Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Dokter Bagas


__ADS_3

Setelah selesai perkuliahan dan para mahasiswa banyak yang keluar dari kelasnya. Sementara Hilya masih sibuk untuk membereskan barang-barang bawaannya. Tampak Dokter Bagas mendekati Hilya.


Dokter Bagas mengajar hanya satu kali dalam seminggu. Selain itu dia bekerja sebagai seorang dokter specialis jantung di rumah sakit milik keluarganya.


" Hilya apa kita bisa bicara sebentar aku ada perlu denganmu!" ucap Bagas mendekati Hilya.


" Ada apa dokter?" tanya Hilya sambil menatap Bagas sejenak.


" Apakah benar yang dikatakan oleh orang-orang kalau kau sudah menikah?" tanya Bagas kepada Hilya.


" Iya benar! Memangnya kenapa?" tanya Hilya.


" Tidak apa-apa. Saya hanya ingin bertanya saja dan mengkonfirmasi. Mengenai berita yang beredar di kalangan para mahasiswa!" ucap Bagas terlihat kecewa.


" Hilya. Apa kau tahu kalau aku pernah mencintaimu?" Tanya Dokter Bagas sendu.


Hilya tampak terdiam menghentikan semua aktivitas yang tadi dia lakukan.


" Maafkan saya dokter tapi dokter sudah terlambat karena saat ini saya sudah mempunyai suami dan saya sangat mencintainya!" ucap Hilya yang kemudian meninggalkan Bagas seorang diri.


Sementara itu Zaki yang berada di luar pintu tampak tersenyum mendengarkan jawaban sang istri tercinta.


" Apakah kuliahmu sudah selesai? Bagaimana kalau kita pulang?" Tanya Zaki ketika dia sudah berhadapan dengan Hilya.


" Astaghfirullahaladzim Mas kamu membuat saya terkejut kenapa datang tiba-tiba?" tanya Hilya sambil mengelus dadanya.


' Apakah Mas Zaki mendengarkan percakapanku bersama dengan dokter Bagas apa dia tidak akan salah paham kalau melihat Kami berbicara tadi?" tanya Hilya dalam hati.


" Ayo Kau tidak mau pulang?" Tanya Zaki kepada Hilya.


" Iya Mas ayo kita pulang saya juga sangat lelah dan ingin beristirahat!" Hilya dan Zaki pun kemudian melangkahkan kaki bersama dengan bergandengan tangan di sepanjang jalan menuju ke tempat parkir.


Banyak mata para mahasiswi yang terkejut melihat Zaki berjalan beriringan bersama dengan Hilya.

__ADS_1


Sementara dokter Bagas yang berada di belakang mereka hanya bisa menatap kepergian Hilya dengan rasa kecewa di dalam hatinya.


" Apa kau tahu sayang? Lihatlah! Ada begitu banyak mata yang sepertinya kecewa ketika kau berdekatan denganku!" ucap Hilya kepada suaminya.


" Tidak apa-apa sayang. Bagiku yang penting kau merasa nyaman bersamaku. Aku tidak peduli dengan tatapan mereka semua!" ucap Zaki mengulas senyum kepada istrinya.


" Percayalah bahwa aku merasa sangat bangga mempunyai seorang suami sepertimu!" ucap Hilya.


Sementara mereka berdua sedang berbahagia di belakang sana Bagas sedang menderita hatinya melihat begitu akrab dan begitu bahagianya Zaki dan Hilya bersama.


" Aku terlambat mengungkapkan perasaan cintaku dan sekarang aku harus rela melihat wanita yang kucintai bersama dengan laki-laki lain!" ucap Bagas terus mengikuti Zaki dan Hilya dari belakang.


" Mungkin aku harus belajar Apa arti ikhlas dan merelakan orang yang kucintai untuk bahagia bersama orang lain! salahku sendiri yang terlalu lelet karena tidak cepat-cepat meminta Hilya untuk menjadi istriku. sehingga laki-laki lain mendahuluiku dan sekarang aku harus hidup dalam penyesalan yang tiada berujung karena cintaku kandas sebelum berkembang!" ucap Bagas sambil terus memperhatikan interaksi antara Hilya dan Zaki yang begitu bahagia dengan pernikahan mereka berdua.


" Tampaknya laki-laki yang tadi ada di dalam kelas mencintaimu ya?" Tanya Zaki kepada Hilya.


" Bagiku cukup kau saja untuk menjadi suamiku aku tidak butuh yang lainnya!" ucap Hilya tersenyum kepada suaminya.



" Aku juga punya suami yang tampan Kenapa harus melirik laki-laki lain yang tidak halal untukku?" tanya Hilya sambil mengencangkan seatbelt.


