
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" ucap Zaki menjawab salam dari Hilya yang datang dari hotel tempatnya tidur sejak tadi siang.
Mereka pergi ke hotel untuk tidur bergantian. Agar tidak lelah. Jadi selalu akan ada orang yang Stay di kamar perawatan sehingga pasien tidak ditinggal sendirian.
" Farel ini kenyataan kan?" tanya Abby berisik di telinga sahabatnya.
" Iya bener, itu memang dia!" bisik Farel di telinga Abby karena takut ada orang yang mendengarkannya.
" Kita bicara di luar Farel!" Abby langsung menarik tangan Farel dan keluar dari ruangan itu. Aebelum Hilya melihat keberadaan mereka berdua di sana.
Abi membawa Farel pergi jauh dari ruangan itu karena dia takut Hilya akan melihat mereka berdua.
" Ya ampun! Aku benar-benar tidak menyangka kalau ternyata istri pamanmu adalah Hilya! Apakah itu artinya perempuan yang tadi mencium pamanmu itu adalah perempuan yang mengajak bertemu denganku? Ya ampun! Kenapa aku merasa sedang dijadikan sebuah alat untuk memisahkan pamanmu dan juga Hilya?" begitu banyak pertanyaan di dalam kepala Abiby yang ingin sekali dia utarakan. Tetapi dia pun merasa bingung dengan ekspresi Farel saat ini yang sama linglungnya dengan dirinya.
" Aku juga sama terkejutnya denganmu. Kalau ternyata istri pamanku adalah Hilya. Gadis yang sama yang sejak tadi menjadi bahan pembicaraan kita!" ucap Farel sambil meraup wajahnya dengan kasar.
Tampak Farel pun sedang frustasi memikirkan apa yang saat ini sedang terjadi di hadapannya.
" Ya ampun lelucon apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Farel sambil menatap Abby dengan tidak percaya.
" Ah parah kamu jadi ponakan. Masa tidak kenal istri pamanmu sendiri? Apa kau tidak datang di pernikahannya?" tanya Abby sambil memukul dada Farel yang saat ini sedang pusing karena baru mengetahui bahwa Hilya adalah istri sang paman yang sejak tadi menjadi bahan pembicaraan di antara mereka bertiga.
" Ya ampun! Betapa konyolnya kita. Ternyata dari tadi Pamanku sedang membicarakan tentang Hilya kita!" Farel seakan hilang akal dan dia tidak tahu lagi harus melakukan apa.
__ADS_1
Apalagi Abby yang sudah secara terang-terangan mengakui kepada Farel bahwa dia masih mencintai Hilya dan masih berharap dia untuk menjadi istrinya.
" Apakah ini mimpi ataukah kenyataan?" Abby masih belum percaya sama sekali.
" Farel! Ayo kita masuk lagi ke dalam dan pastikan. Apakah itu benar-benar Hilya kita atau bukan?" tanya Abby kepala Farel.
Tetapi Farel menggelengkan kepalanya. Dia sangat takut kepada pamannya kalau sampai tahu bahwa dirinya ketika di masa SMA dulu, Dia sering membully Hilya dan membuatnya selalu berada dalam masalah. Pasti pamannya akan marah kepadanya kalau tahu.
" Apa kau sengaja ingin mendorongku ke dalam jurang Abby? Kalau Pamanku tahu aku sering membully istrinya di waktu masa sekolah dulu. Aih, bisa habis aku di marahin jadi keponakannya! Sudah jahat sama bibinya sendiri!" ucap Farel sambil geleng-geleng kepala.
" Ya ampun Apakah ada hal yang lebih konyol daripada ini masa kita harus memanggil Hilya bibi sih? Padahal aku mencintai dia Farel! Aih, ini semua gara-gara kamu! Kenapa kamu harus menjadi keponakan dari Paman Zaki?" ucap Abby protes kepada Farel yang saat ini sedang menatapnya dengan horor.
" Apa kau sedang bercanda? Kenapa kau mengatakan hal seperti itu kepadaku Abby? Itu sama saja kau sedang memprotes darah yang mengalir di tubuhku!" ucap Farel kesal.
" Maafkan aku Farel. Bukan maksudku seperti itu. Hanya saja ini benar-benar sangat konyol bagiku. Ya Tuhan! Aku benar-benar tidak percaya ada kejadian semacam ini di antara kita!" ucap Abby frustasi.
Akan tetapi ketika mereka sudah sampai di basement Rumah Sakit. Terlihat Fatimah yang sedang menangis sendirian di sana.
" Farel! Lihatlah kakaknya Hilya sedang menangis. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Abby bingung.
