
Fatimah yang berangkat dari Jogja menuju Jakarta dengan menggunakan pesawat pagi Sekarang sudah sampai di kediaman keluarga kedua orang tuanya.
Akan tetapi Fatimah terlambat karena Zaki dan Hilya sudah berangkat ke Indramayu untuk bertemu dengan kedua orang tua Zaki.
Pikiran Fatimah yang tadinya merasa bahagia bahwa dia akan bertemu dengan Zaki di rumahnya kini hanya bisa menggigit jari.
" Ada apa kau pulang? Bukankah Lebih baik kau tidak usah pulang sekalian? Apa tidak cukup dengan rasa malu yang kau berikan kepada keluarga kita, dengan kabur dari pernikahanmu dan sekarang kau membuat malu dengan berbuat ulah semacam itu?Sehingga memaksa Zaki untuk keluar dari pekerjaannya saat ini!" tegur ayahnya sambil menatap tajam kepada Fatimah yang saat ini tidak berani menatap mata ayahnya.
Fatimah paling mengerti tentang ayahnya Oleh karena itu dia tidak berani untuk membantah maupun menjawab satupun perkataan dari ayahnya yang saat ini sedang memprotes dan menegur dirinya.
" Jangan kau coba-coba berani mengganggu rumah tangga adikmu dan Zaki! Kau yang sudah kabur dari pernikahanmu. Maka sekarang kau terimalah apa yang saat ini terjadi kepadamu. Karena tidak ada lagi penyesalan yang bisa kau ratapi lagi!" ucap ayahnya dengan suara Bariton yang membuat Fatimah gemetar seketika.
" Tapi Hilya sudah merebut Zaki dariku. Aku menginginkan Zaki kembali untukku!" ucap Fatima dengan suara gemetar.
" Sungguh lancang! Berani-beraninya kau mengatakan hal seperti itu? Setelah apa yang kau lakukan di hari pernikahan kamu bersama dengan Zaki?" ucap ayahnya Fatimah menggebrak meja yang ada di hadapannya saya nggak membuat Fatimah terkejut dibuatnya.
" Urat saraf malumu betul-betul sudah tidak ada huh?" tanya ayahnya Fatimah dengan berkaca pinggang di hadapan putrinya.
" Itu salah kalian! Kenapa dulu kalian tidak mempertemukan kami berdua? Kalau saja dulu kalian mempertemukan kami, mungkin tidak akan terjadi seperti ini!" ucap Fatimah dengan mata berapi-api sambil menatap tajam kepada ayahnya yang saat ini sedang melotot kepadanya.
__ADS_1
" Saat pembicaraan masalah Perjodohan kalian berdua. Zaki masih berada di Mesir. Bagaimana untuk mempertemukan kalian? Bukankah kamu yang menolak untuk melihat foto yang kami berikan kepadamu? sekarang kau malah menyalahkan kami berdua tentang hal yang kamu sesali!" ucap ayahnya sambil menatap kecewa kepada putrinya.
Mata Fatimah sudah berkaca-kaca, ketika dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Seketika dia mengingat sekelebatan. Waktu dahulu ibunya pernah memberikan sebuah foto kepadanya yang langsung dia buang tanpa meliriknya sama sekali.
" Itu memang salah Fatimah. Maafkan Fatimah! Tapi tolong bantu Fatimah untuk kembali bersama dengan Mas Zaki!" ucap Fatimah dengan suara gemetar.
" Apa kau pikir pernikahan itu sebuah permainan? Sehingga bisa diganti-ganti dengan sesuka hatimu? Sadarlah Fatimah! Kalau kau itu sekarang seorang dosen yang seharusnya bisa berpikir dengan realistis!" ucap Ibu Fatimah berusaha untuk membuat putrinya mengerti tentang keadaan yang saat ini terjadi.
" Fatimah tidak akan menyerah untuk mendapatkan dia sebagai suamiku. Karena bagaimanapun ada hakku di dalamnya!" ucap Fatimah kemudian dia langsung meninggalkan kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Kamarnya masih rapi sama seperti ketika dia meninggalkannya tidak ada yang berubah sama sekali.
" Apa yang kau lakukan Fatimah?" tanya ibunya merasa heran dengan kelakuan putrinya yang sangat luar biasa.
