
Seterah acara temu kangen akhirnya mereka menuju ruang tengah untuk bisa bicara lebih santai.
"Farel menghubungin Umi tadi, dia bilang kalau Fatimah dalam perjalanan menuju Jakarta dan dia ingin membicarakan kepada kedua orang tuanya. Agar membatalkan pernikahan kalian!" ucapkan Qonita menyampaikan hal yang disampaikan oleh Farel kepadanya.
"Kak Fatimah itu sejak dulu memang orangnya selalu nekat dan dia akan terus berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Saya tidak heran kalau dia melakukan itu!" ucap Hilya dengan pelan.
"Abi ingin bertanya kepada kalian. Apakah betul kalian ingin melanjutkan pernikahan kalian? Mungkin ini akan menjadi sebuah kesempatan untuk kalian bisa memperbaiki sesuatu yang salah!" ucap Kyai Rasyid menatap Hilya dan Zaki dengan lekat.
"Saya mencintai istri saya Abi! Saya tidak akan pernah mau untuk membatalkan pernikahan itu. Apalagi untuk bersama dengan Fatimah yang sangat egois itu!" ucap Zaki sambil menggenggam tangan istrinya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.
"Saya akan menerima apapun keputusan dari Mas Zaki. Entah itu melanjutkan pernikahan ini ataupun membatalkannya. Karena pada hakikatnya. Saya memang waktu itu hanya membantu untuk menyelamatkan keluarga dari aib yang disebabkan oleh kak Fatimah yang meninggalkan pernikahan kalian berdua!" ucap Hilya dengan suara gemetar.
Nampak sekali bahwa Hilya sedang menahan emosi yang ada di dalam hatinya.
"Tenanglah Sayang Umi sama Abi pasti akan melindungi kamu kalau sampai Fatimah melakukan hal-hal yang Di Luar Batas kewajaran!" ucap Qonita sambil menatap Hilya yang kini mulai berlinang air matanya.
"Apakah Mas Zaki benar ingin melanjutkan pernikahan dengan saya?" tanya Hilya sambil melirik sekilas kepada suaminya.
Zaki menatap istrinya yang saat ini sedang menangis. Zaki berusaha untuk merengkuh tubuh istrinya agar masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tenanglah kami semua akan melindungimu dari Fatimah. Kalau sampai dia melakukan hal-hal yang akan menyakitimu!" ucap Zaki berusaha untuk menenangkan hati istrinya yang tampaknya sedang gundah gulana.
"Bukankah bagus kalau Kak Fatimah datang ke sini dan menagih haknya sebagai calon istrimu karena memang dialah calon istrimu yang sesungguhnya!" ucap Hilya kembali sambil menatap wajah Zaki.
"Pernikahan itu bukan permainan anak-anak. Kita mengucapkan sumpah di atas nama Alquran di hadapan Allah. Apakah sangat mudah untuk dibatalkan begitu saja?" Tanya Zaki sambil menatap Hilya.
"Benar apa yang dikatakan oleh suamimu. Tenanglah Hilya! Kita semua tidak melakukan kesalahan apapun terhadap Fatimah. Hal seperti ini terjadi adalah karena dia yang melarikan diri dalam acara pernikahan yang sudah disusun oleh keluarga besar kita dan disetujui olehnya!" ucap Kyai Rasyid.
"Lalu apa yang akan kita lakukan kalau nanti Kak Fatimah dan juga kedua orang tuaku datang kemari? Karena aku tahu bahwa kedua orang tuaku sangat menyayangi Kak Fatimah!" ucap Hilya menatap Zaki tanpa air matanya masih belum berhenti mengalir sehingga membuat Zaki merasa berdosa karena sudah membuat istrinya menangis di hari kedua kalinya mereka bertemu.
"Aku yang memiliki hak dan juga keputusan di sini dan aku bisa menjanjikan padamu. Bahwa aku tidak akan pernah membiarkan Fatimah berbuat semena-mena kepada kita!" ucap Zaki meremas tangan istrinya yang begitu dingin di telapak tangannya.
"Katakan padaku Mas! Apakah kau mencintaiku?" tanya Hilya mempertanyakan cinta Zaki kepadanya.
