Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Positif


__ADS_3

Zaki tampak mondar-mandir di depan ruangan Hilya yang saat ini sedang diperiksa oleh dokter kandungan.


Sebenarnya ibunya tadi mengajak Zaki untuk ikut masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Akan tetapi Zaki menolaknya karena dia belum merasa siap untuk melihat sang istri yang tampak menderita dan kesakitan.


Apalagi Hilya mengatakan kalau dia selalu merasa mual dan juga ingin muntah ketika mencium aroma tubuhnya secara dekat.


" Duduklah Zaki di kursi. Kau mondar-mandir begitu malah membuat Abi menjadi pusing kepala!" perintah Kyai Rasyid kepada putranya.


Zaki kemudian menatap sang ayah yang kini menatapnya dengan tajam.


" Abi tahu kalau kau khawatir dengan keadaan istrimu. Akan tetapi tolong jangan berlebihan seperti itu! Duduklah di sini dan berdoalah yang baik-baik untuk Anak dan istrimu!" ucap Kyai Rasyid sambil menepuk kursi di sebelahnya.


Zaki pun kemudian menuruti permintaan ayahnya untuk duduk di sebelahnya.


" Bagaimana kalau ternyata Hilya tidak hamil Abi?" Tanya Zaki tampak resah.


" Ya tidak apa-apa. Berarti Allah belum mempercayakan kalian untuk mempunyai anak jangan kau membebani istrimu dengan keinginan untuk segera memiliki anak apalagi kalian masih pengantin baru." ucap Kyai Rasyid kepada putranya yang seperti kurang puas dengan jawabannya.


" Anak itu adalah titipan dari Allah Zaki. Kalau kau belum dipercaya. Apakah kau mau protes dengan kehendak Allah?" Tanya Kyai Rasyid kepada putranya.

__ADS_1


" Zaki tahu hal itu Abi. Zaki pun tidak memaksa Hilya untuk segera mempunyai anak. Hanya saja Zaki sudah merindukan untuk bisa menemani seorang bayi yang lucu dan juga menggemaskan.


" Abi juga sudah ingin untuk menimbang cucu hanya sajakan semua itu adalah Allah yang mengaturnya. Kita tidak boleh menekan atau nanti Hilya menjadi frustasi dan stress yang malah akan menghambat pembuahannya." ucap Kyai Rasyid berusaha untuk menasehati putranya agar tidak terlalu menekan menantunya tentang seorang anak di dalam rumah tangga mereka berdua.


" Lalu bagaimana kalau sampai hiliyah tidak bisa memberikan anak untukku Abi?" Tanya Zaki seperti merasa pusing dengan pertanyaannya sendiri.


" Di pondok kita begitu banyak santri-santri yang bisa menjadi anakmu. Kau bisa menganggap mereka sebagai anakmu sendiri tidak usah merisaukan tentang anak lagi Zaki atau itu akan menghancurkan rumah tangga kamu bersama Hilya secara perlahan!" tidak ada hentinya Kyai Rasyid menasehati putranya untuk tidak terlalu fokus mengenai anak.


Sementara itu Hilya yang saat ini bersama dengan Zahra. Mereka berdua kini berada di ruang pemeriksaan tampak begitu bahagia. Ketika melihat calon bayi yang masih kecil sekali di perut Hilya karena memang baru berusia sekitar 2 bulan.


" Selamat ya Nyonya Hilya atas kehamilan anda. Tolong dijaga baik-baik agar anak yang ada di dalam kandunganmu lahir dengan selamat dan juga sehat. Tolong perhatikan pola makan dan juga pola istirahatmu agar tidak terlalu lelah dan mempengaruhi perkembangan janin!" ucap sang dokter sambil tersenyum kepada Hilya yang masih nanar melihat ke arah layar USG.


" Benarkah dokter kalau Saat ini saya sedang hamil?" tanya Hilya masih merasa belum percaya dengan hasil pemeriksaan tersebut.


" Apakah kau belum siap untuk hamil?" tanya Zahra sambil menggenggam tangan Hilya yang terasa sangat dingin baginya.


