
Setelah semuanya siap. Kyai Rasyid dan Qonita langsung pergi ke kantor polisi diantarkan oleh Kang Soleh sebagai sopir pondok pesantren.
" Memangnya siapa yang sedang dipenjara Abah Kyai?" tanya Kang Soleh merasa penasaran.
" Menantuku!" ucap Qonita.
" Loh kok bisa Umi? Bagaimana mungkin Hilya yang begitu baik dan juga polos bisa masuk ke dalam penjara?" tanya Kang Soleh saya kan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Qonita.
" Jangankan Kang Soleh! Bahkan kami berdua saja tidak percaya. Makanya sekarang kami akan mengunjunginya dan ingin bertanya Sebenarnya apa yang terjadi!" ucap Kyai Rasyid dengan suara senang mungkin.
" Semoga bukan kasus yang berat ya, Pak Kyai? Sehingga bisa segera dibebaskan!" doa kang sholeh.
"Amien!" ucap Kyai Rasyid dan Qonita bersamaan.
Begitu sampai di kantor polisi. Kyai Rasyid dan Qonita langsung menemui Hilya yang tampak begitu kurus dan juga lingkaran hitam di bawah kelopak matanya semakin terlihat.
Selama di dalam penjara Hilya menghabiskan waktunya dengan menghafal Alquran dan juga mengulang hafalannya. Hampir sampai tengah malam dia terus melakukannya. Jadi wajar kalau lingkaran hitam di matanya semakin jelas terlihat.
Teman-teman Hilya banyak yang minta belajar mengaji kepadanya dan dengan senang hati Hilya mengajarkan mereka. Bahkan di antara mereka ada yang tertarik untuk menjadi Hafizah.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Hilya sambil mengulas senyum kepada kedua mertuanya yang langsung memeluknya dengan erat dengan berlinangan air mata.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Ya ampun nak! Kamu sangat kurus sekali. Apakah kau begitu menderita di penjara ini? Kau tolong maafkan kami ya? Karena kami berdua tidak tahu tentang keberadaanmu di sini sayang. Zaki tidak menceritakan apapun tentangmu di dalam sini!" ucap Qonita sambil menggenggam kedua tangan Hilya yang saat ini sedang tersenyum kepadanya.
" Tidak apa-apa Umi. Memang Hilya yang meminta kepada Mas Zaki untuk tidak menceritakan masalah Hilya. Karena Hilya tidak mau kalau Umi sama Abi sampai terganggu kesehatannya karena masalah saya!" ucap Hilya sambil menatap kepada Kyai Rasyid yang saat ini sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
" Zaki saat ini sedang ada di Jakarta dan sedang berusaha untuk mencari cara untuk bisa membebaskanmu segera!" ucap Kyai Rasyid kepada Hilya.
" Mas Zaki ada di Indramayu Abi. Dia sedang mengumpulkan bukti-bukti yang ada di rumah sakit. Sehingga akan memudahkan proses persidangan yang akan dilaksanakan dua hari lagi! Mas Zaki sengaja mengatakan kepada Abi dan Umi bahwa dia akan berangkat ke Jakarta. Supaya kalian tidak khawatir dengan keadaannya saat ini!" ucap Hilya menjelaskan kepada kedua mertuanya tentang keberadaan suaminya saat ini.
" Sayang! Apakah kau tidak keberatan untuk menjelaskan kepada kami perihal kronologis kamu bisa masuk ke dalam penjara?" tanya Qonita sambil mengelus tangan Hilya.
" Semuanya hanya kecelakaan saja Umi. Tidak usaha pembunuhan apapun yang saya lakukan terhadap Kak Fatimah. Kak Fatimah ingin memanfaatkan situasi ini untuk menyudutkan Mas Zaki agar mau menikah dengannya atau membuat saya menceraikan Mas Zaki. Akan tetapi kami berdua tidak akan menyerah dengan keinginan Kak Fatimah yang ingin menghancurkan rumah tangga kami berdua!" ucap Hilya dengan sepenuh mungkin sehingga membuat kedua mertuanya merasa begitu bangga dengan kekuatan yang dimiliki olehnya.
" Kau pasti menderita tinggal di dalam penjara nak!" ucap Qonita dengan air mata berderai.
" Tidak Umi. Saya malah merasa senang sekali berada di dalam penjara ini. Karena saya bisa membantu teman-teman disini untuk belajar ilmu Alquran. Bahkan ada beberapa narapidana yang sekarang sudah mulai menghafal Alquran!" ucap Hilya menerangkan tentang kehidupannya selama berada di dalam penjara.
" Benar Pak Kyai! Menantu anda benar-benar memberikan telah warna tersendiri di dalam penjara ini!" ucap petugas polisi yang saat ini sedang menunggu Hilya. Untuk nanti kembali bersamanya ke dalam selnya setelah jam kunjungan selesai.
" Syukurlah sayang. Kalau kau bisa memberikan manfaat kepada mereka selama keberadaanmu di dalam penjara!" ucap Kyai Rasyid dengan penuh rasa syukur dan juga bahagia serta bangga terhadap Hilya.
" Ini Umi membawa banyak makanan kau bisa berbagi dengan teman-temanmu yang lain!" ucap Qonita sambil menyerahkan makanan yang tadi disiapkan sebelum berangkat ke kantor Polisi untuk menjenguk Hilya.
