
Fatimah yang sudah keluar dari kediamannya sama sekali tidak memperdulikan kehebohan yang saat ini terjadi di dalam rumahnya.
" Akhirnya aku bisa keluar dari rumah dan kabur dari pernikahan itu!" ucapan terima dengan begitu bahagia setelah dia meninggalkan kota Jakarta menuju Jogjakarta.
" Aku harap aku tidak perlu terlibat lagi dengan pernikahan konyol itu. Dan semoga saja Hilya bahagia dengan laki-laki yang dijodohkan oleh Umi dan Abi denganku!" ucap Fatimah sambil menatap jendela pesawat terbang yang akan membawanya menuju Jogjakarta.
" Semuanya sudah diatur dengan sempurna. Bagaimana mungkin aku bisa menerima masa depanku yang hancur begitu saja hanya karena sebuah pernikahan yang tidak ku inginkan?" ucap Fatimah sambil tersenyum karena merasa menang sudah bisa kabur dari pernikahannya.
Flash back off
Fatimah mengerjakan kedua matanya yang tampak panas dan ingin mengeluarkan air mata kesedihan.
" Kenapa aku bodoh sekali? Kalau seandainya dulu aku melihat foto yang di tunjukkan oleh Umi, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini!" ucap Fatimah menyesali segala sesuatu yang sudah terjadi dengan hidupnya.
" Apakah benar kalau Zaki memang bukan jodohku? Sehingga waktu itu aku malas untuk melihat fotonya dan malah memilih untuk meninggalkan acara pernikahan yang sudah dipersiapkan untukku dan Dia?" tanya Fatimah kepada dirinya sendiri.
tok tok tok
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang di luar kamarnya.
" Fatimah Apakah Umi boleh masuk?" tanya ibunya Fatimah di seberang sana.
__ADS_1
" Ya Umi masuklah tidak saya kunci!" ucap Fatimah sambil menatap kepada ibunya yang sekarang sudah ada di hadapannya.
" Ada apa Umi Bukankah ini sudah malam seharusnya Umi sudah tidur!" tanya Fatimah sambil mempersilahkan ibunya untuk duduk di sampingnya.
" Umi tahu ini memang sudah malam tetapi Umi harus memberitahukan kepadamu bahwa kamu harus melupakan tentang rencanamu untuk membatalkan pernikahan antara adikmu dan juga calon suamimu!" ucap ibunya Fatimah sambil menatap tajam kepada sang putri yang saat ini seperti tidak percaya bahwa ibunya ternyata tidak mendukungnya.
" Sebenarnya Umi mencintai Fatimah atau tidak?" tanya Fatimah dengan tatapan nanar.
" Umi dan Abi mencintaimu dan juga Hilya kalian berdua sama-sama anak kami tidak ada yang kami bedakan sama sekali!" ucap ibunya Fatimah sambil berusaha untuk menggenggam tangan putrinya yang langsung ditepis oleh Fatimah dengan sangat kejam.
" Kalau Umi tidak membantu Fatimah Untuk membatalkan pernikahan antara Zaki dan Hilya Jangan harap Umi akan menemui Fatimah seumur hidup Umi!" ancam Fatimah kepada ibunya yang sekarang nampak bingung.
" Maka Abi persilahkan kau untuk segera meninggalkan kediaman ini. Bagi Abi tidak masalah, kalau kau tidak mengenal kami. Asal kami tidak mempermainkan pernikahan yang agung di hadapan Allah!" ucap ayahnya Fatimah sambil menatap putrinya yang saat ini matanya telah berkaca-kaca.
" Dengar Fatimah yang kau lakukan saat ini sudah terlambat saat ini Zaki sudah mencintai adikmu dan dia tidak menginginkan Untuk membatalkan pernikahannya bersama adikmu!" ucap ayahnya Fatimah menatap putrinya yang kini mulai menangis tersedu.
" Jadikan pelajaran untukmu sebelum melakukan sesuatu kau harus melihatnya dulu dan mempertimbangkannya dulu jangan sekali-kali kau memutuskan sesuatu yang belum kau pahami sama sekali!" ucap ayahnya Fatimah kemudian dia pun meninggalkan Fatimah seorang diri di dalam kamarnya.