" Umi kan tahu kalau saat ini Hilya masih kuliah dan sebentar lagi juga akan masuk ke pendidikan koas. Bagaimana mungkin kalian harus mengandung dalam keadaan sibuk kuliah dan juga tugas-tugas sebagai koas?" tanya Hilya merasa sangat bingung dengan kondisinya saat ini.


" Tenanglah! Selama sang Ibu merasa tenang hatinya maka bayi akan berkembang baik. Jangan terlalu dipikirkan stres kasihan bagi yang ada di dalam kandunganmu. Kau jangan khawatir Hilya. Umi dan Abi pasti akan selalu membantumu untuk mengurus cucu kami. Sekarang tugas kamu hanyalah menjaga kandungan kamu dengan baik, agar bisa lahir dengan selamat ibu dan anak!" ucap Zahra memberikan kekuatan kepada Hilya yang tampaknya belum siap untuk menjadi ibu muda.

__ADS_1


" Jangan lupa untuk rutin minum susu dan juga makanan sehat. Obat yang saya berikan. Tolong dihabiskan jangan sampai tersisa. Karena tubuh Anda saat ini membutuhkan vitamin dan juga penambah darah." ucap sang dokter kepada Hilya yang saat ini sedang menatapnya.


" Hadapilah kehamilanmu dengan bahagia. Sehingga janin pun akan merasa bahagia. Kalau ibunya merasa tidak siap mau pun tidak senang dengan kehamilannya. Pasti janin akan merasakannya juga. Kontrol lah emosi dan juga perasaanmu agar janinmu tidak merasakan kesedihan yang kau rasakan saat ini karena kehamilanmu!" Hilya hanya menganggukkan kepalanya saja karena saat ini dia benar-benar sangat bingung dengan kondisinya yang belum siap untuk memiliki seorang anak.


" Baiklah kami permisi dokter. Terima kasih atas semua nasehat Anda kepada menantu saya. Saya pasti akan menjaganya agar bisa melewati kehamilan ini dengan senang dan juga bahagia!" ucap Zahra berpamitan kepada sang dokter yang menganggukkan kepalanya.


" Berbahagialah dengan kehamilan anda. Karena di luar sana banyak pasangan yang tidak diberikan anugerah kepercayaan untuk memiliki seorang anak!" ucap dokter sambil tersenyum kepada Hilya yang hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.


" Kami Permisi dokter. Terima kasih atas waktu anda!" Zahra dan Hilya pun kemudian meninggalkan ruangan tersebut dan menemui suami mereka masing-masing.


" Bagaimana Umi hasilnya!?" tanya Kyai Rasyid seperti sabar dengan berita baik yang akan disampaikan oleh istrinya.


" Alhamdulillah Abi Hilya sedang hamil 2 bulan. Sebentar lagi kita akan menjadi kakek dan nenek!" ucap Zahra sambil terkikik senang dan merasa sangat bahagia dengan kehamilan menantunya.


" Alhamdulillah kalau benar menantu kita sedang hamil. Ayo kita kembali ke pondok dan melakukan selamatan serta syukuran atas kehamilan Hilya. Kita berdoa kepada Allah agar kehamilannya selalu dijaga dan bisa lahir dengan selamat anak dan juga ibunya!" ucap Kyai Rasyid dengan senyumnya yang selalu menentramkan jiwa.


Hilya hanya mengangguk dengan pasrah dia pun tidak bisa melakukan banyak hal ketika dia melihat wajah bahagia dari kedua mertuanya.


Zaki masih membeku di tempatnya ketika mendengarkan kabar tersebut bahwa impiannya untuk mempunyai seorang anak akan segera terwujud.

__ADS_1


" Aku yakin kalau putramu Pasti akan sangat tampan kalau seorang laki-laki!" ucap Zahra sambil menepuk bahu Zaki yang seperti merasa bersalah karena tidak bisa mendekati istrinya karena takut kalau istrinya nanti muntah lagi gara-gara dia mendekatinya.


" Aku sebetulnya ingin memelukmu sayang dan mengucapkan selamat serta terima kasih karena kau telah mau memberikan impianku dengan hamil anak kita berdua!" ucap Zaki sangat tersenyum bahagia kepada sang istri yang masih berkaca-kaca matanya karena belum siap untuk menjadi seorang ibu muda.


__ADS_2