Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 76


__ADS_3

Setelah makan siang mereka semua berbincang-bincang di ruang keluarga, kecuali Ayah dan bibi yang membicarakan sesuatu yang serius di ruang kerja ayah.


"Kak, pulanglah, jenguklah ayah!" Agatha membujuk August.


"Kau tau kan aku tidak bisa pulang!" August menatap mata adiknya dalam.


"Apa kau masih menaruh dendam pada ayah sehingga tidak sudi menginjakkan kakimu lagi di rumah?" Agatha menggenggam tangan kakaknya.


"Bukankah justru ayah yang tidak sudi melihatku dan Rossie?" tanya August.


"Ayah sudah berubah kak, setelah ibu meninggal, ayah merasa sangat kesepian, ia hanya menghabiskan waktunya menyibukkan diri dengan bekerja tanpa kenal waktu. Sekarang ayah sakit keras, tidak ada satu orang pun yang bisa menemaninya di rumah kecuali asisten rumah tangga, setidaknya kalau kita berada di sisinya, itu bisa sedikit mengobati rasa sakit yang dia derita!" Agatha menjelaskan panjang lebar.


"Dia hanya membutuhkanku saat sakit, lalu kemana saja dia saat senang dan sehat dulu? apakah dia pernah ingat perjuanganku yang merangkak dari nol? apa dia mengakui istriku sebagai menantunya? apa dia menganggap anak-anakku sebagai cucunya?" ucapan August terdengar begitu getir terdengar.


Sikap arogan dan keras kepala tuan besar Peteroy yang menentang pernikahannya dengan Rossie dua puluh tahun lalu membuat August merasa sangat kecewa dan terbuang.


"Kak apa kau benar-benar tidak ingin memaafkannya?" Agatha membujuk.


"Aku sudah memaafkannya sejak lama, tapi aku tidak mau istri dan anakku mengalami sakit hati yang sama sepertiku!" August hampir meneteskan air mata.


"Aku yakin mereka akan mengerti, anak-anakmu sudah dewasa, lagi pula kak Rossie adalah orang baik yang memiliki hati seluas samudra, ia pasti akan memaafkan kesalahan yang telah ayah buat terhadapnya!" Agatha mengelus pundak August.

__ADS_1


"Aku akan tanyakan dulu ke Rossie, kalau dia setuju, aku akan datang, tapi kalau dia merasa tidak nyaman, maka aku akan tetap seperti saat ini!" August meminta waktu.


"Terima kasih kak!" Agatha memeluk kakaknya.


..........


"Ayo kita pergi!" Rossie meyakinkan August untuk mau menemui tuan besar Peteroy saat Agatha sudah berpamitan pulang dan mereka sama-sama telah berbaring di dalam kamar pada malam harinya.


"Apa kau yakin?" August menatap istrinya mencari jawaban.


"Kita ini sebagai anak sudah sepatutnya datang meminta maaf jika kita ada salah kepada orang tua!" kata Rossie.


"Itu sudah berlalu puluhan tahun sayang, sekarang semuanya telah berubah, aku bahkan sudah melupakannya sama sekali!" Rossie berkata jujur sambil memeluk suaminya untuk meyakinkan.


"Baiklah, kalau itu keputusanmu, besok pagi kita jelaskan semuanya kepada anak-anak dan biar mereka yang memutuskan sendiri, apakah mereka mau datang atau tidak menemui Kakek mereka!" kata August membalas pelukan istrinya.


Meskipun Rossie dan August sudah menikah lebih dari dua puluh tahun, tapi rasa cinta diantara keduanya tidak pernah berkurang, bahkan semakin bertambah setiap harinya. August sangat mencintai Rossie sepenuh jiwa raganya, ia rela mengorbankan apapun demi wanita yang kini telah menjadi ibu bagi ketiga anaknya itu.


..........


Pagi hari berikutnya, saat sarapan pagi, akhirnya ayah memberanikan diri untuk memberitahukan semua kebenaran kepada anak dan menantunya.

__ADS_1


"Ayah ingin berbicara serius dengan kalian semua!" kata ayah menatap semua wajah anak dan menantunya.


"Ada apa yah?" Marie antusias.


"Apakah ini ada hubungannya dengan kedatangan bibi Agatha kemarin?" Katie mencoba menerka.


"Iya, seperti yang kalian tau, selama ini ayahkan selalu terlihat hidup sebatang kara tanpa keluarga, tapi sesungguhnya ayah masih punya seorang ayah dan adik perempuan!" Ayah membuka omongan.


"Kenapa ayah tidak pernah cerita?" tanya Janie.


"Jujur saja ayah tidak siap nak, ayah takut jika kalian mendengar cerita yang sesungguhnya, kalian akan terluka, seperti halnya yang sudah dialami oleh ibu kalian!" ayah menarik nafasnya dengan berat.


"Sekarang kalian sudah dewasa, bahkan sudah berumah tangga, sudah saatnya kalian mengetahui kebenarannya! terlebih suami-suami kalian adalah anak dari para sahabat baik ayah dan ibu, yang pada kenyataannya mengetahui semua fakta yang kami simpan selama ini!" ibu membantu ayah menjelaskan.


"Jadi ayah mertua dan Paman serta bibi tau?" Katie terbelalak.


"Iya, mereka adalah saksinya!" kata ayah.


"kenapa ayah mertua dan ibu mertua tidak pernah cerita?" Janie heran.


"Kami yang minta untuk merahasiakannya, kami ingin kalian tau dari mulut kami sendiri, dan kami rasa sekaranglah saatnya!" ibu tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2