
Ibunya Hilya menatap suaminya dengan tajam, "Hilya juga anak Umi. Bagaimana mungkin Umi akan tega membatalkan pernikahan mereka? Umi tahu mereka saling mencintai, Abi!" ucap ibunya Hilya sambil menggenggam tangan suaminya.
"Kejadian semacam ini tidak akan terjadi, kalau seandainya Fatimah tidak melakukan hal seperti itu. Sudah Umi! Biarkan saja dia belajar agar lebih menghargai orang lain!" ucap ayahnya Hilya kemudian dia pun menarik selimut untuk bersiap tidur.
Sementara itu Fatimah yang sudah bersiap untuk pergi ke Indramayu. Dia tampak mengendap-ngendap agar tidak diketahui oleh orang tuanya.
"Kalau Umi sama Abi melihatku pergi ke Indramayu pasti akan dilarang aku harus berhati-hati mereka tidak boleh tahu kalau aku pergi ke sana!" ucap Fatimah sambil berjalan dengan hati-hati agar tidak diketahui oleh kedua orang.
Setelah dia berhasil keluar dari rumah Fatimah dengan hati-hati mengeluarkan mobil milik ayahnya.
Untungnya kedua orang tuanya sudah terlelap tidur, sehingga tidak memergoki kepergian Fatimah yang tanpa izin.
" Akhirnya aku bisa keluar dari rumah aku harus segera ke Indramayu dan berbicara dengan mereka berdua!" Fatimah kemudian langsung menarik gas untuk segera berangkat ke Indramayu tidak memperdulikan walaupun cuaca yang agak berangin dan juga hujan dia tetap keukeh untuk berangkat ke Indramayu malam itu juga.
" Aku harus sampai ke sana pagi-pagi supaya siangnya aku bisa kembali ke Jogja! Bagaimanapun aku tidak bisa terlalu lama mangkir dari tugasku sebagai seorang dosen!" ucap Fatimah sambil fokus menyetir.
Fatimah yang memang sudah mahir dalam mengendarai mobil. Dia bisa melalui semua rintangan yang dihadapi dalam perjalanannya menuju Indramayu.
" Apa aku harus menginap dulu di hotel? Aduh rasanya aku ngantuk sekali. Akan berbahaya kalau melanjutkan perjalanan dalam keadaan seperti!" ucap Fatimah kepada dirinya sendiri. Ketika berkali-kali dia menguap karena menahan rasa kantuk yang luar biasa.
" Sepertinya aku harus mencari hotel sangat berbahaya kalau aku sampai tertidur di mobil dan mengalami kecelakaan!" Fatimah pun kemudian mulai mengawasi hotel yang ada di sekitar tempatnya saat ini melintas.
" Yah cuma hotel melati doang. Tapi ya sudahlah, biar nggak apa-apa. Daripada aku kecelakaan di jalan. Lebih baik aku istirahat saja dulu di sana. Tidak apa-apa walaupun hanya Hotel kecil yang penting aku bisa tidur!" ucap Fatimah ketika dia melihat sebuah hotel sederhana di pinggir jalan yang dia lewati.
__ADS_1
Fatimah kemudian memarkirkan mobilnya untuk bisa menginap di hotel tersebut.
Setelah mobilnya parkir dengan sempurna. Fatimah pun kemudian langsung masuk ke lobby hotel tersebut yang terlihat sangat sepi.
" Kenapa sepi sekali jangan-jangan petugas dan penjaganya sudah tidur!" ucap Fatimah bermonolog kepada dirinya sendiri.
" Halo selamat malam ada yang bisa saya bantu?" tiba-tiba seorang laki-laki tersenyum kepada Fatimah dari balik meja resepsionis.
" Astaghfirullahaladzim! Masnya mau membunuh saya pelan-pelan ya? Ya Allah, pakai acada ngagetin saya!" ucapan terima menegur laki-laki itu sambil mengelus dadanya yang terasa berdebar sangat kencang sangking kagetnya dia mendapatkan seorang laki-laki di sana.
Laki-laki paruh baya itu hanya menyengir saja mendengarkan protest dari Fatimah.
" Maaf Mbak saya juga tidak kalah kaget sama Mbaknya tiba-tiba saja sudah ada di depan saya ketika saya membuka mata!" ucap pria paruh baya itu sambil tersenyum kepada Fatimah.
