Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Fatimah Mulai Lagi


__ADS_3

Zaki berusaha menghibur Hilya agar tidak bersedih lagi memikirkan tentang Fatimah yang masih berada di ruang UGD.


" Tenanglah. Sayang jangan bersedih lagi. Aku paling tidak senang melihat air matamu. Aku yakin kakakmu pasti baik-baik saja bukankah tadi kau sudah transfusi darah untuk dia?" ucap Zaki sambil mengelus kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


" Tapi tetap saja aku merasa khawatir dengan keadaan Kak Fatimah. Abby sama umi pasti kecewa kalau mau tahu kejadian ini." ucap Hilya sambil menangis tersedu.


" Kita tidak boleh memberitahukan ini kepada kedua orang tuamu. Mereka saat ini masih dalam keadaan sakit. Pasti akan sangat syok kalau mengetahuinya!" ucap Zaki.


Tidak lama kemudian. Dokter yang tadi menangani Fatimah pun keluar dari UGD dan menemui mereka berdua.


" Bagaimana keadaan kakak saya dokter?" tanya Hilya dengan berlinang air mata.


" Alhamdulillah kami telah berhasil untuk menyelamatkannya. Semua itu berkat darah yang anda donorkan kepada kakak anda!" ucap dokter muda itu sambil mengulas senyum kepada Hilya. Sehingga membuat Hilya merasa lega.


Tetapi Zaki merasa cemburu ketika melihat dokter itu terus menetap ke arah istrinya dengan tanpa berkedip.


" Apakah kami sudah bisa bertemu dengan pasien dokter?" ucap Zaki sambil menggandeng tangan Hilya dengan erat. Seakan Dia sedang menunjukkan hak kepemilikannya terhadap sesuatu yang mengancam dirinya.


" Pasien sudah berada di ruang perawatan kalian bisa mengunjunginya kalau mau. Tanyakanlah kepada pihak administrasi di mana ruangannya sekarang. Saya permisi dulu!" ucap dokter itu meninggalkan Zaki dan Hilya. Namun sebelumnya dia melemparkan senyum kepada Hilya. Sehingga membuat Zaki merasa kesal dibuatnya.


" Kamu kenapa sih mas dari tadi tampaknya marah?" tanya Hilya ketika mereka berdua menuju ruang administrasi untuk menanyakan keberadaan Fatimah saat ini.


" Mas tidak suka melihat dokter itu tadi melemparkan senyum padamu. Seakan Dia sedang menggodamu!" ucap Zaki sambil cemberut dan menatap istrinya.


Hilya hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan alasan suaminya tampak tidak senang dari tadi.


" Dia itu seniorku di kampus. Wajarlah kalau dia tersenyum ke padaku. Hanya sekedar basa-basi dan menyapa Mas. Memang apa salahnya?" tanya Hilya kepada suaminya.

__ADS_1


" Jadi kalian berdua saling mengenal secara pribadi?" Tanya Zaki sambil menghentikan langkah kakinya.


Hilya merasa terheran dengan pertanyaan suaminya yang terasa begitu ganjil di telinganya.


" Kalau dikatakan kenal secara pribadi, tidak sih. Hanya saja, sewaktu aku ospek. Dokter Fabian yang membantuku ketika aku jatuh pingsan!" ucap Hilya menjelaskan kepada suaminya perihal dokter yang membuatnya merasa cemburu.


" Kau bahkan mengingat namanya. Sungguh luar biasa sekali!" ucap Zaki merasa tidak senang hatinya.


" Ya ampun Mas dalam keadaan seperti ini kau punya waktu dan energi untuk cemburu kepada orang asing?" tanya Hilya tidak habis pikir dengan pikiran suaminya.


" Hati suami yang mana yang tidak akan terluka. Ketika melihat istrinya digoda di depan matanya?" Tanya Zaki sambil meninggalkan Hilya dalam kebingungan.


Hilya yang masih bengong di tempat mendengar perkataan suaminya. Ketika sadar bahwa suaminya telah meninggalkan dirinya, dia kemudian langsung mengejar suaminya.


" Menggoda bagaimana sih Mas? Dia kan hanya tersenyum saja dan tidak melakukan hal-hal aneh!" ucap Hilya sambil berusaha menggenggam tangan suaminya tetapi Zaki menghempaskannya begitu saja karena saat ini perasaannya sedang marah.


