
Fatimah terus menatap Zaki dengan sendu. Ada kesedihan yang luar biasa di wajah cantiknya. "Apakah memang benar bahwa aku harus melepaskanmu dan merelakanmu untuk Hilya?" ucap Fatimah sambil terus menatap ke arah Zaki yang sekarang sudah meninggalkan gedung rektorat.
"Aku akan pulang ke Jakarta dan meminta kepada Abi dan Umi untuk membantuku!" dengan keyakinan bahwa kedua orang tuanya akan membantunya akhirnya Fatimah memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
Hari itu juga Fatimah langsung membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk kembali ke Jakarta. " Aku harap habis sama Umi bisa bersikap adil dan mengembalikan hakku untuk bisa bersama dengan Mas Zaki!" ucap Fatimah dengan begitu bangga dan percaya diri seakan dirinya berada di jalan yang benar.
Setelah membereskan barang-barangnya, Fatimah langsung membawa satu koper Kecil untuk Dia tinggal di Jakarta.
"Aku akan meminta cuti dulu selama satu minggu agar aku bisa fokus dengan tujuanku untuk kembali mendapatkan Zaki!" kemudian Fatimah langsung pergi ke kampusnya dalam rangka memohon surat izin cuti kepada Dekan, pimpinan Fakultas tempat dia mengajar saat ini.
Begitu sampai di Fakultas Fatimah langsung menuju ke ruangan Dekannya.
"Ada apa Bu Fatimah? Kenapa masih pagi anda sudah datang menghadap saya?" tanya dekan merasa heran karena tidak biasanya Fatimah mendatanginya.
"Maafkan saya sebelumnya pak! Tetapi saya ingin mengajukan cuti selama 1 Minggu. Karena saya ada kepentingan di Jakarta yang harus segera saya kerjakan!" ucap Fatimah sambil meremas kedua tangannya karena ada perasaan gugup sebetulnya di dalam hatinya. Mengingat Dia masih baru bekerja di kampus itu.
"Maafkan saya bu Fatimah. Saya belum bisa memberikan surat izin cuti untuk Anda. Anda bekerja di sini belum satu bulan lamanya. Bagaimana mungkin Anda sudah mengajukan cuti? Oh Tuban! Itu benar-benar omong kosong!" ucap dekan sambil menatap tajam kepada Fatimah yang kini menundukkan kepalanya.
"Tolonglah Pak! Setidaknya berikan saya izin satu hari pun tidak apa-apa. Karena saya benar-benar harus kembali ke Jakarta Pak. Ada keperluan yang sangat mendesak yang harus segera saya urus!" ucapan Imah berusaha untuk diberikan waktu agar bisa kembali ke Jakarta.
"Bu Fatimah sebetulnya serius tidak untuk bekerja di tempat ini?" tanya Dekan sambil menatap tajam kepada Fatimah.
"Tentu saja saya serius Pak! Pekerjaan ini adalah impian saya. Oleh karena itu kemarin saya melarikan diri dari pernikahan saya bersama Pak Zaki!" ucap Fatimah dengan jujur kepada dekannya.
__ADS_1
" Jadi benar berita yang beredar di sosial media, kalau Pak Zaki itu adalah calon suami yang kau tinggalkan di hari pernikahan kalian berdua dan kemudian dia menikah dengan adikmu?" tanya dekan kembali dengan wajah mengintimidasi Fatimah.
"Tolonglah saya Pak! Untuk berikan saya waktu satu hari saja, kalau anda tidak bisa memberikan saya cuti 7 hari. Karena saya benar-benar harus kembali ke Jakarta dan ingin menyelesaikan masalah ini bersama dengan keluarga saya!" ucap Fatimah.
Fatimah masih berusaha untuk bisa meyakinkan Pak Dekan untuk memberikan izin cuti kepadanya. Karena dia benar-benar harus menemui Hilya dan juga kedua orang tuanya untuk mendiskusikan tentang keinginannya untuk bersama dengan Zaki.
"Saya tidak memberikan sanksi apapun kepada Anda. Setelah kemarin anda membuat keributan di kampus ini dengan mengganggu Pak Zaki yang sudah menikah dan sekarang anda memberikan lagi masalah baru lagi kepada saya dengan memaksa meminta cuti selama satu hari begitu saja! Sebenarnya Anda menghormati almamater tempat Anda bekerja atau tidak?" tanya Pak Dekan sambil menatap tajam kepada Fatimah yang semakin ciut nyalinya karena semua yang dikatakan oleh dekan tersebut adalah benar adanya.
