Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Syukuran Kehamilan


__ADS_3

Hilya menatap Zaki yang tampak bahagia mendengar kabar tentang kehamilannya. Sejujurnya saat ini perasaannya kalang kabut dan tidak mengerti harus berbuat apa.


' Tampaknya Mas Zaki sangat menginginkan anaknya ada di dalam kandunganku. Baiklah aku akan berusaha untuk menjaganya dan memberikan kebahagiaan untuk keluargaku kecil kami dan juga kepada kepada kedua mertuaku yang tampaknya sudah merindukan cucu!' batin Hilya dengan rasa haruf ketika melihat suami dan juga kedua mertuanya yang begitu bahagia mendengarkan kabar kehamilan dirinya.


' Kamu beruntung Hilya. Karena kamu memiliki orang-orang baik di dalam hidupmu. Allah begitu menyayangimu dengan menganugerahkan anak di dalam kandunganmu. Lalu, nikmat apalagi yang engkau dustakan Hilya? Sehingga kau tidak merasa bahagia dengan anugerah ini?' tanya suara lain di dalam diri Hilya.


" Ayo sayang kita pulang sekarang. Kita akan mengadakan syukuran di pondok dengan makan-makan bersama dengan para santri yang lainnya!" ucap Zaki sambil menggamit tangan istrinya dengan penuh kebahagiaan.


" Terima kasih Mas! Karena kau selalu bisa mentoleri kemanjaanku dan memaafkan kesalahanku. Aku berjanji akan menjaga titipan Allah di dalam kandunganku dan menjadikanmu Ayah yang paling bahagia di dunia ini!" ucap Hilya dengan suara gemetar karena merasa sangat terharu dengan cinta yang diberikan oleh Zaki untuknya.


" Iya sayang sama-sama ya? Mas juga minta maaf karena terlalu posesif kepadamu dan tidak bisa mengendalikan diri disaat kecemburuan itu datang menguasai hatiku. Maafkan Mas. Mas hanya tidak rela kalau harus kehilanganmu dalam kehidupanku!" ucap Zaki sambil mencium kening Hilya dengan penuh kasih sayang.


Kyai Rasyid dan Zahra sangat bahagia melihat anak dan menantunya yang sekarang hidup rukun dan bisa saling memaafkan satu sama lain atas kesalahan di masa lalu yang pernah terjadi di dalam kehidupan rumah tangganya.


" Syukurlah kalau kalian bisa saling memaafkan satu sama lain. Abi dan Umi benar-benar berharap untuk kebahagiaan kalian berdua!" ucap Kyai Rasyid sambil tersenyum kepada Zaki yang sangat bahagia.


" Ayo kita sekarang pulang saja jangan berlama-lama di rumah sakit. Umi akan menyiapkan syukuran yang meriah untuk calon cucu Umi dan mendoakan agar ibu dan anak bisa lahir dengan selamat!" ucap Zahra.


Mereka berempat pun kemudian kembali ke pondok dan mulai mempersiapkan acara syukuran yang dibantu oleh santri dan juga staf Pondok yang bertugas pada hari itu.


Hilya menghubungi kedua orang tuanya agar bisa datang ke Indramayu.


" Apa yang sedang kau lakukan sayang?" Tanya Zaki ketika melihat istrinya yang sangat sibuk dengan telepon di tangannya.


" Aku ingin menghubungi Umi dan Abi di Jakarta Mas tentang acara syukuran calon anak kita!" ucap Hilya mengulas senyum kepada suaminya.

__ADS_1


" Kau istirahat saja di kamar biar nanti Mas yang akan menghubungi Abi dan Umi. Bila perlu nanti mas akan menjemput mereka!" ucap Zaki sambil mengelus pucuk rambut istrinya dengan lembut.


" Ayolah Mas menelpon saja tidak lelah lagi pula aku merindukan Abi dan Umi!" ucap Hilya mulai protes lagi kepada suaminya yang selalu overprotektif kepada dirinya sejak mengetahui bahwa dirinya sedang hamil.


" Baiklah kau bisa melakukannya sayang. Mas sekarang akan pergi mencari Ustadz Romlan untuk membantu kita mempersiapkan acara syukuran ini!" ucap Zaki sambil mencium kening istrinya.


Hilya yang bahagia mendengarkan perkataan suaminya akhirnya memberikan kecupan di bibir sang suami dengan penuh rasa senang.


Zaki yang merasa bahagia melihat istrinya sudah kembali ceria dan mau menerima kehamilannya. Dia hanya menggelengkan kepalanya. Ketika dia melihat sang istri yang bertingkah kekanak-kanakan dan tampak sangat bersemangat.


Zaki meninggalkan Hilya yang mulai sibuk bertelepon dengan kedua orang tuanya di Jakarta.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Hilya kepada ibunya yang menerima panggilan teleponnya.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Apa Kabarmu Sayang? Lama sekali kau tidak menghubungi Umi dan Abi!" tiba-tiba Hilya merasakan kesedihan di dadanya mendengarkan pertanyaan sang ibu yang sangat dia rindukan.


