Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 46


__ADS_3

Setibanya di rumah, Marie langsung mencari kotak P3K dan menuju kamar Mark untuk membersihkan darah di pelipis matanya. "maafkan aku kak! apa ini sakit?" tanya Marie sambil mengoleskan obat luka ke pelipisnya yang robek.


"iya" jawab Mark singkat. "apa sakit sekali? dimana lagi yang sakit selain yang ini?" Marie terlihat cemas dan mengamati seluruh wajah Mark yang lebam-lebam akibat perkelahian tadi.


"disini!" Mark kemudian menarik tangan Marie kearah dadanya dan menekannya dengan kuat "ini yang sakit, sakit sekali!" Mark kemudian menatap tajam kedalam mata Marie, mengisyaratkan isi hatinya yang terpendam.


"kak Mark, aku min" Mark mencium bibir Marie sebelum Marie sempat melanjutkan kata-katanya. Ciuman itu terasa sangat lembut dan nyaman, membuat Marie tidak bisa berkutik. Ia hanya menikmati sentuhan bibir Mark yang semakin lama semakin dalam.


Mereka kini hanya saling bertatapan setelah Mark melepaskan ciumannya. Marie seperti tidak memiliki tenaga lagi untuk menghindar dari tatapan Mark, sampai akhirnya Mark kembali mengulangi ciumannya. Kali ini Marie tidak tahan untuk tidak membalas ciuman tersebut, ia terhanyut dalam sebuah perasaan yang dirinya sendiri pun tidak paham itu apa.


Hampir sepuh menit ciuman mereka berlangsung tanpa henti, kini tangan Mark sudah mengeksplor seluruh wajah Marie. Sementara Marie pun sudah mengalungkan tangannya ke leher Mark dan membelai lembut rambut Mark.


"I love you" Mark menyatakan perasaannya kepada Marie setelah mereka melepaskan ciumannya, yang kemudian dibalas senyuman oleh Marie. Marie benar-benar terhanyut oleh perasaannya, benteng logika yang selama ini dipegang teguh hancur seketika dan membuat pertahanan hatinya runtuh.


"Will you marry me?" Mark kembali nyatakan keinginannya untuk menikahi Marie, kemudian mengecup bibirnya lagi, kali ini lebih dalam dan lebih bergairah.


"Mark kau" suara kak Monica terhenti ketika melihat adiknya sedang bermesraan dengan Marie. "opsss, maaf aku tidak lihat" Monica menyunggingkan senyum kecilnya. "eh kak, tidak apa, masuklah" Marie salah tingkah karena kepergok sedang bermesraan dengan Mark.


"kenapa tidak ketuk pintu dulu? kau ini mengganggu saja!" gerutu Mark kepada kakaknya. "Kak Mark!" Marie menatap protes ke arah Mark.

__ADS_1


"Kalian lanjutkan saja, aku keluar dulu, nanti malam saja aku bahas lagi" Monica kemudian menutup pintunya dan berjalan kembali ke kamarnya dengan senyum masih mengembang melihat adiknya dan Marie yang sudah ada kemajuan.


"aku bereskan ini dulu kak" Marie kemudian melanjutkan mengolesi luka Mark dengan obat. "Kak, jangan menatapku terus!" Marie protes karena malu ketika tatapan Mark tidak beralih sedetikpun dari wajahnya, sementara Mark terus menatapnya sambil tersenyum bahagia karena merasa kini Marie tidak menolaknya.


"sudah selesai, aku keluar ya" Marie menutup kotak obatnya dan berdiri dari sofa tempat mereka bermesraan baru saja. "tunggu, kau maukan menikah denganku?" Mark ikut berdiri dan memeluk pinggang Marie sambil mengelus pipinya dengan lembut.


"kita jalani dulu boleh ya kak?" Marie meminta waktu untuk meyakinkan hatinya. "aku akan menunggu sampai kau siap" Mark kemudian mencium kening Marie dengan penuh cinta.


"Jadi kalian sudah pacaran?" celetuk Monica di meja makan saat mereka bertiga makan. "aku sudah melamarnya kak" Mark menjelaskan situasinya.


"lalu apa kau sudah menerimanya?" tanya Monica kepada Marie. "kami akan jalani dulu, biar waktu yang akan menjawab" kata Marie.


"lalu apa yang kau ingin bilang tadi sore? sampai mengganggu kami!" tanya Mark kepada kakaknya.


"ohhhhh itu, aku sudah memutuskan akan membeli sebidang tanah yang berada di sebelah rumah Marie di Alexbad" kata Monica.


"buat apa?" tanya Mark penasaran.


"aku mau membangun villa, jadi kalau kita ke Alexbad, kita tidak perlu merepotkan keluarga Peteroy lagi" ujar Monica.

__ADS_1


"ide yang bagus, jadi nanti kalau aku menikah dengan Marie pun bisa tetap sering kesana tanpa bingung mau tidur di mana" Mark menyetujui ide Monica.


Malam hari setelah makan malam, "kau sedang apa?" Mark memeluk dari belakang pinggang Marie yang sedang berdiri di balkon lantai atas.


"Kak Mark!?" Marie sedikit terkejut karena tiba-tiba ada yang memeluknya. "aku hanya melihat gugusan bintang di langit, tampak begitu cerah karena tidak ada awan yang menutupi" Marie menunjuk ke arah langit.


"sepertinya langit malam ini sangat cerah ya? secerah hatiku yang bahagia karenamu!" kata Mark sambil mengecup pundak Marie yang terbuka karena model baju Sabrina yang dikenakan Marie.


"Kau itu ternyata pandai sekali merayu wanita ya kak?" seloroh Marie sambil tertawa renyah.


"aku sedang tidak merayu, ini adalah kenyataan, aku sangat bahagia karena kau mau mencoba membuka hatimu untukku" kemudian Mark membalikkan tubuh Marie menghadap dirinya.


"belum pernah ada gadis manapun yang membuat aku berfikir tentang sebuah komitmen pernikahan selain dirimu" Mark menatap tajam ke dalam mata Marie.


"kak Mark" Marie menatap kagum pada pria tampan yang ada di depannya. Ia merasa Mark sangat tulus menyatakan perasaannya terhadap komitmen pernikahannya itu.


"aku akan menunggu kau siap, sambil aku juga akan membuktikan bahwa aku sudah berubah" kata Mark sambil mengelus pipi Marie dengan lembut. "terima kasih kak" Marie kemudian tersenyum.


"i love you" Mark kembali mengungkapkan perasaannya sambil memeluk Marie dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2