
Sepulang dari kampus dan mall, Janie memutuskan untuk segera mandi dan berendam air hangat untuk menghilangkan rasa lelahnya. Ia sengaja berlama-lama agar tubuhnya kembali relaks dan segar sebelum waktunya makan malam.
"Dimana ayah dan ibu?" tanya Janie kepada suaminya saat mereka hanya makan malam berdua saja di meja makan.
"mereka sedang menghadiri undangan pesta salah satu rekan pejabat negara ayah" jawab Charlie sambil menyendok makannya.
"wah beda ya kalau orang penting, bergaulnya sama pejabat negara" Janie berdecak kagum atas prestasi dan kedudukan yang diraih oleh ayah mertuanya. Sementara Charlie hanya tersenyum mendengar istrinya berbicara dengan polos.
Tidak banyak yang mereka bahas selama di meja makan, mereka lebih memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai akhirnya sama-sama menyelesaikan makanannya dan kembali masuk ke dalam kamar tidur.
Bunyi ponsel Charlie Memecah kesunyian kamar. Muncul sebuah nama di layar ponsel yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur. "Vicky" Janie yang membaca dalam hati langsung merasa ciut. Sementara Charlie dengan sigap mengambil ponselnya dan berjalan menjauh keluar ke arah balkon kamar untuk menjaga jarak supaya percakapannya dengan lawan bicaranya di telpon tidak terdengar oleh Janie.
Setelah hampir sepuluh menit Charlie akhirnya kembali masuk ke dalam kamar. Janie yang sejak awal gelisah, berpura-pura sibuk dengan ponselnya dan bersikap cuek.
"itu Vicky yang menelpon" Charlie berusaha untuk tidak menutupi keberadaan Vicky diantara pernikahan mereka.
"ohhh" Janie hanya menjawab singkat dan tetap bersikap sebiasa mungkin, kemudian kondisi kamar kembali sunyi.
TOK TOK TOK Tidak lama berselang bunyi ketukan pintu kamar memecah kesunyian.
"ada apa pak?" tanya Janie kepada salah satu penjaga rumah yang mengetuk pintu kamar.
"ada tamu untuk anda nona Janie di halaman depan" kata penjaga rumah.
__ADS_1
"baik, saya segera turun" Janie kemudian melangkah menuju halaman depan rumah meninggalkan Charlie di kamar seorang diri.
"Jack?" Janie tidak percaya dengan yang dilihatnya, seseorang berdiri di depan pintu pagar utama.
"hai Janie!" Jack melambaikan tangannya.
"kau tau aku tinggal disini dari mana?" tanya Janie heran.
"eheheheheh, kaget ya? tadi pagi aku lihat seseorang yang mirip kamu keluar dari pintu gerbang ini naik mobil, makanya untuk mengusir rasa penasaran aku mampir kesini sepulang kuliah untuk memastikan" penjelasan Jack panjang lebar.
"kamu tinggal di sekitar sini juga?" tanya Janie penasaran.
"itu, di sebrang sana!" Jack menunjuk sebuah rumah besar yang tidak jauh jaraknya dari rumah mertuanya.
"jangan ngaco deh, aku di situ bekerja sebagai security di malam hari, sementara siang harinya aku kuliah" kata Jack menjelaskan.
Jack yang seorang anak petani di Alexbad memang selalu gigih bekerja. Sejak masa sekolah ia selalu membantu orang tuanya untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjadi buruh tani. Setelah lulus kuliah lalu Ia pergi ke Ibukota mengadu nasib, kuliah dengan jalur beasiswa penuh sambil bekerja.
"ngomong-ngomong sekarang kamu tinggal menetap disini atau hanya menginap sementara saja?" tanya Jack menyelidik.
"sekarang aku pindah kuliah di ibukota, jadi aku tinggal bersama keluarga Adams supaya lebih dekat" Janie sengaja menutupi status pernikahannya.
"wahhh berarti kita bisa sering bertemu ya?" Jack antusias mendengar Janie pindah ke Ibukota.
__ADS_1
"iya tentu saja, aku senang akhirnya ada seseorang yang ku kenal di sekitar sini" Janie tersenyum tulus.
"oya, apa aku tidak dipersilahkan masuk?" tanya Jack sambil bergurau.
"eh iya lupa, tapi di halaman saja ya, kan ini bukan rumahku, tidak enak kalau aku sembarangan mengajak tamuku ke dalam" jawab Janie sungkan.
"tidak, aku bercanda kok, aku hanya sebentar saja, karena aku harus segera bekerja kembali" kata Jack sambil melirik jam tangannya.
"kamu kerja jam berapa?" tanya Janie menyelidik.
"jam sembilan malam sampai jam enam pagi" kata Jack.
"ohhhh sebentar lagi dong ya?" Janie agak sedikit kecewa karena temannya harus segera pergi.
"baiklah, kalau begitu aku pamit ya, lain kali aku akan menghubungimu lagi saat waktu senggang" kemudian Jack melambaikan tangannya berjalan menjauh.
"selamat bekerja, semangat ya!" Janie melambaikan tangan sambil berteriak memberi semangat pada temannya itu.
Sementara dari atas balkon kamar Charlie menatap penuh selidik ke arah Janie dan tamunya. Jarak yang cukup jauh antara balkon kamar dan halaman di depan pintu gerbang utama membuatnya tidak bisa mendengar percakapan yang mereka berdua lakukan, namun dari bahasa tubuhnya Charlie yakin bahwa pria yang datang adalah seseorang yang sudah mengenal Janie dengan baik.
"siapa yang datang?" Charlie bertanya sambil membuka ponselnya di atas tempat tidur.
"Jack, dia teman sekolahku di Alexbad, tadi pagi dia melihatku keluar dari halaman rumah, lalu dia penasaran apakah yang dilihatnya benar aku atau bukan, makanya dia mampir" Janie menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
"ooohhhh" jawab Charlie singkat sambil mengangguk-anggukan kepalanya.