
Kyai Rasyid langsung menemui Fatimah. Fatimah langsung berdiri ketika melihat Kyai Rasyid tersenyum ke arahnya.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Kyai Rasyid ketika bertemu dengan Fatimah yang langsung berdiri ketika melihatnya datang.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" ucap Fatimah sambil mencium tangan Kyai Rasyid dan juga Qonita.
Qonita yang perasaannya sedang jengkel karena perlakuan Fatimah yang selalu mengganggu putranya mau tidak mau harus menekan perasaannya saat ini.
" Ada keperluan apa Nak Fatimah datang ke pondok kami?" tanya Kyai Rasyid dengan suara lembut.
" Maafkan sebelumnya Pak Kyai kalau kedatangan Saya dianggap lancang!" ucap Fatimah berusaha untuk merancang kata-kata untuk bisa membuat laki-laki yang ada di hadapannya mau mengikuti keinginannya.
Tampak Kyai Rasyid hanya menganggukkan kepalanya. Fatimah menarik nafasnya dalam-dalam berusaha menguatkan hatinya agar bisa mengungkapkan apa yang dia inginkan untuk datang ke kediaman Kyai Rasyid.
" Maafkan saya pak Kyai. Saya datang kemari untuk meminta Pak Kyai membantu saya untuk membatalkan pernikahan Hilya dan juga Gus Zaki. Karena seharusnya yang menikah dengan Gus Zaki adalah saya!" ucap Fatimah dengan penuh keyakinan.
Kyai Rasyid menatap Fatimah dengan lekat sejenak dia menarik nafasnya dalam-dalam.
Tampak Qonita hendak berkata sesuatu. Akan tetapi tangannya langsung digenggam oleh Kyai Rasyid sehingga Qonita pun akhirnya terdiam. Menahan emosi yang ada di dalam hatinya saat ini kepada Fatimah.
' Sungguh tidak tahu malu sekali dia. Dia yang sudah kabur dari pernikahan dan sekarang dengan begitu mudahnya Dia meminta Untuk Anakku membatalkan pernikahan dengan istrinya!' batin Qonita sambil menatap tajam kepada Fatimah yang sedang menundukkan kepalanya karena merasa segan kepada Kyai Rasyid dan juga istrinya.
" Mohon maaf sebelumnya Nak Fatimah. Akan tetapi sepertinya Abah tidak bisa untuk mengabulkan permintaanmu!" ucap Kyai Rasyid sambil menggenggam tangan Qonita dengan semakin erat. Agar Qonita tidak mengatakan apapun yang akan membuat Fatimah menjadi sakit hati.
__ADS_1
" Tetapi yang seharusnya menjadi istri Gus Zaki adalah saya bukan adik saya!" ucap Fatimah dengan suara lantang.
Zaki yang mendengarkan semua perkataan Fatimah. Dia berniat untuk keluar dari tempat persembunyian mereka berdua. Akan tetapi Hilya menarik tangan suaminya dan menggeleng dengan pelan.
" Biarkan Abi yang mengurus semuanya. Hilya yakin kalau Abi pasti bisa meyakinkan Kak Fatimah untuk melupakan keinginan gilanya untuk menjadikanmu sebagai suaminya!" ucap Hilya sambil menatap kepada suaminya yang tampak sudah geram karena perbuatan Fatimah yang lancang mendatangi kedua orang tuanya.
" Tapi aku sangat tidak tahan Sayang untuk mengingatkan kepada perempuan itu bahwa bukan salah kita kalau saat ini kita berdua menikah!" ucap Zaki berusaha untuk membujuk Hilya agar membiarkannya keluar dan menegur Fatimah.
" Tolonglah mas kendalikanlah emosimu. Kau tahu bukan? Kalau tidak ada kebaikan di dalam emosi yang hanya dikendalikan oleh setan!" ucap Hilya sambil menatap kepada suaminya dengan tatapan teduh sehingga membuat Zaki merasa tenang hatinya.
" Percayalah kepada Abi dan Umi!" ucap Hilya lagi sehingga Zaki pun kemudian memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruang tengah di kediaman pribadi milik Kyai Rasyid.
Sementara itu Fatimah yang sedang berusaha untuk membujuk Kyai Rasyid untuk membantunya harus menelan pil kekecewaan karena Kyai Rasyid menolak keinginannya.
