
Kedua orang tuanya Hilya tampak berbincang-bincang sebelum mereka memutuskan untuk beristirahat.
Zahra menyiapkan sebuah rumah kecil untuk besannya sementara tinggal di pondok untuk mengunjungi Putri mereka.
" Kelihatannya Hilya hidupnya bahagia di sini. Lihatlah acara yang disiapkan oleh Kyai Rasyid untuk selamatan cucu kita sangat meriah dan juga banyak yang hadir." ucap ibunya Hilya merasa bahagia karena ternyata putrinya dihargai di keluarga barunya.
" Syukurlah kalau hal itu benar-benar terjadi. Bagaimanapun Hilya itu anaknya agak-agak sembrono. Kadang-kadang Abi juga merasa takut kalau dia memberikan masalah kepada Kyai Rasyid dan juga pondok pesantren!" ucap ayahnya Hilya kepada sang istri yang mengganggukan kepalanya.
" Semoga saja Ilham suatu saat bisa datang kemari bersama dengan Fatimah!" ucap ibunya Hilya penuh dengan harapan.
" Siapa itu Ilham?" tanya sang suami merasa penasaran.
Ibunya Hilya kemudian berdiri dan melihat ke arah jendela di mana sekarang para santri sudah mulai sibuk untuk kembali mengaji setelah acara syukuran selesai.
" Ilham itu adalah dosen yang mengajar di tempat yang sama dengan Fatimah. Kemarin dia menghubungi Umi dan minta restu untuk dia mau mendekati Fatimah secara resmi!" ucap ibunya Hilya merasa sangat bahagia karena akhirnya ada seorang laki-laki yang serius mau mendekati Fatimah yang selama ini selalu memberikan masalah untuk keluarganya karena ingin memaksakan cintanya terhadap Zaki. Laki-laki yang telah menjadi suami dari Adiknya sendiri.
" Kita doakan saja semoga mereka berdua memang berjodoh. Sehingga Fatimah bisa mengikhlaskan cintanya kepada Zaki dan membiarkan kehidupan Hilya dan Zaki tidak terganggu lagi dengan ultahnya!" ucap ayahnya Hilya merasa bahagia ketika dia mendengarkan bahwa Putri sulungnya saat ini ada seorang laki-laki yang sedang mendekatinya dan berniat serius dengannya.
" Umi juga merasa setuju kalau Fatimah dengan Ilham. Dia seorang dosen yang sangat tampan dan juga baik hati. Kemarin Umi call dengan dia!" ucap ibunya Hilya sambil tersenyum kepada sang suami yang langsung merasa tidak nyaman.
" Umi Kenapa sih? Selalu menilai orang tuh dari ketampanannya bukan dari pribadinya maupun dari akhlaknya?" tanya sang suami sambil cemberut.
" Tentu saja abi umi tidak mau kalau sampai keturunan Umi nanti blangsak dan tidak tampan. Hahaha!" ucap istrinya sambil tertawa terbahak-bahak yang membuat sang suami menjadi kesal.
__ADS_1
" Sudahlah terserah Umi saja. Kalau untuk Abi yang penting kalau laki-laki itu baik dan mau menerima Fatimah baik buruknya. Hal itu sudah cukup bagi Abi!" ucapnya sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
" Tampaknya Kyai Rasyid sangat menyayangi Hilya. Lihatlah! Mereka bahkan menyediakan rumah ini untuk kita sementara kita di sini!" ucap ibunya Hilya kepada sang suami yang tampaknya sudah memejamkan matanya.
" Abi kenapa sih? Cepat sekali tidur padahal kan Umi masih ingin berbincang-bincang!" protes sang istri sambil mengguncangkan tubuh suaminya yang tampak sudah terlelap.
Karena merasa kesal akhirnya ibunya Hilya memilih untuk keluar kamar dan menyalakan televisi untuk mengusir sepi dan kebosanan.
" Kehidupan di pondok pesantren ini benar-benar sangat nyaman dan juga menyenangkan. Aetiap waktu selalu mendengarkan lantunan ayat suci Alquran yang diperdengarkan oleh para santri yang sibuk bermuroza'ah setiap waktu!" ujar ibunya Hilya merasa bahagia bahwa kehidupan putrinya di pondok itu bahagia dan hidup rukun dengan suami maupun mertuanya.
