Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 79


__ADS_3

"Kau mau makan apa?" August bertanya pada Rossie saat pelayan menyodorkan buku menu.


"Terserah Anda saja tuan muda!" jawab Rossie sungkan.


"Jangan begitu, kan kau yang mau makan, jadi seharusnya kau yang pilih sesuai dengan seleramu!" kata August penuh penekanan.


"Baiklah, terima kasih tuan!" Rossie akhirnya memilih menu yang paling murah agar tidak merepotkan tuannya, meskipun ia tau bahwa uang majikannya itu tidak terbatas.


"Kau hanya pesan itu?" August mengetahui bahwa gadis di depannya ini sungkan untuk memilih menu yang mahal, namun August tetap menghargai pilihannya.


"Iya tuan, ini sudah cukup" Rossie menganggukan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu aku pilih ini, pilih ini, ini dan juga ini!" August menunjuk semua menu favorit dan yang paling mahal di restoran tersebut.


Setelah pelayan pergi meninggalkan meja mereka, suasana canggung tercipta diantara keduanya.


"Ngomong-ngomong apa yang kau kirim tadi?" August akhirnya membuka pembicaraan.


"Ohhh, itu obat-obatan untuk nenek saya tuan muda" jawab Rossie.


"Nenekmu sakit apa?" tanya August.


"Asma tuan muda, jadi setiap bulan memang harus rutin membeli obatnya" Rossie menjelaskan.


"Di mana nenekmu tinggal?" August mulai penasaran dengan gadis yang ada di depannya.


"Beliau tinggal di Alexbad" Rossi menjawab ketika pelayan restoran datang membawakan menu yang mereka pesan.

__ADS_1


"Terima kasih" kata August dan Rossie secara bersamaan saat pelayan tersebut selesai meletakkan seluruh makanan yang dipesan.


"Sama-sama, selamat menikmati!" kata pelayan restoran itu kepada mereka berdua.


"Ayo makan, ini aku pesankan untukmu!" August menyodorkan beberapa piring berisi makanan yang paling mahal dan terfavorit di restoran ini.


"Tapi tuan ini sangat banyak" Rossie terbelalak.


"Sudah makan saja, aku sudah memesankannya untukmu, tidak mungkin dikembalikan kan?" August tersenyum penuh kemenangan. Sementara Rossie masih terkejut, namun demikian ia tidak bisa menolak lagi karena memang sesungguhnya ia lapar.


"Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa sampai menjadi pelayan di rumahku?" entah mengapa August sangat penasaran dengan keberadaan Rossie di rumahnya.


"Saya membaca lowongan pekerjaan di sebuah surat kabar, lalu saya mencoba a melamar dan setelah di tes memasak saya diterima" jawab Rossie mengingat kembali saat ia pertama kali memasak di dapur keluarga Peteroy.


"Benarkah? masakan apa yang kau buat?" August mendengarkan dengan serius.


"Saya memasak kudapan yang tadi sore saya sajikan kepada anda di halaman belakang" kata Rossie.


"Terima kasih tuan, sebenarnya saya tidak pandai memasak, hanya bisa beberapa jenis kue saja" kata Rossie malu karena disanjung secara berlebihan oleh August.


Sesungguhnya Rossie memang sangat ahli memasak berbagai jenis kudapan, karena neneknya adalah pemilik toko kue yang cukup ramai pembeli di Alexbad.


"Bagaimana jika setelah ini kita nonton ke bioskop?" tanya August kepada gadis yang sedang menyuap sendok terakhirnya.


"Apakah menemani Anda menonton termasuk dalam daftar pekerjaan saya tuan muda?" Rossie merasa ragu.


August tidak menjawab, ia malah sibuk membuka ponselnya dan menelpon seseorang.

__ADS_1


"Fred, Rossie sedang bersamaku di pusat pertokoan, aku memintanya menemaniku mencari beberapa keperluan pribadiku, jadi tolong bebaskan dia dari tugasnya di rumah malam ini!" August berbicara kepada Fredy sambil menatap ke arah Rossie.


"Sudah beres!" senyum August setelah menutup telponnya.


Rossie hanya bisa mengangguk tanpa berkata apapun karena ia bingung harus menjawab apa. "Kalau orang kaya memang bebas melakukan apapun, hanya cukup memainkan jari dan bertitah, semua sudah bisa terjadi sesuai kehendaknya!" gumam Rossie dalam hati.


Setelah makan, August mengajak Rossie pergi ke bioskop termegah yang ada di ibukota.


"Kau mau nonton film apa?" tanya August kepada Rossie.


"Terserah Anda tuan, saya mengikuti saja" Rossie tidak terlalu ambil pusing dengan judul film yang akan dia tonton, karena sejujurnya ia tidak begitu tertarik akan dunia per-film-an.


"Oke, kalau begitu kita nonton film horor saja ya!?" August melirik ke wajah yang ada di sebelahnya, ia menunggu reaksi gadis itu. Biasanya kalau ia hendak menonton film horor dengan teman-teman wanitanya di kampus, mereka akan berfikir ulang dan memilih untuk mengganti genre.


"Silahkan tuan, saya ikut saja" jawab Rossie dengan datar, membuat August sedikit kecewa karena reaksi yang ditunjukkan oleh gadis itu tidak sesuai dengan harapannya.


Sepanjang film diputar, Rossie hanya menonton dengan wajah datar. August yang duduk di sampingnya merasa heran dengan gadis ini. Ia tidak menunjukkan ekspresi takut sedikit pun ketika adegan demi adegan seram mulai bermunculan di layar lebar, bahkan meskipun sudah dibumbui dengan efek suara yang sangat mengagetkan.


"Kau tidak takut?" akhirnya August bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya saat mereka keluar dari gedung bioskop.


"Takut apa tuan?" Rossie bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan tuannya.


"Film tadi!?" August mengernyitkan dahinya.


"Bukankah itu hanya settingan?" Rossie menjawab dengan datar.


"Apa hantunya tidak ada yang seram?" August makin merasa heran.

__ADS_1


"Itukan hanya make up tuan!" Rossie adalah gadis dengan logika yang tinggi, ia tidak takut pada hal apapun yang sifatnya bohongan, bahkan bila bentuknya pun seram dia tetap tidak takut.


"Kau ini memang beda ya?" August berdecak kagum melihat betapa berkarakternya gadis ini.


__ADS_2