Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Sabar Umi


__ADS_3

Begitu pintu gerbang pondok dibuka Fatimah langsung menstarter kendaraannya untuk masuk ke dalam pondok dan bertemu dengan Hilya, adiknya dan juga Zaki.


Fatimah langsung turun dari mobil begitu dia melihat adiknya sedang berjalan bersama dengan Zaki, pria yang dia cintai.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Fatimah langsung mendekati adiknya yang tampak terkejut melihat kedatangan kakaknya yang begitu tiba-tiba.


" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ya ampun Kak Fatimah kok datang ke sini tidak kasih kabar dulu?" ucap Hilya sambil menyambut kedatangan kakaknya yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.


Zaki tampak mengerutkan keningnya tidak senang dengan kehadiran Fatimah di pondok Pesantren milik kedua orang tuanya.


" Mau apa kamu ke sini? Jangan katakan padaku, kalau kau mau membuat kekacauan lagi!" ucap Zaki dengan nada sinis.


" Aku ingin bicara dengan adikku apakah tidak diperbolehkan?" ucap Fatimah sambil menatap tajam kepada Zaki yang masih cemberut kepadanya.


" Aku sebagai suaminya melarang istriku untuk bertemu denganmu!" ucap Zaki sambil menarik tangan istrinya untuk menjauh dari Fatimah yang sangat Dia benci.


" Apakah salah kalau aku memperjuangkan cintaku padamu?" tanya Fatimah dengan mata berkaca-kaca.


" Tentu saja salah karena aku sudah punya istri dan aku tidak berminat untuk menambah istri lagi, karena aku sangat mencintai istriku saat ini!" ucap Zaki sambil menatap tajam kepada Fatimah yang terus saja berusaha untuk mendekatinya.


" Mas! Biarkan saya bicara sebentar dengan Kak Fatimah. Mungkin dia memiliki sesuatu untuk dibicarakan dengan saya!" ucap Hilya meminta izin kepada suaminya untuk berbicara dengan Fatimah.


" Mas sudah tahu apa yang akan dia bicarakan dan tidak ada faedah sama sekali bicara dengan dia sebaiknya suruh dia bertemu dengan Abi biar Abi yang menghadapi kebebalan dia!" ucap Zaki sambil menarik tangan istrinya untuk menjauh dari Fatimah.


Zaki memanggil salah seorang santri di pondok ayahnya.

__ADS_1


" Ada apa Gus? Apakah ada yang bisa saya bantu?" ucap santai tersebut dengan takjim dihadapan Zaki dan juga Hilya.


Fatimah tampak iri melihat santri tersebut mencium tangan adiknya dengan begitu takjim dan juga hormat.


' Seharusnya aku yang ada di posisi itu mendapatkan segala kehormatan itu sebagai istri Zaki!' batin Fatimah dengan rasa iri yang sangat tinggi di hatinya.


" Tolong kau antarkan tamu kita untuk menemui Abah Kyai!" ucap Zaki sambil menarik tangan istrinya untuk pergi ke kediaman pribadi mereka yang sudah disediakan oleh kedua orang tuanya selama mereka tinggal di Indramayu.


" Mari bu saya antarkan ke kediaman Abah Kyai!" ucap santri tersebut sambil menatap kepada Fatimah yang saat ini sedang cemberut dan tidak senang dengan perlakuan Zaki kepadanya.


" Maafkan Hilya Kak tapi suami dia tidak mengizinkan untuk kita bicara!" ucap Hilya sambil meninggalkan Fatimah yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh rasa iri dengki yang besar.


'Kurang ajar sekali dia! Mentang-mentang Zaki mencintainya. Dia jadi berperilaku seperti itu benar-benar tidak menghormatiku sama sekali sebagai kakaknya!' batin Fatimah dengan penuh rasa kekesalan terhadap adiknya yang pergi begitu saja tanpa kata lagi dan meninggalkannya bersama Zaki.


" Apa kau lihat-lihat jalan saja tidak usah kau melihat-lihat padaku!" ucap Fatimah membentak santri tersebut yang sejak tadi terus melirik ke arahnya.


