
Fatimah langsung masuk ke pondok pesantren yang dipimpin oleh Kyai Rashid karena melihat gerbang yang terbuka. Setelah sampai Fatimah langsung memarkirkan mobilnya dan keluar menuju aula pondok.
Fatimah langsung masuk ke aula pondok pesantren tanpa mengucapkan salam atau pun meminta tolong kepada santri yang dia lihat untuk bertemu dengan Kyai Rasyid.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Fatimah langsung mengucapkan salam. Ketika dia tahu bahwa di aula pondok tampak ramai orang yang sedang berbincang-bincang.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" ucap mereka semua yang ada di aula dan memandang kepada Fatimah yang tampak terkejut. Ketika mendapatkan kedua orang tuanya berada di antara mereka.
" Umi dan Abi kenapa bisa ada di sini?" tanya Fatimah tampak gugup ketika memandang ayahnya yang sudah memerah matanya ketika melihatnya.
" Masuklah kita bisa bicara baik-baik!" ucap Kyai Rasyid mempersilahkan Fatimah untuk bergabung dengan mereka.
" Maaf Abi sama Umi Fatimah terpaksa menggunakan mobil kalian untuk datang ke Indramayu!" ucap Fatimah sambil terus menundukkan kepalanya. Bagaimanapun dia merasa takut terhadap ayahnya.
" Bagus kalau kau merasa bersalah. Abby juga berharap kau juga sadar dan merasa bersalah. Karena sudah meminta kepada Kyai Rasyid untuk membatalkan pernikahan adikmu bersama suaminya!" ucap ayahnya Hilya dengan menatap tajam kepada Fatimah yang tidak berani menatapnya.
" Maaf Abi untuk hal itu Fatimah tidak bisa menyerah!" ucap Fatimah sambil menatap tajam kepada ayahnya.
" Lancang!" ucap ayahnya Hilya sambil menggebrak meja yang ada di hadapannya. Karena sangking marahnya terhadap putrinya yang benar-benar bengal dan tidak bisa di nasehati dengan baik-baik.
Semua orang yang hadir di ruangan itu merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya.
" Maaf Pak Kyai kalau saya sudah tidak sopan di hadapan Pak Kyai hanya saja anak ini sudah benar-benar membuat emosi saya tidak bisa ditahan lagi!" ucap ayahnya Hilya sambil memegang jantungnya yang seakan berdetak lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
" Tidak apa-apa Pak! Kita sebaiknya berusaha untuk berbicara dengan baik-baik. Karena tidak ada kebaikan di dalam emosi!" ucap Kyai Rasyid sambil memandang kepada sahabatnya yang saat ini sedang marah terhadap Fatimah.
Tiba-tiba saja tubuh ayahnya Hilya kejang dan langsung pingsan seketika.
Semua orang yang hadir tampak terkejut dengan apa yang terjadi kepada ayahnya Hilya.
" Tampaknya Papa mengalami serangan jantung. Ayo cepat kita harus membawanya ke rumah sakit!" ucap Hilya dengan panik Dia segera menarik tangan Zaki untuk mengangkat tubuh ayahnya ke mobil dan membawanya ke rumah sakit.
" Tenanglah jangan panik berdoalah agar semuanya baik-baik saja!" ucap Zaki berusaha menenangkan istrinya yang mulai menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.
Fatimah merasa terkesiap dan juga terkejut ketika melihat ayahnya yang mulai digotong ke dalam mobil dan dibawa pergi ke rumah sakit oleh Zaki dan Hilya.
Kyai Rasyid dan Qonita ikut di dalam mobil Zaki sementara ibunya Hilya masih menatap Fatimah dengan nanar.
" Maafkan Fatimah mah! Tapi Fatimah mencintai Zaki. Fatimah tidak rela kalau Zaki menikah dengan Hilya!!" ucap Fatimah menangis dengan tersedu-sedu.
" Lalu apa yang akan kau lakukan? Mereka saling mencintai Fatimah! Mereka tidak akan mungkin bisa dipisahkan. Apa kau mau mengganggu rumah tangga adikmu sendiri?" ucap ibunya Fatimah sambil menatap putrinya yang masih terisak dalam tangis.