" Aku tidak suka karena pasti Hilya dan Zaki melakukan malam pertama mereka di kamar ini!" ucap Fatimah dengan mata memerah karena menahan amarahnya dan rasa cemburunya yang luar biasa.
" Mereka berdua tidak pernah tidur bersama di kamarmu. Waktu malam pernikahan, Zaki tidur di sini sendiri. Karena Hilya lebih memilih untuk tidur di kamarnya!" ucap ibunya sambil menatap kepada Fatimah yang saat ini sedang terduduk lesu di atas kasurnya.
" Bagaimana Mama tahu kalau mereka tidak tidur bersama di kamar ini?" tanya Fatimah seperti tidak percaya dengan keterangan ibunya sendiri.
__ADS_1
" Mama yang melihat sendiri Hilya tidur di kamarnya pada keesokan harinya! pada saat Mama ingin membereskan kamarnya dan dia tidur di kamarnya tanpa melepaskan gaun pengantinnya!" ucap ibunya menceritakan semua perihal tentang yang sedang ingin diketahui oleh Fatimah saat ini.
" Mama harus bicara sama Papa! Tolong bantu Fatimah untuk membeli mendapatkan mas Zaki!" ucap Fatimah sendu sambil menggenggam tangan ibunya.
" Maafkan Mama Fatimah! Tetapi mama tidak bisa melakukannya. Bagaimanapun yang kamu lakukan memang salah dan sekarang terimalah konsekuensi yang sudah kau pilih ketika kau kabur di pernikahanmu!" ucap ibunya dengan tegas tidak peduli dengan air mata Fatimah yang saat ini terus mengalir tanpa henti.
" Sudahlah belajarlah untuk melupakan dan mengikhlaskan. Mungkin kalian memang tidak berjodoh. Oleh karena itu kamu memiliki keinginan untuk melarikan diri dari pernikahanmu!" ucap ibunya kemudian dia pun meninggalkan Fatimah di kamarnya sendiri agar bisa beristirahat setelah melakukan perjalanan panjang yang sangat melelahkan.
Setelah kepergian ibunya. Fatimah tampak termenung. Dia mengingat kembali apa yang dikatakan oleh ibunya tentang Zaki dan Hilya yang tidur berpisah saat malam pernikahan mereka berdua.
" Mungkin benar kata Mama, kalau mereka berdua tidur berpisah. Bukankah itu bagus? Itu artinya aku masih mempunyai sebuah kesempatan untuk memisahkan mereka berdua. Karena mereka belum melakukan apapun sebagai suami istri!" terbit senyum di bibir Fatimah seakan mendapatkan sebuah oase di sebuah gurun pasir yang begitu tandus dan sangat melelahkan jiwa raganya.
" Besok aku akan langsung ke Indramayu untuk menemui mereka berdua. Aku akan mencoba untuk membujuk Hilya agar dia mau untuk membatalkan pernikahan mereka berdua!" dengan penuh rasa bahagia akhirnya Fatimah pun bisa memejamkan matanya setelah selama berjam-jam bergelut dengan pikirannya sendiri.
Sementara itu kedua orang tuanya masih tampak berdiskusi di kamar mereka.
" Pah mamah tuh takut kalau sampai Fatimah berbuat nekat karena. Kelihatannya dia benar-benar sangat mencintai zaki!" ucap ibunya seperti merasa iba dengan putrinya yang saat ini sedang menderita hatinya.
" Biarkan! Biarkan dia menderita agar dia belajar untuk menghargai apapun yang ada atau hadir dalam hidupnya. Agar dia tidak hanya hidup dengan ego dan keinginannya sendiri. Dia tidak pernah berpikir tentang orang lain!" ucap suaminya dengan malas untuk melayani keinginan istrinya berdiskusi tentang Fatimah lagi.
__ADS_1
" Tidurlah mah tidak usah kau buang-buang energi untuk membujukku. Pokoknya aku tidak akan pernah membiarkan Hilya untuk membatalkan pernikahan mereka. Kalau hanya untuk mengikuti ambisi Fatimah untuk memiliki Zaki!" ucap ayahnya Fatimah dengan mata berapi-api dan kemudian dia pun Langsung memilih until tidur dengan nyenyak.