
Cakra dan keluarganya masuk ke dalam rumah keluarga Abimana.
Sejak Andika mulai sakit Adrian dan juga Syifa memutuskan untuk tinggal di kediaman utama Abimana.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Andika menyambut kedatangan Putra bungsunya bersama dengan istri dan juga anak mereka yang ke tiga. Baru berusia 6 tahun.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Apa kabar? Apakah Papa baik-baik saja?" tanya Cakra sambil mencium telapak tangan ayahnya yang sudah mulai berkeriput karena dimakan usia.
" Alhamdulillah Keadaan papa sudah mulai membaik. Bagaimana keadaan cucu oppa??" tanya Andika sambil mencium pipi Amora yang sangat lucu dan juga menggemaskan.
" Mora baik-baik saja, Oppa!" ucap gadis cilik itu yang sangat lucu dan cantik. Secantik Grace ibunya.
" Baiklah Papah karena Cakra dan juga keluarganya sudah datang. Maka kami akan langsung berangkat ke Indonesia. Karena kedatangan kami sudah ditunggu oleh keluarga di sana!" ucap Adrian berpamitan kepada mereka.
" Sebentar Adrian! Papah ingin berdiskusi dulu dengan Cakra dan juga Grace!" ucap Andika menghentikan langkah Putra sulungnya.
" Ada apa Pah?" tanya Adrian sambil mengerutkan keningnya.
" Apakah Opah merasa sakit?" tanya Farel sambil memegang tangan kakeknya yang terasa panas.
" Opa tampaknya demam Pah!" ucap Farel sambil menatap ayahnya yang sudah bersiap untuk berangkat ke bandara.
" Bagaimana ini Pah? Apakah Papa di sini saja biar Farel dan saya yang ke Indonesia berbicara dengan kedua orang tuaku!" tanya Syifa tampak khawatir dengan keadaan Andika sang ayah mertua.
" Tidak Syifa! Papa baik-baik saja. Tidak apa-apa kalau kalian ingin pergi ke Indonesia dan menemui kedua orang tuamu. Papa hanya ingin menitipkan salam untuk Kyai Ilham dan juga Kyai Rasyid beserta keluarganya. Tolong sampaikan maaf Papa karena tidak bisa ikut kalian ke Indonesia Karena saat ini kondisi papa benar-benar tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh. Papapun takut kalau kenapa-napa dengan tubuh ini. Papa tidak ingin berjauhan dengan ibu kalian. Kalaupun ibaratnya Papa harus meninggal Papa ingin meninggal di rumah ini dan dikuburkan bersama dengan ibu kalian!" ucap Andika memberikan wasiat terakhirnya untuk cucu dan putranya.
__ADS_1
" Opa gak boleh berkata begitu! Farel belum menikah pokoknya oppa tidak boleh pergi meninggalkan Farel. Farel sayang opa!" ucap Farel sambil memeluk tubuh Andika dengan erat dan air mata yang mengalir deras di matanya. Farel merasa sedih berpikir tentang apa yang dikatakan oleh Andika akan terjadi.
" Maka Cepatlah kau menikah Farel. Kakekmu ini sudah tua dan sakit-sakitan terus. Masa mau meninggal saja harus menunggu kau menikah? Kakekmu sudah sangat rindu untuk bertemu dengan nenekmu terlalu lama kami berpisah!" ucapkan Dika sambil mengelus punggung Farel yang masih terisak dalam tangis kesedihannya.
" Farel tidak mau sembarangan menikah Opah! Farel tidak mau. Jangan sampai nanti salah pilih istri yang malah menjadi menciptakan neraka dalam rumah tangga!" ucap Farel dengan suara terisak dan badan yang terus terguncang memeluk kakeknya yang dari tadi berusaha untuk menenangkan cucu tercintanya.
" Cepat berangkatlah kasihan pilot dan pramugarinya kalau harus menunggu Kalian terus. Kalau kalian sudah sampai mereka bisa cepat beristirahat!" ucap Andika pelan sambil sesekali terbatuk-batuk.
Penyakit usia tua yang diderita oleh Andika benar-benar telah membuat keluarganya merasa khawatir dan tidak tega untuk meninggalkannya sendirian di dalam rumah.
" Pah kita bisa melakukan telepon conference untuk berbicara dan berdiskusi dengan kedua orang tuaku. Kami benar-benar tidak tega melihat Papa seperti ini!" ucap Adrian berusaha membujuk ayahnya agar tidak memaksanya untuk pergi ke Indonesia.
" Tidak akan sama rasanya Adrian dengan berhadapan secara langsung. Kedua orang tua Syifa pasti juga merindukanmu dan juga putrinya. Apalagi Farel yang sudah sangat lama tidak pernah bertemu mereka!" ucap Andika dengan suara terbata-bata.
" Tapi Adrian tidak sanggup Pah. Untuk melangkahkan kaki keluar dari rumah ini, melihat keadaan Papa seperti ini!" ucap Adrian yang kini mulai memeluk tubuh ayahnya yang mulai melemah.
