
Mereka semua kemudian kembali ke pondok setelah jam besuk selesai. Sementara Fatimah kembali ke hotel tempat dia menginap selama berada di Indramayu.
" Zaki benar-benar dengan pendiriannya tidak mau menikah denganku! Baiklah aku akan melanjutkan kasus ini hingga titik darah penghabisan dan tidak akan kubiarkan siapapun memilikinya!" ucap Fatimah dengan mata berapi-api.
" Kalau aku tidak bisa memilikimu maka tidak akan kubiarkan siapapun hidup bersamamu!" ucap Fatimah geram.
Sementara itu saat ini Zaki dan keluarganya sedang berunding di aula pondok.
" Shalat istikharah Zaki. Bertanyalah kepada Allah. Mengenai keputusan yang akan kau ambil untuk menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut-larut!" ucap Kyai Rasyid menyampaikan pendapatnya kepada putranya.
" Iya Abi nanti malam saya akan salat istikharah dan mencari penyelesaian terbaik berdasarkan petunjuk dari Allah!" ucap Zaki.
" Masuklah ke kamarmu dan beristirahat agar nanti malam kau bisa beristirahat dengan fokus dan khusyuk!" ucap Qonita sambil mengelus punggung tangan putranya.
" Baik Umi saya akan tidur sebentar. Nanti kalau salat magrib sudah tiba. Tolong bangunkan saya!" ucap Zaki kemudian dia meninggalkan ibu dan ayahnya yang saat ini sedang menatapnya dengan iba.
" Sungguh kesalahan kita berdua. Karena dulu menjodohkan Zaki dengan wanita yang salah. Lihatlah sekarang apa yang terjadi dengan kehidupan rumah tangga Putra kita!" ucap Qonita menyesali apa yang sudah terjadi.
" Bukan kita berdua yang menjodohkan mereka. Akan tetapi Kyai Hamid yang memiliki janji kepada kakek Fatimah ketika mereka dulu masih mondok bersama di Krapyak!" ucap Kyai Rasyid menjelaskan semuanya kepada Qonita.
" Abi hanya berusaha untuk menepati janji yang sudah dibuat oleh ayah angkatmu!" ucap Kyai Rasyid pelan.
" Sebenarnya masalah itu bukan hanya kewajiban kita untuk mewujudkannya. Qonita juga memiliki kewajiban untuk menjodohkan Farel dengan Fatimah!" ucap Zahra kepada Kyai Rasyid.
NB: Mohon maaf yang sebesar-besarnya para reader. Di sini author mengalami kesalahan dalam mengingat. Istri kyai Rasyid adalah Zahra bukan Qonita. Qonita adalah istri dari Kyai Ilham yang mempunyai pondok pesantren di Jawa Timur. Ibu dari Shifa yang menikah dengan Adrian. Kedua orang tua dari Farel Abimana. Qonita adalah anak angkat dari Kyai Hamid yang menikah dengan Kyai Ilham atas perjodohan yang di cetuskan oleh Adrian ketika dia masih kecil.
Untuk saat ini revisi sampai disini dulu ya reader, nanti setelah kesibukan author untuk mengejar Jumkat di lima novel author selesai dan kesibukan sedikit berkurang. Author akan kembali direvisi mengenai nama ibu dari Zaki mulai dari bab awal. Semoga nanti bisa terealisasi. Terimakasih dan mohon maaf sekali lagi yang sebesar-besarnya atas kesalahan fatal ini.
Dengan ini nama Istrinya Kyai Rasyid sudah di revisi. Thanks you for all reader.
Happy reading
" Tetapi tampaknya Farel pun tidak menyukai Fatimah. Terlihat dari raut wajahnya ketika dia bercerita tentang Fatimah!" ucap Zahra sambil menatap suaminya.
__ADS_1
" Bagaimana kalau kita berkunjung ke Jawa Timur dan bertanya kepada Kyai Ilham dan juga Qonita?" tanya Kyai Rasyid tiba-tiba
" Baiklah aku akan menelepon dulu supaya Qonita bisa bersiap-siap dengan kunjungan kita!" ucap Zahra kemudian dia langsung mencari ponselnya untuk menghubungi saudara angkatnya.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Zahra kepada Qonita yang mengangkat panggilan teleponnya.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" ucap Qonita menjawab panggilan dari saudarinya.
" Kami berdua rencananya akan mengunjungi Jawa Timur. Kapan kalian ada waktu?" tanya Zahra kepada Qonita.
" Datanglah kemari kapan saja. Kami selalu ada waktu kapanpun untuk menerima kedatangan kalian!" ucap Qonita dengan sangat senang mendengarkan saudarinya akan datang ke pondoknya.
" Baiklah kami akan datang hari ini juga. Karena ada hal mendesak yang harus kami diskusikan dengan kalian berdua!" ucap Zahra kemudian dia pun berpamitan kepada wanita karena dia harus bersiap-siap untuk segera pergi ke Jawa Timur menemui saudaranya.
Zaki yang tidak biaa tidur, tanpa sengaja Zaki mendengarkan semua percakapan Umi dan Abinya. Dia merasa sangat senang. Karena dia bisa melihat ada titik solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang saat ini sedang dia hadapi bersama Hilya.
" Ya Allah tunjukkanlah kebesaranmu dan berikanlah kami semua kekuatan untuk bisa melewati semua masalah ini!" doa Zaki ketika melihat kedua orang tuanya sedang bersiap untuk pergi ke Jawa Timur menemui tantenya yang lama tidak dia temui.
" Abi dan Umi akan pergi ke Jawa Timur untuk menemui tantemu. Doakanlah supaya kami mendapatkan kabar terbaik untuk kalian!" ucap Kyai Rasyid sambil tersenyum kepada Zaki yang saat ini menatapnya dengan perasaan penuh haru.
