Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Bebas


__ADS_3

Zaki merasa senang sekali karena akhirnya Hilya bebas. Pengadilan tidak mengabulkan gugatan Fatimah karena tidak ada bukti yang kuat bahwa Hilya benar-benar melakukan rencana pembunuhan itu.


Kesaksian para suster dan dokter di rumah sakit serta CCTV yang ada di toilet menjadi bukti kuat bahwa Hilya tidak benar-benar melakukan itu secara sengaja. Kejadian itu hanyalah sebuah kecelakaan yang diakibatkan oleh Fatimah yang memicu pertengkaran di antara mereka berdua dan hendak merenggut jilbab Hilya sehingga tanpa disengaja Hilya mendorong tubuh Fatimah hingga terjatuh dan membentur lantai toilet yang ada di rumah sakit.


Karena Hilya yang sudah mendonorkan darah untuk Fatimah dan juga langsung memasukkan Fatimah ke dalam rumah sakit. Sehingga hal itu meyakinkan pihak pengadilan bahwa Hilya memang tidak pernah berniat untuk melakukan percobaan pembunuhan seperti yang dituduhkan oleh Fatimah kepada adiknya.


" Alhamdulillah akhirnya kau terbebas!" ucap Zaki merasa senang sekali.


" Semuanya berkat kerja kerasmu dan usahamu Terima kasih banyak, suamiku!" ucap Hilya dengan mata berkaca-kaca merasa terharu dengan perjuangan Zaki yang tiada lelah memperjuangkan kebebasan sang istri dari penjara.


Karena kasus itu pun yang sudah membuktikan rasa cinta Zaki kepada sang istri ternyata bukanlah permainan semata tetapi cinta yang tulus yang berasal dari hati.


" Sudah menjadi kewajibanku untuk selalu melindungimu dan juga menjagamu. Kau mengalami Nasib ini pun gara-gara aku. Kalau Fatimah tidak menyukaiku. Mungkin dia tidak akan pernah melakukan hal seperti ini kepadamu!" ucap Zaki sambil meremas tangan sang istri.


" Lupakanlah semuanya. Kita mulai lembaran baru dan semoga dengan kasus ini Kak Fatimah menjadi Insaf dan sadar untuk tidak mengganggu kita lagi!" ucap Hilya.


" Ayo kita pulang!" ajak Zaki kepada Hilya.


Ketika mereka berdua sudah siap untuk meninggalkan penjara. Tiba-tiba saja kepala penjara mendatangi Hilya dan Zaki.


" Hilya. Terima kasih banyak karena kamu sudah mengajarkan teman-temanmu di sini untuk mengaji dan juga menghafal Alquran. Semoga apa yang sudah kau lakukan di dalam penjara ini menjadi Amal untukmu di akhirat nanti!" ucapnya dengan penuh rasa sukur dan Terimakasih.


" Iya Pak tidak apa-apa!" ucap Hilya sambil tersenyum.


" Kami permisi dulu Pak!" ucap Zaki berpamitan kepada kepala penjara.


" Wah sepertinya suaminya sudah tidak sabar untuk bersama denganmu! Hahaha!" ucap kepala penjara sambil tersenyum kepada Zaki yang hanya ditanggapi senyuman saja.

__ADS_1


" Terimakasih karena sudah menjaga istri saya Bu, selama dia berada di sini!" ucap Zaki kepada kepala penjara tersebut.


" Ya gak apa-apa. Itu merupakan kewajiban saya!" ucapnya sambil tersenyum.


" Baiklah Bu. Saya permisi dulu dan terima kasih atas semua kebaikan ibu selama saya berada di sini!" ucap Hilya sambil mencium telapak tangan wanita paruh baya itu kemudian meninggalkan penjara dengan bagai penuh ke lapangan.


Dengan perasaan gembira Zaki menjemput Hilya dari penjara. Sepanjang perjalanan Zaki terus menggenggam tangan sang istri seakan tidak ingin melepaskannya lagi.


" Bagaimana kalau kita makan di restoran dulu untuk merayakan kebebasanmu?" Tanya Zaki sambil melirik kepada Hilya.


" Kita langsung ke pondok saja Mas. Nanti kita bikin selamatan saja di pondok dan makan-makan bersama mereka untuk merayakannya. Biar seluruh santri bisa menikmati kebahagiaan kita!" ucap Hilya sambil tersenyum kepada suaminya.