" Kita lakukan telepon conference saja!" ucap Syifa yang kemudian langsung menghidupkan layar besar yang ada di hadapan mereka dan menghubungi kedua orang tuanya yang ada di Indonesia.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Syifa ketika panggilannya sudah diangkat oleh kedua orang tuanya dan di sana menampakkan wajah sang ayah yang begitu teduh dan sangat menenangkan.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Oh Kalian sedang berkumpul betapa senangnya dan betapa bahagianya!" ucap Kyai Ilham sambil tersenyum manis di hadapan kamera dan tertangkap oleh semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
" Abi! Maafkan kami tidak bisa untuk kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Karena keadaan papa saat ini sedang tidak baik kami tidak tega untuk meninggalkannya Abi!" Kyai Ilham yang melihat keadaan Andika yang saat ini begitu lemah dalam pelukan Adrian dia bisa mengerti bahwa sahabatnya yang juga sekaligus sebagai besarnya saat ini sedang dalam keadaan kritis.
" Kami ingin membawa Papa ke rumah sakit dulu Abi!" ucap Syifa sambil melirik sekilas kepada Andika yang tampak sudah kesusahan untuk bernafas.
__ADS_1
" Kami di sini akan selalu menjaga papa dan akan selalu mendampingi papa!" ucap Adrian dengan air mata yang mulai menetes pipinya.
" Adrian Kau adalah anak sulung di rumah ini. Sekaligus pewaris dari Abimana grup. Papa hanya meminta agar kau bisa menjaga saudara-saudaramu. Jangan biarkan mereka hidup menderita dan kekurangan apapun. Selalu jaga hubungan dengan Amanda dan juga suaminya. Jangan sampai kalian terputus silaturahmi dengan mereka. Bagaimanapun mereka adalah keluarga kita juga. Papa Mohon kepadamu Adrian supaya kau bisa bijak dalam menghadapi hubungan keluarga kita bersama dengan keluarga Amanda!" ucap Andika.
Kondisi kesehatan Andika memang terus menurun. Semenjak dia mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan organ tubuhnya mengalami cidera.
Selama beberapa tahun ini Andika terus menjalani pengobatan yang sangat serius oleh para ahli tetapi tidak berdampak terlalu bagus terhadap kesehatannya.
Ditambah lagi kondisi psikis dan mental Andika yang selalu mengingat istrinya dan selalu menginginkan untuk bertemu dengan Kesya. Mengakibatkan kesehatan Andika terus drop dari waktu ke waktu.
Setelah menerangkan tentang kesehatan Andika kepada Kyai Ilham. Mereka pun kemudian menutup telepon tersebut dan lebih fokus kepada Andika yang terus merancau sepanjang malam. Memanggil nama istrinya.
" Kita harus pastikan selalu berada di samping Papa. Jangan sampai terjadi hal sesuatu yang tidak diinginkan dan kita tidak mengetahuinya!" ucap Adrian kepada Cakra yang saat ini sedang mengasuh Putra paling kecilnya.
" Iya kak tenang saja saya pasti tidak akan meninggalkan Papa!" ucap Cakra sambil mengulas senyum kepada kakaknya.
" Kakak hanya berharap Papa bisa sembuh seperti sedia kala dan bisa kembali berkumpul dengan kita dalam suasana yang gembira!" ucap Adrian dengan wajah sendunya.
" Kak! Ayo kita hubungin Kak Amanda dan juga Om Bayu. Cakra merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kepada kita jangan sampai nanti Kak Amanda menyesal!" ucap Cakra sambil menatap kepada Adrian.
" Selama beberapa tahun belakangan ini, hubungan keluarga kita dengan mereka memang sangat tidak menyenangkan. Apalagi setelah kematian Mama yang diketahui adalah dikarenakan oleh mertuanya Sulis. Hati papa sampai saat ini masih sakit memikirkan itu. Om Bayu tampaknya merasa tidak enak tentang kejadian itu. Sehingga menarik diri dari kita semua!" ucap Adrian sambil menatap kepada Cakra.
" Saya juga bingung Kak untuk menyikapi kejadian itu. Bagaimana mungkin tante Elena begitu kejam telah merencanakan pembunuhan Mama kita hanya karena dendamnya terhadap Nenek dan Kakek yang memaksanya untuk berpisah dengan Papa!" ucap Cakra sambil menatap ayahnya yang masih terlelap dan tidur.
" Sebenarnya yang menjadi rasa sakit papa. Karena alasan Tante Elena adalah karena dia merasa cemburu dengan hubungan Mama dan Papa. Jadi Papa berpikir bahwa meninggalnya Mama adalah karena dia. Karena Tante Elena yang sudah membunuh Mama. Wanita yang pernah dia cintai. Itulah yang benar-benar memukul perasaan Papa sehingga terus menggerogoti kesehatannya hingga saat ini!" ucap Adrian.
__ADS_1
" Perasaan Papa pasti sangat sakit. Saya bisa merasakan kesakitan itu. Papa sungguh pria yang hebat sampai 20 tahun lebih, Papa masih menjaga kesetiaannya terhadap Mama Kita!" ucap Cakra yang saat ini sedang menggenggam tangan ayahnya.
" Kak! Cobalah kau pegang tangan Papa Kenapa Rasanya begitu dingin?" tanya Cakra dengan perasaan yang sudah kalang kabut memikirkan tentang keadaan ayahnya.