
Setelah mereka sarapan bersama, Hilya dan Zaki akhirnya bertemu dengan kedua orang tua Hilya untuk berdiskusi tentang kuliah Hilya yang akan pindah ke Jogjakarta.
"Apakah benar Hilya, kalau kamu mau untuk pindah bersama suamimu?" tanya ayahnya Hilya kepada putrinya yang sangat dia cintai.
"Tapi Hilya belum bisa ikut bersama Mas Zaki dalam waktu dekat ini. Soalnya di kampus sedang masa ujian. Rasanya sangat tanggung kalau pindah sekarang. Kalau setelah ujian pindahnya bagaimana, Mas?" tanya Hilya sambil menatap Zaki yang saat ini sedang menatapnya dengan lembut dan penuh cinta kasih, sehingga membuat Hilya menjadi malu dan menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa! Mas Zaki juga sedang sibuk menyiapkan ujian untuk para mahasiswa. Kau bisa fokus di sini untuk ujianmu, nanti setelah ujian selesai, Mas akan menjemputmu!" ucap Zaki sambil menatap Hilya dengan lembut.
"Baguslah kalau kalian sudah memiliki satu kata sepakat. Abi sama Umi merasa senang yang penting kalian bisa hidup bersama dan jangan sampai berpisah!" ayahnya Hilya sambil menatap kepada putrinya yang masih menundukkan kepalanya entah karena apa.
"Abi sama Umi mau pergi ke rumahnya ayahnya Zaki di Indramayu. Kira-kira apa yang akan kamu pesan kepada kedua orang tuamu Zaki?" tanya ayahnya Hilya kepada menantu yang sangat dia banggakan.
"Tidak ada Abi! Nanti Zaki akan menghubungi Abi Rasyid sendiri, Aby tidak usah khawatir tentang saya!" ucap Zaki kepada ayah mertuanya.
"Ya sudah Umi sama Abi pergi dulu ya? Kalian bisa menikmati bulan madu kalian berdua tanpa harus diganggu oleh kami berdua!" ucap ibunya Hilya sambil menatap putrinya dengan senyum usilnya dan menggoda sang putri yang saat ini masih menundukkan kepalanya karena menahan rasa malu.
"Umi bicara apa sih? Hilya nggak ngerti!" ucap Hilya sambil berlari ke kamarnya menghindari tatapan ibunya yang terus menggodanya.
Zaki hanya tersenyum melihat Apa yang dilakukan oleh istrinya, yang sekarang malah lari dan meninggalkan dirinya sendiri di sana.
Setelah melihat kedua mertuanya telah meninggalkan kediaman itu. Zaki pun langsung mengejar istrinya di dalam kamar.
"Sayang kenapa kau meninggalkanku seorang diri?" tanya Zaki sambil memeluk istrinya dari belakang ketika dia melihat istrinya sedang berdiri di depan jendela kamarnya.
"Tidak apa-apa!" ucap Hilya kemudian dia memutar tubuhnya dan duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Kapan Mas Zaki akan kembali ke Jogjakarta? Biar Hilya siapkan pakaiannya!" ucap Hilya dengan suara pelan.
"Kamu tidak usah menyiapkan apapun untuk Mas. Mas tidak membawa pakaian banyak ke Jakarta. Di sana sudah banyak pakaian Mas!" ucap Zaki mendekati istrinya.
"Biasanya kesibukan Mas Zaki di Jogjakarta apa saja?" tanya Hilya sambil menatap suaminya yang sungguh tampan dan juga mempesona dirinya.
"Kadang saya melakukan kuliah di kampus, kemudian mengisi seminar-seminar yang diadakan oleh para mahasiswa maupun perusahaan. Kadang juga saya bekerja di sebuah rumah sakit yang membutuhkan tenaga saya untuk operasi dadakan. Banyak yang saya lakukan di sana. Memangnya kenapa sayang?" Tanya Zaki sambil menatap istrinya yang selalu membuat dia merasa rindu untuk selalu menyentuhnya.
"Nanti di sana, siapa yang akan mengurusi segala kebutuhanmu?" tanya Hilya sambil menggenggam tangan suaminya.
"Mas sudah biasa hidup mandiri. Selama di Mesir, Mas selalu hidup sendiri. Jadi tidak masalah untuk Mas sendiri di sana! Mas bisa mengurus diri Mas sendiri. Kau bisa tenang tinggal di sini dan jalani ujianmu dengan baik!" ucap Zaki sambil mengecup bibir istrinya sekilas, Zaki seakan merasa candu dengan bibir merah sang istri tercinta.
