Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Kuatlah Sayang


__ADS_3

Setelah Zaki mendaftarkan ayah dan ibu mertuanya ke ICU. Dia pun langsung mendekati Hilya yang saat ini masih menangis tersedu di pelukan Qonita.


" Ustad di mana kakak ipar saya? Terakhir ketika kami meninggalkan Pondok, ibu mertua saya sedang berbicara dengan kakak ipar saya!" ucap Zaki berbicara kepada Ustadz Abdul.


" Terakhir saya lihat, Kakak ipar Gus Zaki meninggalkan Pondok dengan tergesa-gesa. Setelah itu saya tidak tahu kemana dia!" ucap Ustadz Abdul merasa bersalah karena tadi dia tidak memeriksa aula pondok setelah ditinggalkan oleh Kyai Rasyid dan yang lainnya. Sehingga mereka terlambat untuk mengetahui tentang ibu mertua Gus Zaki yang pingsan di sana.


" Tega sekali Kak Fatimah karena mampu untuk meninggalkan Mama yang pingsan di sana. Apakah hati nuraninya sudah mati?" ucap Hilya dengan terisak.


" Kuatlah sayang! Jangan lemah. Kita harus berdoa untuk orang-orang yang kita sayangi!" ucap Qonita berusaha untuk menasehati Hilya yang tampaknya saat ini sedang lemah hati dan jiwanya. Karena melihat kedua orang tuanya masuk rumah sakit dengan alasan yang sama.


" Umi! Apakah kita turuti saja keinginan Kak Fatimah. Agar dia tidak mencari masalah lagi dengan kita. Kasihan Abi dan umi pasti selalu kepikiran tentang Kak Fatimah sehingga mereka menjadi sakit seperti ini!" ucap Hilya dengan air mata yang terus mengalir di kelopak matanya.


Sejujurnya hatinya saat ini benar-benar sedang sakit dan terluka. Kalau benar-benar hal itu terjadi dan dia harus kehilangan Zaki sebagai suaminya dan harus merelakan Zaki untuk kakaknya.


" Jangan bicara sembarangan! Kau pikir pernikahan itu adalah sebuah permainan yang bisa dioper ke sana kemari?" ucap Zaki Ketus karena dia merasa sangat kesal sejak tadi Hilya selalu mengatakan hal yang sama.


" Tapi kalau kita tidak mengikuti keinginan Kak Fatimah. Dia pasti akan terus meneror kita dengan hal yang sama!" ucap Hilya dengan berderai air mata.


" Tapi aku tidak rela untuk kehilanganmu. Apalagi harus menerima dia sebagai istriku!" ucap Zaki geram melihat istrinya yang lebih mempedulikan kakaknya yang egois daripada perasaannya yang mencintainya.


" Sudah jangan berantem di rumah sakit kalau tidak mau diusir oleh sekuriti!" ucap Qonita mengingatkan kepada Zaki dan Hilya untuk diam dan tidak berbicara keras di rumah sakit karena itu akan mengganggu pasien yang lain yang membutuhkan ketenangan untuk bisa sembuh dalam perawatan dokter.


Zaki yang mengerti ucapan ibunya. Akhirnya dia diam dan tidak berdebat lagi dengan Hilya.

__ADS_1


" Umi Pulanglah bersama Ustadz Abdul dan beristirahat jangan sampai nanti Umi ikut sakit!" ucap Zaki kepada ibunya.


" Bagaimana Umi bisa beristirahat di rumah, kalau Umi tidak tahu bagaimana keadaan Abi kamu?" tanya Qonita sambil menatap sendu ke arah Zaki.


" Akan Saya pesankan satu kamar hotel di depan rumah sakit ini. Jadi kalian bisa beristirahat di sana sambil bergantian menunggu Kyai Rasyid!" usul Ustadz Abdul kepada mereka semua. Karena dia melihat bahwa istri Kyai Rasyid dan Hilya tampak begitu lelah.


" Saya setuju dengan Ustadz Abdul. Tolong pesankan satu buah kamar hotel. Agar istri dan ibuku bisa beristirahat di sana. Biar saya yang akan menunggu Abi dan juga kedua mertua saya!" ucap Zaki menyetujui pendapat Ustadz Abdul yang akhirnya tidak bisa dibantah oleh siapapun.


Qonita dan Hilya ikut bersama Ustadz Abdul ke hotel untuk beristirahat di sana. Bareng 1 atau 2 jam untuk memulihkan kondisi mereka yang saat ini sedang drop.


" Bu nyai dan Hilya bisa beristirahat di kamar ini. Saya akan menemani Gus Zaki untuk menunggu Pak Kyai! Nanti kalau kalian ingin kembali ke rumah sakit, segera hubungi saya nanti saya akan menjemput!" ucap Ustadz Abdul sebelum meninggalkan mereka berdua di kamar hotel agar bisa beristirahat dan memulihkan kondisi mereka yang tampak sangat kacau.


