
Zaki kemudian mendekatkan tubuhnya kepada sang istri menatapnya dengan penuh kelembutan.
"Tidak ada kebaikan di dalam jarak antara seorang suami dan istri! Kau harus ingat, tugas seorang istri adalah berbakti kepada suaminya. Bukankah kau mempelajarinya di dalam Alquran?" tanya Zaki sambil menatap tajam ke dalam manik mata Hilya yang masih menangis terisak-isak.
"Tapi, nanti aku akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi lagi dengan lingkungan baru! Aku juga masih mau melanjutkan program tahfizku!" ucap Hilya sedih.
"Kau tidak usah khawatir! Aku akan selalu membantumu untuk beradaptasi di sana. Dan untuk masalah program Tahfidz, kau bisa belajar denganku! Aku juga seorang Hafiz kalau kau ingat!" ucap Zaki tersenyum.
"Tapi, apakah kau yakin? Kalau kau ingin mengajakku untuk ikut bersamamu?" tanya Hilya tampak masih ragu-ragu.
"Kenapa aku harus tidak yakin untuk mengajakmu ikut bersamaku? Kau adalah istriku! Sudah kewajibanku untuk menjaga dan merawatmu!" ucap Zaki.
Hilya kemudian duduk dan menghapus air matanya yang sudah mulai mengering.
Ditatapnya wajah suaminya yang saat ini sedang menatapnya dengan lekat.
Hilya sedang mencari ketulusan di dalam mata suaminya. Sebelum Dia memutuskan akan mengikuti saran suaminya ataukah akan bersikeras dengan pendapatnya.
"Dengarkan Mas Hilya! Seorang suami ketika berjauhan dengan istrinya. Itu akan banyak sekali godaannya. Apakah kau nanti tidak akan ketar-ketir, ketika suami tampanmu ini, hidup seorang diri di kota lain dan bagaimana kalau ada orang lain yang mendekatiku?" tanya Zaki sambil menaik turunan alisnya. Menggoda sang istri agar bisa tersenyum.
"Cih, raja narsis!" ucap Hilya sambil memukul dada suaminya. Zaki langsung menangkap tangan Hilya, kemudian menciumnya dengan lembut. Mengirimkan sinyal cinta untuk Hilya.
"Dengarkan suamimu ini Hilya! Ketika seorang suami berjauhan dengan istrinya. Dia jadi tidak akan tenang dalam bekerja dan tidak bisa melakukan hal yang terbaik dalam pekerjaannya. Ketika seorang istri dekat dengan suaminya. Maka itu akan dapat menentramkan hati suaminya. Suamimu jadi bisa fokus dengan pekerjaannya dan menenangkan jiwa suamimu!" ucap Zaki.
"Tapi aku takut, kalau kita sudah benar-benar menjalani pernikahan kita. Bagaimana kalau tiba-tiba Kak Fatimah datang di antara kita?" tanya Hilya sambil menatap suaminya.
"Aku tidak peduli dengan kakakmu itu. Saat ini yang menjadi tanggung jawabku adalah kamu. Karena kamulah wanita yang telah aku nikahi di hadapan Allah, di hadapan kedua orang tuaku, dan di hadapan kedua orang tuamu. Aku sudah berjanji dengan atas nama Allah! Bahwa aku akan menjagamu dan mencintaimu sepenuh hatiku! Aku hanya akan menjadi milik kamu, selamanya!" ucap Zaki sambil mencium tangan Hilya lagi yang masih ada dalam genggam tangannya.
__ADS_1
Hilya tampak terkesiap, ketika Zaki kini mulai mencium bibirnya kembali dengan lembut dan memabukkan jiwanya yang baru saja memasuki dunia percintaan.
Pesona seorang Zaki Al Bukhari memang sangat sulit untuk di tolak. Hilya sudah terbuai dalam pesona sang suami yang luar biasa. "Sudah siapkah?" bisik Zaki di telinga Hilya di sela-sela aktivitas ciuman mereka.
"Siap untuk apa?" tanya Hilya dengan nafas yang memburu.
"Untuk ini!" ucap Zaki kemudian dia menindis tubuh istrinya dan menggelitiki Hilya sampai tertawa kegelian.
"Hentikan! Aku geli tahu!" Hilya berusaha untuk menghindari tangan usil suaminya yang sejak tadi terus saja menggelitiki pinggangnya tanpa henti dengan tawanya yang begitu mempesona.
Ya! Hilya sudah jatuh dalam pesona sang suami yang begitu menawan hatinya.
Pesona seorang Zaki memang sulit untuk di tolak. Apalagi ketika Hilya mengingat apa yang di katakan oleh Zaki tadi, bahwa suaminya itu hanya "Miliknya!" ah, kata-kata itu telah melambungkan jiwa Hilya hingga ke langit ke 7. Bahagia sekali.
Bagaimana tidak? Memiliki seorang Zaki dalam hidupnya adalah sebuah kebanggaan bagi dirinya. Sewaktu mondok dulu, Hilya sering mendengar, bahwa suaminya ini sering menerima pinangan dari banyak putri para pejabat maupun para anak Kiai yang terkenal.