" Sebenarnya Mama membelaku ataukah Hilya?" tanya Fatimah sambil menggenggam tangan ibunya yang terasa begitu dingin.
" Di sini bukan masalah sayang ataupun cinta. Tetapi masalah kebenaran yang sedang kau injak-injak di atas keegoisanmu!" ucap ibunya Fatimah sambil menatap tajam kepada putrinya yang masih juga keukeuh dan tidak mau menyerah untuk mendapatkan Zaki sebagai suaminya.
" Saya hanya memperjuangkan hak saya sebagai calon istri Zaki. Seharusnya saya yang menikah dengannya bukan Hilya!" ucap Fatimah dengan nada lancang.
__ADS_1
" Selalu itu yang kau katakan. Bukankah sudah kami katakan bahwa itu semua adalah salahmu! Kau sendiri yang sudah kabur dari pernikahan itu. Fatimah! Harus berapa ribu kali kami mengatakan itu kepadamu hah?" teriak ibunya Fatimah dengan frustasi karena Fatimah yang sangat sulit untuk mengerti bahasanya.
" Sudah cepat kau berikan kunci mobil. Karena mama harus segera menyusul papamu di rumah sakit. Kau silakan pergi kemanapun yang kau mau. Mama sudah tidak peduli lagi padamu!" ucap ibunya Hilya sambil menarikmu kunci mobil dari tangan Fatimah.
" Jadi Mama sudah memutuskan lebih menyayangi Hilya daripada saya?" ucap Fatimah sambil merebut kunci mobil yang ada di tangan Ibunya dan kemudian dia meninggalkan ibunya begitu saja.
" Fatimah Berikan kunci mobil itu Mama harus menemui Papamu di rumah sakit. Kenapa kau tega sekali kepada papa dan mamamu nak?" ucap ibunya sambil terus memegangi dadanya yang semakin terasa sesak. Karena menahan kesedihan dan amarah di suatu waktu yang diakibatkan oleh Fatimah.
Tiba-tiba saja ibunya Hilya langsung pingsan di tempat dan tidak ada yang melihat kejadian itu. Karena saat ini semua orang di kediaman Kyai Rasyid sedang ke rumah sakit untuk membawa ayahnya Hilya yang mengalami serangan jantung tiba-tiba.
sekitar 2 jam kemudian. Ada seorang santri yang melintas di aula pondok dan Dia menemukan ibunya Hilya yang masih terjatuh pingsan di tempat.
" Astaghfirullahaladzim! Bukankah dia adalah mertua dari Gus Zaki?" ucap santri tersebut kemudian dia pun langsung mendatangi pembinanya yang biasanya menjadi wakil dari Kyai Rasyid apabila beliau sedang berhalangan di Pondok pesantren.
" Ada apa Hakim? Kenapa kau terkejut seperti itu? Wajahmu sangat pucat!" tanya Pembina yang menjadi wakil dari Kyai Rasyid.
" Maaf Ustad Abdul! Aduh,itu, itu, di aula ada ibu mertua dari Gus Zaki yang jatuh pingsan dan tidak ada yang menolongnya!" ucap Hakim dengan suara gugup karena dia merasa khawatir dengan kondisi Ibu mertuanya Gus Zaki.
" Ayo cepat kau pinta kepada temanmu untuk menyiapkan mobil Pondok. Kita bawa segera ke rumah sakit dan menyusul Kyai Rasyid yang saat ini sudah ada di sana!" ucap Ustadz Abdul perintah kepada Hakim.
" Baik ustad saya segera memanggil Kang soleh untuk menjadi sopir mobil dan membawa beliau ke rumah sakit!" ucap Hakim kemudian dia langsung berlari ke kediaman Kang Saleh untuk memintanya membawa mobil ke rumah sakit.
" Ada apa Hakim Kau tampak terburu-buru seperti itu?" tanya Kang Soleh kepada hakim.
__ADS_1
" Ayo Kang kita ke aula di sana ada mertua Gus Zaki yang sedang pingsan kita harus segera membawanya ke rumah sakit tampaknya beliau sudah lama pingsan di sana!" ucap Hakim dengan ketakutan.