
Abby dan Farel kemudian mengikuti Hilya untuk kembali masuk ke dalam rumah sakit.
Abby yang berada di belakang Hilya, terus menatap wanita yang dia cintai dengan tatapan sendu dan ribuan kerinduan. Ada beribu belati yang menyayat hatinya saat ini.
' Ya Allah! Tolong kau kuatkanlah hati Hamba. Ketika hamba melihat wanita yang kucintai bermesraan dengan suaminya dan hidup bahagia dengannya!' doa Abby di dalam hati ketika dia terus mengikuti Hilya dari belakang yang berjalan secara perlahan.
Begitu mereka sampai di depan pintu perawatan ayahnya Zaki. Mereka pun langsung masuk duluan. Sementara Hilya pergi ke kamar mandi. Hal itu di lakukan untuk memberi jeda waktu antara mereka bertiga masuk ke dalam ruangan itu. Agar tidak dicurigai oleh mereka semua yang ada di dalam sana.
Bagaimanapun Hilya harus bisa menutupi sebuah fakta tentang Abby yang pernah menjadi masa lalu terindahnya di masa remajanya dahulu.
' Ya Allah kuatkanlah hati hamba agar hamba tidak sampai terperosok di dalam cinta masa lalu yang hanya pantas untuk menjadi sebuah kenangan saja dalam hidup hamba!' doa Hilya sekuatnya agar menahan perasaannya ketika dia menatap Abby.
" Bagaimana rasanya bertemu kembali dengan cinta masa lalumu?" tiba-tiba saja Fatimah sudah berada di belakang Hilya dan tersenyum kepadanya.
" Apa maksud Kak Fatimah mengatakan hal seperti itu?" tanya Hilya dengan mengerutkan keningnya.
Hilya sama sekali tidak gentar ketika dia menatap Fatimah yang saat ini sedang tersenyum sinis kepadanya. Tampak sekali kebencian di mata Fatimah kepada dirinya.
" Bukankah kamu saat ini sedang merasa berdebar-debar karena sudah bertemu dengan cinta lama-mu Abby?" tanya Fatimah sambil tersenyum kepada Hilya.
" Saya rasa Kak Fatimah saat ini sedang melindur. Kapan saya mengatakan bahwa saya pernah mencintai Abby? Jangan pernah coba-coba menaburkan sebuah fitnah diantara pernikahanku dengan Mas Zaki!" ucap Hilya sambil menatap tajam kepada kakaknya yang selalu berusaha untuk merebut suaminya dari tangannya.
" Benar-benar perempuan tidak tahu malu. Kau dengan beraninya membawa mantan kekasihmu untuk bertemu dengan suamimu dan juga keluarganya!" ucapan terima dengan fitnah yang begitu besar sehingga membuat Hilya merasa geram dengan kelakuan kakaknya yang tidak ada habisnya mencari gara-gara dengannya.
" Silakan saja kalau Kak Fatimah mau menebarkan fitnah di antara kami berdua. Saya tidak pernah merasa takut dan gentar karena saya tidak pernah merasa menjadikan Abby sebagai kekasih saya! Di masa lalu ataupun masa kini!" ucap Hilya sambil menatap tajam kepada Fatimah. Kemudian dia pun meninggalkan kakaknya sendirian dalam kemarahan yang luar biasa.
" Dasar adik kurang ajar kau! Kau sudah merebut cakon suamiku dan sekarang kau bertingkah seperti orang yang tidak berdosa sama sekali!" ucap Fatimah sambil berusaha merenggut jilbab yang digunakan oleh Hilya.
__ADS_1
Hilya yang berusaha untuk mempertahankan harga dirinya. mau tidak mau dia pun kemudian mendorong tubuh Fatimah sehingga kepalanya terbentur ke lantai dan mengeluarkan darah yang sangat banyak.
" Astaghfirullahaladzim! Maafkan saya Kak! Saya tidak sengaja melakukan itu!" ucap Hilya merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi kepada kakaknya.
Fatimah yang telah kehilangan banyak darah di kepalanya. Akhirnya dia pun pingsan begitu saja di lantai kamar mandi.
Hilya yang panik akhirnya segera memanggil team medis untuk segera menangani Fatimah dan mendapatkan perawatan dari dokter.
" Suster! Tolong saya suster! Kakak saya jatuh di kamar mandi rumah sakit dan dia telah mengeluarkan banyak darah di kepalanya. Sekarang dia pingsan! Tolong selamatkan dia suster!" ucap Hilya meminta pertolongan kepada suster yang dia temui.
" Di mana dia? Ayo kita segera menolongnya!" ucap suster tersebut kemudian dia pun segera memanggil dua orang rekannya untuk bersamanya menolong Fatimah.
Suster dan teman-temannya langsung mengangkat tubuh Fatimah dan membawanya ke UGD untuk segera mendapatkan perawatan.
" Bagaimana keadaannya suster? Apakah berbahaya?" tanya Hilya begitu panik melihat kakaknya yang saat ini sedang pingsan.
