
Fatimah saat ini sedang merenung di dalam kamarnya. Dia mengingat kembali peristiwa ketika dulu dia ditawari perjodohan bersama dengan Zaki oleh kedua orang tuanya.
flash back on
" Fatimah Kamu harus ingat bahwa keluarga Kiai Rasyid di Indramayu itu keluarga yang sangat terhormat memiliki banyak santri dan juga seorang anak yang sangat sholeh dan juga lulusan Mesir!" ucap ayahnya Fatimah berusaha untuk membujuk putrinya agar mau menerima Perjodohan mereka.
" Tapi Fatimah ingin mewujudkan impian Fatimah untuk menjadi dosen Aby!" ucap Fatimah sambil menatap tajam kepada ayahnya.
" Masalah itu kau bisa membicarakannya dengan suamimu. Abi yakin Zaki bukanlah orang yang kuno yang tidak akan mau mengizinkan istrinya untuk bekerja di luar!" ucap Ibu Fatimah masih berusaha untuk membujuk putrinya yang selalu menolak Perjodohan yang sudah diatur sejak dulu oleh kedua orang tua mereka.
Pernikahan sudah dipersiapkan. Bagaimana mungkin tiba-tiba saja Fatimah menolak untuk menerima Perjodohan mereka?
" Saya ingin menikah dengan laki-laki yang saya cintai bukan dengan laki-laki asing yang tidak saya kenal!" ucap Fatimah tetap ngotot tidak mau menerima Perjodohannya dengan Zaki yang belum pernah dia temui selama ini.
" Kau Lihatlah foto ini, maka kau bisa tahu dan mengenal siapa itu Zaki!" ucap ibunya sambil menyerahkan selembar foto ke tangan Fatimah tetapi Fatimah sama sekali tidak meliriknya. Dia hanya menyingkirkannya saja ke samping tempat duduknya. Fatimah sama sekali tidak tertarik untuk melihat siapa calon suami yang sudah ditawarkan oleh kedua orang tuanya.
" Sudah ya Umi Abi Fatimah benar-benar sangat lelah ingin tidur!" tanpa menunggu jawaban orang tuanya, Fatimah langsung pergi sehingga membuat ayahnya murka dengan kelancangan dan kelakuan Fatimah.
" Umi selalu memanjakannya. Lihatlah anak itu seperti tidak pernah menghargai siapapun dia hanya hidup untuk dirinya sendiri!" kata ayahnya Fatimah dengan kesal kemudian dia pun meninggalkan istrinya yang saat ini sedang pusing karena anak dan suaminya sedang bersitegang lagi.
" Kenapa sih, Fatimah ini belum juga berkenalan sudah bilang tidak mau. Coba saja dia mau melihat foto tadi. Dia pasti hatinya akan terketuk dengan ketampanan Zaki yang luar biasa. Saya jadi penasaran bagaimana nanti sikat Fatimah kalau dia bertemu dengan Zaki secara langsung!" ucap Umi kemudian dia pun masuk ke kamar putrinya masih belum menyerah untuk membuat Fatimah setuju dengan rencana Perjodohan yang sudah diatur oleh mereka.
" Boleh Umi masuk Fatimah?" tanya Umi sebelum dia membuka pintu kamar putrinya.
__ADS_1
Tampak Hilya yang baru pulang dari kampus pun merasa tertarik dengan apa yang sedang terjadi di rumahnya.
" Ada apa Umi apakah ada masalah dengan Kak Fatimah?" tanya Hilya kepada ibunya yang saat ini sedang berusaha untuk masuk ke dalam kamar kakaknya yang terkunci.
" Itu kakakmu menolak pernikahannya dengan anak Kyai Rasyid. Umi sama Abi jadi pusing. Bagaimana mungkin Fatimah mengatakan tidak? Pernikahan sudah kita siapkan. Bahkan mempelai pria sudah dalam perjalanan. Siapa yang tahu, kalau kakakmu ternyata malah menolaknya. Fatimah benar-benar membuat Umi jadi kesal!" ucap Umi sambil mengelus dadanya yang terasa kesulitan bernafas.
" Biarkan Hilya bicara dengan Kak Fatimah Umi semoga saja Hilya bisa membujuk Kak Fatimah!" ucap Hilya minta izin kepada ibunya untuk mau membujuk sang kakak yang menolak perjodohannya dengan anak Kyainya saat mondok.