" Biarkan saja perempuan itu mau apa. Aku tidak peduli sama sekali dengan dia. Dia yang sudah membuat kakekku masuk rumah sakit! Perempuan bengal itu benar-benar membuatku jengkel. Sejak pertama kali aku melihat dia!" ucap Farel emosi ketika melihat Fatimah yang sekarang menuju ke mobilnya dan hendak meninggalkan rumah sakit.
" Sudah! Ayo kita kembali ke hotel dan kau ambil lagi mobilmu. Bukankah kau bilang kau harus kembali ke Belanda? Jangan sampai kedua orang tuamu tahu kalau kau kabur dari sana hanya untuk mencari Hilya!" ucap Farel mengingatkan kepada Abby tentang rencananya tadi ketika mereka pertama kali bertemu.
__ADS_1
" Dan sialnya ternyata Hilya adalah istri dari pamanmu. Ya Tuhan ini benar-benar sangat konyol!" ucap Abby masih geram dengan kenyataan yang saat ini ada di hadapannya.
" Sudahlah! Ayo sekarang kita kembali saja Kepalaku benar-benar pusing!" ucap Farel mengajak Abby untuk segera meninggalkan rumah sakit agar tidak bertemu dengan Hilya.
Tetapi sebelum mereka berdu masuk ke dalam mobil Farel. Tiba-tiba saja Zaki sudah ada di belakang mereka dan menepuk bahu Farel dengan keras. Sehingga membuat Farel terkejut setengah mati.
" Kalian mau ke mana? Tadi katanya ingin berkenalan dengan istriku, kok malah pergi begitu saja sih?" tanya Zaki sambil menatap Intens kepada Farel dan Abby yang saat ini sedang saling menatap satu sama lain.
" Astaghfirullahaladzim. Paman. Kenapa kau datang tiba-tiba sekali dan mengagetkan kami berdua? Bagaimana kalau Kami berdua punya penyakit jantung, paman? Sudah bisa di pastikan kami pasti langsung masuk ke rumah sakit seperti kakek!" ucap Farel sambil mengelus dadanya yang sampai saat ini masih terasa gemetar dan berdebar-debar karena kaget melihat Zaki yang tiba-tiba berada di belakangnya.
' Ya Allah! Tadi Paman Zaki mendengarkan percakapan kami berdua tidak ya? Aduh bisa gawat ini!' batin Zaki merasa was-was kalau sampai pamannya mendengarkan semua percakapannya bersama dengan Abby.
" Ayo kembali Farel! Tadi kakekmu masih belum puas bertemu denganmu. Kenapa kau main pergi begitu saja? Setelah istri paman datang ke ruangan? Kalian berdua bahkan belum sempat berkenalan dengannya!" ucap Zaki sambil menarik tangan keduanya untuk mengikutinya ke dalam ruangan ayahnya yang saat ini sedang dirawat.
" Maafkan saya Paman. Akan tetapi saya harus segera kembali ke Jakarta. Karena pesawat Saya menuju Belanda sudah menunggu! Saya takut kalau saya sampai ketinggalan pesawat!" ucap Abby segera memberikan alasan yang paling bisa diterima oleh Zaki. Sehingga Zaki tidak memaksanya untuk ikut masuk ke dalam ruangan ayahnya.
" Saya juga sama paman! Saya harus kembali ke Jogja hari ini. Karena banyak sekali urusan yang harus saya selesaikan. Sebelum saya kembali ke Dubai!" ucap Farel tidak mau kalah seperti Abby yang ingin melarikan diri secepatnya dari rumah sakit itu. Agar dia tidak bertemu dengan Hilya.
" Ya ampun! Kenapa sikap kalian sangat mencurigakan? Apakah kalian sedang menghindari sesuatu?" tanya Zaki curiga kepada Farel dan Abby yang tampak gugup ketika melihat ke arahnya.
" Tidak Paman! Kami tidak menyembunyikan apapun. Saya benar-benar harus kembali ke Jakarta dan harus segera kembali ke Belanda. Sebelum kedua orang tua saya tahu kalau saya pergi ke Indonesia dan kabur dari rumah!" ucap Abby akhirnya keceplosan menceritakan rahasia besarnya mengenai keberadaannya di Indonesia.
Abby menggelengkan kepalanya atas segala kebodohan yang dia buat hanya gara-gara gugup agar tidak bertemu dengan Hilya.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu. Paman tidak akan memaksa kalian. Kalau begitu kalian hati-hati ya? Apa kalian tidak ingin berpamitan dulu kepada kakekmu? Kapan lagi coba? Kamu bertemu dengan kami lagi? Bukankah setelah ini kamu akan kembali ke Dubai?" tanya Zaki kepada Farel.
Farel mengganggukan kepalanya lemah. Karena semua yang dikatakan oleh pamannya memang benar. Dia memang punya kewajiban untuk berpamitan kepada kakek Rasyid sebelum dia pergi meninggalkan Indonesia.