
Fahri geram, melihat istrinya malah meninggalkan dia seorang diri di ranjangnya. Buyar sudah semua hal indah yang susah payah dia bangun.
"Susah sekali mendapatkan dia!" geram Zaki kesal tapi dia terus mengurut dadanya. Menyabarkan dirinya sendiri.
Zaki kemudian mengikuti istrinya yang pergi ke meja makan. Tampak di sana kedua orang tuanya Hilya sudah duduk bersama Hilya dan sudah bersiap untuk sarapan bersama.
"Maaf ya Nak Zaki! Kalau Umy ganggu acara kalian berdua! Tapi kalian berdua harus sarapan dulu kalau mau melakukan ibadah itu. Soalnya di butuhkan tenaga yang ekstra! Apalagi kalian yang masih awam dan belum berpengalaman! 😂 😂" ucap ibunya Hilya sambil terkekeh melihat Hilya dan Zaki yang kini menunduk malu.
Ah, Hilya pipinya bahkan sudah memerah karena menahan rasa malu. Zaki hanya tersenyum saja menatap Hilya yang sejak tadi hanya menundukkan kepala.
"Umy ini bicara apa? Udah cepat makan jangan ganggu perasaan mereka untuk makan. Nanti kalau ga selera makan, jadi ga punya tenaga buat melakukan ibadah itu! Nanti kapan kita bisa punya cucu?" ucap ayahnya Hilya sambil menyengir ke arah putrinya dan juga menantunya.
Andai Hilya tahu, betapa Ayahnya itu sangat bangga karena memiliki Zaki sebagai menantunya. Karena Zaki adalah manusia pilihan yang terbaik dalam pandangan matanya saat ini.
Zaki yang lulusan S2 di Mesir, selain anak seorang Kiai terkenal di Indramayu, dia juga seorang dosen di Yogyakarta. Jadi kualitas keilmuannya di jamin mumpuni dan luar biasa. Zaki adalah pilihan terbaik bagi ayahnya Hilya untuk di jadikan sebagai menantunya.
"Maafkan saya Aby dan Umy! Untuk kuliahnya Hilya, nanti dia akan saya pindahkan ke Yogyakarta. Karena pekerjaan saya ada di sana. Agar saya juga bisa menghandle dan mengawasi Hilya dengan baik di sana!" ucap Zaki kepada kedua mertuanya, ketika mereka sudah selesai sarapan bersama.
Mereka sekarang sudah duduk di ruang keluarga. Duduk santai di sana.
"Aby sama Umy mendukung apapun yang menjadi keputusan Nak Zaki! Sebagai seorang istri, Hilya memang harus mengikuti kemana suaminya pergi! Karena dia sudah menjadi tanggung jawab Nak Zaki sebagai suaminya!" ucap ayahnya Hilya setuju.
"Bagaimana bisa Aby? Kalau Hilya pindah, itu artinya Hilya tidak mondok lagi dong! Lalu Hilya juga harus berganti suasana belajar juga!" ucap Hilya protes. Tidak setuju dengan ide suaminya untuk memindahkan kuliahnya.
__ADS_1
"Hilya, kamu sudah menjadi seorang istri! Tugas kamu adalah patuh terhadap suami kamu!" ucap ayahnya sambil menatap tajam kepada putrinya yang kini matanya mulai berkaca-kaca dan telah bersiap pergi dari sana. Tapi Zaki menarik tangan Hilya.
"Duduklah! Kita belum selesai berdiskusi tentang kuliah kamu!" perintah Zaki kepada Hilya yang kini menatap dia dengan nanar.
Tampak bulir bening telah mengalir di mata cantik sang istri. Hati Zaki tiba-tiba merasa sakit. 'Ya Allah! Kenapa aku merasa begitu sengsara melihat air mata jatuh di kelopak matanya? Perasaan macam apa ini?' bathin Zaki sambil menatap mata Hilya.
Pandangan mereka berdua beradu. Zaki berusaha menyelami perasaan sang istri saat ini. Mereka tampak berkomunikasi lewat tatapan mata mereka berdua.
"Aku tidak mau pindah kuliah!" ucap Hilya.
"Tapi aku kerja di Yogjakarta, kalau kamu tidak pindah kuliah, maka kita akan tinggal terpisah jauh!" ucap Zaki dengan suara pelan.