" Umi Ayo cepat kita tidur. Umi tidak usah mengurus anak yang tidak tahu diri dan tidak tahu di untung itu. Dia hanya bisa mencoreng kan nama buruk terhadap keluarga kita dengan semua kelakuannya yang benar-benar tidak bisa ditoleransi!" ucap ayahnya Fatimah sambil menatap tajam kepada istrinya agar segera meninggalkan kamar Fatimah.
"Lupakan Zaki dan mulailah kehidupan barumu Fatimah. Dengarkan Umi!" ucap ibunya Fatimah sambil berteriak karena tangannya sejak tadi di geret oleh suaminya untuk keluar dari kamar Fatimah.
__ADS_1
" Abi rupanya benar-benar sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat sekarang Apa yang harus kulakukan untuk bisa mendapatkan Zaki sebagai suamiku?" Fatimah tampak frustasi dia dari tadi terus memukul kepalanya untuk bisa berpikir bagaimana caranya agar bisa merebut Zaki dari adiknya.
Selama semalaman itu Fatimah hanya mondar-mandir di dalam kamarnya tidak peduli dengan makanan maupun minuman yang sudah disediakan oleh ibunya di atas nakas yang ada di sebelah ranjangnya.
" Sekarang Zaki dan Hilya sedang ada di Indramayu Aku akan menyusul mereka dan berdiskusi secara pribadi dengan mereka bertiga Aku yakin kalau Hilya tidak mungkin mencintai laki-laki yang asing baginya!" Fatimah kemudian mengambil kopernya bersiap untuk pergi ke Indramayu dalam rangka mengejar cintanya yang bertepuk sebelah tangan terhadap sakit.
" Aku yakin kalau Hilya mau membatalkan pernikahan itu yang penting aku harus bisa meyakinkan adikku untuk mau menyerahkan Zaki untukku!" entah apa yang saat ini ada di kepala Fatimah tapi yang jelas dia benar-benar nekat pergi ke Indramayu untuk menemui Hilya dan juga Zaki.
Kedua orang tuanya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pasrah melihat kepergian Fatimah yang begitu mendadak dari kediaman mereka.
" Ini semua salah Umi karena Umi selalu saja memanjakan Fatimah. Sehingga akhirnya dia menjadi seorang gadis yang seperti itu. Gadis keras kepala dan selalu saja memaksakan kehendaknya kepada orang lain! Bahkan pernikahan saja dia Jadikan mainan seperti itu!" ucap ayahnya Fatimah sambil mengepalkan kedua tangannya sangking gemes dan juga marah terhadap putrinya yang sangat susah sekali untuk dibilangin secara baik-baik.
" Ayo Umi! Kita juga harus bersiap-siap pergi ke Indramayu. Jangan sampai nanti Fatimah membuat kehebohan di sana dengan perilakunya yang Barbar itu!" ucap ayahnya Fatimah sambil meninggalkan istrinya yang saat ini masih bengong tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
" Maksud Abi kita akan pergi menemui Kyai Rasyid?" tanya istrinya.
" Tentu saja memangnya siapa besan kita yang ada di Indramayu Umi ini benar-benar ada-ada saja!" ucap suaminya sambil menggelengkan kepalanya.
" Lalu bagaimana dengan perusahaan kalau kita semua meninggalkan Jakarta dan pergi ke Indramayu?" tanya ibunya Fatimah kepada sang suami yang tersenyum kepadanya.
" Di Perusahaan begitu banyak dewan direktsi dan juga parah manager yang akan bekerja untuk perusahaan dan membimbing para karyawan baru. Tidak apa-apa kalau Abi pergi sebentar ke sana!" ucap ayahnya Fatimah sambil menatap kepada istrinya yang sepertinya keberatan Kalau mereka pergi ke Indramayu.
__ADS_1
" Apakah Umi menyetujui keinginan Fatimah Untuk membatalkan pernikahan antara Zaki dan Hilya?" tanya suami ya Sambil menatap tajam kepada sang istri yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh tuntutan Sebuah Jawaban dari sang istri.