"Ketika cinta mulai dipertanyakan! Umi juga bertanya dan ingin mengetahui apakah benar kau mencintai istrimu Zaki?" tanya Qonita sambil menatap putranya.
"Zaki benar-benar mencintai Hilya Umi. Kalau tidak, tidak akan mungkin Zaki sampai rela melepaskan pekerjaan Zaki di Yogyakarta dan datang kemari demi Hilya!" ucap Zaki dengan suara tegas dan jelas terdengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu.
"Lalu bagaimana denganmu nak apakah Kau juga mencintai Putra Abi?" tanya Kyai Rasyid sambil menatap wajah Hilya yang kini menundukkan kepalanya semakin dalam.
__ADS_1
"Kalau saya tidak mencintai Mas Zaki tidak akan mungkin saya menyerahkan mahkota yang saya jaga selama 20 tahun lebih!" ucap Hilya sambil meremas tangannya saat ini. Karena dia sangat gugup dan juga merasa malu mengakui perasaannya di hadapan kedua mertuanya dan juga suaminya.
"Kalau begitu kita di sini berada di pihak yang benar. Karena kalian berdua saling mencintai. Maka kalian punya hak untuk melanjutkan pernikahan itu. Kecuali kalau kalian memang tidak menginginkan pernikahan itu. Abi dan umi pasti akan menyetujui keinginan Fatimah Untuk membatalkan pernikahan kalian!" ucap Kyai Rasyid.
"Abi akan membatalkan pernikahan kami, Kalau kami tidak saling mencintai?" Tanya Zaki merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
"Ya kalau kalian berdua memang tidak saling mencintai. Maka apabila kalian diikat oleh pernikahan. Maka itu hanya akan menjadi sebuah malapetaka dan bencana besar!" ucap Kyai Hamid sambil mengelus jenggotnya yang berwarna putih keemasan.
"Tapi alhamdulillah Allah telah menghembuskan rasa cinta di hati kalian berdua. Sehingga kita semua tidak harus menanggung malu maupun aib dengan pembatalan pernikahan kalian berdua!" ucap Qonita mengulas senyum dan menatap Hilya dengan tatapan sendu.
"Iya Umi saya juga sebetulnya awalnya tidak mencintai dia hanya saja saya kagum dengan keuletan dia dan juga dia sangat mempesona di mataku saat ini!" ucap Zaki melirik Hilya.
"Di malam pernikahan kita, kau begitu sombong. Sehingga membuatku tidak suka denganmu! Dan akhirnya membuatku meninggalkanmu tidur sendiri di kamar Kak Fatimah!" ucap Hilya sambil terkece ketika dia mengingat kejadian di malam pernikahan mereka yang begitu konyol.
"Bukankah kau juga membuatku merasa sangat tertantang sebagai seorang laki-laki?Kau berkata bahwa kau juga tidak menginginkanku. Bagaimana mungkin seorang Zaki Al Bukhari diperlakukan sehina itu oleh seorang perempuan?" ucap Zaki tersenyum kepada Hilya.
Kyai Rasyid dan Qonita tersenyum satu sama lain melihat bahasa cinta yang ditunjukkan oleh Zaki dan Hilya di hadapan mereka sehingga mereka merasa yakin bahwa pernikahan itu akan dilanjutkan dan mereka akan menemui keluarga Hilya untuk membahas masalah antara mereka berdua.
"Kalian Pergilah istirahat. Pergi ke kamarmu Zaki. Bukankah sejak kalian menikah istrimu belum pernah masuk ke dalam kamarmu? walaupun Hilya sejak dulu adalah santri pondok ini dan sudah sering masuk ke rumah kita tetapi sebagai istrimu inilah pertama kalinya dia datang ke rumah ini sebagai seorang menantu!" ucap Qonita sambil mengulas senyum begitu bahagia kepada Hilya yang kini menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Terima kasih Umi Nyai dan juga Abah Kyai. Yang sudah menerima saya sebagai menantu kalian. Saya akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Gus Zaki!" ucap Hilya dengan suara perlahan.