" Astaghfirullahaladzim! Karena rasa cemburu yang membuta, aku telah melukai hati istriku!" ucap Zaki beristighfar sambil terus mengelus dadanya yang tadi terasa begitu sesak. Ketika melihat dokter Fabian yang terus mencuri-curi pandang kepada istrinya.



Visualisasi dokter Fabian


Setelah Zaki menanyakan ruangan Fatimah. Zaki pun kemudian mencari keberadaan istrinya di ruangan kedua orang tuanya saat ini berada. Akan tetapi Zaki menemukan kekecewaan karena Hilya tidak ada di sana.


" Ke mana istriku Umi?" Tanya Zaki kepada Qonita yang sedang mengupaskan apel untuk ayahnya dan juga kedua besannya.


" Bukannya tadi Hilya pergi bersamamu? Kenapa kau bertanya kepada kami?" tanya Qonita sambil mengerutkan keningnya merasa heran kepada putranya yang tampak kusut penampilannya saat ini.

__ADS_1


" Tidak apa-apa Umi. Kalau begitu Zaki pergi dulu mencari Hilya!" Zaki kemudian langsung keluar dari kamar tersebut dan mencari istrinya ke kamar hotel yang disewa oleh mereka selama orang tuanya dirawat di rumah sakit.


Tetapi lagi-lagi Zaki menemukan kekecewaan karena Hilya pun tidak ada di sana.


" Kamu ada di mana sayang?" ucap Zaki sambil matanya terus mencari keberadaan istrinya.


Zaki kemudian merogoh ponselnya yang ada di saku celana dan mencoba untuk menghubungi istrinya.


" Angkat dong Sayang. Kenapa kau tidak mengangkatnya? Aku sangat khawatir dengan keadaanmu!" ucap Zaki dengan penuh rasa khawatir.


Dengan gontai Zaki pun kemudian kembali ke rumah sakit dan pergi menemui Fatimah dia ingin mengetahui keadaan kakak iparnya.


Ketika Zaki hendak masuk ke dalam ruangan. Tiba-tiba saja Zaki mendengar percakapan yang ada di dalam kamar itu. Terdengar itu adalah suara Hilya dan Fatimah.


" Alhamdulillah kalau kau ada di sini sayang aku benar-benar sangat khawatir denganmu!" Zaki yang awalnya hendak masuk ke dalam untuk menemui istrinya. Dia menghentikan langkahnya ketika mendengarkan percakapan di antara keduanya.


" Ceraikan Mas Zaki atau Aku tidak akan mau untuk mencabut tuntutanku atas usahamu mencelakaiku ketika kita berada di kamar mandi tadi!" ucap Fatimah dengan tidak berperasaan dan terasa dingin. Dia sama sekali tidak memperdulikan Hilya yang saat ini sedang menangis di hadapannya.


" Kenapa kakak begitu tega kepadaku? Bukankah kecelakaan itu adalah karena kakak yang hendak merenggut jilbabku? Sehingga tanpa sengaja aku mendorong tubuhmu dan kau jatuh ke lantai? Tidak ada niat sama sekali di dalam hatiku untuk mencelakaimu Kak!" ucap Hilya dengan suara gemetar.


" Aku tidak peduli dengan semua yang kau katakan. Tapi yang jelas. Aku ingin kau segera menceraikan Mas Zaki dan memberikan dia kepadaku!" ucap Fatimah dengan menatap tajam kepada Hilya.


Hilya seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Dia seakan tidak mengenali Fatimah lagi.


" Apakah benar kau adalah kakakku yang sangat kusayangi? Mengapa kau begitu tega ingin menghancurkan rumah tangga adikmu sendiri? Laki-laki di luar sana sangat banyak Kak. Tetapi Kakak kenapa ingin mengambil suamiku?" begitu banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Hilya kepada kakaknya yang hatinya seakan mati melihat penderitaan orang-orang di sekitarnya dengan kelakuan egois yang dia perbuat.


" Aku mencintai Zaki dan aku tidak rela membuat dia jatuh ke tanganmu hanya karena kecerobohanku yang sesaat!" ucap Fatimah dengan datar.

__ADS_1


" Bukankah kakak yang sudah menyerahkan calon sumaimu kepadaku? Apa kakak tidak ingat di malam kakak kabur? Kakak mengatakan agar aku yang menikah dengan Mas Zaki. Cobalah ingat lagi Kak apa yang kakak katakan waktu itu!" ucap Hilya menatap kakaknya dengan putus asa.


__ADS_2