkan sama Hilya kalau saya akan pindah ke Jakarta! hari ini rencananya Zaki akan datang ke rektorat untuk menyerahkan surat pengunduran diri!" ucap Zaki menerangkan semua rencananya kepada ibunya yang sekarang mulai bernafas lega karena ada sebuah solusi untuk menyelamatkan rumah tangga putranya.


"Syukurlah sayang! Umi sekarang bisa tenang, kalau kau sudah memutuskan untuk keluar dari kampus tempat kau bekerja sekarang. Cepatlah kau urus supaya kalian tidak berpisah lagi. Kalau kalian berpisah terus seperti ini, kapan Umi punya cucu dari kalian?" ucap Qonita sambil mengulas senyum di bibirnya.


Qonita merasa sangat bahagia ketika dirinya membayangkan akan menimang cucu dari Zaki dan juga Hilya menantu kesayangannya.


"Umi ini ada-ada saja! Zaki baru juga menikah dua minggu, masa sudah ditanyain cucu sih? Memangnya Umi menginginkan cucu instan? Baru menikah udah brojol bayi? Amit-amit jabang bayi Umi!" ucap Zaki bergidik nyeri membayangkan hal buruk seperti itu terjadi kepadanya.


"Astaghfirullahaladzim Zaki! Kalau bicara tuh hati-hati sayang! Bagaimana kalau menjadi doa?" ucap Qonita sambil mengelus dadanya dan terus mengucap istighfar.

__ADS_1


"Kan Zaki hanya bicara perumpamaan Umi sayang! Ya udah Zaki tutup ya? Ini sudah mulai masuk ke area parkiran. Zaki mau langsung pergi menemui rektor dan menyerahkan surat pengunduran diri agar bisa segera diproses!" ucap Zaki berpamitan kepada ibunya.


"Ya udah Sayang! Kau hati-hati ya? Kau harus ingat! Kalau ketemu dengan Fatimah, kau harus tegas kepadanya jangan sampai kau terpengaruh dengan perempuan ular itu!" ucap Qonita dengan perasaan gemes karena memikirkan banyak sekali masalah yang sudah diberikan oleh Fatimah kepada putra kesayangannya.


"Ya Umi! Tenang saja. Zaki bisa menjaga diri ko. Tapi yang jelas, Umi harus selalu berdoa agar pernikahan Zaki dan Hilya bisa bertahan dan juga sanggup melewati segala ujian yang datang dalam pernikahan kami!" ucap Zaki.


"Kamu harus bersyukur sayang, karena mempunyai istri seperti Hilya. Dia tidak menyalahkanmu ataupun merasa curiga denganmu. Dia tetap percaya dan berpikir positif tentang kamu. Kau tidak boleh menyia-nyiakan perempuan salehah itu sebagai istrimu!" ucap Qonita menasehati putranya yang paling dia sayangi.


"Iya Umi Zaki tahu ko! Tenang saja. Ya udah Zaki tutup dulu ya Umi, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Zaki berpamitan kepada ibunya kemudian dia langsung melangkahkan kakinya menuju gedung rektorat.


Saat Zaki fokus berjalan, tiba-tiba saja tangan Zaki digamit oleh seseorang yang membuat Zaki merasa terkejut.


"Apa sih?" ucap Zaki refleks menarik tangannya dari cengkraman seseorang.


Mata Zaki membola dengan sempurna ketika mendapatkan Fatimah sekarang sudah berdiri di hadapannya.


"Kamu lagi? Gak ada bosan-bosannya kamu menteror hidup saya!" ucap Zaki sambil menatap tajam kepada Fatimah.


"Apa benar kabar yang berhembus kalau kau akan mengundurkan diri dari kampus ini?" tanya Fatimah dengan mata tajam menatap Zaki yang saat ini sudah memalingkan wajahnya dan bersiap untuk pergi dan meninggalkannya.


"Bukan urusanmu! Lagi pula siapa kamu? Ingin mencampuri hidup saya?" ucap Zaki sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Fatimah yang masih bengong di tempatnya.


"Kenapa sih kamu benci banget sama saya? Kenapa tidak kau coba untuk menerima kehadiran saya dalam hidup kamu?" tanya Fatimah sambil berlinang air mata.


"Mencoba untuk menerima kehadiran kamu? Apa kamu gila? Saya sudah mempunyai seorang istri dan saya mencintai dia. Saya tidak mau membuat dia bersedih dengan saya menerima kamu? Apa kau tidak punya otak untuk berpikir?" ucap Zaki dengan sengit. Kemudian Zaki langsung meninggalkan Fatimah, tidak memperdulikan perempuan itu memanggilnya.

__ADS_1


"Kenapa sih? Aku harus bodoh sekali karena meninggalkan kamu di saat pernikahan kita? Kalau tidak, saat ini pasti aku menjadi wanita yang paling bahagia karena dicintai oleh kamu!" ucap Fatimah sambil menangis.


Jadikanlah kejadian yang menimpa Fatimah ini sebagai sebuah itbar untuk kita. Bahwa sebelum kita memutuskan sesuatu harus dipikirkan dengan matang dan lihat dari segala sisi. Jangan hanya mengikuti ego dan nafsu pribadi. Sehingga akhirnya menyesali sesuatu yang sudah terlambat.


__ADS_2