Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan

Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan
Akhirnya


__ADS_3

Setelah mereka sampai ke pondok mereka Langsung mendatangi kediaman pribadi hilyah dan Zaki yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman Kyai Rasyid.


" Umi senang sekali karena akhirnya mereka berdua dipercaya oleh Allah untuk mempunyai anak semoga setelah Hilya hamil Fatimah tidak lagi mengejar-ngejar Zaki dan bisa mengikhlaskan pernikahan mereka berdua!" ucap ibunya hilyah merasa sangat bahagia dengan berita kehamilan putrinya.


" Abi juga berharap dan berdoa semoga Fatimah bisa dibukakan pintu hatinya dan menemukan kebahagiaan hidupnya! Karena bagaimanapun dia juga adalah Putri kita!" ucap ayahnya Hilya sambil melirik kepada istrinya yang tampak setuju dengan apa yang dia katakan.


" Fatimah memang terbilang keras kepala dan selalu memaksakan kehendaknya terhadap orang lain. Akan tetapi Umi tahu bahwa dia adalah seorang gadis yang baik dan juga memiliki hati yang lembut!" sang suami hanya menganggukkan kepalanya Ketika sang istri mengatakan kebaikan Fatimah.


" Bagaimanapun yang namanya jodoh itu sudah diatur oleh maha kuasa. Ketika Fatimah kabur dari pernikahan, Umi yakin itu adalah karena Tuhan yang menggerakkan hatinya untuk dia meninggalkan pernikahan itu. Pasti itu adalah suatu pertanda bahwa memang Fatimah dan Zaki tidaklah berjodoh! tetapi Zaki dan Hilya berjodoh atas kuasa Tuhan yang sudah menakdirkan hal itu!" ucap ibunya Hilya merasa sangat yakin.


Begitu sampai di area pondok, sopir langsung parkirkan mobil tersebut di parkiran Pondok yang sangat luas. Karena setiap seminggu sekali pasti ada saja Wali santri yang datang untuk menjenguk putra-putri mereka di pondok.


" Pondoknya semakin ramai Abi. Kyai Rasyid memang sangat beruntung karena sudah dipercaya oleh masyarakat untuk mendidik putra-putri mereka di pondok ini!" ucap ibunya hilyah merasa takjub melihat santri yang begitu banyak mondar-mandir dan wara-wiri di hadapan mereka.


" Semoga Putra yang dilahirkan oleh Hilya akan menjadi anak yang sholeh yang bisa berbakti kepada kedua orang tuanya dan bisa melanjutkan perjuangan kakek dan juga ayahnya dalam mengemban tugas Agama sebagai ulama dan umarah!" ucap ayahnya penuh pengharapan terhadap cucunya yang pertama.


Kehadiran mereka langsung disambut oleh Kyai Rasyid dan juga Nyai Zahra.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Bu Nyai! Mohon maaf atas keterlambatan kami berdua. Aduh mohon maaf sekali. Jalanan sangat macet kalau akhir pekan seperti ini!" ucap ibunya Hilya meminta maaf kepada Kyai Rasyid dan juga istrinya yang tampak merasa bahagia menyambut kedatangan mereka berdua.

__ADS_1


" Terima kasih atas kedatangan bapak dan ibu tidak masalah toh kami juga yang salah. Karena mengadakan syukuran dengan mendadak seperti ini. Maklumlah beritanya juga sangat mendadak dan juga sangat mengejutkan kami semua!" ucap Zahra dengan senyum bahagianya menyambut besannya yang tampak kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan mobil.


" Bagaimana Pak Kyai? Apakah Fatimah masih mengganggu rumah tangga Zaki dan Hilya??" tanya ibunya Hilya merasa khawatir.


" Ayo masuk dulu biarlah nanti kita berbincang di dalam!" ucap Kyai Rasyid mempersilahkan tamunya untuk masuk ke ruangan aula yang memang diperuntukkan menyambut tamu-tamu Pondok maupun Pondok pribadi yang bersifat penting.


" Jadi bagaimana Pak Kyai? Apakah saya bisa mengetahui tentang Fatimah yang katanya sering mengganggu Zaki di pondok pesantren?" tanya ayahnya Hilya merasa tidak enak dengan masalah Fatimah yang telah memberikan banyak masalah di pondok.