" Kalau urusan seperti itu nanti kita tunggu Abi dan Umi yang masih di Dubai. Aku ingin merayakannya, hanya kita berdua saja. Bisakah sayang?" Tanya Zaki.


" Baiklah terserah padamu aku akan mengikutimu!" ucap Hilya sambil tersenyum kepada suaminya.


sementara itu Fatimah yang melihat kebahagiaan mereka berdua. Seakan merasa sakit hati dan cemburu karena semua usahanya gagal untuk membuat Zaki mau menikahinya.


" Awas kalian berdua tidak akan kubiarkan kalian hidup bahagia aku pasti akan mendapatkanmu Zakki!" ucapnya geram.


Setelah itu Fatimah pun kembali ke Jogjakarta karena sejak kemarin dia sudah dihubungi oleh pihak universitas untuk mempertanggungjawabkan kebolosan dia selama beberapa hari berada di Indramayu.


Zaki dan Hilya saat ini sedang menikmati makan siang mereka setelah bebas dari penjara.


Wajah Hilya memang semakin tirus dan seakan bertambah kurus. Akan tetapi tidak mengurangi kecantikan dan keanggunannya. Sehingga membuat Zaki terus menatapnya dan semakin terpesona kepada sang istri.


" Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" tanya Hilya merasa risih dengan tatapan sang suami yang penuh dengan tatapan pemujaan.

__ADS_1


" Karena aku sangat merindukanmu sayang. Apa kau tahu berapa malam aku selalu memimpikanmu berada di sisiku?" tanya Zaki sambil mengelus tangan Hilya.


" Ayolah Mas kendalikan dirimu. Ini adalah area publik. Jangan suka mengumbar kemesraan di area publik. Yang bisa mengundang kecemburuan dan rasa iri kepada orang yang menatapnya." ucap Hilya menatap sang suami.


" Siapa tahu Kak Fatimah masih mengawasi kita Mas! Pasti saat melihat kita bermesraan, sakit hatinya akan semakin bertambah dan membuat dia semakin nekat untuk melakukan hal yang buruk terhadap kita Mas!" ucap Hilya menyampaikan pendapatnya.


" Baiklah aku akan mendengarkan apa yang kau katakan sayang. Akan tetapi saat kita sudah berdua saja, kau tidak boleh menahan dirimu untuk melakukan kemesraan terhadapku. Karena aku benar-benar sangat merindukannya!" ucap Zaki mengulas senyum kepada Hilya.


" Yah aku janji!" ucapnya.


Akhirnya mereka pun menghabiskan makan siang mereka dengan tenang tanpa banyak drama maupun percakapan. Karena Zaki menginginkan mereka berdua agar cepat selesai makan sehingga bisa kembali ke pondok pesantren.


" Ayo kita pulang kau tunggulah dulu aku akan membayar tagihan kita!" ucap Zaki.


Hilya hanya tersenyum dan dia menunggu sang suami di belakangnya.


Setelah selesai membayar makanan mereka. Mereka pun langsung pulang ke pondok dan pergi ke rumah mereka yang sudah disediakan oleh kedua orang tua Zaki.


Zaki langsung menyeret saya ke dalam kamar dan melepaskan semua kerinduannya selama satu bulan tidak bertemu dengan sang istri karena Hilya yang berada di dalam penjara.


" Sebentar lagi shalat zuhur Mas. Bagaimana kalau kita shalat zuhur dulu di masjid pondok? Bukankah kau harus menggantikan Abi untuk menjadi imam para santri?" tanya Hilya menghentikan aktivitas yang hendak dilakukan oleh Zaki terhadapnya.


" Ayolah, itu bisa di gantikan oleh Ustadz Abdul maupun yang lainnya. Tetapi kalau hal ini tidak bisa digantikan oleh siapapun!" ucap Zaki memohon kepada sang istri.


Bagaimana Zaki harus meredam gairahnya yang sudah memuncah, yang dia tahan sejak di restoran tadi? Hanya memikirkannya saja sudah membuat kepalanya berdenyut dan frustasi Oleh karena itu dia memohon kepada Hilya untuk meminta dispensasi untuk kali ini saja.


" Nanti kita bisa salat berjamaah berdua di sini sayang. Biarkanlah para santri diimami oleh Ustadz Abdul ataupun yang lainnya mereka pasti mengerti keadaan kita saat ini!" pinta Zaki dengan mata berkabut. akhirnya Hilya pun hanya bisa mengangguk karena tidak mau membuat suaminya kecewa.

__ADS_1


__ADS_2