"Maafkan saya untuk masalah itu Pak. Saya memang benar-benar lepas kontrol karena saya memang benar-benar mencintai Mas Zaki. Saya ingin kembali ke Jakarta dalam rangka memperjuangkan cinta saya itu dan merebut dia kembali dari adik saya yang telah mengambil calon suami saya!" ucap Fatimah dengan begitu percaya diri dan tanpa dosa sama sekali. Dia merasa bahwa yang saat ini sedang dia lakukan adalah suatu kebenaran.
"Saya menghadiri pernikahan Pak Zaki saat itu. Jadi saya tahu situasi kekacauan apa yang waktu itu buat oleh Anda. Ketika Anda tiba-tiba saja menghilang dari rumah kedua orang tua anda. Pada saat hari pernikahan yang seharusnya terjadi antara Anda dan Pak Zaki!" ucap Pak Dekan.
Fatimah merasa sangat terkejut mendapatkan sebuah kenyataan baru yang ternyata Dekan tempatnya bekerja ternyata ikut datang dan menghadiri pesta pernikahan antara Zaki dan Hilya. 'Gawat kalau seperti ini, aku akan kesulitan untuk mendapatkan izin cuti!' batin Fatimah dengan gusar.
"Saya hanya meminta izin satu hari Pak! Sungguh, setelah urusan saya selesai saya pasti saya akan kembali!" bocah Fatimah masih belum menyerah untuk bisa mendapatkan surat izin cuti dari dekannya.
"Pergilah Bu Fatimah! Tolong jangan membuat saya marah. Ini masih pagi ya, Anda sudah merusak hari saya dengan hal yang tidak berguna semacam ini!" hardik Pak Dekan dengan menatap tajam kepada Fatimah yang sini sedang menundukkan kepalanya karena merasa takut dengan amarah dekannya.
"Tapi Pak, bagaimana caranya Anda bisa menghadiri pernikahan Pak Zaki?" tanya Fatimah begitu penasaran.
"Kyai Rasyid itu masih termasuk Kakek saya! Tentu saja saya harus datang dalam pernikahan Zaki, karena dia masih termasuk Paman saya!" ucap Dekan tersebut.
"Apakah anda tidak berbohong Pak? Zaki adalah sepupu anda?" tanya Fatimah seakan tidak percaya dengan keterangan yang dikatakan oleh Dekannya.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Selain Anda pembuat masalah, anda juga sudah merendahkan saya dengan menuduh saya sebagai seorang pembohong!" Ucap Pak Dekan dengan amarah yang kini membuncah di dadanya.
"Maafkan saya pak! Bukan itu maksud saya tapi saya hanya ingin mengkonfirmasi kebenaran yang anda katakan tadi!" ucap Fatimah gemetar.
"Benar Zaki adalah Paman saya karena Ayah Zaki adalah kakak dari nenek saya! Saya adalah putra dari Adrian Abimana, keponakan Kyai Rasyid!" ucapkan tersebut menerangkan tentang dirinya kepada Fatimah.
"Ya Tuhan, berarti anda adalah pewaris dari Abimana grup?" tiba-tiba saja mata Fatimah berbinar melihat dekan yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam.
"Memangnya kenapa kalau saya adalah pewaris dari Abimana grup? Apa ada masalah dengan anda?" ucap Dekan tersebut sudah mulai tidak sabar menghadapi Fatimah yang menurutnya terlalu kurang ajar.
"Tidak pak saya tidak ada masalah. Hanya saja, saya merasa heran kenapa seorang pewaris Abimana grup, bisa terdampar di kampus ini menjadi seorang Dekan?" tanya Fatimah semakin di luar kendali.
"Sudah sebaiknya Anda cepat kembali untuk mengawasi ujian. Kalau Anda masih juga di sini, maka saya akan memberikan SP 1 untuk Anda. Sebagai peringatan bahwa anda sudah bersikap sangat tidak sopan dan juga kurang ajar kepada saya!" ucap dekan tersebut dengan mata berapi-api.
Visualisasi Farel Abimana, Putra pertama Adrian Abimana dengan Asyifa Latif.
Fatimah sudah gemetar melihat amarah yang ditunjukkan oleh Dekan tampan yang ada di hadapannya.
"Baiklah Pak! Saya pergi dulu. Akan tapi walaupun Anda tidak memberikan izin cuti kepada saya. Saya hari ini tetap akan pulang ke Jakarta! Karena saya benar-benar harus berdiskusi dengan kedua orang tua saya dan juga adik saya untuk membicarakan tentang perihal urusan saya bersama dengan Mas Zaki!" kemudian Fatimah dengan berani langsung keluar dari ruangan Dekan tampan itu. Perbuatan Fatimah yang nekat membuat Dekan tersebut kehilangan akal di buatnya.
Setelah Fatimah meninggalkan ruangannya. Dekan yang bernama Farel Abimana itu pun kemudian menelpon seseorang.
__ADS_1