
Setelah Zaki meninggalkannya Hilya kembali ke dalam sel bergabung dengan teman-temannya.
" Bagaimana? Apa yang dikatakan oleh suamimu?" tanya Salsa kepada Hilya.
" Tidak ada. Sudahlah tidak usah mengurusi masalahku. Aku bisa mengurusnya sendiri!" ucap Hilya dengan tenang sambil mengulas senyum kepada teman barunya selama berada di dalam sel.
" Apakah suamimu akan menikah lagi?" tanya Salsa lagi.
" Maafkan saya Kak. Apakah saya boleh untuk murojaah kembali karena saya tidak mau kalau hafalan saya menghilang gara-gara saya menggunjingkan orang lain!" ucap Hilya sambil membuka Alquran kecil yang ada di tangannya dan mulai menghafalkan kembali ayat Alquran yang sudah ada di dalam kepalanya.
" Saya heran kenapa wanita sholehah seperti dia bisa berada di dalam penjara? Lihatlah dia begitu fasih menghafal Alquran yang begitu tebal. Jangankan untuk menghafal seperti itu. Membaca al-fatihah saja saya selalu salah-salah!" ucap narapidana berbadan Tambun dan selalu mencari masalah dalam sel tetapi sejak keberadaan Hilya dia menjadi anteng dan lebih senang mendengarkan lantunan ayat Alquran yang mengalir dari bibir Hilya yang sedang murojaah hafalannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu Fatimah yang berada di rumah sakit. Dia merasa kesal karena sejak dia dirawat di sana, Zaki sama sekali tidak mendatanginya maupun membicarakan tentang pernikahan mereka berdua.
" Kurang ajar sekali Zaki. Apakah dia tidak peduli dengan adikku yang sekarang mendekam di penjara?" ucap Fatimah geram.
Akhirnya Fatimah memilih untuk keluar dari rumah sakit. Karena sejak kemarin dokter sudah mengizinkannya pulang. Tetapi dia yang masih ingin bermain drama dan berharap Zaki untuk datang menjenguknya. Akan tetapi ternyata Zaki sama sekali tidak peduli dengannya.
" Aku akan mendatangi ruangan kedua orang tuaku dan menceritakan apa yang sudah dilakukan oleh Hilya kepadaku!" Fatimah pun kemudian mengurus administrasi untuk dirinya selama dia dirawat beberapa hari di dalam rumah sakit.
" Aku akan lihat apa yang akan dilakukan oleh Zaki. Ketika aku menceritakan semua yang sudah terjadi di antara kami!" Fatimah kemudian langsung pergi ke kamar di mana kedua orang tuanya masih dirawat di sana.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucapan timah ketika dia masuk ke dalam ruangan tempat kedua orang tuanya dirawat.
__ADS_1
" Loh? Di mana orang yang kemarin dirawat di ruangan ini?" tanya Fatimah merasa terkejut ketika mendapati kenyataan. Kalau orang yang dirawat di ruangan itu bukanlah kedua orang tuanya maupun ayah dari Zaki.
" Kami tidak tahu. Kami baru pindah tadi malam ke ruangan ini tanyakan saja ke bagian administrasi!" ucap keluarga pasien yang menunggu di ruangan itu.
" Baiklah terima kasih. Saya permisi dulu!" ucap Fatimah keluar dari ruangan itu.
Fatimah kemudian pergi ke ruangan administrasi bertanya tentang kedua orang tuanya yang sekarang sudah meninggalkan rumah sakit.
" Maaf suster saya ingin bertanya. Pasien yang bernama Kyai Rasyid sekarang pindah ke mana ya?" tanya Fatimah penasaran.
" Kyai Rasyid sudah pulang ke rumah karena dia sudah sehat kalau dua pasien yang lainnya sudah dipindahkan ke rumah sakit Abimana grup yang ada di Jakarta!" ucap Suster itu memberikan keterangan kepada Fatimah.
" Baiklah suster Terima kasih banyak saya permisi!" Fatimah kemudian langsung meninggalkan rumah sakit dan pergi menuju ke pondok pesantren milik Kyai Rasyid.
" Baiklah Zaki kalau kau menginginkan peperangan di antara kita berdua. Maka aku akan melayaninya. Aku akan membuat Hilya membusuk di penjara selama bertahun-tahun kalau sampai kau tidak mau menikah denganku!" ucap Fatimah dengan amarah yang memuncak di hatinya karena ternyata Zaki sama sekali tidak memperdulikan ancaman yang dia layangkan kepadanya.
