Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Keterlaluan Kau Fatimah!!!


__ADS_3

Mata Zaki melotot sempurna. Ketika dia melihat Fatimah yang saat ini sedang memutar sebuah film tentang istrinya yang berada di dalam penjara.


Dengan menggunakan proyektor dan layar besar Fatimah memutar kehidupan Hilya di dalam penjara.


" Kalian Lihatlah istri tercinta dari Gus kalian. Dia itu adalah seorang kriminal yang telah mencoba untuk membunuh saya. Kakaknya sendiri. Hanya karena dia yang merasa terancam. Saya akan mengambil kembali calon suami saya yaitu Gus Zaki!" ucap Fatimah dengan suara lantang menggunakan mic yang tersambung ke speaker yang ada di tangannya.


" Keterlaluan kau Fatimah!" ucap Zaki degan geram dan emosi yang memuncak. melihat Fatimah yang saat ini sedang memutar kehidupan Hilya di dalam penjara.


" Kenapa kalian diam saja melihat pengacau ini disini? Cepat bubarkan dan buang semua alat-alat yang dia bawa ke pondok kita!" perintah Zaki sambil dia mencabut semua kabel listrik yang menempel ke proyektor itu. Sehingga film yang memutar tentang kehidupan Hilya di penjara pun berakhir dengan sendirinya.


" Cepat buang semua barang-barang itu dan seret perempuan kurang ajar itu untuk keluar dari Pondok Pesantren. Mulai hari ini dia saya haramkan untuk menginjakan kakinya di pondok pesantren ini. Apa kalian mengerti? Sekali lagi saya melihat dia ada di sini, maka kalian yang mengizinkan dia masuk akan saya keluarkan dari Pondok Pesantren secara tidak terhormat!" perintah Zaki berteriak kepada seisi penghuni pondok pesantren dengan mata berapi-api sambil menatap kepada Fatimah.


" Kau ingat perkataan dan janjiku! Aku tidak akan pernah menikahimu walau seluruh wanita di dunia ini sudah menghilang!" ucap Zaki dengan emosi yang memuncak di dadanya.


Mendengar semua perkataan Zaki. Hati Fatimah mencelos dadanya naik turun tampak begitu terguncang hatinya.


" Kenapa kau begitu membenciku Zaki? Padahal aku sangat mencintaimu! Hiks hiks!" ucap Fatimah begitu nelongso. Tampak hatinya yang bersedih dan menghiba.


Beberapa santri putri bahkan ada yang menitikkan air matanya. Seperti merasa kasihan dengan Fatimah yang begitu mencintai Gus kebanggan mereka.


" Kasihan sekali. Kenapa nggak dinikahi saja sih? Kan seorang Gus dibolehkan untuk mempunyai istri lebih dari satu!" celetuk salah seorang santri.


" Wah dia perilakunya seperti itu. Mana mungkin bisa menarik perhatian Gus Zaki yang alim dan juga sangat mencintai istrinya?" ucap yang lainnya.


Zaki mendengarkan semua kasak kusuk yang ada di antara para santri dan dia merasa sangat geram kepada Fatimah yang sudah mengganggu stabilitas pondok pesantren dengan kelakuannya yang minus.


" Mau berapa lama lagi kau mempermalukan dirimu sendiri huh? Apa kau tidak kasihan kepada kedua orang tuamu huh? Mereka sangat malu dengan kelakuanmu Fatimah! Bahkan hingga kini kedua orang tuamu belum pulih dan masih berada di rumah sakit. Seharusnya istriku merawat mereka. Akan tetapi karena perbuatanmu. Sekarang istriku malah meringkuk di dalam penjara dan hidup dalam aib yang kau timpakan ke wajahnya!" ucap Zaki dengan mata berapi-api.


Kemarahan Zaki sudah tidak bisa dibendung lagi dan dia sudah tidak bisa mentolerir lagi semua yang dilakukan oleh Fatimah.