" Terima kasih ustad. Tolong temani Putra saya agar dia menjadi kuat dan tidak tumbang dan jatuh!" ucap Qonita kepada Ustadz Abdul sebelum dia meninggalkan hotel dan kembali ke rumah sakit untuk menemani Zaki.


" Kasihan Gus Zaki dalam satu waktu harus menghadapi musibah yang begitu besar. Semoga mereka bisa melewati masa kritis dari penyakit yang tiba-tiba di dapatkan oleh mereka!" ucap Ustaz Abdul dengan lirih merasa iba dengan keadaan keluarga pimpinan pondok pesantren yang selama ini selalu diajunjung tinggi dan dia hormati..


" Kyai Rasyid itu orang yang baik. Allah pasti akan memberikan jalan terbaik untuknya!" ucap Kang Soleh sambil melirik kepada Ustadz Abdul yang saat ini sedang merasa sedih dengan keadaan Kiainya.


" Kalau ada apa-apa dengan Kyai Rasyid. Maka Pondok pasti akan sangat terguncang. Karena sampai saat ini kita belum menemukan sosok pengganti dari Kyai Rasyid." ucap Ustadz Abdul.


" Mari kita berdoa yang baik ustadz. Jangan sampai terjadi hal buruk yang menimpa Kyai Rasyid." ucap Kang Soleh.


" Sebenarnya kalau dipandang dari segi keilmuan. Gus Zaki bisa menggantikan beliau sebagai pimpinan Pondok. Hanya saja Gus Zaki masih terlalu muda dan dia tidak memiliki pengalaman dalam bidang mengelola pondok pesantren!" ucap Ustadz Abdul merasa khawatir.

__ADS_1


" Saya yakin kalau Kyai Rasyid pasti memiliki pandangan tersendiri untuk sosok pengganti dirinya. Kalau terjadi apa-apa kepada Kyai Rasyid." ucap Kang Sholeh pelan.


" Tetapi pengalaman Gus Zaki sebagai seorang dosen. Pasti akan sangat berguna untuk pondok Ustaz. Bukankah kita memang sedang menggalakkan program untuk membangun universitas di bidang ilmu keagamaan yang akan difasilitasi oleh Pondok?" tanya Kang Sholeh.


" Kamu benar Kang. Saya baru berpikir tentang itu. Bahkan yang saya dengar, kalau keponakan Gus Zaki juga seorang Dekan muda di universitas terkenal di Jogjakarta!" ucap Ustadz Abdul dengan wajah sumringah.


" Kita berdoa saja untuk kebaikan Pondok Pesantren Dan juga keluarga Kyai Rasyid." ucap Kang Sholeh sambil fokus menyetir.


tidak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit dan langsung menemui Zaki yang tampak sudah sangat kelelahan karena sejak tadi siang dia belum istirahat sama sekali. Terus menunggu tiga pasien.


Untungnya Zaki meminta kepada pihak rumah sakit untuk bisa menempatkan mereka di satu ruangan sehingga Zaki tidak terlalu lelah untuk merawat mereka bertiga.


Kondisi ibunya Hilya yang paling parah karena sampai saat ini dia belum juga sadarkan diri walaupun sudah menjalani operasi.


Keterlambatan untuk di bawah ke rumah sakit yang menjadi penyebabnya. Sehingga dokter mengalami kesulitan untuk menolong beliau.


" Untung saja beliau masih bisa diselamatkan walaupun sekarang masih dalam keadaan koma!" ucap Ustadz Abdul merasa bersyukur karena ibunya Hilya masih hidup sampai sekarang dan tidak terlambat untuk ditolong.


" Alhamdulillah Ustad Terima kasih atas pertolongan kalian kalau tidak mungkin kami akan Kehilangan ibu mertua saya!" ucap Zaki merasa bersyukur atas pertolongan semua rekan-rekan pondok pesantren yang telah Sigap mengantarkan Ibu mertuanya ke rumah sakit sehingga mendapatkan pertolongan dari medis dengan segera.


" Yang saya sangat heran, kenapa putrinya tidak menolong ibunya ketika melihat beliau jatuh pingsan?" tanya Hakim yang saat itu menjadi saksi ketika Fatimah meninggalkan begitu saja ibunya di aula dalam keadaan pingsan dan tidak berdaya.


" Justru karena kelakuan dialah sekarang para sesepuh berada di rumah sakit. Karena mereka merasa pusing dengan kelakuannya perempuan satu itu yang selalu saja berbuat sekehendak hatinya!" ucap Zaki dengan geram ketika dia mengingat sosok Fatimah.

__ADS_1


' Jangankan untuk menjadikan dia sebagai istriku hanya mengenalnya saja sudah membuatku merasa tidak senang! Aku sangat merasa bersyukur tidak jadi menikah dengan dia dan digantikan seorang istri yang sholehah seperti Hilya!' bathin Zaki.


__ADS_2