Tapi sekarang, Zaki memproklamirkan dirinya sendiri sebagai milik seorang Hilya! Apakah ada hal yang lebih membahagiakan dari hal itu? Hilya sangat bahagia dan sangat bangga!
"Minta apa?" tanya Hilya dengan suara bergetar. Dadanya sudah bergemuruh dengan kencang. Sejak tadi, jantungnya sudah senam terus. Seakan ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya ketika suaminya menggelitiki pinggangnya.
"Minta hak Mas sebagai suami kamu!" ucap Zaki sambil berbisik di telinga Hilya dengan pelan. Hilya sampai meremang bulu kuduknya. Merinding rasanya.
"Hak apa? Aku tidak mengerti!" ucap Hilya kemudian menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang memerah. Menahan rasa malu yang seakan hinggap tiba-tiba di dalam hatinya.
Ya, itulah keutamaan seorang perawan. Wanita yang bisa menjaga kehormatan diri dan juga marwahnya di hadapan seseorang yang bukan mahramnya. Dia akan punya sifat malu dan dapat menjaga dirinya dari pergaulan bebas yang tidak halal baginya.
Zaki benar-benar sangat bahagia melihat merasa rasa malu yang diperlihatkan oleh istrinya. Dia merasa yakin bahwa Hilya pantas untuk mendapatkan cintanya.
__ADS_1
"Ayolah sayang! Ini sudah hari kedua sejak pernikahan kita! Kita belum juga melakukan malam pertama pernikahan kita! Pokoknya Mas menuntut hak Mas hari ini juga!" ucap Zaki sambil masuk ke dalam selimut sang istri. Kemudian Zaki melakukan apa yang seharusnya dia lakukan di malam pernikahan mereka kemaren.
Hilya tersenyum di samping suaminya yang kini tengah terlelap. Walaupun agak sakit di bagian intinya, tetapi Hilya bahagia ketika melihat bercak darah di atas seprainya. Tanda bahwa dia telah menyerahkan segalanya kepada sang suami yang sudah halal di mata agama maupun hukum negara.
"Alhamdulillah ya Allah! Karena aku telah berhasil mempersembahkan kehormatanku untuk suamiku yang halal bagiku. Bukan kepada laki-laki yang tidak berhak atas tubuhku!" ucap Hilya sambil berderai air mata. Air mata kebahagiaan tentu saja.
"Ayo tidurlah sayang! Karena nanti Mas masih akan minta jatah lagi sama kamu!" tiba-tiba saja Zaki sudah menarik Hilya ke dalam pelukannya yang hangat dan menenangkan.
"Jatah apa? Aku tidak mau! Ini masih sakit!" rengek Hilya di pelukan sang suami yang malah terkekeh saat melihat istrinya misuh misuh dalam pelukannya.
"Nanti lama-lama kau tidak akan kesakitan lagi!" bisik Zaki di telinga Hilya.
"Dari mana kau tahu?" tanya Hilya sambil menatap wajah suaminya yang masih merem.
"Kata orang-orang dan juga di buku! Kan suamimu ini bukan orang yang bodoh-bodoh amat dalam hal seperti itu!" ucap Zaki sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Hilya yang masih polos gara-gara perbuatan dia tadi.
Bahkan lukisan-lukisan Indah berjejer rapi di tubuh Hilya yang putih dan mulus. Hasil buah karya dari seorang Zaki Al Bukhari yang sedang bahagia menikmati hari pernikahannya. Yang tengah merayakan status barunya sebagai seorang suami dari seorang wanita sholehah yang bernama Auriza Hilyatul Aulia.
Wanita pertama yang telah membuatnya jatuh cinta dan membuatnya rela memberikan apapun kepada wanita itu.
Zaki memeluk tubuh Hilya semakin erat. Zaki berjanji dalam hatinya bahwa dia akan selalu menjaga marwahnya sebagai seorang suami dengan menjaga hatinya hanya untuk sang istri yang saat ini ada dalam pelukannya.
Hilya kemudian menuruti keinginan suaminya untuk tidur bersama sang suami. Pria pertama yang berbaring di sisinya dan memberikan keindahan dan rona cinta dalam hidupnya yang baru.
"Aku berjanji aku akan berusaha untuk menjadi istrimu yang baik dan akan selalu patuh dengan apa yang menjadi keinginanmu!" ucap Hilya di telinga suaminya.
"Apa itu artinya kau akan ikut aku ke Jogjakarta?" tiba-tiba saja Zaki membuka matanya dan menatap Hilya dengan lekat.
__ADS_1
Hilya tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian menyembunyikan wajahnya dalam pelukan sang suami. Zaki sangat bahagia sehingga dia mencium ubun-ubun sang istri.
Rasa cinta di dalam hatinya seakan semakin tumbuh berlipat-lipat dari sebelumnya untuk sang istri. Istrinya yang sangat mempesona!