
Setelah kepergian Fatimah tampak Farel merenung di kursinya. Farel memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh Fatimah yang mengatakan bahwa dia mencintai Hilya.
" Bagaimana dia mengetahui tentang rahasia hatiku yang selama ini kusembunyikan begitu dalam? Bahkan sahabatku saja tidak tahu tentang perasaanku kepada Hilya!" ucap Farel bermonolog kepada dirinya sendiri.
" Mulai sekarang aku benar-benar harus berhati-hati. Agar tidak mengundang kecurigaan orang lain tentang perasaanku terhadap Hilya atau semuanya akan menjadi hancur menjadi abu!" Ucap Farel pelan.
Karena tidak bisa berkonsentrasi. Akhirnya Farel pun memutuskan untuk meninggalkan kampus. pikirannya benar-benar ruwet gara-gara Fatimah yang sudah mengganggu konsentrasi kerjanya.
' Ya Tuhan bantu aku untuk keluar dari masalah yang begitu pelik ini!' bathin Farel sambil berjalan-jalan di pinggir pantai.
Farel menyaksikan anak-anak pantai yang sedang berlarian dan berenang di sore itu. Hatinya merasa sangat bahagia melihat kedamaian yang terlihat di wajah bocah-bocah yang tanpa dosa di matanya.
" Betapa beruntungnya mereka yang hidup dalam ketenangan dan tanpa merisaukan apapun!" Uca Farel sambil terus memperhatikan bocah-bocah itu.
Tiba-tiba saja bola yang sedang mereka mainkan mengarah kepada Farel dan berhasil dia tangkap.
" Om Apakah bisa mengembalikan bola kami?" tanya bocah kecil yang tampak kurus dan tidak terawat sambil mendekati Farel.
" Apakah Om boleh bermain bersama kalian?" tanya Farel kepada mereka semua yang disambut dengan kebahagiaan oleh mereka.
Dengan begitu senangnya Farel bermain dengan anak-anak pantai itu. Hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan magrib.
" Anak-anak Ayo cepat kembali sebentar lagi ibu panti akan datang dari kota!" tiba-tiba seorang gadis berpenampilan sederhana mendekati mereka.
" Tapi kami masih ingin bermain Kak Wulan!" ucap salah seorang bocah itu protes kepada gadis yang bernama Wulan yang langsung tersenyum kepada mereka.
" Mainnya besok lagi sekalian harus mandi kalau nanti Bu Panti melihat kalian belum mandi pasti Kak Wulan yang dimarahin!" ucap ulang dengan memasang wajah memelas sehingga anak-anak itu pun akhirnya menyerah dan mengikutinya.
" Terima kasih Kak sudah membuat mereka merasa senang dengan bermain dengan kakak!" ucap Wulan sambil mengulas senyum tulusnya kepada Farel.
Farel yang masih terpesona dengan kecantikan Wulan yang begitu bersahaja. Dia tampak sedang melamun. Sehingga membuat Wulan harus mengguncangkan tubuhnya untuk membuat dia kembali ke alam dunia yang nyata.
__ADS_1
" Maaf kau bicara apa?" tanya Farel sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan senyum tak berdosanya.
" Terima kasih karena kakak sudah bermain dengan anak-anak! Ya sudah saya pergi dulu ya!" ucap Wulan dengan tersenyum kepada Farel yang masih tampak terpesona dengan kecantikan seorang Wulan yang sederhana tanpa make up. Berwajah oriental dengan rambut pirangnya yang tergerai indah.
" Yah sama-sama. Kau berhati-hatilah. Oh ya, di mana Panti Asuhan kalian?" tanya Farel.
" itu Panti Asuhan kami terlihat dari sini!" ucap Wulan sambil menunjuk sebuah bangunan lusuh yang tidak terlalu jauh dari tempat Mereka berdiri saat ini.
" Baiklah saya pergi dulu ya Kak!" Farel hanya mengangguk menanggapi ucapan Wulan.
Farel bukanlah seseorang yang mudah jatuh cinta. Tetapi dia pun bukan orang yang mudah terpesona dengan seseorang. Namun kecantikan Wulan yang terpancar dari ketulusan hatinya ketika dia memanggil anak-anak Panti Asuhan tadi. Sudah menggetarkan hati seorang Farel Abimana.
Pandangan mata Farel terus mengikuti kepergian anak-anak kecil tadi bersama dengan Wulan yang begitu telaten mengurus mereka.
