
Tampak Farel menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Ucap Farel mengucapkan salam kepada seseorang di seberang sana.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Bagaimana kabarmu Farel? Aih, sudah lama kau tidak menghubungi nenek! sewaktu pernikahan Zaki kau pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada kami!" ucap Qonita kepada Farel dengan nada kecewa.
"Maafkan saya Nek karena waktu itu saya sangat buru-buru sekali ada rapat penting yang harus segera saya hadiri di kampus!" ucap Farel meminta maaf kepada Qonita.
"Baiklah lupakan saja sekarang katakan pada nenek kenapa kau menghubungi nenek pagi-pagi begini?" tanya Konita merasa penasaran dengan Farel yang tiba-tiba menghubunginya di pagi ini.
"Nek tadi Fatimah calon istri yang kabur dari pernikahannya bersama Paman Zaki. Dia datang menghadap kepada Farel untuk meminta ijin cuti, dia mengatakan bahwa dia ingin berbicara dengan kedua orang tuanya dan juga istri Paman Zaki!" ucap Farel melaporkan apa yang akan dilakukan oleh Fatimah kepada neneknya Qonita.
"Apakah dia bekerja di fakultasmu? Kok kamu bisa bertemu dengan Fatimah?" tanya Konita merasa tidak senang mendengar kabar tentang Fatimah yang kembali ingin mengusik rumah tangga putranya.
"Nenek hanya tidak mengerti kenapa Fatimah selalu mengganggu pamanmu Padahal dia sendiri yang kabur dari pernikahan pamanmu Entah kenapa wanita itu tidak tahu malu sekali selalu mengejar-ngejar Paman mau ke mana-mana!" ucap Qonita merasa sangat tidak senang hatinya saat ini.
"Iya Nek Farel hanya menyampaikan saja supaya keluarga di sana bisa mempersiapkan kira-kira apa yang akan dilakukan kalau Fatimah menuntut haknya untuk menjadi istri paman Zaki!" ucap Farel merasa tidak senang ketika dia merasa bahwa neneknya saat ini sedang tidak bahagia.
"Nek, Apakah memang benar kalau Paman Zaki mencintai Bibi Hilya??" tanya Farel seakan kepo dengan urusan Pamannya.
"Yang jelas mereka bersedia untuk menjalani pernikahan yang sudah mereka lakukan kalau masalah cinta nenek tidak tahu karena belum pernah bertanya kepada mereka berdua!" ucap Qonita berusaha untuk bersikap tenang.
"Ya sudah Nek nanti kalau Paman Zaki kembali lagi ke Jogjakarta. Mungkin Farel akan mercoba untuk mediasi tentang masalah mereka berdua!" ucap Farel pada akhirnya.
__ADS_1
"Pamanmu tidak akan kembali lagi ke Jogjakarta. Karena dia sekarang dalam perjalanan untuk kembali ke Jakarta. Karena dia sudah mendirikan diri dari universitas!" ucap Qonita memberitahukan kepada Farel kabar terbaru tentang Zaki.
"Sayang sekali Nek! Padahal masa depan paman di sini sangat bagus. Kami sangat membutuhkan ilmu Paman. Tapi ya mungkin memang hal itu yang terbaik bagi Paman Zaki daripada rumah tangga paman dan bibi Hilya rusak, karena ulah Fatimah yang selalu mengejar-ngejarnya. Mungkin ini memang adalah pilihan yang terbaik!" ucap Farel.
Qonita yang mendengar keributan di luar pun akhirnya berjalan keluar mengecek kira-kira apa yang terjadi di sana.
"Sudah dulu ya Farel. Tidak tahu itu Ada apa di luar. Sangat heboh sekali. Nenek mau ngecek itu dulu ya? Kamu hati-hati di Jogjakarta karena orang tuamu kan tidak ada bersamamu!" pesan Qonita.
"Iya Nek! Papa dan Mama masih di Dubai karena saat ini Kakek Andika sedang sakit dan Paman Cakra juga lebih memilih untuk tinggal di Prancis bersama dengan istri dan anaknya. sementara Bibi Amanda selalu sibuk dengan suaminya dan juga anak mereka. Tidak ada yang memperhatikanku, Nek! Ah aku udah seperti seorang sebatang kara di dunia ini! hiks hiks!" ucap Farel dengan berakting seperti menangis.
"Sudah Farel! Hentikan aktingmu itu. Sungguh jelek sekali. Nenek tidak senang jadinya. Sudah nenek harus menutupnya. Karena nenek sangat penasaran ada apa ribut-ribut di luar sana!" ucap Qonita mengatakan kepada Farel untuk segera menutup panggilan mereka.
Setelah panggilan ditutup oleh Farel. Qonita pun langsung pergi keluar dan merasa terkejut ketika mendapatkan Zaki yang kini sudah ada di hadapannya bersama dengan Hilya sang istri.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Umi!" ucap Zaki sambil mencium dan menjabat tangan ibunya yang sangat dia rindukan.