" Sudahlah yang namanya fisik itu tidaklah terlalu penting! yang terpenting adalah hati dan juga iman dan takwanya jangan sampai melenceng dari aturan agama!" ucap Kyai Rasyid kepada mereka bertiga yang ada di dalam ruangan itu.


" Sampai sekarang Fatimah bahkan belum pernah menghubungi saya sekalinya saya menghubungi pun tidak pernah dia mau angkat. tampaknya Fatimah benar-benar marah dengan keputusan kami berdua untuk menjodohkan Hilya dengan Zaki." ucap ibunya Hilya sambil melirik kepada bu nyai yang terus saja melihat ke arahnya.


" Sebentar saya akan ke dapur dulu untuk melihat bahan makanan. Apakah cukup untuk kita makan bersama." Ibunya Zaki yang langsung pergi ke dapur dan membantu persiapan makan siang untuk seluruh keluarga.


" Tidak usah repot-repot punya ini. Kami pun datang kemari hanya ingin melihat Hilya karena kami sudah sangat rindu dengannya!" ucap ibunya filiyah berbasa-basi kepada besannya yang tampak begitu excited menyambut mereka berdua.


" Sebentar ya saya akan memanggilkan Hilya dan juga Zaki ke ruangan Aula agar bisa bertemu dengan kalian." ucap Zahra yang kemudian langsung bangkit dari duduknya dan masuk ke area Pondok dalam untuk mencari Santri untuk memanggilkan Hilya dan Zaki ke ruangan Allah.


Setelah memberikan perintah kepada santri tersebut Zahra pun kemudian mengatur dapur untuk mereka bisa makan siang bersama dalam satu meja.

__ADS_1


" Ternyata menunggu itu saat melelahkan. Ya ampun! Betapa aku sangat kejam karena sudah membiarkan Istriku yang pasti sangat kesepian ketika aku berada di luar kota" ucap Zaki yang saat ini sedang bersila di lantai menunggu kedatangan Kyai Rasyid dan juga ibu Zahra yang sangat berpengaruh besar terhadap dirinya.


" Masuklah sebentar lagi acara syukuran akan dilakukan dan sebentar lagi para tamu akan datang!" ucap Kyai Rasyid sambil menatap kepada besannya yang tampak ragu untuk duduk disampingnya.


" Besan, tidak apa-apa! Kalian jangan khawatir santri-santriku tidak galak dan mereka adalah orang-orang yang baik!" ucap Kyai Rasyid sambil tersenyum.


" Tidak pak Kyai saya bukan takut kepada mereka ataupun kepada peraturan yang telah dibuat oleh pondok. Saya hanya khawatir kalau sampai kelalaian itu akan menyebar kepada santri yang lain dan akhirnya dijadikan sebagai budaya." ucapnya sambil menatap kepada Kyai Rasyid yang memilih untuk bungkam dan menyetujui semua yang dikatakan oleh mereka. Karena sejujurnya Kyai Rasyid paling tidak suka dengan keributan.


" Ayo kita makan siang dulu!' ucap Hilya yang memanggil semua orang yang berada di ruangan itu untuk masuk ke dalam ruang makan.


" Umi lebih baik makanannya yang datang kemari supaya pembicaraan pun tidak terputus begitu saja!" ucap Kyai Rasyid mengatakan apa yang dia pikirkan saat ini kepada sang istri.


" Baiklah Abi!!" ucap Zahra menyetujui apa yang di katakan oleh suaminya.


Acara pun kemudian berlangsung secara meriah dengan dihadiri oleh para santri baru maupun santri lama dan juga warga di sekitar Pondok.


Setelah mengatur acara syukuran yang telah berjalan dengan lancar kedua orang tua Hilya pun diminta untuk beristirahat di kamar tamu yang sudah dipersiapkan oleh Zahra untuk besannya.


" Selamat istirahat besan. Semoga kalian bisa betah tinggal di pondok kami!" ucap Zahra kepada kedua orang tua Hilya.

__ADS_1


" Terima kasih bu nyai Kami merasa sangat terharu atas sambutan dari kalian semua!" ucap ayahnya Hilya sambil tersenyum.


" Syukurlah kalau kalian merasa berkenan. Baiklah saya akan kembali ke acara syukuran untuk membereskan sisa-sisa acara!" Zahra kemudian keluar dari rumah dan membiarkan besannya untuk bisa beristirahat dan berbincang tanpa merasa terganggu dengan kehadirannya.


__ADS_2