
Hilya kemudian langsung keluar dari ruang tengah dan menemui Fatimah yang saat ini sedang berbicara dengan ayah mertuanya.
Zaki merasa terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya sehingga akhirnya dia pun mengikuti Hilya yang diikuti oleh Qonita di belakangnya.
" Kak! Bukankah pada malam pernikahan, ketika Kakak berniat untuk kabur. Demi mengejar cita-cita kakak. Bukankah kakak yang menyuruhku untuk menikah dengan Mas Zaki?" tanya Hilya dengan mata berkaca-kaca.
Fatimah terkejut ketika mendapatkan Hilya yang tiba-tiba sudah ada di antara mereka.
" Itu ketika kakak tidak mengenal siapa itu Mas Zaki dan kakak tidak Mencintainya! Tetapi sekarang kakak sudah tahu siapa Mas Zaki dan kakak menginginkan dia sebagai suami kakak!" ucap Fatimah sambil menatap kepada Hilya yang kini berkaca-kaca matanya.
" Maafkan kakak dek! Bukannya kakak tidak menyayangimu. Akan tetapi rasa cinta kakak untuk Mas Zaki terlalu besar untuk bisa dikorbankan demi persaudaraan kita!" ucap Fatimah dengan menatap serius kepada Hilya, adiknya yang selama ini selalu mengalah kepadanya.
" Tetapi pernikahan bukan sebuah permainan Kak, yang bisa dibatalkan begitu saja. Apalagi, apalagi____" kata-kata Hilya menggantung tampak Dia sangat ragu-ragu untuk mengatakan yang ada di hatinya.
" Apa lagi apa?" tanya Fatimah dengan penasaran.
" Saya sedang hamil Kak!" ucapan Hilya membuat terkejut semua orang yang ada di ruangan itu termasuk Zaki.
" Bagaimana mungkin kamu sedang hamil pernikahan kalian belum berlangsung 2 bulan!" ucap Fatimah tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Hilya.
" Malam pertama kami membuahkan hasil!" ucap Hilya sambil menggigit bibir bawahnya karena dia sedang menahan rasa malu yang sangat luar biasa karena harus mengatakan sesuatu yang tabu baginya di hadapan kedua mertuanya.
" Apakah itu benar sayang kalau kau sudah hamil?" Tanya Zaki dengan wajah sumringahnya menatap sang istri yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh misterius.
Zaki menetap Hilya dengan sejuta pertanyaan di hatinya. " Ada apa Sayang? Katakanlah yang sejujurnya!" ucap Zaki menuntut kejujuran dari istrinya.
" Seperti yang kau dengar Mas!" ucap Hilya kemudian dia menundukkan kepalanya dan duduk di hadapan Kyai Rasyid.
__ADS_1
Sepertinya Kyai Rasyid memahami apa yang sedang dilakukan oleh menantunya.
" Apakah kau benar-benar sedang hamil nak?" tanya Qonita sambil memeluk tubuh Hilya dengan begitu erat.
Tampak Hilya meneteskan air matanya sehingga membuat Zaki merasa terheran dengan apa yang dilakukan oleh istrinya.
Kyai Rasyid yang mengerti segera mengambil alih semua yang terjadi di ruangan itu.
" Maafkan saya Nak Fatimah. Bukannya saya tidak sopan karena sudah memintamu untuk kembali ke Jakarta. Kami di sini memiliki hal urgen untuk dibicarakan!" ucap Kyai Rasyid sambil menatap kepada Fatimah yang merasa tidak terima karena diusir begitu saja dari Pondok oleh Kyai Rasyid.
" Tetapi urusan saya belum selesai Pak Kyai!" protes Fatimah tidak terima.
" Apakah kau tidak melihat bahwa adikmu saat ini sedang bersedih? Pergilah karena kami memiliki hal yang lebih penting daripada melayanimu!" ucap Qonita sambil menatap tajam kepada Fatimah yang tidak terima diusir oleh keluarga laki-laki yang dia cintai.
" Baiklah untuk sementara saya akan pergi dari sini. Besok saya akan datang lagi untuk meminta keadilan dari kalian!" ucap Fatimah kemudian dia pun menatap Hilya dengan perasaan benci yang membuncah di dadanya.
"Tidak tahu malu kau sudah merebut calon suamiku dan sekarang kau hamil dengan laki-laki yang tidak jelas!" ucap Fatimah sebelum dia meninggalkan aula pondok.