__ADS_1


' Ya Allah! Apakah ini jawaban dari salat istikharahku tadi malam? Aku sama sekali tidak condong kepada perempuan ini. Akan tetapi aku malah semakin membencinya dengan kelakuan dia yang sangat keterlaluan terhadap adiknya sendri!' batin Zaki sambil menatap tajam kepada Fatimah yang masih menangis di hadapannya.


" Cepat seret dia dari Pondok dan jangan biarkan dia masuk lagi kemari. Kalau sampai saya melihat dia berkeliaran dan berusaha mengacaukan suasana pondok lagi. Maka kalian akan mendapatkan hukuman dari saya. Akan saya pastikan kalian akan saya keluarkan dari Pondok secara tidak terhormat!" Zaki mengulang perintahnya dengan suara menggemah di setujuru pondok pesantren membuat para penghuninya merinding melihat emosi yang begitu memuncak di hatinya.


Hati Zaki benar-benar terluka melihat nama baik istrinya telah dicemarkan oleh Fatimah di hadapan seluruh santri yang seharusnya menghormati istrinya yang kelak akan menggantikan Uminya. Kalau kelak dia menggantikan Abinya untuk memimpin pondok pesantren tersebut.


Setelah Fatimah meninggalkan Pondok dengan diseret oleh beberapa orang santri Putri kelas senior.


Zaki langsung masuk ke dalam kamarnya. Tiada hentinya dia mengucapkan istighfar karena sejak tadi dia terus mengumbar emosi yang ada di hatinya terhadap Fatimah.


" Ya Allah tolong ampunilah hamba. Karena tidak bisa menjaga lisan ini. Karena tidak bisa menjaga hati ini untuk tidak membenci seorang perempuan. Akan tetapi sungguh Ya Allah! Dia benar-benar telah menguji segala kesabaran yang hamba miliki!" rintih Zaki di dalam kamarnya sendirian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Fatimah yang diseret oleh beberapa orang santriwati. Dia tampak marah-marah dan memaki mereka dengan kata-kata kasar.


" Awas kalian ya! Sekarang kalian berbuat kurang ajar kepadaku. Kalau aku sudah menjadi istri dari Gus Zaki, akan kupastikan kalian tidak akan bisa mondok lagi di pondok pesantren ini!" ucap Fatimah dengan penuh kebencian kepada kelima santri putri yang saat ini sedang berusaha untuk mengeluarkannya dari Pondok.


" Aku adalah kakak dari istri Gus kalian. Tidak layak kalian memperlakukanku seperti ini!" ucap Fatimah dengan mata berapi-api.


" Tuh anda sadar! Kalau status Kakak itu hanyalah Kakak dari istri Gus kami. Tapi, Kenapa Kakak selalu saja mencari perkara dengan mereka berdua? Sadarlah Kak! Kakak itu cantik. Kakak itu hebat dan kakak itu berharga! Kakak masih bisa mendapatkan laki-laki yang lain yang lebih baik daripada Gus Zaki milik kami semua!" ucap salah satu santriwati yang lainnya.


Mereka semua mengangguk dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh rekannya.


" Pergilah Kak! Kakak jangan mempermalukan diri Kakak sendiri. Kakak melakukan hal seperti ini bukan membuat Gus Zaki semakin mendekat tetapi Gus Zaki pasti akan semakin menjauh dan membenci kakak!" ucap yang lainnya.


" Percayalah Kak di luar sana! Masih banyak laki-laki yang lebih hebat dari Gus Zaki! Bukalah pintu hatimu dan lihatlah ke sekeliling kak. Masih banyak laki-laki yang lebih keren dan mapan dari seorang Zaki Al Bukhari!" ucap yang lainnya.


" Udah yuk kita tinggalkan dia. Sebentar lagi kita harus setor hafalan kepada Gus Zaki. Sebelum dia pergi meninggalkan pondok untuk ke pengadilan dalam rangka membantu istrinya agar segera bebas dari penjara. Istri Gus Zaki masuk penjara gara-gara perbuatan Kakaknya sendiri yang melaporkan istri Gus kita ke kantor polisi!" ucap kepala santriwati.