" Terima kasih Umi. Umi sungguh sangat tahu kalau Hilya saat ini sedang merindukan makanan ini. Karena dipenjara tidak ada makanan kesukaan Hilya!" ucap Hilya dengan senyum bahagianya yang tidak terlepas dari bibirnya.
' Ya Allah sungguh mulia hati menantuku ini bahkan saat berada di penjara pun dia masih bisa tersenyum dengan begitu bahagia!' batin Qonita ketika dia hendak meninggalkan Hilya dan kembali ke pondok.
Saat Kyai Rasyid dan Qonita sudah bersiap untuk meninggalkan penjara. Tanpa sengaja mereka bertemu dengan Zaki dan juga pengacara yang disewanya untuk membantu Hilya di dalam pengadilan yang akan digelar dua hari lagi.
"Abi sama Umi? Kenapa kalian ada di sini?" Tanya Zaki merasa sangat terkejut ketika mendapatkan kedua orang tuanya berada di tempat itu.
__ADS_1
' Siapa yang sudah menceritakan kepada kedua orang tuaku mengenai Istriku yang ada di dalam penjara?' batin Zaki dengan perasaan tidak menentu.
" Apakah Abi sama Umi bisa bicara denganmu Zaki?" tanya Kyai Rasyid sambil menatap tajam kepada Zaki.
" Pak. Bapak temuilah istriku dahulu. Karena saya ingin berbicara dengan kedua orang tua saya. Nanti kalau sudah selesai. Bapak bisa menghubungi saya!" ucap Zaki berpesan kepada pengacara itu sebelum dia akhirnya menyetujui keinginan kedua orang tuanya untuk bicara dengannya.
" Katakan kepada Abi di mana kau tinggal selama ini?" tanya Kyai Rasyid to the point.
" Zaki tinggal di rumah teman!" ucap Zaki sambil menundukkan kepalanya.
" Kenapa kamu tidak jujur mengenai keadaan istrimu yang sekarang berada di dalam penjara?" tanya Qonita merasa kecewa kepada putranya.
" Maafkan Zaki Umi. Hilya yang tidak mau kalau sampai Aby jatuh sakit lagi karena mengetahui tentang masalahnya!" ucap Zaki sambil menundukkan kepalanya dia sama sekali tidak berani untuk menatap wajah kedua orang tuanya saat ini.
" Tolong ceritakan kepada kami kronologisnya karena kami benar-benar bingung!" ucap Kyai Rasyid.
" Semuanya hanya kecelakaan Abi tetapi Fatimah yang membesar-besarkannya dan menjadikan kejadian itu untuk menekan saya agar mau menikahinya!" ucap Zaki geram ketika dia mengingat tentang Fatimah.
" Ceritakanlah karena kami ingin tahu!" ucap Qonita memaksa Zaki.
" Waktu itu Hilya berada di kamar mandi dan tiba-tiba saja Fatimah masuk ke dalamnya dan mengatakan hal-hal yang menyulut pertengkaran di antara mereka berdua. Kemudian Fatimah berusaha untuk merenggut jilbab Hilya. Sehingga tanpa sengaja Hilya mendorong Fatimah hingga kepalanya terbentur ke lantai. Malangnya di lantai itu ada pecahan keramik yang terbuka sehingga kepala Fatimah tergores dan mengeluarkan banyak darah. Hilya sudah mendonorkan darahnya sebanyak dua kantong Umi. Untuk bisa menyelamatkan nyawa Fatimah yang saat itu kehilangan darah banyak sekali! Akan tetapi Fatimah memang orang yang benar-benar tidak tahu diri. Dia menggunakan kejadian itu untuk menekan saya agar mau menikahinya. Dia bahkan mengancam Hilya agar menceraikan saya!" ucap Zaki dengan geram ketika dia menceritakan semua kronologis itu kepada kedua orang tuanya.
" Umi benar-benar tidak habis pikir dengan dia. Bukankah dulu dia yang telah mencampakanmu begitu saja dengan kabur dari pernikahan kalian? Akan tetapi, kenapa sekarang dia merecoki hidup kalian seperti ini dan membuat kehidupan kalian tidak tenang?" tanya Qonita merasa marah dan sedih sekali melihat kehidupan putranya yang seperti diteror oleh Fatimah.
" Tenanglah Umi! Semuanya pasti akan bisa dilewati dengan baik-baik saja. Kalau kita pasrah, sabar dan bertawakal kepada Allah!" ucap Kyai Rasyid berusaha menenangkan istrinya agar bisa berpikir jernih dan tidak tersulut emosi dengan semua yang dilakukan oleh Fatimah kepada anak dan menantunya.
__ADS_1
" Alhamdulillah! Hilya tampaknya bisa beradaptasi dengan keadaan di penjara dan yang Zaki dengar dari kepala polisi. Hilya bahkan mengajari teman-temannya untuk menghafal dan belajar Alquran. Itulah yang Zaki syukuri dari musibah ini. Setidaknya Hilya bisa memberikan cahaya ke dalam hati teman-temannya yang berada di dalam sel!" ucap Zaki mengulas senyum kepada kedua orang tuanya sehingga Qonita dan Kyai Rasyid merasa tenang hatinya.
" Kami berdoa semoga Hilya bisa bebas segera!" ucap Kyai Rasyid yang di aminkan oleh mereka semua yang ada di sana.