Setelah 2 jam lebih dia menonton televisi. akhirnya rasa kantuk pun mulai datang. Ibunya Hilya pun kemudian mematikan televisi dan mengambil air minum untuk persediaan kalau sampai tengah malam suaminya merasa haus sehingga tidak perlu harus pergi keluar kamar.
Setelah semuanya di rasa cukup, ibunya Hilya kemudian masuk ke dalam kamar dan bergabung bersama suaminya yang sudah pulas duluan sejak tadi.
Mereka berdua pun kemudian tidur bersama hingga subuh menjelang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu Hilya dan Zaki yang sangat kelelahan setelah acara syukuran untuk calon bayi mereka tampak terlibat obrolan yang lumayan serius.
" Tadi saya belum sempat bertemu dengan kedua orang tuaku karena kesibukan acara yang begitu padat. Semoga besok saya bisa bertemu dengan Umi dan Abi!" ucap Hilya sambil menatap suaminya yang masih sibuk dengan pekerjaannya di kampus.
Tampaknya Zaki sedang memeriksa hasil ujian para mahasiswanya. Dia tampak serius sekali bahkan keningnya sampai berkerut berkali-kali.
__ADS_1
" Sayang apakah ada yang bisa kubantu?" tanya Hilya lagi. Berusaha mendapatkan perhatian dari suaminya.
" Tidurlah dulu sayang. Maafkan ya? Mas masih banyak pekerjaan sayang. Besok hasil ujian ini harus diumumkan kepada para mahasiswaku!" ucap Zaki sambil mengelus pucuk rambut sang istri yang saat ini berada di pelukannya.
" Tapi aku ingin tidur bersamamu sayang!" Hilya pun merasa heran sekarang. Sejak dia hamil rasanya Dia selalu ingin dekat dan lengket dengan suaminya.
Waktu kehamilannya belum didiagnosis dan dia tidak siap menjalaninya. Dekat dengan Zaki selalu mengundang mual dan juga muntah. Akan tetapi sekarang, setelah dia merasa ikhlas dan juga bisa menerima kehamilannya tersebut. Hilya merasa begitu manja dan selalu ingin dekat dengan sang suami. Hal itu sungguh membuat Zaki merasa heran dan juga senang.
" Baiklah sayang. Mas akan menidurkan kamu dulu. Setelah itu Mas bisa melanjutkan kembali pekerjaan ini!" ucap Zaki mengalah dan akhirnya dia pun berbaring di samping istrinya yang merasa senang karena sang suami menuruti keinginannya.
" Cium!" ucap Hilya sambil memonyongkan bibirnya. Zaki sampai tertawa melihat tingkah istrinya yang sangat mengucapkan baginya.
" Kau sangat lucu sekarang sayang!" ucap Zaki sambil mencium sang istri dengan gemas dan perasaan penuh cinta.
" Cukup sayang! Aiya ini kalau di teruskan kita berdua malahan ga akan bisa tidur sampai shubuh! Hahaha!" ucap Zaki menarik dirinya dari pelukan sang istri yang malah ikut tertawa bersama suaminya.
" Habisnya Mas menggoda sih!" ucap Hilya yang entah kenapa sejak kehamilan yang menjadi agresif terhadap suaminya.
" Ya udah ayo tidur! Sudah larut malam juga." Zaki kemudian Langsung tertidur bersama dengan Hilya yang juga sudah lelah setelah seharian sibuk menyiapkan acara untuk syukuran kehamilannya yang sudah berusia 4 bulan lamanya.
Mereka berdua sangat excited dengan kehamilan tersebut. Setelah menunggu hampir 1 tahun lamanya. Setelah pernikahan mereka.
Mereka sangat bahagia setelah Fatimah tidak lagi hadir dalam kehidupan mereka dan tidak lagi mengganggu pernikahan yang mereka jalani saat ini.
__ADS_1
Fatimah sekarang sudah sibuk dengan kehidupannya sendiri dan dia berusaha untuk melupakan tentang keinginannya untuk merebut Zaki dari sang adik.