"Aku masih ingin mondok dan melanjutkan kuliahku di sana! Terserah kepadamu akan kerja di mana! Aku gak masalah kalau kita tinggal berpisah sampai aku lulus kuliah!" ucap Hilya dengan suara datar dan dingin.
"Hilya, jangan kau keras kepala! Jangan kau membebani suami kamu dengan hidup terpisah seperti itu! Lagi pula, Aby pikir tidak masalah kalau kalian pindah ke sana! Kampus tempat suami kamu kerja itu bagus dan lebih berkualitas dari kampus kamu sekarang!" ucap ayahnya sambil menatap tajam putrinya.
"Pokoknya Hilya nggak mau pindah kuliah!" Hilya lalu meninggalkan mereka semua dan pergi masuk ke kamarnya.
"Maafkan saya Aby dan Umy, saya akan menyusul Hilya dulu!" ucap Zaki berpamitan kepada kedua mertuanya.
"Ya Zaki! Pergilah kau bujuk istrimu agar mau pindah ke Jogjakarta bersamamu. Supaya kalian suami istri tidak perlu hidup berpisah!" ucap ayahnya Hilya menyetujui apa yang akan dilakukan oleh menantunya.
Zaki kemudian meninggalkan kedua orang tuanya Hilya di ruang keluarga dan dia mengikuti istrinya masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Di dalam kamar, tampak Hilya terlihat sedang menangis di atas ranjang. Zaki mendekati istrinya dengan perlahan.
Kemudian Zaki duduk di samping Hilya yang saat ini sedang membenamkan wajahnya di atas bantal. Tubuh Hilya tampak berguncang-guncang karena dia sedang menangis terisak.
"Tolong kau berusaha dengarkan Mas untuk bicara denganmu!" ucap Zaki memulai pembicaraan di antara mereka berdua.
"Apalagi yang mau dibicarakan? Pokoknya saya tidak mau pindah kuliah dan saya tidak mau tinggal dengan mau di Jogjakarta!" ucap Hilya dengan wajah yang sedih.
"Tapi kita akan hidup berjauhan. Kalau kamu tidak ikut bersama saya ke sana!" ucap Zaki sambil menatap tajam kepada Hilya.
"Sekarang kau adalah istriku! Aku mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk mengurus dan juga menjagamu. Kalau kau jauh denganku. Bagaimana caranya Aku menjagamu?" ucap Zaki dengan suara lemah lembut berusaha untuk meyakinkan istrinya agar mau menurut dengannya.
"Tapi aku tidak mau di Jogjakarta dan jauh dengan orang tuaku. Aku Masih Ingin mondok dan Aku Masih Ingin melanjutkan cita-citaku menjadi seorang Hafizah!" ucap Hilya kesal, kini dengan mata berapi-api.
"Kau sekarang adalah seorang istri dari seorang pria! Prioritasmu sekarang adalah menurut padaku dan tugasmu adalah mengikutiku ke manapun aku berada! Kau harus ingat! Tugas seorang istri adalah berbakti kepada suaminya!" Ucapan Zaki tidak mau di bantah oleh istrinya.
"Kau egois! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri dan kau tidak memikirkan perasaanku saat ini!" ucap Hilya sambil menangis pilu.
"Dengarkan Mas, Hilya! Akan ada banyak kemudorotan di saat suami istri tinggal berjauhan. Apakah kamu mau, kalau tiba-tiba saja Mas tertarik dengan perempuan lain?" tanya Zaki sambil menatap tajam wajah istrinya yang kini bergetar karena terisak dalam tangisnya yang memilukan hati Zaki.
Zaki menghapus air mata di pipi halus Hilya, kemudian mengecupnya dengan penuh cinta kasih. Ya! Zaki sudah mulai mencintai Hilya dan juga mulai bisa menerima Hilya sebagai istrinya. Perasaan cinta itu sudah tumbuh subur di hati Zaki untuk sang istri.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, dukung terus author dengan like, komentar positif, favorite, vote dan gift semampu kalian, Biar Author bisa menang di lomba "You are writer Season 8" . Terimakasih reader sayang. Banyak love buat kalian 😘 😘.
__ADS_1