Begitu sampai di pondok. Fatimah langsung mencari Zaki tetapi Zaki ternyata tidak ada di dalam pondok.
" Mau apa lagi kau datang kemari? Apa kau tidak tahu huh? Gara-gara kau rumah tangga anakku sekarang dalam bahaya!" ucap Qonita kesal ketika dia melihat Fatimah berada di pondoknya.
" Apa maksud Umi?" tanya Fatimah tidak mengerti.
" Sudah satu minggu Hilya meninggalkan Pondok ini dan sekarang Zaki sedang sibuk mencarinya! Entah ke mana Putraku mencari istrinya. Semuanya gara-gara kamu. Apa kau merasa senang kalau semua orang yang terlibat denganmu hancur?" tanya Qonita.
" Zaki pergi mencari Hilya?" tanya Fatimah.
__ADS_1
' Rupanya Zaki tidak menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepada orang tuanya. Tentang Hilya yang berada di penjara. Entah sekarang Zaki ada di mana. Tapi aku harus menemukan laki-laki itu untuk meminta dia menikahiku!" batin Fatimah sambil terus menatap kepada Qonita yang menatapnya dengan penuh rasa tidak suka.
" Hilya tidak pergi meninggalkan Zaki. Akan tetapi saat ini dia berada di dalam penjara. Karena saya melaporkannya atas kasus percobaan pembunuhan atas diri saya!" ucap Fatimah membeberkan hal yang sesungguhnya kepada Qonita.
" Apa maksudmu kau jangan menyerang cerita tidak mungkin menantuku berniat membunuhmu!" ucap Qonita geram.
" Kalau tidak percaya. Kalian bisa mendatangi kantor polisi. Kalian pasti akan menemukan menantu kesayangan kalian di sana!" ucap Fatimah sambil tersenyum penuh kemenangan. Kemudian Fatimah pun meninggalkan Pondok Pesantren dan berusaha untuk mencari Zaki.
" Apakah benar siang dikatakan oleh perempuan ular itu kalau menantuku saat ini berada di penjara?" tanya Qonita mulai resah.
" Umi! Ayo kita menengok Hilya. Kasihan menantu kita. Dia pasti selama satu minggu ini tidak ada yang mengunjunginya. Bukankah saat ini Zaki sedang pergi ke Jakarta untuk mencari pertolongan untuk bisa melepaskan Hilya dari penjara!" tiba-tiba saja Kyai Rasyid sudah berada di hadapan Qonita.
" Abi sudah mengetahui tentang Hilya yang berada di penjara?" tanya Qonita penasaran.
" Waktu malam Zaki meninggalkan Indramayu tanpa sengaja Abi mendengarkan percakapan Zaki bersama dengan seorang pengacara yang direkomendasikan oleh Farel! Zaki saat ini sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk membebaskan Hilya bersama dengan pengacara itu!" ucap Kyai Rasyid kepada Qonita sehingga Qonita mengetahui Kejadian yang sesungguhnya.
" Kenapa Zaki tidak menceritakannya kepada kita? Ya Allah! Sungguh kasihan Hilyaku sendirian di dalam sana. Pasti dia merasa bahwa kita tidak mempedulikannya!" ucap Qonita dengan berderai air mata.
" Ayo kita sekarang menengok menantu kita dan kita tunjukkan kepadanya bahwa kita akan selalu mendukungnya dan tidak akan membiarkan Fatimah menang dengan usahanya ini!" ucap Kyai Rasyid mengulas senyum kepada istrinya.
" Sebentar abi. Umi harus membawa makanan kesukaan Hilya ke sana. Tidak mungkin kan kita datang ke penjara hanya tangan kosong?" ucap Qonita meminta waktu kepada suaminya untuk menyiapkan makanan favorit Hilya untuk dibawa ke dalam penjara.
" Cepatlah Umi jangan lama-lama. Jangan sampai kita melewatkan waktu berkunjung!" ucap Kyai Rasyid mengingatkan kepada istrinya untuk segera bergegas supaya mereka bisa berangkat ke kantor polisi dan menengok Hilya di sana.
" Iya Abi ini sudah hampir siap. Umi tinggal mengemasnya saja!" ucap Qonita.
__ADS_1