"Waalaikumsalam Putra Umi tersayang! Ya Allah Umi senang sekali. Akhirnya kamu pulang juga sayang!" ucap Qonita sambil mencium kedua pipi Zaki.
"Zaki kangen umi!" ucap Zaki sambil memeluk tubuh ibunya yang selama satu bulan ini belum dia temui.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Umi!" ucap Hilya kepada Ibu mertuanya yang masih euforia dengan keberadatangan Zaki.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Menantu kesayangan Umi. Kamu tambah cantik saja sayang! Aduh, pantas saja Zaki begitu tergila-gila kepadamu sayang! Setiap hari dihubungi oleh Umi susah sekali selalu sibuk ponsel miliknya!" ucap Qonita dengan nada berkelakar.
__ADS_1
"Jangan percaya sayang, Umi tidak serius, dia hanya bercandanya!" ucap Zaki dengan muka memerah karena ucapan Ibunya yang terlalu blak-blakan mengenai dirinya. Kepada sang istri yang baru dua kali bertemu dengannya sejak pernikahan mereka.
Pertama kali Zaki datang ke Jakarta. Dia langsung menjemput istrinya untuk ke Indramayu. Karena dia sudah sangat merindukan kedua orang tuanya. Sewaktu dia berangkat ke Jogjakarta kemarin, Zaki tidak mampir karena sangking terburu-burunya harus segera sampai ke Jogjakarta karena pagi-pagi sekali harus ke kampusnya.
"Ayo Abimu pasti sangat merindukan kalian juga. Setiap hari dia selalu menyuruh Umi untuk meneleponmu!" ucap Qonita sambil menarik tangan Zaki dan Hilya untuk masuk ke dalam ruangan yang biasa ditempati oleh Kyai Rasyid ketika dia sedang beristirahat di siang hari.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Abi!" Zaki langsung berlari mencium dan memeluk ayahnya yang sangat dia rindukan.
Berpisah dengan mereka selama satu bulan sebenarnya tidak terlalu berat bagi Zaki. Hanya saja posisinya sekarang adalah Zaki yang merasa bersalah. Karena dia tidak peka dan tidak pernah berpikir untuk membantu ayahnya yang sudah sepuh.
Sepanjang perjalanan ke Jakarta, Zaki selalu memikirkan tentang perkataan Rektor di kampus tempatnya bekerja, sebelum dia mengundurkan diri kemarin.
"Ada apa denganmu Zaki? Kenapa kau menangis? Apakah ada permasalahan yang kau pendam Nak? Kenapa ketemu Abi kok malah menangis?" tanya Kiai Rasyid sambil mengelus rambut putranya yang masih memeluk tubuhnya dengan erat dengan berlinang air mata.
"Maafkan Zaki Abi. Karena Abi harus mengurus pondok pesantren ini sendirian. Zaki tidak pernah berpikir untuk membantu Abi. Selama ini, Zaki hanya berpikir untuk mengejar cita-cita dan impian Zaki untuk menjadi seorang dosen!" ucap Zaki sambil memeluk tubuh ayahnya dengan erat dan air mata yang terus berlinang di pipinya karena kesedihan yang begitu besar yang kini dirasakan di dalam hatinya.
"Sudahlah! Jangan terlalu dipikirkan tentang masalah itu. Abi percaya suatu saat pasti Allah akan menghembuskan ke dalam hatimu untuk mau fokus dalam mengurus pondok pesantren!" ucap Kyai Rasyid pelan sambil menepuk bahu Zaki yang masih terisak dalam tangis kesedihan dan juga merasa bersalah karena dia tak pernah berpikir untuk membantu ayahnya yang sudah tua dan tampak melemah kekuatan fisiknya dan juga kesehatan beliau.
Memang dalam satu tahun ini, Kyai Rasyid sudah mulai tampak semakin tua dan letih. Dua bulan yang lalu, sebelum pernikahan Zaki Kiai Rashid pernah masuk ke rumah sakit dan hampir saja meninggal. Hal itulah yang akhirnya membuat mata hati Zaki terbuka dan mau menerima perjodohan dirinya dengan Fatimah.
"Kakak-kakakmu sudah menikah semua dan mereka juga sudah memiliki Pondok sendiri. Tidak akan mungkin mereka untuk mengurus Pondok ini. Sekarang harapan Abi Hanya kamu dan istrimu yang akan mengabdikan hidup kalian dalam mendidik putra-putra terbaik di negeri ini untuk menjadi para hafiz dan Hafizah para calon alim ulama. mereka adalah tunas-tunas yang merupakan harapan dan juga pelita bagi Agama, nusa dan bangsa kita, kita memiliki tanggung jawab yang besar untuk mendidik mereka!" ucap Kyai Rasyid menatap Zaki dengan tatapan yang begitu teduh dan menenangkan.
"Iya Abi. Zaki akan berusaha untuk membantu Abi. Tapi sekarang Hilya masih belum wisuda. Mungkin Zaki akan fokus mengajar di pondok dan membantu Abi setelah Hilya wisuda dari kampusnya!" ucap Zaki mulai tenang.
__ADS_1