Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Kecemburuan Zaki


__ADS_3

Bahkan sampai di dalam rumah pun, Zaki masih cemberut dan tidak mau berbicara dengan istrinya.


" Ayolah sayang apakah kau masih marah denganku?" tanya Hilya kepada suaminya yang tampak masih marah kepadanya.


" Kau sudah tahu kalau aku marah. Lalu kenapa kau tidak berusaha untuk membuatku senang?" Tanya Zaki sambil melirik sekilas kepada istrinya yang saat ini sedang duduk di sampingnya.


" Memangnya apa yang bisa membuatmu senang dan tidak marah lagi?" jahil ya Sambil mengulas senyum tercantiknya kepada sang suami.


" Mengandunglah anakku dan kita menjadi pasangan suami istri yang sempurna!" ucap Zaki kepada Hilya yang langsung memutar bola matanya dengan malas.


" Bukankah aku sudah mengatakan padamu mas? Kalau aku ingin menyelesaikan kuliahku baru setelah ini memikirkan tentang anak dan juga rumah tangga kita akan berjalan seperti apa nantinya!" ucap Hilya tidak mau merubah pendiriannya.


" Kalau begitu Kau tidak benar-benar mencintaiku buktinya kau tidak mau mengalah untuk membuatku bahagia!" ucap Zaki merasa kesal kemudian dia pun langsung meninggalkan Hilya sendirian di ruang tamu.


" Apa kau tahu aku sangat mencintaimu dan aku sangat menginginkan anak yang lahir dari rahimmu! Anak itu akan menjadi bukti cintamu untukku!" ucap Zaki sambil menoleh sekilas kepada Hilya yang tampak merasa kehilangan akal untuk berbicara dengan suaminya.


" Entahlah Mas! Aku juga tidak tahu kenapa kau bisa melakukan hal seperti ini kepadaku. Kenapa kau sekarang mulai memaksakan kehendakmu?" ucap Hilya yang kemudian langsung keluar dari rumah mereka.


Hilya lebih memilih untuk pergi ke masjid dan mengambil Alquran untuk kembali mengulang hafalan yang sudah dia hafal selama ini.


Dengan penuh khusyuk Hilya terus bermurojaah dan terus mengulang-ulang hafalannya. Sangking khususknya, tanpa terasa dia tidak mengetahui kalau Zaki saat ini berada di belakangnya dan terus memperhatikan apa yang dia lakukan.


' Maafkan aku sayang! Kalau aku sudah membebanimu dengan permintaan dariku. Aku hanya tidak mau kalau sampai seseorang mengambilmu dariku. Dengan adanya seorang anak. Kau pasti akan berpikir sebelum meninggalkanku!' batin Zaki sambil terus memperhatikan sang istri dan mau tidak mau dia pun akhirnya ikut bersama Hilya bermurojaah bersama.


Ayat demi ayat dilafalkan. Mereka seakan tidak pernah bosan untuk menghafalkan Alquran yang sudah mereka hafal seluruhnya.


Setelah merasa tenang Hilya pun kemudian meninggalkan masjid dan dia terkejut ketika dia berbalik ternyata Zaki sedang tertunduk dan memejamkan matanya.

__ADS_1


" Mas kamu sedang apa?" tanya Hilya sambil mengguncangkan tubuh suaminya yang tampak terlelap setelah lelah bermurojaah bersama dengan sang istri tercinta.


" Apakah kau sudah selesai?" tanya Zaki sambil menguap dan menatap wajah istrinya.


" Yah aku sudah selesai ayo kita pulang sebentar lagi magrib akan datang sebaiknya kita bersiap untuk makan malam dan setelah itu kita kembali ke masjid!" ucap Hilya sambil tersenyum kepada suaminya.


" Apakah Mas masih marah padaku?" tanya Hilya dengan hati-hati sambil menatap sang suami yang tampak masih mengantuk.


" Sudahlah tidak usah dibicarakan lagi. Mas tidak akan memaksamu. Kalau kau memang belum menginginkan untuk mempunyai anak bersama denganku! Apa mungkin kalau kau inginnya anak dari dokter Bagas?" Tanya Zaki sambil menatap Hilya dengan mata penuh penyelidikan dan rasa penasaran.


" Astaghfirullahaladzim Mas! Jangan pernah kau suudzon seperti itu kepadaku. Karena aku sama sekali tidak pernah memiliki pikiran seperti itu. Hubunganku dengan dokter Bagas tidak lebih hanya sebagai dosen dan mahasiswa!" ucap hillya sambil menatap tajam kepada suaminya yang tampak masih menguap dan mengantuk berat.


" Mas tidak menuduh kamu sayang! Tadi kan mas bilang kalau mungkin!" ucap Zaki mengelak.


" Sudahlah Mas! Daripada nanti kita bertengkar terus. Lebih bagus kalau aku untuk mengekost saja dan tinggal dekat dengan kampus!" ucap Hilya akhirnya memutuskan untuk tinggal di kontrakan saja dan meninggalkan Zaki di pondok pesantren milik Ayah mertuanya.


