
Hari yang sudah disepakati oleh James dan Ayahnya sudah tiba. Katie yang baru pertama kali menginjakkan kakinya ke rumah mewah milik keluarga James merasa sangat terkagum-kagum. "ayo masuk!" James menggandeng tangan Katie. "aku baru tau kalau rumahmu sangat besar" seloroh Katie, sementara James hanya tersenyum melihat Katie yang masih terheran-heran.
"dimana ayahku?" tanya James pada seorang pelayan yang berdiri menyambutnya di depan pintu ruang tamu. "tuan besar ada di ruang kerjanya, tuan muda" jawab pelayan itu sambil menundukkan badan tanda hormat. James kemudian membawa Katie ke ruang kerja ayahnya yang ada di bagian tengah rumah. "benar-benar seperti istana" gumam Katie dalam hati.
TOK TOK TOK... James mengetuk pintu dan membukanya dengan pelan. Terlihat sosok ayahnya dibalik meja kerja sedang berkutat dengan laptopnya. "ahhhh kalian sudah datang rupanya" ayah James mengembangkan senyum kearah mereka berdua, "duduklah" ayah James lalu berjalan menuju sofa dan mempersilahkan Katie untuk duduk. "terima kasih" Jawab Katie sambil membalas senyuman ayah James.
"siapa namamu nak?" tanya ayah James menatap wajah gadis yang ada didepannya. "Katie tuan" jawab Katie. "jangan panggil aku tuan, sebentar lagi kau akan menjadi menantuku, jadi panggil aku ayah!" kata Ayah James dengan lembut. "baik ayah" Katie yang mendapatkan perlakuan sangat baik merasa sangat senang sekaligus sungkan.
"Ngomong-ngomong apa kesibukanmu saat ini?" tanya Ayah James menyelidik. "saya masih kuliah ayah" Jawab Katie malu-malu. "Dia mahasiswaku ayah, kami baru bertemu beberapa bulan lalu saat aku pertama kali mengajar di kampus" James membantu menjelaskan agar Katie tidak salah menjawab.
__ADS_1
"berapa usiamu nak?" ayah kembali menatap kearah calon menantunya itu. "hampir sembilan belas tahun" Jawab Katie lagi. "wowwww, James, ternyata kau seperti sugar daddy ya?" ayah melirik kearah James dan menggoda putranya tersebut. "dad!" protes James mendengar celotehan ayahnya yang disambut senyum kecil oleh Katie. Usia James dan Katie memang terpaut cukup jauh yaitu sekitar sebelas tahun lebih. Namun dengan wajah tampan dan tubuh James yang proporsional membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.
"sooo, apa rencana kalian selanjutnya?" Prof. Jeremy kemudian menatap anak dan calon menantunya secara bergantian. "aku kemarin sudah bilang pada ayah Katie bahwa aku ingin melamar dan menikahi putrinya, kemudian ayah Katie bilang bahwa ia menunggu kedatangan ayah untuk melamar putrinya secara resmi" James menjelaskan peristiwa beberapa malam lalu di rumah Katie.
FLASH BACK
Kembali ke ruang kerja ayah James, "oke, kalian aturlah tanggalnya, aku ingin secepatnya bertemu dengan ayah Katie dan membahas hari pernikahan kalian" ujar ayah James bahagia. "iya ayah, kalau ayah bisa, aku berencana hari minggu ini" James mengusulkan hari yang dimaksud. "good, aku setuju, lebih cepat lebih baik!" kemudian ayah James berjalan kembali menuju meja kerjanya.
"ajaklah Katie berkeliling rumah, aku ingin setelah menikah nanti, kalian tinggal disini bersama denganku" ayah berkata kepada James. "tapi yah?" James hendak menolaknya, tapi diurungkan kembali karena melihat Katie memperhatikan mereka berdua. "ayo!" ajak James sambil menggandeng tangan Katie keluar ruang kerja ayahnya. "aku permisi dulu ayah" Katie berpamitan kepada calon ayah mertuanya, yang disambut dengan anggukan dan senyum hangat.
__ADS_1
"Pak rumahmu ini besar seperti istana, lalu kenapa kau malah memilih tinggal di apartemen yang kecil?" tanya Katie penasaran saat berada di halaman belakang dekat kolam renang. "aku butuh privasi" Jawab James sekenanya. "tapi rumah ini cukup besar untuk menjaga privasi setiap anggota keluarganya, lagi pula bukankah kalian hanya tinggal berdua saja?" Katie menganalisis situasi rumah James.
Sebenernya alasan utama kenapa James tinggal di apartemen adalah karena ingin menghindar dari sang ayah yang terus saja memaksanya untuk menikah dan membuatnya lelah jika harus terus berdebat dengan topik yang sama setiap saat ia bertemu dengan ayahnya. "setidaknya jika besok aku sudah menikah dan terpaksa harus tinggal disini, tidak akan ada lagi debat kusir antara aku dan ayah tentang masalah pernikahan dan perjodohan, karena sudah ada Katie yang selama ini dinantikan ayah sejak lama" James bergumam dalam hati meskipun sesungguhnya ia sudah nyaman tinggal di apartemen miliknya sendiri.
Setelah berkeliling rumah, Katie, James dan Ayah makan malam bersama. Ayah mengambil kesempatan untuk mengorek informasi pribadi Katie sebanyak mungkin dari calon menantunya tersebut. "jadi siapa nama ibu dan ayahmu nak?" ayah bertanya kepada Katie. "Rossie dan August Peteroy" Jawab Katie disela-sela makan. "kenapa aku sangat familiar dengan nama ayahmu ya?" ayah James berfikir sejenak mengingat-ingat nama August Peteroy yang dikenalnya. "ahhhh mungkin hanya memiliki kesamaan nama saja" kemudian ayah melanjutkan makan malamnya.
Malam mulai larut, James akhirnya berpamitan dan mengajak Katie untuk pulang ke apartemen. "besok Minggu pagi aku akan menjemput ayah ya" James kemudian memeluk ayahnya. "ayah, aku pamit" Katie juga kemudian memberanikan dirinya memeluk calon mertuanya tersebut. "hati-hati di jalan nak" Kata ayah lembut kepada Katie.
Ayah yang sejak pertama kali bertemu Katie tadi siang, memiliki feeling bahwa calon menantunya adalah gadis yang baik dan cocok untuk menjadi istri dari putranya James. Seperti sudah ada perasaan akrab yang dimilikinya dengan Katie, bahkan saat baru pertama sekalipun. Katie yang awalnya takut pun merasa bahwa Ayah James adalah ayah yang baik dan penyayang. Ia merasa kedatangannya disambut dengan baik dan penuh kehangatan. Setiap pertanyaan yang diajukan pun tidak membuatnya seperti sedang diintrogasi.
__ADS_1