Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Amarah Fabian


__ADS_3

Dokter Fabian yang ditolong oleh beberapa suster yang melihat dirinya dihajar oleh Zaki. Fabian yang babak belur, dia langsung diberikan pertolongan oleh dokter, rekan kerjanya di rumah sakit.


" Memangnya ada masalah apa sampai wali dari pasien mengajar anda seperti ini?" Tanya Dokter Wira kepada Fabian.


" Laksanakan saja tugasmu nggak usah banyak cerewet!" jawab Fabian ketus karena dia merasa tidak senang kalau urusan pribadinya menjadi konsumsi publik.


" Aku bertanya kepadamu. Karena aku perduli denganmu. Karena kita sesama rekan kerja. Jangan kau menganggap bahwa aku tidak peduli padamu!" ucap Dokter Wira sambil mengobati Fabian.


" Diamlah! Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu!" ucap dokter Fabian sambil menatap tajam kepada dokter Wira.


Akhirnya dokter Wira hanya diam dan mengobati Fabian. Setelah selesai dia langsung meninggalkan Fabian di ruangannya.


Setelah kepergian dokter Wira. Dokter Fabian menatap kepada Zaki yang saat ini sedang melintas di depan ruangannya.


" Padahal aku hanya ingin menolong Hilya agar bebas dari penjara!" ucap Fabian.


" Tapi aku juga ingin menguji nasib keberuntunganku dengan menawarkan itu kepada suaminya. Siapa kira kalau dia emosian orang nya, dasar menyebalkan!" ucap Fabian dengan kesal sekali.


Setelah diobati Fabian memilih untuk pulang ke rumah untuk menenangkan dirinya.


"Kamu kenapa Nak, wajahmu babak belur begini?" tanya ibunya Fabian ketika melihat putranya wajahnya penuh dengan luka.


" Biasalah Mah namanya juga laki-laki. Udahlah nggak usah banyak drama. Fabian mau istirahat dulu!" ucap Fabian langsung menuju ke kamarnya dan meninggalkan ibunya dalam kebingungan.


" Kenapa anak itu ditanya saja ketus kali. Pantas saja sudah seumur segitu belum juga punya istri! Aku yakin para cewek pasti sudah ketakutan duluan melihat muka judesnya dia!" ucap ibunya Fabian merasa kesal dengan putranya sendiri.


" Ada apa Mah? Malam-malam malah menggerutu sendiri?" tanya ayahnya Fabian menatap istrinya.

__ADS_1


" Itu tadi Fabian pulang dari rumah sakit. Wajahnya babak belur. Mama nanya katanya 'biasalah anak laki-laki nggak usah banyak drama!' ngeselin nggak situ Pah anakmu?" tanya ibunya Fabian sambil mengikuti Suaminya ke dalam kamar.


"Lah anaknya Mama juga. Kan mama yang melahirkannya!" ucap suaminya sambil melepaskan jas dan juga sepatu yang dia gunakan lalu meletakkan di tempat biasanya.


" Papa mau langsung mandi atau mau makan dulu?" tanya ibunya Fabian pada sang suami.


" Bapak pegal sekali mau berendam air hangat dulu!" ucap ayahnya Fabian sambil menatap istrinya yang sekarang mulai masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuknya.


" Sudah tidak usah terlalu diurusi Fabian itu. Dia sudah dewasa! Biarkan saja dia untuk menyelesaikan masalahnya sendiri!" ucap ayahnya Fabian sambil berendam di dalam air panas. Ibunya Fabian tampak sedang memijit suaminya yang kelelahan setelah seharian di rumah sakit.


Tadi ayahnya Fabian sedang berada di luar rumah sakit. Melakukan seminar di gedung kesehatan. Sehingga dia tidak mendengarkan Fabian yang habis kena bogem dari Zaki.


Sementara para suster dan dokter yang tadi menolong Fabian sudah diingatkan oleh Fabian untuk merahasiakan kejadian itu dari ayahnya maupun dari khalayak umum. Karena Fabian tidak ingin sampai ayahnya mendengarkan hal tersebut sehingga mengakibatkan masalah lain yang jauh lebih besar lagi ke depannya.


Fabian kenal karakter ayahnya yang paling tidak senang dengan sesuatu yang ga benar. Apalagi kalau sampai mengetahui kalau dia meminta Zaki untuk menceraikan Hilya agar bisa menikah dengannya. Bisa-bisa ayahnya akan habis menghajar dia.


" Tolong kirimkan rekaman CCTV yang ada di dalam kamar mandi rumah sakit di sekitar ruangan anggrek kirimkan ke nomor ponselku!" perintah Fabian kepada operator CCTV yang bekerja di Rumah Sakit ayahnya.


" Aku yakin ada salah satu CCTV yang merekam kegiatan itu sehingga bisa menolong Hilya untuk terbebas dari penjara!" ucap Fabian bermonolog dengan dirinya sendiri.


Hati Fabian mencelos ketika dia mengingat kembali tentang Zaki yang langsung saja memukulnya ketika dia menawarkan bantuan dengan meminta syarat Hilya untuk diceraikan oleh Zaki.


" Benar-benar barbar! Dia pikir bogem mentah bisa menyelesaikan semua masalah?" ucap Fabian dengan menatap tajam pada langit- langit kamarnya.


