Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Penolakan Zaki


__ADS_3

Fatimah segera menemui Hilya untuk berbicara dengan adiknya dan kembali mengancam Hilya agar segera bercerai dengan Zaki.


" Aku pokoknya harus segera berbicara dengan Hilya dan menyuruhnya untuk segera bercerai dengan Zaki!" ucap Fatimah sambil mengarahkan mobilnya ke penjara.


Ketika Fatimah sudah sampai di penjara. Dia terkejut ketika mendapatkan keberadaan Zaki beserta dengan kedua orang tuanya.


" Bukankah katanya saat ini Zaki ada di Jakarta? Kenapa sekarang dia ada di sini?" tanya Fatimah dengan penasaran. Kemudian dia pun langsung mendekati Zaki dan kedua orang tuanya.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Fatimah ketika dia berhadapan dengan Kyai Rasyid dan juga Zaki dan Qonita.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" ucap Kyai Rasyid sambil tersenyum kepada Fatimah yang langsung mencium telapak tangannya.


" Kebetulan kita berempat bertemu di sini. Mari kita bertemu dengan Hilya agar kita bisa berdiskusi tentang nasib Hilya dipenjara!" ucap Fatimah dengan penuh percaya diri sambil memberikan senyum tercantik yang dia miliki.


Zaki hanya menatap sinis kepada Fatimah dan bersiap untuk meninggalkannya sendirian di sana.


" Mari! Kalau kau memang ingin berdiskusi dengan kami. Kebetulan kami pun sangat penasaran ingin mengetahui apa yang ingin kau diskusikan dengan anak dan menantu kami!" ucap Kyai Rashid sambil menatap Fatimah dengan tatapan yang teduh.


" Abi kita tidak perlu mendengarkan omong kosong dia!" ucap Zaki kesal.


" Kebetulan di dalam ada pengacara Hilya. Mari kita berdiskusi agar masalah ini segera selesai dengan baik!" ucap Kyai Rasyid dengan tersenyum kepada Zaki sehingga Zaki tidak berani menolak keinginan ayahnya.


Mereka berempat kemudian masuk ke dalam penjara dan bergabung dengan pengacara yang saat ini sedang berdiskusi tentang persidangan yang akan segera dilaksanakan dua hari lagi.

__ADS_1


" Halo Hilya Bagaimana kabarmu?" tanya Fatimah sambil tersenyum kepada adiknya yang saat ini sedang menjadi pesakitan gara-gara kelakuannya.


" Alhamdulillah baik kak! Bagaimana dengan kakak?" jawab Hilya sambil mengulas senyum kepada kakaknya jangan langsung duduk di hadapannya.


Zaki terlihat geram melihat senyum Fatimah yang begitu bahagia di hadapan istrinya yang saat ini sedang menderita gara-gara perbuatannya.


" Saya baru tahu loh ada seorang kakak yang begitu jahat. Demi keegoisannya dia bahkan rela untuk memasukkan adiknya ke dalam penjara!" ucap Zaki dengan sengit sambil menatap kepada Fatimah yang saat ini sedang tersenyum kepadanya.


" Hilya berada dipenjara bukan gara-gara aku. Tetapi gara-gara kamu yang tidak bersedia untuk mengikuti keinginanku. Agar aku segera mencabut tuntutanku!" ucap Fatimah seakan tidak merasa berdosa sama sekali dengan apa yang dia lakukan.


" Kau betul-betul tidak tahu malu. Bagaimana mungkin kau mengatakan hal seperti di hadapan kami semua?" tanya Qonita sambil menatap tajam kepada Fatimah.


" Memang apa salahnya? Aku kan hanya memperjuangkan apa yang kuinginkan dan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku! Dulu bukankah Kakek menjodohkan Zaki denganku? Bukan dengan Hilya!" ucap Fatimah dengan penuh kemarahan.


" Otak warasmu mungkin tidak bekerja ya? Makanya kau sangat sulit untuk diberikan pengertian. Walaupun sudah ribuan kata kami ucapkan kepadamu tapi tidak mempan sama sekali untukmu!" ucap Qonita dengan emosi yang memuncak di dalam hatinya.


" Tapi dia ini benar-benar menjengkelkan Abi!" ucap Qonita sambil menatap kepada suaminya.


" Kita berdoa saja kepada Allah agar hati Fatimah dibukakan dan bisa melihat kebenaran dan juga kesalahan yang dia lakukan selama ini. Sehingga dia bisa berhenti melakukan hal-hal yang membuat kita merasa kesal dan jengkel!" ucap Kyai Rasyid dengan tenang dan menatap Fatimah.


" Pak Kyai! Saya hanya menuntut hak saya!" ucap Fatimah memberikan pembelaan.


" Kau memiliki hak ketika kau sudah melaksanakan kewajibanmu. Sekarang saya bertanya kepadamu. Kewajiban apa yang sudah kau lakukan sehingga kau meminta hakmu untuk menikah dengan Zaki?" tanya Kyai Rasyid sambil menatap tajam kepada Fatimah yang sekarang menundukkan kepalanya.