Zaki melihat bahwa istrinya kesulitan untuk memasang seat belt sehingga dia pun akhirnya membantu sang istri.


Zaki mengecup bibir Hilya sekilas dan dari arah jendela Zaki bisa melihat bahwa Bagas saat ini sedang memperhatikan interaksi mereka berdua.


Zaki mengerutkan keningnya merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Bagas yaitu mengikuti dan memata-matai mereka berdua.


" Lihatlah sayang laki-laki itu dari tadi terus memperhatikan kita berdua!" ucap Zaki sambil menunjuk ke arah Bagas yang saat ini sedang menatap mereka berdua dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.


" Biarkan saja sayang! Toh dia juga tidak mengganggu kita mungkin dia sedang ada kebutuhan sehingga duduk di tempat itu dan kebetulan matanya melihat ke arah kita!" ucap Hilya sambil tersenyum ke arah suaminya.


" Mas tahu kalau banyak laki-laki yang tertarik denganmu dan itu membuat Mas merasa cemburu!" ucap Zaki.

__ADS_1


" Fans mu juga sangat banyak dan aku juga cukup merasa cemburu tapi aku percaya bahwa pernikahan kita memiliki dasar yang kuat dan pondasi kepercayaan yang bisa aku pegang dengan teguh." ucap Hilya.


Zaki kemudian menyalakan mesin mobilnya dan langsung meluncur menuju pondok pesantren untuk beristirahat.


" Rasanya aku bisa melihat. Kalau dokter Bagas itu mencintaimu!" ucap Zaki ketika mereka sudah berada di dalam kamar.


" Bukankah tadi Mas sudah mendengarnya? Kalau dokter Bagas mengungkapkan bahwa dia mencintaiku?" tanya Hilya sambil menatap kepada suaminya.


" Apakah Dulu kau pernah mencintai dia juga?" Tanya Zaki merasa penasaran dengan masa lalu sang istri.


" Kalau aku mengatakan tidak suka, pasti dinyatakan sebagai munafik. Karena pada kenyataannya dokter Bagas itu sangat terkenal di kampus di kalangan para mahasiswa kedokteran. apalagi dia seorang dokter spesialis jantung yang sangat terkenal dan merupakan seorang pewaris dari rumah sakit jantung sehat! Siapa sih wanita yang tidak akan suka dengan dia?" tanya Hill Ya sambil menatap Zaki yang saat ini cemberut kepadanya.


" Jadi kalau waktu itu Fatimah tidak melarikan diri dan kau tidak menjadi istriku kau akan berhubungan dengan dia?" Tanya Zaki dengan tatapan membunuhnya.


" Bisa jadi siapa memangnya yang tidak mau mempunyai suami sekeren dokter Bagas?" tanya Hilya sambil membereskan ranjang mereka berdua.


" Apa kau tahu kau sudah menyakiti hatiku?" tanya Bagas kesal.


" Kan Mas bertanya dan aku menjawab. Lalu kenapa mas merasa sakit hati sih? Aneh banget! Kecuali kalau aku pergi dengan dia, lalu tidur dengan dia dan menjadi istri dia. Baru Mas boleh merasa sakit hati padaku!" ucap hillya sambil mengulas senyum kepada Zaki yang masih cemberut dan marah kepadanya.


" Kau benar-benar membuatku sangat patah hati sayang. Bagaimana mungkin engkau mengatakan itu dengan begitu ringan dan nyaris tanpa beban? Padahal di hatiku saat ini penuh dengan bara api cemburu!" ucap Zaki.


" Sudahlah mas Jangan membuang energi untuk hal yang nggak penting!" ucap Hilya kepada suaminya yang masih belum mau tersenyum kepadanya.


" Katakan padaku apa yang bisa membuatmu merasa bahagia dan yakin bahwa aku benar-benar adalah milikmu?" tanya Hilya.


" Mengandung anakku!" ucap Zaki.


" Tapi kan kita pernah ada perjanjian kalau kita tidak akan punya anak dulu setidaknya sampai aku lulus kuliah!" ucap Hilya.


" Apa kau tidak mau memiliki anak dariku?" Tanya Zaki seperti yang marah kepada istrinya.


" bukan begitu Mas! Tapi kan aku harus kuliah dan menyelesaikan studiku dan meraih cita-citaku sebagai seorang dokter!" ucap Hilya kepada suaminya yang masih cemberut karena merasa cemburu dengan dokter bagasi yang mengungkapkan cintanya kepada sang istri dan kebetulan diketahui oleh Zaki ketika itu.

__ADS_1


" Sudahlah Mas! Mari lupakan tentang dokter Bagas. Itu hanya akan membuat hatimu sakit! tidak ada hubungan apapun aku dengan dokter Bagas!" ucap Hilya.


__ADS_2