__ADS_1


" Sungguh jahat sekali! Bagaimana mungkin dia bisa setega itu kepada Adiknya sendiri. Hanya karena berebut seorang laki-laki. Ya ampun! Sungguh tidak mempunyai etika dan kesopanan sama sekali!" ucap santriwati berjilbab biru sambil menatap Fatimah kesal.


" Istri Gus Zaki itu wanita yang sholehah. Dia juga kawan kami yang baik dan sangat pintar. Sangat wajar sih! Kalau Gus Zaki lebih mencintainya daripada kakaknya yang begitu Barbar dan tidak tahu adat!" ucapnya sambil melirik sinis kepada Fatimah yang masih menatap mereka dengan penuh kebencian dan tidak mau meninggalkan pondok pesantren.


" Segera tutup gerbang pondok pesantren dan Ingat! Kalian harus mengingat wajahnya. Gus Zaki sudah mengharamkan dia untuk berkunjung ke pondok kita lagi. Kalau kalian sampai meloloskan dia, maka kalian akan dikeluarkan oleh Gus Zaki dari Pondok ini secara tidak terhormat. Apa kalian ingat itu?" tanya perempuan yang tampaknya merupakan kepala dari para santriwati.


" Baik kami mengerti. Kami tidak akan mengizinkan dia lagi untuk masuk ke pondok pesantren. Karena setiap kedatangan dia selalu saja membuat kehebohan di pondok kita. Sehingga teman-teman kita tidak bisa fokus dalam belajar ilmu agama!" ucap salah satu santri yang saat ini sedang piket di depan pintu gerbang.


" Kau harus pastikan untuk memeriksa setiap pengunjung yang datang! Ingat itu! Jangan sampai dia masuk ke pondok kita dengan menyamar! Paham?" tanyanya.


" Siap!" ucap semua petugas piket yang menunggu di depan gerbang pondok pesantren dengan kompak.


Fatimah yang merasa jengkel mendengarkan semua percakapan mereka akhirnya menuju ke dalam mobilnya yang tadi dia parkir di luar gerbang pondok pesantren.


" Kurang ajar mereka semua! Ya Tuhan! Zaki sudah melarangku untuk masuk ke pondok bagaimana ini? Bagaimana caranya aku bisa menemui dia kalau aku merindukan dia?" tanya Fatimah kepada dirinya sendiri.


Selama beberapa jam Fatimah masih berada di lingkungan pondok pesantren dan tampak masih penasaran dengan seorang Zaki Al Bukhari.


Ketika Fatimah melihat mobil milik Zaki keluar dari Pondok dia langsung menstarter mobilnya dan mengikuti laki-laki pujaannya.


" Tampaknya dia akan ke penjara atau dia akan menghadiri persidangan yang akan dilakukan jam 11.00 siang nanti?" tanya Fatimah kepada dirinya sendiri.


" Kamu sungguh beruntung Hilya. Walaupun kamu sekarang berada di dalam penjara. Akan tetapi suamimu memperjuangkanmu betul-betul dan tetap mencintaimu!" ucap Fatimah dengan rasa iri yang ada di hatinya.


" Seharusnya aku yang mendapatkan semua perhatian dan cinta miliki Zaki bukan kamu Hilya!" ucap Fatimah dengan rasa kesal dan benci menjadi satu untuk adiknya sendiri.


" Kenapa begitu berat dan betapa susahnya untuk membuat Zaki mencintaiku. Apakah aku harus mencari dukun untuk memelet dia dan membuat dia bertekuk lutut kepadaku dengan cara mistis?" tanya Fatimah kepada dirinya sendiri.


Hati Fatimah yang sedang diliputi dengan kecemburuan dan iri dengki terhadap adiknya sendiri. Telah membuatnya kehilangan akal sehat dan berniat untuk mencari seorang dukun untuk membuat Zaki takluk di hadapannya dengan cara mistis.

__ADS_1


Tampaknya Fatimah lupa kalau Zaki adalah seorang Hafiz yang memiliki tameng dan pelindung yang kuat di dalam tubuhnya dari hal-hal mistis semacam itu.


__ADS_2