" Tidak kusangka masih ada seorang gadis secantik dia yang masih peduli dengan anak-anak yang terlantar!" ucap Farel.
Farel kemudian pergi menuju ke mobilnya untuk kembali ke apartemen miliknya.
Di sepanjang perjalanan Farel terus mengingat wajah seorang Wulan yang sangat menarik hatinya.
" Ya ampun bodohnya aku! Kenapa tadi aku tidak memperkenalkan diriku kepada gadis itu?" tanya Farel seperti orang bodoh.
Farel kemudian langsung masuk ke dalam apartemennya setelah dia menyelesaikan makan malam di restoran terdekat dengan apartemennya.
Kelelahan yang melanda tubuhnya yang mengakibatkan Farel tidur dengan cepat setelah shalat Isya.
" Sepertinya aku perlu untuk menelpon Papa masalah Fatimah! Ya Allah! Tapi aku ngantuk sekali biarlah besok saja!" Ucap Farel sambil terus menguap karena kantuk.
Farel pun kemudian tertidur pulas. Farel terbangun sekitar pukul 11.00 malam dan dia merasakan bahwa perutnya benar-benar lapar dan haus.
__ADS_1
" Ya ampun ternyata di kulkasku tidak ada apapun. Terpaksa Aku harus pergi keluar untuk membeli makanan!" Ucap Farel menyesali dirinya sendiri yang terlalu malas untuk mengisi kulkasnya sehingga dia harus mengalami kelaparan semacam ini.
Dengan kemalasan yang ada di dalam dirinya walaupun terpaksa pergi ke bawah untuk mencari makanan.
Namun saat dia hendak naik ke lift. Tiba-tiba saja matanya seperti menatap seorang gadis yang tampak begitu familiar baginya.
" Wulan?" tanya Farel tanpa sadar.
Gadis yang dipanggil oleh Farel itu menoleh sebentar. Tetapi dia melanjutkan perjalanannya menuju ke Unit miliknya.
" Apakah dia tinggal di apartemen ini juga?" tanya Farel bingung.
" Ah terserah! Yang penting sekarang aku harus mencari makanan dulu. Karena aku sangat lapar sekali!" ucap Farel kemudian dia langsung meninggalkan apartemennya dan berjalan kaki mencari penjual asongan yang biasanya nangkring di sekitar jalan utama menuju apartemennya.
Namun Farel mendapatkan kenyataan bahwa dia tidak menemukan apapun. " Ya ampun tampaknya mereka semua sudah pulang bagaimana dengan perutku yang sangat lapar ini?" tanya Farel dengan pasrah.
akhirnya Farel pun kembali ke dalam apartemen Berencana untuk mengambil kunci mobil dan dia berniat akan mengelilingi kota malam ini untuk mencari makan.
" Aku akan mencari restoran yang masih buka atau warung angkringan yang masih buka!" Farel terus berbicara dengan dirinya sendiri sampai tidak menyadari bahwa ada seorang gadis yang sekarang berada di hadapannya.
" Kamu malam-malam kenapa pergi keluar?" tanya gadis itu.
" Astaghfirullahaladzim! Kenapa kau tiba-tiba sudah ada di hadapanku!" protes Farel sambil terus-menerus dadanya yang begitu terkejut dengan kehadiran wulan yang sudah ada di hadapannya.
" Dari tadi aku memperhatikanmu dari jendela unitku. Kau mencari apa malam-malam seperti ini?" tanya Wulan sambil tersenyum kepada Farel.
" Aku baru saja bangun tidur dan aku mendapatkan kenyataan bahwa perutku sangat lapar Padahal sebelum tidur aku sudah makan dulu! Tapi di dalam kulkasku tidak ada apa-apa yang bisa aku makan. Biasanya di depan sana banyak warung angkringan tetapi ternyata sekarang sudah tidak ada!" ucap Farel tampak pasrah dengan hidupnya.
" Ya jelaslah mereka sudah pulang apa kau tidak melihat jam di tanganmu ini sudah jam 12.00 malam Siapakah orang yang masih berjualan di jam seperti ini?" ucap Wulan sambil menggelengkan kepalanya.
" Kau benar juga. Tampaknya memang cuman aku yang kelaparan malam ini!" ucap Farel sedih sambil memegang perutnya yang terasa lapar.
__ADS_1
" Kalau kau tidak keberatan. Ayo ke apartemenku. Aku akan memasak untukmu!" ucap bulan menawarkan kebaikan kepada Farel.