Fatimah menatap Zaki dengan perasaan ibah dan juga kesedihan yang mendalam karena melihat kebencian di mata Zaki terhadapnya.
" Suatu saat kamu akan menyesal karena sudah berbuat seperti ini kepadaku!" ucap Fatimah kemudian dia pun meninggalkan Pondok dengan perasaan geram di hatinya.
Setelah memastikan bahwa Fatimah sudah pergi meninggalkan Pondok. Zaki kemudian mendekati hilyah yang masih menangis di pelukan Qonita.
" Sayang coba kau jelaskan padaku. Kenapa kau menangis dengan kehamilanmu saat ini?" Tanya Zaki terheran dengan apa yang dilakukan oleh Hilya yang masih terisak dalam tangisnya.
" Maafkan Aku Mas! Aku terpaksa berbohong hanya untuk membuat Kak Fatimah supaya meninggalkanmu dan pergi dari sini!" ucap Hilya dengan membenamkan wajahnya dipelukan Qonita.
__ADS_1
" Sepertinya hanya dengan kehamilan istrimu akan menjadi jalan terbaik supaya Fatimah menyerah dengan usahanya untuk dapat membatalkan pernikahan kalian!" ucap Hilya dengan suara lembut sehingga membuat Hilya merasa tenang.
" Maafkan Hilya Abah karena sudah berbohong dengan hal yang sebesar ini!" ucap Hilya dengan berlinang air mata sambil mencium telapak tangan Kyai Rasyid.
Kyai Rasyid hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian dia tersenyum kepada menantunya.
" Tenanglah! Abah tidak apa-apa. Semoga kebohonganmu ini akan menjadi sebuah doa yang didengarkan oleh para malaikat dan dihadirkan bayi di dalam rahimmu!" doa Kyai Rasyid sambil mengelus pucuk kepala Hilya yang saat ini sedang terisak karena merasa bersalah sudah berbohong di hadapan orang-orang yang dia sayangi.
" Maafkan Hilya Mas Hilya sangat terpaksa melakukan ini. Karena tidak ada jalan yang lain yang bisa membuat Kak Fatimah mau meninggalkanmu dengan sukarela!" ucap Hilya sambil berlari ke pelukan Zaki yang saat ini masih bengong dan linglung.
" Sudahlah kita lupakan saja semua ini. Ayo kita kembali ke kediaman dan beristirahat!" ucap Kyai Rasyid pada akhirnya, dia pun lalu membubarkan pertemuan antara dirinya, Qonita, Hilya dan Zaki.
" Maafkan aku Mas!" ucap Hilya mencoba untuk membuat Zaki sadar dari lamunannya.
" Tidak apa-apa sayang! Aku tahu yang kau lakukan adalah demi kebaikan kita. Sudahlah! Ayo kita kembali ke kediaman kita." ucap Zaki sambil menggenggam tangan istrinya dan kemudian mereka pulang ke kediaman pribadi milik mereka yang sudah disediakan oleh kedua orang tuanya untuk tempat mereka berdua tinggal selama berada di Indramayu.
" Mas. Apakah kau masih marah padaku dengan kebohongan yang sudah kulakukan?" tanya Hilya sambil meraih tangan Zaki ke pangkuannya.
Zaki tersenyum menatap istrinya yang sepertinya merasa ketakutan kalau dirinya marah terhadapnya.
" Sayang! Bagaimana kalau kita membuat kebohonganmu menjadi sebuah kenyataan?" Tanya Zaki sambil menatap tajam kepada Hilya yang tampak bingung dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
" Maksud kamu gimana Mas?" tanya Hilya seperti bingung.
" Ya kita harus usaha dengan keras untuk membuat kebohonganmu menjadi sebuah kenyataan dan benar-benar ada bayi di dalam rahim!" ucap Zaki mengulas senyum kepada istrinya yang membuat Hilya tersipu malu.
" Tapi aku saat ini sedang halangan!" ucap Hilya menundukkan kepalanya.
__ADS_1
" Ya ampun betapa kejamnya dunia padaku!" ucap Zaki mendesah frustasi dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
" Maafkan Aku Mas aku kan juga bisa tahu kalau tiba-tiba kau pulang dan aku mendapatkan tamu bulananku!" ucap Hilya merasa bersalah kepada suaminya.