" Maafkan Hilya Umi dan Abi. Hilya tidak menghubungi Umi karena sangat sibuk dengan kuliahku. Oh ya Umi Hilya punya kabar yang sangat bahagia untuk kalian berdua!" ucap Hilya sambil menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir di kelopak matanya karena merasa sedih ketika dia mengingat tentang Fatimah yang telah tega melaporkan dirinya ke kantor polisi hanya karena ingin merebut suaminya.


" Ada kabar bahagia apa sayang?" tanya ibunya Hilya merasa sangat penasaran.


" Alhamdulillah Umi Hilya sekarang sedang hamil sudah 2 bulan!" ucap Hilya dengan wajah sumringah.


" Alhamdulillah ya Allah akhirnya ada kabar bahagia di dalam keluarga kita!" ucap ibunya Hilya ketika dia mendengarkan kabar tentang kehamilan putrinya.


Zaki yang melihat kebahagiaan di wajah istrinya. Ketika mengabarkan tentang kehamilannya kepada kedua orang tuanya. Dia merasa sangat senang dan bahagia karena itu artinya sang istri benar-benar telah Ikhlas untuk mengandung anaknya.

__ADS_1


" Alhamdulillah ya Allah. Akhirnya kau membukakan pintu hati istriku untuk mau menerima kehamilannya dan menjalaninya dengan keikhlasan!" doa Zaki sambil tersenyum penuh kebahagiaan.


" Apakah bisa Abi dan Umi datang ke Indramayu sekarang? Karena kami akan mengadakan acara untuk syukuran kehamilan Hilya!" ucap Hilya dengan senyum bahagianya.


" Tentu saja kami akan datang tunggulah kami berdua akan bersiap-siap untuk ke Indramayu sekarang!" setelah berpamitan kepada putrinya Hilya langsung mencari sang suami untuk mengabarkan kabar bahagia itu.


" Ada apa Umi telepon dari siapa tadi kenapa wajah Umi sangat bahagia sekali?" tanya ayahnya hilyah ketika dia didatangi oleh sang istri dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.


ibunya Hilya mendekati sang suami yang tampak sibuk dengan laptopnya tampak sedang mengerjakan tugas kantor yang di bawah ke dalam rumah mereka.


" Ayo Abi kita segera datang ke Indramayu karena di sana akan diadakan acara syukuran untuk kehamilan putri kita!" ucap ibunya Hilya dengan penuh kebahagiaan.


Ayahnya Hilya menutup laptop yang ada di pangkuannya dan kemudian dia menatap sang istri dengan lekat.


" Ya ampun Umi! Apakah Umi sedang mengatakan kalau Hilya saat ini sedang mengandung?" tanya ayahnya hilyah mengkonfirmasi informasi dari sang istri tentang kehamilan putrinya.


" Iya Abi! Barusan jadi Hilya menelpon Umi kalau dia saat ini sedang hamil dan sekarang Kyai Rasyid akan mengadakan acara syukuran di pondok untuk kehamilan Putri kita!" ucap ibunya Hilya sambil tersenyum kepada suaminya.


" Alhamdulillah ya Allah! Karena akhirnya ada kebahagiaan juga di dalam keluarga kita. Setelah semua masalah yang ditimpakan oleh Fatimah kepada keluarga kita!" ucap ayahnya hilyah sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas langit kebun dia mengusapnya ke wajahnya dengan penuh rasa syukur.


" Ayo Umi! Kita berdua bersiap-siap untuk pergi ke Indramayu dan memberikan doa terbaik untuk cucu kita dan juga Hilya agar bisa melahirkan dengan selamat!" ucap ayahnya Hilya dengan wajah bahagianya.


" Lalu bagaimana dengan pekerjaan Abi di Jakarta? Karena kita pasti tidak akan mungkin hanya sehari dua hari di sana. Sudah lama bukan? Kita tidak bertemu dengan Hilya dan juga Zaki!" ucap ibunya Hilya kepada sang suami yang langsung tersenyum.


" Masalah pekerjaan bisa diatur. Abi bisa meminta sekretaris Abi untuk menghubungi Abi. Apabila ada masalah mendesak. Adapun pekerjaan yang masih bisa dihandle oleh Direktur yang lain, bisa Abi dilimpahkan kepada mereka. Abi hanya cukup dengam mengeceknya saja melalui email dan juga telepon conference yang bisa dilakukan kapan saja!" ucap ayahnya Hilya dengan enteng.

__ADS_1


Setelah bersiap-siap mereka berdua pun kemudian langsung berangkat ke Indramayu dengan diantarkan oleh sopir pribadi milik mereka.


Ayahnya Hilya terpaksa membeli mobil baru. Karena mobil lama mereka dibawa oleh Fatimah ke Jogjakarta dan tidak kembali sampai saat ini.


__ADS_2