Hilya tampak terdiam cukup lama sehingga membuat Zaki merasa penasaran dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam.
"Ada apa dari tadi kau diam saja? Apakah kau sedang memikirkan sebuah masalah? Katakanlah padaku, siapa tahu aku bisa membantumu!" ucap Zaki sambil mengelus kepala istrinya dengan penuh cinta kasih.
"Kau harus percaya bahwa Mas akan selalu menjaga diriku selama jauh darimu!" Ucap Zaki menjanjikan kesetiaan kepada istrinya.
"Apa Mas yakin tidak akan tergoda dengan Kak Fatimah? Kak Fatimah itu seorang gadis yang cantik dan juga pintar!" tanya Hilya sambil menatap mata suaminya seakan mencari ketulusan dan kejujuran di sana.
"Mas juga punya istri yang cantik dan pintar kenapa Mas harus repot untuk memikirkan perempuan lain?" ucap Zaki sambil memeluk istrinya dengan erat sehingga membuat Hilya merasakan Kedamaian.
"Aku akan selalu berpikir positif di sini bahwa Mas di sana bekerja dan akan menjaga kesetiaanmu untukku!" ucap Hilya dengan suara perlahan.
"Percayalah Mas tidak akan pernah menghianati pernikahan kita. Mas sudah menikahimu di hadapan kedua orang tuaku dan juga di hadapan Allah. Mas tidak akan mungkin menghianati janji yang sudah kubuat sendiri!" ucap Zaki sambil mencium bibir sang istri yang sejak tadi seakan menggoda dirinya.
__ADS_1
Hilya yang memang pada dasarnya sudah jatuh cinta kepada Zaki tidak mampu menolak apapun yang di lakukan oleh suaminya.
Setelah puas melakukan ibadah paling indah di dunia, Zaki kemudian bersiap untuk berangkat ke Jogjakarta. Karena dia memang hanya cuti selama 3 hari saja untuk acara pernikahannya bersama Hilya.
"Nanti kau tidak boleh mengabaikan untuk semua panggilanku. Kau harus selalu menjawabnya dan membalas semua sms-ku!" ucap Zaki kepada Hilya yang saat ini sedang berada dalam pelukannya.
"Aku tidak tahu. Kita lihat saja nanti. Di sini aku juga kan sibuk dengan ujian, praktikum dan sebagainya. Tidak mungkin kan aku harus selalu stand by di depan ponselku?" demi mendengarkan ucapan istrinya Zaki sampai tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun kamu lucu banget! Bukan begitu maksud Mas. Mas juga kan pasti akan menghubungi kamu lihat-lihat jam dan lihat-lihat waktu. Nggak mungkin Mas hubungi kamu di saat kamu kuliah maupun ujian!" ucap Zaki sambil mencubit hidungnya Hilya yang menggemaskan.
"Ih, sakit tahu!" Hilya protes kepada suaminya.
Zaki hanya tertawa melihat istrinya yang misuh-misuh gara-gara dicubit hidungnya oleh dirinya.
"Jangan melakukan kekerasan dalam rumah tangga itu tidak baik!" ucap Hilya kepada suaminya.
"Aku melakukan ini bukan karena kekerasan dalam rumah tangga sayang. Tapi aku tuh sayang sama kamu. Aku rasanya nggak rela sih berpisah dengan kamu sayang! Walaupun mungkin cuman satu bulan sampai ujianmu selesai!" ucap Zaki berbisik di telinga Hilya sang istri yang dia cintai.
"Jangan khawatir Mas! 1 bulan itu waktu yang sangat singkat!" ucap Hilya sambil tersenyum kepada suaminya.
"Tetapi sepertinya berjauhan dengan kamu, satu bulan rasanya akan seperti satu tahun!" ucap Zaki sambil memeluk Hilya.
"Ya ampun sejak kapan Mas Zaki berubah menjadi seorang pria yang tukang gombal seperti ini?" tanya Hilya sambil menundukkan kepalanya karena malu. Terbit senyum bahagia di bibir Hilya saat ini.
"Sejak punya istri kamu sayang!" Zaki tertawa melihat istrinya yang begitu menggemaskan saat ini. Ingin rasanya dia karungin dan dia bawa ke Yogyakarta agar mereka berdua tidak berpisah lagi. Wkwkwk.
__ADS_1
"Masa sih?" tanya Hilya tersipu malu.