" Maafkan saya Nak Fatimah. Akan tetapi pernikahan dalam Islam bukanlah sebuah permainan. Mereka berdua sudah menikah di hadapan Allah dengan disaksikan oleh para malaikat dan juga para tamu undangan yang hadir di pernikahan mereka!" ucap Kyai Rasyid sambil menatap tajam kepada Fatimah yang sedang berkaca-kaca matanya.
" Bukankah waktu itu nak Fatimah yang kabur dari pernikahan? Sehingga membuat kami semua menjadi kalut dan kebingungan!" ucap Kyai Rasyid mengingatkan sebuah fakta yang tidak bisa dibantah oleh Fatimah.
" Kalau waktu itu tidak ada Hilya yang bersedia untuk menikah dengan Putraku pasti sekarang kami sedang menanggung aib karena malu yang sudah kau timpakan ke wajah kami!" ucap Qonita emosi. Dia tidak peduli lagi dengan suaminya yang sejak tadi memintanya untuk diam.
" Biarkan Abi yang bicara Umi. Sekarang lebih baik Umi masuk saja ke dalam. Daripada nanti menimbulkan kekisruhan yang tidak penting!" ucap Kyai Rasyid meminta kepada Qonita untuk meninggalkannya bersama Fatimah di aula pondok yang luas.
" Tapi Umi ingin melihat wajah dia yang begitu tidak tahu malu. Karena menginginkan Putra kita Untuk membatalkan pernikahannya!" ucap Qonita protes kepada Kyai Rasyid.
__ADS_1
Kyai Rasyid menatap kepada Qonita dengan tajam dan tidak mau dibantah lagi oleh istrinya. Akhirnya Qonita pun mengalah dan dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka berdua di aula pondok.
" Benar-benar membuat kesal!" ucap Qonita sambil meninggalkan mereka berdua di sana.
Qonita terkejut ketika mendapatkan Zaki dan Hilya yang saat ini sedang berada di ruang tengah di belakang Aula pondok.
" Kalian sedang apa di situ?" tanya Qonita menatap curiga kepada keduanya.
" Tidak apa-apa Umi. Kami berdua hanya ingin mengetahui apa saja yang sedang dibicarakan oleh Abi bersama dengan Kak Fatimah!" ucap Hilya dengan jujur kepada Ibu mertuanya yang langsung menatap mereka dengan lembut dan penuh kasih sayang.
" Kalian berdua masuk saja. Umi yakin Fatimah pun pasti ingin berunding dengan kalian berdua!" ucap Ibunya Zaki menyemangati kepada Hilya untuk ikut masuk ke dalam aula pondok dan berbicara dengan Fatimah.
Hilya menatap suaminya yang saat ini sedang menggelengkan kepalanya melarangnya untuk mengikuti keinginan ibunya.
" Hilya sebetulnya ingin bicara dengan Kak Fatimah. Akan tetapi Mas Zaki tidak mengizinkannya Umi!" ucap Hilya sambil menatap suaminya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.
" Tidak apa-apa Zaki. Kalian berdua temuilah Fatimah. Agar terbuka matanya sehingga dia bisa sadar dan Insaf dengan kesalahan yang saat ini sedang dia lakukan!" ucap Qonita memberikan penjelasan kepada Zaki untuk mengizinkan istrinya bergabung bersama dengan suaminya dan juga kakaknya di aula.
"Tidak Umi. Zaki itu mengenal sifat Hilya. Dia pasti bisa dibujuk oleh Fatimah untuk melakukan sesuatu yang tidak benar!" ucap Zaki sambil melirik kepada istrinya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.
" Percayalah kepada Hilya mas! Karena bagaimanapun Hilya mencintai Mas Zaki dan tidak ingin kehilanganmu sebagai suamiku!" ucap Hilya dengan suara tersekat di tenggorokannya.
Sebenarnya Hilya merasa sedih dengan apa yang dilakukan oleh Fatimah saat ini.
__ADS_1
Hilya ingat betul pada malam pernikahan, sebelum kakaknya itu keluar dari rumah dan meninggalkan pesta pernikahannya bersama Zaki. "Kau saja yang menikah dengan dia Dek!" kata-kata itu terngiang kembali di telinga Hilya seperti kaset rusak yang terus berputar di kepalanya.
" Dulu bukankah Kak Fatimah yang menyuruhku untuk menikah dengan Mas Zaki? Tetapi kenapa sekarang Kak Fatimah datang dan marah-marah disini?" ucap Hilya dengan suara lirih.