__ADS_1


" Fatimah, mohon kau ingat kembali! Pada saat pernikahan kalian berdua. Waktu itu kabur dan meninggalkan acara tanpa memikirkan bagaimana nasib kami. Sehingga membuat kami kalang kabut dan kebingungan. Untung pada saat itu Hilya mau menerima untuk dinikahkan dengan Zaki. Kalau tidak, pasti nama keluarga kami akan tercemar di hadapan masyarakat. Ketika itu hakmu yang sekarang sedang kau tuntut sudah gugur. Karena pernikahan di hadapan Allah itu suci dan bukanlah permainan yang bisa kau mainkan sesuka hatimu!" ucap Kyai Rasyid dengan tegas dan keras.


" Tapi saya mencintai Zaki Pak Kyai dan saya ingin dia menjadi suami saya!" ucap Fatimah dengan mata berkaca-kaca.


" Dengarkan saya Nak! Cinta tidak bisa dipaksakan. Kalau kau ngotot melakukan hal seperti itu. Hanya akan membuat Zaki semakin membencimu dan tidak menyukaimu. Lebih baik kau bukalah pintu hatimu. Saya yakin di sekitarmu banyak laki-laki yang lebih baik dari Zaki yang mungkin saja salah satunya adalah jodohmu yang telah dihantarkan Allah kepadamu! Tetapi kamu tidak bisa melihatnya karena mata dan hatimu saat ini hanya tertuju kepada Zaki yang bukanlah hakmu. Karena dia sekarang sudah memiliki seorang istri dan mereka saling mencintai!" ucap Kyai Rasyid berusaha untuk membuat Fatimah bisa melupakan keinginannya untuk merebut Zaki dari Hilya.


" Abi mungkin biarkan saja Mas Zaki untuk menikahi Kak Fatimah. Saya akan mencoba untuk ikhlas dengan poligami yang akan terjadi di antara kami! Semoga ada kebaikan di dalamnya untuk kami semua!" ucap Hilya dengan berlinang air mata.


" Tidak! Aku tidak mau dan aku tidak akan pernah mau!" ucap Zaki sambil menatap tajam kepada istrinya yang saat ini sedang terisak dalam tangis.


" Tapi mungkin hanya itu. Solusi yang bisa kita lakukan untuk bisa menghentikan rasa penasaran di hati kak Fatimah terhadapmu! Dan berhenti untuk melakukan semua kegilaan yang akhirnya merugikan kita semua!" ucap Hilya dengan suara tersekat di tenggorokan.


" Tidak! Aku tidak mau! Kemarin aku memang sempat berpikir untuk berkorban dengan menikahi dia. Demi untuk kebebasanmu. Tetapi setelah aku melihat keegoisannya, jangankan untuk menikahinya. Hanya untuk berhadapan dengannya saja aku sudah sangat jijik dan muak rasanya!" ucap Zaki dengan mata berapi-api.


" Tolong jangan seperti itu Mas! Walau bagaimanapun. Kak Fatimah adalah kakakku dan aku tidak mau sampai tali silaturahmi diantara kami terpecah hanya karena masalah ini!" ucap Hilya menundukkan kepalanya.


Saat ini hati Hilya benar-benar sangat sakit dan juga pilu. Ketika dia memikirkan dan membayangkan tentang suaminya yang akan menikah lagi dengan kakaknya.


' Tidak ada wanita yang rela untuk dimadu. Hanya saja situasi dan kondisi saat ini memang memaksaku untuk merelakan Suamiku menikahi kakakku sendiri! Aku tidak mau kalau sampai hal ini akan semakin mengganggu kesehatan kedua orang tuaku. Biarlah aku akan berkorban untuk kebaikan semuanya!' batin Hilya sambil menatap suaminya dengan lekat dan tajam yang saat ini terus menggelengkan kepalanya.


" Tolong hentikan semuanya sayanh! Karena aku benar-benar tidak ingin mendengarkan apapun yang kau katakan lagi!" ucap Zaki parau sambil meninggalkan ruangan itu.


' Ya Allah tolong! Lepaskanlah kami dari beban yang sangat berat ini. Aku benar-benar tidak mau kalau sampai menyakiti hati istriku yang murni semurni embun pag!' batin Zaki sambil meraup wajahnya dengan kedua tangan berusaha menghempaskan segala kebingungan dan juga rasa frustasi yang saat ini ada di dalam pikirannya.

__ADS_1


" Zaki cobalah kau beristikharah dan minta petunjuk kepada Allah. Apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan semua masalah ini! Mungkin keikhlasan hati Hilya menerima poligami bisa menjadi petunjuk untuk menyelesaikan semua masalah saat ini!" ucap Kyai Rasyid sambil menepuk punggung putranya yang terus menggelengkan kepalanya.


" Tidak Abi! Pokoknya Zaki tidak akan pernah mau menikahi Fatimah, Titik dan tidak akan pernah bisa diganggu gugat lagi!" ucap Zaki frustasi sekali.


__ADS_2