" Darah saya dengan kakak saya sama suster kalau kalian butuh darah. Kalian bisa ngambilnya dariku!" ucap Hilya dengan mata berkaca-kaca karena memikirkan tentang keadaan kakaknya yang masih pingsan.
" Baiklah kami akan segera menangani kakak anda. Tolong segera urus administrasinya segera ya Mba!" ucap Suster itu kepada Hilya. Sehingga membuat Hilya langsung berlari ke dalam ruangan tempat kedua orang tuanya sedang di rawat dengan panik.
Zaki yang melihat kepanikan di wajah istrinya Dia pun merasa heran.
Zaki mengikuti Hilya sampai ke ruang administrasi dan memperhatikan apa yang di lakukan oleh istrinya. Setelah Hilya selesai mengurus administrasi Fatimah dia pun langsung pergi ke UGD di mana Fatimah saat ini sedang ditangani oleh dokter.
" Ya Allah tolong keselamatan kakakku jangan sampai terjadi apa-apa padanya. Kalau tidak aku akan sangat berdosa padanya!" doa Hilya dengan suara lirih. Akan tetapi Zaki yang berada di belakangnya bisa mendengarkan doa tersebut.
" Sayang apa yang terjadi dengan Fatimah? Kenapa kau terlihat begitu panik?" Tanya Zaki kepada istrinya yang begitu terkejut ketika mendapatkan Zaki sudah ada di belakangnya.
__ADS_1
" Astagfirullah Mas! Kau betul-betul membuat aku sangat terkejut!" ucap Hilya terus menyebut istighfar dan mengelus dadanya.
Zaki yang melihat raut kepanikan di wajah sang istri. Zaki pum merasa tidak tega. Zaki kemudian memeluk Hilya dengan erat dan berusaha menenangkan istrinya.
" Ada apa denganmu sayang? Tolong kau ceritakanlah padaku!" ucap Zaki berusaha membujuk Hilya untuk mengatakan masalah yang sedang dihadapinya.
" Tadi tidak sengaja aku bertemu dengan Kak Fatimah di kamar mandi. Dia mengajakku berantem Mas dan tanpa sengaja, aku mendorong Kak Fatimah karena dia berusaha untuk merebut jilbabku dan tidak sengaja kepala Kak Fatimah terbentur ke lantai. Dia mengeluarkan banyak darah di kepalanya Mas. Tadi dia pingsan dan sekarang sedang dilakukan penyelamatan oleh dokter!" ucap Hilya terbata-bata karena merasa takut dengan keadaan kakaknya.
" Tenanglah pasti Fatimah bisa diselamatkan kita harus banyak berdoa agar semuanya baik-baik saja!" ucap Zaki berusaha untuk menghibur Hilya yang sedang menangis sedih karena mengkhawatirkan kondisi Fatimah yang masih dalam keadaan tidak jelas di dalam ruang UGD.
Farel dan Abby yang sedang berbincang dengan Qonita dan Kyai Rasyid dan juga kedua orang tua Hilya. Mereka berdua tidak menyadari ketiadaan Zaki dan Hilya di dalam ruangan itu. Karena asyik berbincang dengan mereka berempat.
" Mbak tolong segera ke ruangan transfusi karena kami membutuhkan transfusi darah untuk menyelamatkan kakak Anda!" ucap suster yang tadi membawa masuk Fatimah ke dalam ruangan UGD.
" Ayo Mas antar kamu sayang! Supaya kamu bisa tenang!" ucap Zaki berusaha menghibur istrinya yang masih terisak dalam tangis.
" Kamu sudah makan kan sayang? Jangan sampai nanti kamu lemas ketika darahmu diambil untuk menyelamatkan Fatimah!" ucap Zaki bertanya kepada Hilya.
" Iya Mas tadi saya sudah makan di hotel sebelum datang ke rumah sakit!" jawab Hilya dengan lesu karena dia merasa sangat bersalah dengan keadaan kakaknya saat ini.
" Sudahlah jangan terlalu dipikirkan sayang! Kita harus yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja!" ucap Zaki terus berusaha untuk menenangkan istrinya.
Setelah mereka sampai di ruang transfusi darah. Hilya langsung mendaftarkan dirinya untuk mendonorkan darah bagi Fatimah.
" Rileks ya mbak. Supaya Mbaknya nanti nggak lemas!" ucap suster ketika dia akan mengambil darah Hilya.
Zaki yang terus mendampingi istrinya dia terus menggenggam tangan Hilya ketika suster mengambil darah istrinya sebanyak dua kantong.
__ADS_1
Wajah Hilya sampai pucat karenanya. tidak lama kemudian suster datang membawakan makanan untuk Hilya. " Dimakan sampai habis ya Mbak untuk menambah darahmu. Karena tadi kami mengambil darahmu sangat banyak sekali dari tubuhmu!" ucap Suster sambil mengulas senyum kepada Hilya dan Zaki. Kemudian dia meninggalkan Hilya bersama Zaki di ruangan untuk beristirahat.