" Terima kasih Abi dan Umi yang selalu memperhatikan dan memikirkan kebaikan Zaki. Maafkan Zaki yang sampai sebesar ini masih memberikan masalah kepada kalian berdua!" ucap Zaki dengan mata berkaca-kaca.
" Kau adalah putra kami tentu saja kami harus memperhatikan kamu dan juga istrimu Sudahlah Jangan dipikirkan yang berat-berat sekarang kau fokuslah untuk membantu istrimu segera keluar dari penjara! sebentar lagi waktu untuk kuliah segera dimulai dan masa liburan berakhir pilih hari segera keluar dari penjara dan namanya harus di pulihkan segera agar pendidikannya tidak terganggu!" ucap Zahra sambil mengelus punggung putranya.
Setelah selesai bersiap-siap. Kyai Rasyid dan Zahra langsung pergi ke bandara dengan diantarkan oleh Zaki.
" Abi dan Umi berhati-hatilah. Kalau ada masalah apapun. Tolong hubungi Zaki. Zaki pasti akan langsung ke sana untuk segera membantu kalian!" ucap Zaki ketika dia mengantarkan kedua orang tuanya ke bandara.
" Baiklah jangan khawatir dengan kami. Kau pastikan untuk membantu istrimu agar segera keluar dari penjara!" ucap Zahra.
" Iya Umi jangan khawatir. Zaki pasti akan berusaha sekuatnya untuk bisa membebaskan Hilya." ucap Zaki sambil mengecup telapak tangan kedua orang tuanya sebelum mereka masuk ke dalam pesawat dan terbang ke Jawa Timur.
Setelah kepergian kedua orang tuanya. Zaki Langsung kembali ke pondok pesantren dan beristirahat. Agar nanti malam dia bisa beristiharah untuk menanyakan tentang permasalahan yang saat ini sedang dihadapi kepada Allah.
__ADS_1
" Ketika menemukan sebuah masalah Hanya Allah lah yang layak untuk dijadikan tempat bertanya!" nasehat Ayahnya itu selalu didengarkan oleh Zaki selama ini.
Hanya saja kemarin karena dia terlalu fokus untuk mencari bukti-bukti untuk bisa membebaskan istrinya. Sehingga dia tidak berpikir untuk melakukan itu. Sampai ayahnya mengingatkan kepadanya untuk istikharah.
Pada tengah malam. Zaki bangun dari tidurnya dan langsung salat Tahajud dan juga istikharah. Bertanya kepada Allah tentang masalah yang saat ini sedang dia hadapi.
" Ya Allah berikanlah petunjukmu untuk semua masalah yang saat ini sedang kami hadapi. Tolong kau berikanlah jalan terbaik untuk kami bisa keluar dari masalah ini tanpa harus menyakiti siapapun!" doa Zaki pada malam itu dengan penuh pengharapan dan khusyuk.
Zaki berdzikir dan juga membaca Alquran sampai adzan subuh berkumandang. Ketika mendengar suara Adzan Zaki kemudian sholat shubuh lalu kembali mengaji. Sampai dia tanpa sadar tertidur di atas sajadahnya yang dihamparkan sejak jam 2 pagi.
Zaki terbangun ketika Kang Soleh mengetuk pintu kediamannya dengan tergesa-gesa.
" Aih! siapa itu Orang? Pagi-pagi sudah mengetuk pintu rumah orang seperti itu!" ucap Zaki tanpa kesal karena saat ini dia masih merasa mengantuk setelah begadang semalaman dengan dzikir dan membaca Alquran.
Dengan perasaan malas Zaki kemudian membuka pintu dan melihat Kang Soleh yang sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
" Ada apa Kang pagi-pagi terburu-buru seperti itu?" Tanya Zaki sambil menguap karena masih terasa ngantuk.
" Itu Gus di depan ada Fatimah. Dia sedang melakukan sesuatu yang benar-benar membuat saya merasa sedih!" ucap Kang sholeh dengan nafas ngos-ngosan.
" Melakukan apalagi perempuan itu?" tanya Zaki tampak kesal.
" Ayo Gus! Gus ikut saja bersama saya dan lihat sendiri apa yang dia lakukan!" ucap Kang Soleh sambil menarik tangan Zaki yang masih lemas tubuhnya karena kekurangan tidur selama semalaman.
" Apa sih yang sudah dilakukan perempuan itu sehingga membuat sang Saleh panik seperti ini?" Tanya Zaki dengan perasa penuh penasaran yang ada di dalam hatinya tetapi Kang Soleh sama sekali tidak mau memberikan penjelasan kepadanya mengenai Apa yang dilakukan oleh Fatimah saat ini.
" Kalau saya menjelaskannya saja Gus Zaki pasti tidak akan terlalu mengerti. Akan tetapi kalau melihatnya secara langsung pasti akan langsung mengerti!" ucap Kang sholeh.
" Sudah katakan langsung saja Kang! Jangan bermain misteri denganku!" ucap Zaki tanpa kesal kepada Kang Sholeh.
Tetapi Kang Soleh tetap bungkam dan tidak mau membuka mulutnya. Dia malah mempercepat langkahnya sambil menarik tangan Zaki. Menuju ke lapangan milik pondok. Di mana para santri sudah berkumpul di sana dengan Fatimah yang berdiri di depan mereka semua.
" Sedang melakukan apa perempuan itu? Ya Allah! Tidak ada habis-habisnya Dia untuk mempermalukan dirinya sendiri!" ucap Zaki dengan kesal ketika melihat Fatimah yang kini tersenyum ketika melihatnya datang ke lapangan bersama Kang sholeh yang tampak ngos-ngosan.
__ADS_1