" Kak ini Hilya apa boleh kalau saya masuk Saya ingin bicara dengan kakak!" ucap Hill Ya sambil berusaha mengetuk pintu kakaknya yang belum juga mau terbuka.
ceklek
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan Fatimah pun menampakan wajahnya yang kusut masai karena tampak habis menangis.
Hilya langsung memeluk kakaknya yang tampak begitu kacau balau.
" Ya ampun Kak Kakak kenapa?" tanya Hilya setelah mereka berada di dalam kamar kakaknya.
" Kakak tidak mau menerima Perjodohan itu Dek! Apa tidak bisa Kamu aja yang menikah dengan anak Kiai kamu? Kakak benar-benar ingin meraih cita-cita kakak untuk menjadi seorang dosen!" ucap Fatimah dengan berlinang air mata sehingga membuat Hilya merasa sedih melihat kakaknya yang begitu terpuruk saat ini.
" Kak, kalau Hilya tidak salah, Mas Zaki itu juga seorang dosen juga loh selama dia di Mesir. Kalian bisa menjadi pasangan dosen kalau sudah menikah. Kakak pasti bahagia kalau menikah dengan Mas Zaki. Hilya dengar Mas Zaki itu anaknya sangat baik dan juga sangat tampan!" ucap Hilya berusaha untuk membujuk kakaknya agar mau menerima perjodohan yang sudah diatur oleh kedua orang tua mereka.
" Pokoknya Kak Fatimah tidak mau menikah kamu saja Dik yang menikah dengan dia!" ucapan terima ngotot.
__ADS_1
" Kakak Ketemu aja belum sudah bilang tidak mau coba Bagaimana kalau sudah ketemu Terus Kakak naksir sama dia?" tanya Hilya sambil menatap Fatimah dengan serius.
" Kan kamu tahu, kalau kakak tuh nggak mudah jatuh cinta!" ucap Fatimah yakin.
" Kalau ya ini Kak, ini kalau namanya kalau. Kalau tiba-tiba nanti kakak bertemu dia, terus jatuh cinta sama dia gimana?" tanya Hilya kepada kakaknya.
" Gak mungkinlah Kakak bertemu dengan dia. Bagaimana caranya coba? Orang dia aja di Mesir. Nah Kakak di sini!" ucapan terima dengan penuh keyakinan.
" Lah kalau dia pulang, ke Indonesia kan untuk menikah sudah pasti dia akan tinggal di Indonesia Kak dan ada kemungkinan kalian bisa bertemu!" ucap Hill ya kepada kakaknya.
" Udah deh pokoknya kita harus sepakat. Zaki menikah sama kamu. Karena kakak akan segera pergi ke Jogja. Kakak dapat panggilan kerja dan kakak sudah pasti akan menjadi seorang dosen di sana!" ucap Fatimah sambil bersiap-siap untuk pergi ke Jogjakarta.
" Kakak serius akan pergi ke Jogja? Lalu bagaimana dengan orang tua kita Kak? Apa yang akan terjadi dengan nama baik keluarga kita?" ucap hilyah tampak panik ketika melihat kakaknya sudah bersiap untuk meninggalkan Jakarta.
" Kak tolong jangan lakukan ini. Kasihan Abi sama Umi. Pernikahan sudah disiapkan Kak. Kenapa Kakak harus melakukan hal seperti ini?" ucap Hilya berusaha terus memegang kedua tangan Fatimah untuk menggagalkan niatnya untuk pergi ke Jogja.
" Kamu dek yang akan menikah sama Zaki. Karena kakak tidak mau menikah muda atau menikah dipaksa. Kakak akan menikah dengan laki-laki yang kakak cintai!" ucap Fatimah sambil bersiap untuk meninggalkan Jakarta.
Sementara kedua orang tua mereka saat ini masih sibuk berdiskusi di dalam kamar mereka. Mengenai pernikahan Fatimah dan Zaki yang kemungkinan akan batal.
" Bagaimana ini Umi? Fatimah seperti yang memang tidak menginginkan pernikahan ini!" ucap suaminya sambil menatap kepada istrinya.
" Pernikahan sudah disiapkan. Bahkan mempelai pria sedang di perjalanan. Umi juga bingung harus bagaimana. Sejak tadi Umi dan Hilya sudah berusaha untuk membujuk Fatimah tapi sepertinya tidak mempan!"
__ADS_1