" Tuh kan kamu terus saja suuzon kepadaku. Mas aku pindah ke kontrakan kan juga demi kebaikan kita. Agar kita tidak selalu berantem seperti ini. Aku lelah Mas kalau kita harus berantem dan bertengkar seperti ini!" ucap Hilya merasa tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh Zaki kepadanya.


" Apakah kau benar-benar akan pergi untuk meninggalkanku kalau sampai aku berpikir tentangmu yang suka dengan dokter Bagas?" tanya Zaki dengan perasaan yang was-was dan juga penuh rasa takut.


" Aku tidak peduli dengan apa yang kau pikirkan Mas! Tapi yang jelas aku tidak pernah mempunyai hubungan apapun dengan dokter Bagas!" ucap Hilya dan meninggalkan suaminya yang masih marah dan cemburu kepada dokter Bagas.


" Kenapa jadi dia yang lebih galak padaku? Padahal di sini kan aku yang lagi marah kepada dia. Gara-gara ada seorang laki-laki yang mencintainya. Ya ampun sungguh aneh sekali!" ucap Zaki merasa heran dengan apa yang terjadi dalam rumah tangganya saat ini.


" Ya Tuhan apakah benar kalau aku akan tinggal sendirian mulai jam ini?" Tanya Zaki ketika dia melihat istrinya yang keluar dari rumah dengan membawa koper dan juga tas tangannya.


" Astaghfirullahaladzim kau benar-benar akan meninggalkanku?" Tanya Zaki merasa terheran dengan apa yang dilakukan oleh Hilya.

__ADS_1


" Aku hanya pergi mengontrak saja di dekat kampusku. Aku bukan pergi ke luar negeri! Kau nggak usah berlebihan Mas!" ucap Hilya sambil cemberut kepada suaminya.


" Tapi tetap saja itu artinya aku akan tidur sendiri mulai malam ini kalau aku mengizinkanmu untuk pergi mengontrak!" protes Zaki kepada istrinya.


Zaki kemudian langsung merebut koper yang tadi dikeluarkan oleh Hilya dan memasukkannya kembali ke dalam rumah milik mereka.


" Cepat masuk! Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk melangkahkan kakimu dari Pondok Pesantren ini dan hidup di luar seorang diri!" ucap Zaki dengan mata tajam menatap sang istri yang tampak kebingungan saat ini.


" Kalau aku tinggal di sini. Kau hanya akan terus mengajakku berantem dan berpikiran buruk terus terhadapku. Aku berharap dengan adanya jarak diantara kita akan memberikan waktu kepada kita untuk berpikir kembali!" ucap Hilya merasa sangat sedih dengan suaminya.


" Ketika Cinta mulai dipertanyakan! Hal itu bukan hanya menjadi sebuah kesalahan dari seseorang tetapi menjadi kesalahan dua pihak sebagai pasangan!" ucap Hilya mengatakan apa yang saat ini ada di dalam pikirannya kepada sang suami yang masih membeku di tempatnya.


" Lagi pula aku juga tidak pergi jauh Mas! Aku hanya di sekitar kampus saja. Kita akan bertemu di kampus setiap hari. Kalau kau ingin bertemu denganku Kau tinggal datang saja kan ke kontrakanku?" Ucap Hilya sambil tersenyum kepada suaminya.


" Tidak! Pokoknya aku tidak mengizinkanmu untuk pergi dari Pondok Pesantren. Ayo cepat masuk!" perintah Zaki dengan menatap tajam kepada Hilya yang sekarang mulai menciut nyalinya untuk memberontak dari sang suami.


" Kamu Ingatkan kalau saat ini kau adalah tanggung jawabku dan aku berhak untuk melarangmu kalau kau hendak melakukan sesuatu yang salah!" ucap Zaki sambil menarik tangan istrinya untuk kembali masuk ke kediaman mereka berdua.


" Memangnya untuk apa mas kita bersama? Kalau hanya berantem lalu saling menyakiti satu sama lain!" ucap Hilya merasa kesal kepada Zaki.


" Baiklah aku minta maaf aku tidak akan lagi mengulangi hal seperti itu sekarang ayo kita masuk sebentar lagi magrib dan kita harus bersiap-siap untuk pergi ke masjid!" ucap Zaki sambil menggenggam tangan istrinya.


" Kenapa kau sekarang jadi egois dan suka memaksakan kehendakmu?!" tanya Hilya mulai merasa emosi melihat suaminya yang karena cemburu mulai melakukan hal seperti itu.


" Percayalah aku tidak akan mengungkitnya lagi selama kau tidak berdekatan dengan dokter Bagas. Aku pasti tidak akan marah kepadamu!" ucap Zaki dengan wajah penuh derita yang tidak berdarah sama sekali.


Api cemburu di dalam hatinya yang membuat dia begitu posesif terhadap sang istri.

__ADS_1


__ADS_2