" Maaf saya tidak bermaksud untuk kurang ajar kepada anda tetapi apakah Anda adalah kakak dari istri Gus Zaki?" tanya santri tersebut dengan sopan.


" Ya! Memangnya kenapa ada masalah?" tanya Fatimah sambil menatap tajam kepada santri tersebut.


" Tidak, tidak ada masalah mari saya akan tunjukkan tempat Abah Kyai. Sehingga anda bisa berbicara dengannya!" ucap santri itu sambil berjalan lebih cepat agar segera sampai di kediaman kedua orang tua Zaki.


' Ya ampun wanita ini luar biasa sekali pantas saja Gus Zaki tidak menyukainya!' batin cantik itu sambil melirik sekilas kepada Fatimah yang masih menatapnya dengan tidak senang.


" Kenapa kau lilik-lirik padaku jalan saja. Apa kau tidak mengerti?" ucap Fatimah lagi menghardik santri itu untuk tidak melihat kepadanya lagi.

__ADS_1


Santri itu pun akhirnya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mengelus dadanya melihat kekasaran Fatimah terhadap dirinya yang hanya ditugaskan untuk mengantarkannya untuk bertemu dengan pimpinan pondok pesantren tempat dia menuntut ilmu agama.


" Sebentar bu saya akan melapor dulu ke dalam!" ucap santri itu sambil meninggalkan Fatimah di teras kediaman pribadi milik Kyai Rasyid.


Kyai Rasyid yang saat ini sedang berbincang dengan Qonita tampak terkejut melihat santrinya datang dengan tergopoh-gopoh.


" Ada apa nduk kenapa terburu-buru seperti itu?" tanya Kyai Rasyid setelah santri itu mencium telapak tangannya dengan sangat takjim dan juga penuh hormat.


" Mohon maaf Abah Kyai, di depan ada kakak istrinya Gus Zaki meminta untuk bertemu dengan Pak Abah Kyai!" ucap santri tersebut sambil menundukkan kepalanya di hadapan Kyai Rasyid dan Qonita.


" Mau apa perempuan itu datang kemari Abi? Dia benar-benar cari perkara sekali!" ucap Qonita dengan amarah di dadanya.


Kyai Rasyid menurut santri itu untuk keluar dari kediamannya dan meminta kepadaNya untuk menyampaikan agar Fatimah menunggunya di aula pondok.


" Minta kepada tamu untuk menunggu saya di aula Pondok sebentar lagi saya akan ke sana!" ucap Kyai Rasyid kemudian dia mengajak Qonita untuk menemui Fatimah.


" Sabar Umi jangan sampai amarah Umi akan merusak selisih silaturahmi kita dengan keluarga Hilya. Bagaimanapun Hilya adalah menantu kita!" ucap Kyai Rasyid untuk menyabarkan istrinya agar tidak terbawa emosi mengikuti Fatimah yang selalu mencari masalah dengan putranya.


" Perempuan itu betul-betul tidak tahu malu. Dulu dia mencampakan putra kita tanpa berpikir panjang. Sekarang dia datang kemari pun tanpa berpikir lagi, benar-benar membuat kesal sekali!" ucap Qonita sambil menatap kepada suaminya yang sampai saat ini masih bersikap tenang dan nyaris tanpa amarah di wajahnya.


" Abi kok bisa sih bersikap tenang seperti itu padahal kehidupan rumah tangga Putra kita sedang dalam bahaya!" ucap Qonita protes kepada suaminya.


" Apakah kita harus menghadapi orang yang sedang tidak berpikir jernih dengan emosi yang memuncak seperti itu? Kita harus sabar umi dan membicarakan masalah ini dengan kepala dingin!" ucap Kyai Rasyid sambil menatap kepada istrinya.


" Sebaiknya nanti Umi tidak usah bicara. Biarkan Abi yang bicara dengan Fatimah ya?Jangan sampai nanti kata-kata Umi akhirnya akan menorehkan luka di hati Fatimah!" ucap Kyai Rasyid berpesan kepada istrinya.

__ADS_1


__ADS_2