" Kasihan Hilya saat ini dia pasti sedang kedinginan karena berada di dalam penjara!" ucap Fabian lirih sampai dia tertidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sementara itu Zaki saat ini sedang berada di dalam kantor polisi untuk menengok Hilya yang saat ini masuk ke dalam penjara gara-gara Fatimah yang melaporkannya atas tuduhan percobaan pembunuhan.


" Tenanglah aku pasti akan berusaha untuk membantumu dan mengeluarkanmu dari penjara!" ucap Zaki berusaha menghibur istrinya dengan menggengam tangan Hilya.


" Tidak apa-apa Mas. Kalaupun dibawa ke pengadilan. Insya Allah aku pasti akan menang. Karena aku memang tidak bersalah. Aku tidak sengaja mendorong ke Fatimah karena dia yang berusaha untuk merenggut jilbabku! kejadian itu adalah murni kecelakaan dan sama sekali tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya! Mas Zaki jangan sampai terprovokasi oleh kak Fatimah yang pasti akan terus melancarkan aksinya untuk memuluskan keinginannya menjadi istrimu!" ucap Hilya kepada suaminya.


" Apa kau tahu sayang? Awalnya aku memang berniat untuk menikahi Fatimah untuk bisa membebaskanmu dari penjara. Aku pikir, biarlah aku berkorban. Tetapi setelah mendengarkan penjelasanmu. Aku punya semangat juang untuk berusaha agar bisa membebaskanmu lewat jalur pengadilan tanpa harus mengalah kepada Fatimah!" ucap Zaki sambil mengulas senyum kepada Hilya dan berusaha untuk menguatkan istrinya agar bersabar menunggu dirinya mengeluarkan Hilya dari penjara.


" Mas bisa melihat CCTV di ruangan transfusi darah. Kemudian minta catatan kepada mereka tentang saya yang mendonorkan darah untuk ka Fatimah. Kemudian Mas juga bisa mengambil CCTV di kamar mandi yang pasti akan menjadi bukti kuat bahwa saya tidak pernah benar-benar berniat untuk melakukan itu. Kejadian itu murni kecelakaan dan tanpa unsur kesengajaan sama sekali!" ucap Hilya memberikan petunjuk untuk bisa mendapatkan semua bukti itu untuk bisa dibawa ke pengadilan sehingga membuktikan dirinya tidak bersalah sama sekali.


" Baiklah Mas akan menghubungi pengacara dan berusaha untuk mencari solusi dari masalah ini. Sayang, kamu yang sabar ya? Tunggulah Mas pasti akan terus berusaha untuk membebaskanmu!" ucap Zaki.


" Lakukanlah apapun Mas. Kecuali dengan mas menikahi Kak Fatimah. Karena aku tidak mau berbagi dirimu dengan siapapun! Apalagi Kak Fatimah yang nampak sekali menghalalkan segala cara untuk bisa menjadi istrimu!" ucap Hilya sedih.


" Kamu jangan khawatir Sayang. Mas mengatakan itu karena saat itu, pikiran Mas blank sama sekali dan pikiran Mas hanya ingin kau tidak ditangkap oleh Polisi. Akan tetapi setelah bercakap-cakap denganmu dan mendengarkan semua penjelasanmu. Mas sedikit banyak bisa menangkap bahwa ada titik harapan mengenai kasus ini!" ucap Zaki sambil mengulas senyum kepada istrinya yang percaya dengan apa yang akan dilakukan oleh Zaki dalam rangka membebaskannya dalam penjara.


" Waktu berkunjung sudah selesai!" ucap petugas penjara mengingatkan kepada mereka berdua untuk mengakhiri percakapan mereka.


" Mas usahakan besok datang kemari dengan pengacara. Dan semoga saja kita bisa membebaskanmu dengan jaminan sampai pengadilan di gelar. Sehingga kau tidak terlalu lama di dalam penjara!" ucap Zaki belum pergi dari penjara dan meninggalkan istrinya di dalam sana.


' Maafkan aku sayang. Karena aku kau jadi menderita seperti ini. Seandainya aku tidak pernah berurusan dengan Fatimah pasti dia tidak akan nekat seperti itu!' batin Zaki sambil menatap istrinya yang kembali dibawa masuk oleh petugas penjara.


Hati Zaki benar-benar mencelos. Ketika dia melihat istrinya yang tampak pucat dan juga terlihat murung. Tidak terlihat seperti biasanya yang ceria dan juga begitu cantik.


" Aku pasti akan berusaha untuk segera membebaskanmu sayang. Tidak akan kubiarkan Fatimah menang melawan cinta kita berdua!" ucap Zaki sambil mengepalkan kedua tangannya. Zaki merasa kesal ketika dia mengingat kembali perihal Fatimah yang mengancamnya dengan kebebasan Hilya untuk mau menceraikan istrinya atau berpoligami dengan dia.


" Aku akan melawanmu Fatimah sampai titik darah penghabisanku dan akan aku buktikan bahwa cintaku pada Hilya tidak akan lekang oleh apapun!" ucap Zaki kemudian dia pun meninggalkan penjara dengan hati miris dan sedih sekali melihat keadaan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2