" Ada Mbak. Tenang saja. Oh ya, mana kartu identitasnya Mba? Biar saya daftarkan untuk tidur dan menginap di hotel ini!" ucap laki-laki itu sambil menatap kepada Fatimah.
" Hotel ini aman kan?" tanya Fatimah kepada laki-laki tersebut yang sekarang tengah menatapnya dengan tajam.
Fatimah mengurutkan keningnya melihat ekspresi laki-laki itu yang menurutnya sangat janggal. Entah kenapa, tiba-tiba perasaan Fatimah merasa tidak enak ketika dia melihat tatapan laki-laki itu yang terus menatapnya dengan tatapan lapar.
' Sepertinya lebih baik aku tidur di mobil saja Hotel ini sepertinya tidak aman. Lihat saja penjaga seperti itu. Aku tidak bisa mempercayai diriku untuk tidur dan menginap di tempat kerja ini!" batin Fatimah sudah mulai memberikan ancang-ancang kepada dirinya sendiri untuk bersiap meninggalkan hotel dan kembali ke mobilnya.
" Oh iya Mas, saya lupa kalau identitas saya ketinggalan di mobil. Sebentar ya saya ambil dulu!" ucap Fatimah berdusta karena dia tidak mau sampai diketahui oleh orang tersebut bahwa dia akan pergi dari hotel itu.
__ADS_1
Fatimah langsung menstater mobilnya dan berniatnya untuk meninggalkan Hotel itu.
Tiba-tiba saja jendela mobil Fatimah diketuk oleh laki-laki tadi. Sehingga membuat Fatimah menjadi kaget dan ketakutan.
Dengan bergegas Fatimah langsung menginjakkan gas mobilnya untuk segera meninggalkan Hotel tanpa memperdulikan laki-laki itu yang terus memanggil dan mengejarnya.
"Ya Allah! Untung saja aku bisa kabur dari tempat itu benar-benar horor!" ucap Fatimah sambil terus melajukan mobilnya untuk melanjutkan perjalanannya.
Gara-gara kejadian tadi membuat Fatimah menjadi tidak mengantuk lagi.
Perasaan merasa terancam membuat rasa kantuknya hilang entah ke mana. Sekarang Fatimah mulai melajukan kendaraannya dan menuju ke Indramayu.
Begitu sampai di pondok pesantren milik Kyai Rasyid. Fatimah tidak langsung masuk ke sana. Karena saat itu masih dalam keadaan tengah malam. Dia lebih memilih untuk tidur di dalam mobilnya sambil menunggu pintu gerbang Pondok terbuka.
Fatimah yang memang benar-benar dalam keadaan mengantuk hanya dalam waktu sekejap dia langsung lelap dalam tidurnya.
Sementara itu Hilya dan Zaki yang saat ini sedang salat sunnah berjamaah di tengah malam. Mereka masih terbangun.
" Mas perasaanku kok tiba-tiba tidak enak ya? Apakah akan terjadi sesuatu?" tanya Hilya sambil menatap kepada suaminya yang sedang membereskan sajadah yang tadi digunakan oleh mereka berdua untuk salat sunnah berjamaah.
" Tidak usah memikirkan hal yang tidak pasti terjadi sayang. Tolong jangan khawatir ya?Mas pasti akan selalu bersamamu. Walau apapun yang dilakukan oleh Fatimah maupun kedua orang tuamu. Mas tidak akan pernah terpengaruh sama sekali!" ucap Zaki menenangkan istrinya yang tampaknya sedang kalut karena memikirkan perlakuan kakaknya yang sedang berusaha untuk membatalkan pernikahan keduanya.
" Aku hanya takut Mas, apakah yang kita lakukan ini sudah benar? Aku takut Mas, kalau aku sedang menganiaya kakakku dengan mempertahankanmu sebagai suamiku! Akan tetapi, untuk menyerahkanmu pun hatiku rasanya sulit, karena aku sangat mencintaimu mas!" ucap Hilya pelan, sambil menundukkan kepalanya tidak berani untuk menatap wajah suaminya yang saat ini sedang tersenyum bahagia mendengarkan pengakuannya.
__ADS_1